
****
Rumah Tuan Aryo.
Setelah Mira dan suaminya berpamitan, Alya masuk ke kamar. Sebagai Nyonya Muda Alya tidak mempunyai beban pekerjaan rumah seperti ibu-ibu yang lain.
Untuk menghabiskan waktunya, Alya memilih membaca buku atau mengaji. Malam itu Alya memilih meraih kitab suci agamanya. Membuka surah favoritnya, Alya tau suaminya sedang berada dalam masalah.
Untuk mendoakan suaminya agar selamat dan dimudahkan jalanya. Alya memilih membaca surah At-Thaha. Kemudian dilanjutkan membaca surah Al-Mulk dan Maryam. Belum selesai Alya mengaji, pintu kamar Alya diketok mertuanya.
"Sayang, boleh Mamah masuk?" tutur Bu Rita dari luar.
"Iya Mah bentar" jawab Alya mengehentikan tadarusnya.
Alya menutup Al-Qur'anya lebih memilih menghormati mertuanya. Alya membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Mah?" tanya Alya lembut.
"Lagi sholat kamu? Udah selesai? Mamah ganggu ya?" tanya Bu Rita melihat Alya mengenakan mukenah.
"Nggak kok Mah, udah selesai" jawab Alya membuka mukenahnya tersenyum melegakan hati mertuanya agar mertuanya tidak merasa bersalah.
"Lusa kamu jaga apa? Libur nggak?" tanya Bu Rita.
"Kalau nggak salah jadwal Lian jaga malam Mah, kenapa?"
"Mamah mau ajak kamu ke Bogor" tutur Bu Rita bahagia.
"Ke Bogor?"
"Iyah"
"Ngapain Mah"
"Farid mau lamaran, Mamah seneng banget, katanya calon mantu Jeng Handoko juga dokter" tutur Bu Rita kegirangan.
"Ooh, Kak Farid? Iya Mah, Lian sama Mas Ardi emang udah mau kesana" jawab Alya.
"Kalian udah tahu?"
"Taulah Mah, mereka berdua kan teman kita"
"Mereka berdua? Maksudnya?"
"Calon Kak Farid itu temen Lian Mah, dia temen magang Lian"
"Oh iyah?"
"Iyah"
"Waah, kenapa kalian nggak cerita?"
"Hehe, ya kan nanti Mamah tau sendiri. Mamah tau dari siapa Kak Farid mau lamaran?"
"Mamah kan baru selesai arisan. Biasa ibu-ibu, Ibu Farid itu sahabat Mamah."
"Ooh"
"Kapan-kapan ikut Mamah ya. Mamah mau kenalin kamu ke temen-temen Mamah"
"Ikut kemana Mah?"
"Arisan"
"Lian ijin Mas Ardi dulu Mah. Kalau Mas Ardi boleh Lian ikut"
"Hemmm, jangan bilang datang ke arisan, anak itu tidak akan bolehin kamu pergi. Bilang aja temenin Mamah belanja"
"Kok Mamah gitu? Nggak Mah, Lian nggak mau bohong sama suami Lian. Lian udah banyak dosa sama suami. Lian nggak mau nambah-nambahin dosa lagi" jawab Lian lembut tidak mau mengulangi kesalahannya.
__ADS_1
"Aihh kamu ini. Hemm, gimana ya?" jawab Bu Rita kecewa. Bu Rita ingin Alya masuk ke kelompok sosialita.
"Gimana apanya Mah?"
"Mamah seneng Ardi punya istri yang patuh kaya kamu. Tapi Mamah juga sedih kalau kamu nggak berpihak sama Mamah lagi" ungkap Bu Rita cemberut.
"Hehe maksud Mamah apa sih? Lian banyak bertengkar juga kok sama Mas Ardi. Lian juga tetep berpihak ke Mamah"
"Ya udah ikut Mamah datang ke arisan ya!"
"Kalau itu harus ijin Mas Ardi Mah, Lian udah pernah pergi tanpa ijin. Mas Ardi marah, kita jadi berantem. Lian juga nyesel, Lian pasti berdosa. Lian nggak mau ulangi lagi"
"Oke oke, Mamah nyerah kalau itu pilihan kamu. Terus gimana? Resepsi kamu gimana? Kapan kamu mau ukur-ukur baju? Besok jaga apa?"
"Besok jaga siang Mah"
"Ya udah berarti biar desainer panti, Mamah undang besok ya"
"Iya Mah, Lian ikut Mamah aja" jawab Alya mengangguk.
"Desainer panti? Apa mamah tau Mba Intan udah balik ke panti ya? Ah tapi kan desainer panti tidak hanya Mba Intan" Alya sedikit berdebar mengetahui mertuanya ingin yang membuat bajunya desainer dari butik Gunawijaya.
"Kamu udah tentuin yang mau diundang?" tanya Bu Rita lagi.
"Lian kan di Jakarta nggak banyak yang kenal Mah. Cuma punya temen magang aja. Nggak banyak kok"
"Lhoh undang temen yang di Jogja juga boleh kok. Biar mereka nginep di hotel kita"
"Iya Mah. Nanti Lian pikirkan Mah" jawab Alya tersenyum.
"Temen dari Jogja? Apa Dika aku undang aja ya? Biar ketemu Dinda" gumam Alya memikirkan perkataan mertuanya. Kata suaminya kan terserah kalau jalan Tuhan. Menghadiri undangan juga jalan Tuhan. Hihi.
"Oh iya Ardi kemana?" tanya Bu Rita lagi.
"Emmpt, katanya ada perlu Mah" jawab Alya nyengir mengingat pesan suaminya.
"Perlu kemana?" tanya Bu Rita lagi.
"Hemm, anak itu sudah menikah juga, sukanya pergi-pergi. Bukanya temenin istri" jawab Bu Rita menggerutu.
"Lian nggak apa-apa Mah. Biar masalahnya cepat selesai" ucap Alya lepas tidak memikirkan perkataanya memancing curiga Bu Rita.
"Emang masalah apa?"
"Ehm" Alya berdehem.
Alya bingung jawab apa karena keceplosan. Alya menelan lidah dan menundukan kepala.
Alya tahu, suaminya tidak suka kalau orang tua mereka tahu masalahnya. Ardi adalah orang yang tidak ingin orang tuanya khawatir atau merepotkan orang tuanya. Apalagi melibatkan orang tua dalam masalahya, itu pantangan bagi Ardi.
"Masalah apa?" tanya Bu Rita semakin curiga.
"He, Lian nggak tahu pasti Mah"
"Masa nggak tahu, cerita sama Mamah masalah apa?"
"Nggak Mah, bukan masalah yang serius kok"
"Bener? Tapi tatapan mata kamu tidak begitu, kalian menyembunyikan sesuatu dari Mamah. Ada masalah apa Ardi?" tanya Bu Rita tidak bisa dibohongi.
Alya anak yang polos mimik wajahnya akan sangat mudah ditengarai kalau berbohong.
"Itu lho Mah, yang ada di TV, yang berita mengenai Mas Ardi" jawab Alya bingung tidak bisa pandai berbohong.
"Mamah nggak liat TV, emang ada apa?"
"Udah ya Mah, nggak usah dibahas. Doain aja Mas Ardi cepet nemuin tersangkanya biar keluarga si Lila itu berhenti berbuat jahat lagi" jawab Alya lancar dan tanpa sadar justru keceplosan banyak.
Niatnya menghentikan Bu Rita agar berhenti bertanya tapi justru membuat Bu Rita semakin penasaran.
__ADS_1
"Tersangka?" tanya Bu Rita melongo.
"Ups" Alya menutup mulutnya menyadari malah memberi bocoran ke Bu Rita.
"Siapa Lila?" tanya Bu Rita semakin tajam.
Alya gelagapan. "Duh kenapa kelepasan sih?" gumam Alya menyeringai merutuki kebodohanya.
"Katakan ke Mamah siapa Lila?" tanya Bu Rita tegas.
"Lila?"
"Siapa dia? Tersangka apa?"
"Lila, dia"
"Dia siapa? Cepat ceritakan atau mamah marah nih!"
"Lila anak Tuan Wiralila Mah"
"Oh iya Mamah tau, pemilik hotel dan resort itu? Apa yang dia lakukan ke Ardi?" tanya Bu Rita mencecar Alya.
"Duh cerita nggak nih?" gumam Alya dalam hati bingung.
"Cerita ke Mamah!" ucap Bu Rita lagi.
"Lila, Lila pernah fitnah Mas Ardi, mereka juga penjahat Mah" ucap Alya.
Kemudian endingnya, Alya memilih menceritakan masalahnya ke Bu Rita secara detail.
"Hoooh ya ampuun, anaku" ucap Bu Rita spontan lalu menepuk- nepuk dadanya agar tidak syok.
"Maah, Mamah baik-baik aja kan? Mamah tenang, Mas Ardi akan baik-baik aja" tutur Lian meraih bahu Bu Rita.
"Kalian berdua keterlaluan ya. Ada masalah begini Mamah nggak dikasih tahu? Enak aja anak Mamah dibilang kelainan. Anak Mamah itu laki-laki tulen" tutur Bu Rita mengomel tidak terima.
"Iya Mah Lian percaya. Mas Ardi itu laki-laki tulen" jawab Alya menghibur Bu Rita. Ya iyalah Alya istrinya.
"Nggak bisa dibiarin. Berani- beraninya dia menghina Gunawijaya. Mamah harus bilang ke Papah" lanjut Bu Rita masih marah-marah tidak terima.
"Mah jangan"
"Kenapa?"
"Mas Ardi bisa selesaikan masalahnya sendiri Mah. Nggak usah libatin Papah. Nanti Mas Ardi kecewa"
"Lian. Ini bukan tentang kecewanya Ardi. Mamah sakit hati ya, masa anak mamah ganteng-ganteng begitu dikatain Biseks? Kamu juga jadi istrinya diam aja. Dia harus dikasih pelajaran. Dia udah fitnah anak Mamah"
"Mah Kak Riko udah laporin kok. Besok pagi sidangnya"
"Mamah harus datang. Mamah akan buat pelajaran ke mereka. Belum tahu mereka siapa keluarga Gunawijaya. Keterlaluan!"
"Mah. Udah Mamah tenang aja di rumah. Udah ada yang urus kok"
"Terus, ngapain Ardi malam-malam begini pergi?"
"Ya itu tadi, Mas Ardi mau nemuin yang bunuh Pak Jack, Mas Ardi juga pengen nyari bukti kalau Tito itu salah"
"Aduh, kenapa harus ikut pergi sih, kenapa nggak bilang Papah sih? Ardi itu terlalu ceroboh. Kalau Ardi berkelahi gimana? Kalau Ardi terluka gimana?"
"Maah Mas Ardi udah dewasa kok, Mas Ardi akan baik-baik saja"
"Alya, Lian! Kalian itu jangan bodoh. Nggak seharusnya Ardi buang-buang waktu turun tangan langsung begini! Ini terlalu berbahaya! Ardi itu pewaris Gunawijaya. Banyak yang incar nyawanya. Seharusnya dia cukup diam di rumah. Hah, kenapa ceroboh sekali"
"Maah"
"Dasar anak nakal. Kalian itu harus tau dulu lawan kalian siapa? Berapa jumlahnya. Jangam gegabah begini. Aduh. Nggak! Mamah harus bilang ke Papah!"
"Tapi Mah"
__ADS_1
"Kalian itu, nggak punya pengalaman tapi sok jagoan, doakan suamimu baik-baik saja. Bisa-bisanya kalian sembunyikan ini dari Mamah. Papah harus tau!"