
Dengan sigap dan patuh, anak buah Ardi masuk ke rumah Vicky. Mencari Vicky di setiap sudut rumah kecil itu. Tapi ternyata kosong tidak ada orang. Rumahnya juga memprihatinkan.
Rumah itu hanya ada 3 ruang. Satu ruang tamu ukuran 2x 3, hanya ada sofa berwarna merah usang yang busanya sudah kempes dan kulitnya berlubang. Satu ruang tidur dan ruang makan jadi satu, tidak ada dipan atau perabot lain. Keluarga itu tidur bersama di satu kasur lantai. Ruang terakhir dapur sempit dengan perbotanya.
Sepertinya Ardi salah instruksi menyuruh anak buahnya menggeledah rumah kecil itu. Tidak ada apa-apa, bahkan TV, kulkas, dan lemari tidak ada.
Saat anak buah Ardi masuk ke rumahnya, Istri Vicky tampak berjalan tergopoh- gopoh menghampiri Ardi. Istri Vicky bernama Ipeh. Perempuan bertubuh tinggi kecil, rambut pendek dan berdaster itu rupannya baru pulang dari tempat kerja. Dia sebagai tukang setrika.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua masuk ke rumah orang tanpa permisi?" tanya istri Vicky dengan muka garang versi emak-emak.
Mendengar pertanyaan galak Ardi menoleh dan sedikit berdecak.
"Katakan dimana suamimu?" tanya Ardi dingin.
"Untuk apa kalian mencari pria brengsek itu? Saya sudah tidak ada hubungan denganya silahkan pergi dari rumah saya!" jawab Ipeh galak.
"Katakan dimana suamimu!" tutur Ardi lagi.
"Saya bilang pergi kalian! kalau mau nagih utang jangan ke saya, sana cari orangnya sendiri, saya tidak punya uang" ucap istri Vicky berani dan berkacak pinggang.
Perempuan mengusir Ardi dengan nafas terengah-engah dan tatapan tajam. Ardi hanya bergidik membalas tatapan membunuh dari istri Vicky itu.
"Hah menagih hutang?" cibir Ardi berbisik melotot dan menelan ludahnya kesal sendiri.
"Emang gue mirip penagih hutang?" gumam Ardi melirik ke jendela kaca.
Ardi merasa dirinya bersih tampan, bisa-bisanya dikiran penagih hutang.
"Ehm" Ardi membetulkan kacamata dan jaket mahalnya. Ardi menegakan berdirinya menampakan kegantenganya.
"Saya bukan penagih hutang" tutur Ardi menjelaskan.
"Terus kalian siapa? Mau apa kalian? Keluaar !!! " teriak istri Vicky tanpa malu, sepertinya ibu itu sering teriak-teriak.
Gery dan anak buah Ardi ikut keluar dan kaget. Tetapi tetangga-tetangga Vicky, sepertinya tidak tergubris dengan teriakan istri Vicky dan kedatangan rombongan Ardi. Mungkin sudah biasa terjadi kehebohan di rumah Vicky.
Gery, Sang Dokter dari keluarga kaya dibuat terbelalak dengan teriakan emak-emak tangguh itu.
Istri Vicky terlihat sangat kesal menatap ke Ardi, Gery dan yang lain. Tidak peduli betapa tampanya Ardi dan Gery, ibu itu seperti ingin menerkam tamu-tamunya.
"Siapa dia?" tanya Gery ke Ardi.
"Kenapa? Saya pemilik rumah ini? Ngapain kalian ke rumah saya?" bentak Istri Vicky lalu mengambil gagang pel yang patah yang tergeletak di teras.
"Pergi kalian!" bentak Istri Vicky lagi.
Ardi menggaruk kepalanya bingung menghadapi perempuan sinting di depanya.
__ADS_1
"Ibu kami kesini datang baik-baik, kami ingin bertemu suami ibu" tutur merendahkan bicaranya dan berbicara sopan.
"Baik-baik. Baik apaan? Mau barang apa lagi yang mau kalian ambil? Semua punya saya sudah disita, habis semuanya. Mau apalagi? Keterlaluan" jawab istri Vicky berbicara keras seperti orang yang mengeluarkan emosinya dengan meletup- letup.
"Aishh" Ardi dan Gery mendesis kesal melihat istri Vicky itu. Sepertinya mereka salah sasaran. Mereka malah mendapat masalah baru bertemu dengan istri Vicky itu.
"Ibuu, dengarkan kami, kami bukan penagih hutang, tidak ada yang akan kami sita. Kami mencari suami anda. Katakan suami anda dimana?" tutur Ardi lagi berusaha meredam emosi istri Vicky.
"Benarkah?" tanya Istri Vicky dengan nada berbeda.
"Iya, emang ada tampang kita penagih hutang, enak aja!" jawab Gery tidak terima masa dokter spesialis calon pemilik rumah sakit dibilang penagih hutang.
"Katakan dimana suami ibu sekarang! Waktu kami tidak banyak" sambung Ardi tidak sabar lagi.
"Hhhh" Istri Vicky mengela nafas kemudian duduk dengan santainya tanpa tahu malu.
"Sepertinya kalian orang kaya, untuk apa kalian mencari pria brengsek seperti dia"
"Temen saya meninggal karenabdibunuh. Cctv membuktikan plat mobil di tkp dikendarai suami ibu" jelas Ardi sopan.
"Ck. Dasar manusia tidak berguna, dia memang mati saja sebaiknya" gumam Istri Vicky malah mengumpat Vicky.
Ardi dan Gery berdecak gemas. Kenapa mereka malah terjebak- bertemu dengan perempuan gila di depanya itu. Ardi dan Gery hanya ingin menangkap pembunuh Jack. Membuktikan kalau mereka suruhan Tito dan Lila. Kenapa malah tersesat di rumah kecil itu.
"Ibu dimana suami ibu sekarang?" tanya pengawal Ardi tidak sabar.
"Aku beritahu dia dimana tapi berjanjilah satu hal" ucap istri Vicky tidak ada raut takut sedikitpun.
"Bunuh dia untukku. Dia sudah membuatku gila" ucap Istri Vicky lantang. Gery dan Ardi berpandangan dan menelan ludahnya masing. Perempuan di depanya itu sepertinya benar-benar stress.
"Cepat katakan dimana dia?" tanya Ardi lagi.
"Janji dulu"
"Kami kesini memang ingin menghabinya dan menyerahkan ke polisi" jawab Gery.
"Sebentar"
Kemudian istri Vicky masuk, lalu memberikan sebuah amplop. Di situ ada foto Vicky, nomer telepon dan juga alamat sebuah perumahan.
"Berjanjilah padaku, kalian beri pelajaran buat manusia tidak berguna itu" ucap istri Vicky santai.
"Terima kasih atas kerjasamanya Bu" ucap Ardi sopan.
Tapi sebelum pergi Ardi melirik ke kedua anak kecil yang tampak duduk terbengong melihat emaknya ngamuk-ngamuk.
Hati Ardi tersentuh melihat tatapan sendu dari kedua anak itu. Ardi menghentikan langkahnya. Ardi mendekati dua anak kecil itu dan berjongkok di depanya.
__ADS_1
"Hai siapa nama kalian?" tanya Ardi dengan nada lembut.
"Namaku Afik dan dia adikku Opik" jawab anak laki-laki yang lebih besar.
"Berapa umur kalian?"
"Aku tujuh tahun, adikku 5 tahun" jawab anak itu.
"Apa kalian suka belajar?"
"Buat apa kami belajar? Sekolah saja tidak" jawab Afi polos.
Ardi menatap getir ke kedua anak kecil itu.
"Apa kalian ingin sekolah?"
"Tidak, karena itu bisa membuat ibuku pusing" jawab Opik polos.
Ardi menelan salivanya dan tersenyum, kemudian mengelus rambut Opik.
Istri Vicky, Gery dan anak buahnya menatap bingung dengan apa yang Ardi lakukan. Kenapa tiba-tiba Ardi mendekati keluarga penjahat itu. Bahkan Ardi terlihat memperlakukan kedua anak kecil itu hangat.
Ardi bangun dari jongkoknya dan mendekati istri Vicky.
"Apa mereka anakmu?" tanya Ardi ke istri Vicky.
Istri Vicky menelan salivanya. Terdiam dan menunduk beberapa saat.
"Bukan, mereka anak dari adikku, tapi kuanggap anakku" jawab istri Vicky.
"Apa mereka sekolah?"
"Tidak, saya hanya tukang setrika keliling, bayaranku hanya cukup untuk kami makan"
"Kemana orang tua mereka?"
"Meninggal, 3 tahun lalu"
Ardi diam. Lalu merogoh sakunya.
"Ini kartu nama saya, kalau mau mereka sekolah datanglah ke tempat ini" tutur Ardi memberi alamat yayasan Gunawijaya.
Istri Vicky menatap heran dan tidak percaya dengan ucapan Ardi.
"Siapa orang ini? Hah? Benarkah dia akan menyekolahkan keponakanku?" gumam Istri Vicky tidak berkata apa-apa memandangi kartu nama Ardi.
Sementara Ardi berlalu meninggalkan rumah kecil itu. Gery dan anak buahnya mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Setelah mendapatkan alamat dimana Vicky berada, beserta nomer ponsel Vicky. Ardi dan rombongan langsung bertindak. Nomer Vicky ternyata aktif. Ardi kemudian langsung melacak keberadaan Vicky.
"Malam ini harus selesai masalahnya" batin Ardi mengepalkan tangan sudah jengah berusan dengan Lila.