
Tidak peduli orang-orang menatapnya aneh. Tidak peduli dia sedang berjalan di rumah sakit elit. Tidak peduli dia istri keluarga ternama.
Alya dengan santainya berjalan menyusuri lorong rumah sakit elite itu dengan celana tidur dan atasan mukenah. Karena emang dari sononya udah cantik, Alya tetap cantik dengan penampilan apa adanya itu.
"Permisi" sapa Alya ke perawat jaga.
"Iya Ibu, ada yang bisa kami bantu?" jawab perawat sopan.
"Saya mau jenguk Dokter Gery. Boleh?" tanya Alya.
Perawat kemudian saling pandang dan melihat jam. Sekarang bukan waktunya membesuk.
"Boleh tau anda siapa?" tanya perawat.
"Saya Alya Berlian Sari, teman Dokter Gery di rumah sakit, saya istri Tuan Ardi Gunawijaya" jawab Alya lengkap.
Mendengar nama Gunawijaya disebut perawat langsung mengangguk mengerti.
"Mohon tunggu Nyonya. Saya ijin dulu dengan Dokter Nando" jawab perawat.
"Iya Sus silahkan"
Gery sengaja dirawat di ruang khusus. Tuan Nando sangat membatasi orang-orang yang menjenguknya. Bahkan perawat yang merawatnya sudah pilihan.
Perawat kemudian menuju ke ruangan Gery. Meminta ijin ke Dokter Nando.
"Siapa yang mau jenguk?" tanya Dokter Nando mendengarkan penuturan perawat.
"Istri Tuan Ardi Gunawijaya Tuan"
"Oh, suruh dia masuk!" perintah Dokter Nando ramah.
Setelah diijinkan. Alya memakai jas khusus penjenguk, Alya mencuci tangan, mengganti alas kakinya dengan alas kaki yang tersedia di ruangan itu.
Dengan langkah sangat hati-hati dan sopan, Alya melangkah maju mendekati Dokter Gery dan Dokter Nando.
"Selamat Pagi Dokter Nando?" sapa Alya membungkukan kepala sopan menyapa Dokter Nando.
"Pagi Nak. Apa kabar suamimu?" tanya Dokter Nando.
Alya melirik ke Dokter Gery. Hatinya langsung bergetar dan teriris, Alya tidak tega melihat keadaan Dokter Gery sekarang. Kenapa bisa sampai seperti ini.
Dokter Gery masih terbaring dengan mata terpejam. Alat bantu nafas masih terpasang di hidung dan mulutnya. Di dada, tangan dan kaki juga masih menempel alat-alat kesehatan. Bahkan cairan infus yang masuk tidak hanya satu.
Alya menelan ludahnya. Menarik nafas, menahan rasa bersalah, kasian, berharap dan bersyukur.
Alya bersalah karena tidak memberi saran ke suaminya lebih mempersiapkan tindakanya. Kasian ke Dokter Gery, dia harus terluka parah seperti sekarang. Berharap Dokter Gery kuat, bertahan dan selamat. Dan Alya juga bersyukur Tito ketangkep, suami dan teman-tamanya masih bernafas.
"Alhamdulillah sudah siuman Dok" jawab Alya lirih, kemudian menunduk.
__ADS_1
Alya tahu perasaan Dokter Nando sekarang, meski Ardi lebih beruntung, Alya tetap harus menjaga perasaan Dokter Nando. Alya berdiri satu langkah di belakang Dokter Nando.
"Syukurlah" jawab Dokter Nando singkat dan dingin.
Lalu mereka berdua terdiam. Berdiri terpaku menatap sesosok laki-laki yang terbaring lemah dengan bantuan alat-alat. Tatapan Dokter Nando kosong. Alya tahu pasti betapa rapuh dan hancur perasaan Dokter Nando saat ini
"Dokter Gery, Alya Mohon Bertahanlah Dok!" ucap Alya lirih dalam hati dan meneteskan air mata.
Alya mengingat semua tentang Dokter Gery. Senior pertama yang dia temui, senior yang selalu mengatainya ceroboh. Senior yang paling cerewet dan bawel.
Senior yang kemudian menolongnya. Tiba-tiba nongol di depanya di kantin. Senior yang kemudian menjadi kakaknya.
"Sadarlah dan kembalilah menjadi Dokter bawel seperti yang Alya kenal Dok" ucap Alya lagi masih membatin menatap Dokter Gery dan meneteskan air mata sampai terisak.
Mendengar Alya terisak. Dokter Nando melirik ke Alya. Kenapa Alya terisak dan menangis, Alya kan hanya istri dari temanya Gery. Begitu fikir Dokter Nando.
"Apa kamu dekat denganya Nak?" tanya Dokter Nando pelan.
Alya mengelap air matanya.
"Saya junior Dokter Gery di rumah sakit Dok" jawab Alya masih menahan tangis.
"Kamu Dokter juga?"
"Iya, saya masih intership. Masih dokter umum"
"Boleh saya mendekati Dokter Gery?" tanya Alya meminta ijin.
"Silahkan"
Kemudian Alya maju melewati Dokter Nando, Alya duduk di kursi tempat Dokter Nando menunggu Gery semalaman. Alya menatap lekat Dokter Gery ingin meraih tanganya tapi sadar dia bukan mahromnya. Kemudian Alya hanya mendekatkan wajahnya ke telinga Dokter Gery.
"Hai Dokter Gery, Ini aku Alya. Dokter ceroboh yang dokter bilang. Bangun Dok. Bukankah Kak Gery bilang akan jadi Kakakku, kakak yang bela aku kalau suamiku menyakitiku?" tutur Alya sambil terisak mengelap air matanya.
"Suamiku sudah sadar Kak. Ayolah Kak Gery bangun juga. Bukankah Kak Gery ingin melihat Dokter Mira bahagia? Dokter Mira akan menangis melihatmu begini. Bangun Kak, Alya mohon bertahanlah dan berjuanglah" lanjut Alya membisikan pesan ke Gery.
Tapi Dokter Gery tidak bergeming. Matanya masih terpejam. Alya kemudian melihat layar bedset monitor.
Saturasi oksigen Gery mulai naik dan stabil. Nadinya juga, sekarang tinggal tekanan darahnya yang masih rendah.
"Alhamdullah, good job Kak, Saturasi Kak Gery mulai membaik. Teruslah membaik Kakakku" ucap Alya mengakhiri pesanya.
Kemudian Alya berdiri dari duduknya menghormati Dokter Nando. Alya memilih posisi di sebelah kiri belakang Dokter Nando.
"Terima kasih sudah mendoakan anak nakal ini. Sepertinya kalian akrab" tutur Dokter Nando ke Alya.
"Kami lumayan akrab Dok"
"Boleh kita ngobrol di luar?" tanya Dokter Nando.
__ADS_1
"Baik Dok" jawab Alya menunduk dan bersedia menjawab semua pertanyaan Dokter Nando.
Lalu mereka keluar dari ruangan Dokter Gery. Dokter Nando mengajak Alya duduk di sofa sebuah ruangan tempat para Dokter beristirahat.
Alya dan Dokter Nando duduk di sofa berjauhan. Mereka mengambil tempat duduk di masing-masing ujung sofa. Itu semua sebagai tanda saling menghormati.
Alya menghormati Dokter Nando sebagai orang tua dan Dokter Senior. Sementara Dokter Nando menghargai Alya sebagai istri Tuan Ardi dan sahabat anaknya.
"Siapa Mira?" tanya Dokter Nando ke Alya mendengar perkataan Alya.
"Dokter Mira. Dia teman sesama WKDS Dokter Gery Dok"
"Spesialis apa?"
"Dia spesialis anak"
"Apa yang terjadi sampai anakku seperti ini?"
"Maafkan suami saya Dok" jawab Alya menundukan kepala.
"Kenapa kamu meminta maaf, apa yang suamimu lakukan?"
"Dokter Gery dan suami saya pergi bersama, tujuan mereka sama dengan alasan berbeda" tutur Alya mulai bercerita. Dokter Nando masih terjaga mendengar cerita Alya.
"Suami Saya, ingin membuktikan siapa Tito, memberi pelajaran dan menghentikan Tito. Adik Tito sudah mencemarkan nama baik suami saya, dia juga menghasut dan menyabotase bisnis suami saya. Sementara Dokter Gery" ucap Alya menjeda percakapanya menelan salivanya.
"Dokter Gery ikut suami saya. Karena Dokter Gery ingin mencegah pertunangan Dokter Mira dan Tito" lanjut Alya bercerita.
"Siapa Tito ? Siapa Mira?"
"Tito anak Tuan Wira Dok. Dokter Mira adalah perempuan yang Dokter Gery cinta. Mereka terlibat cinta segitiga. Orang tua Mira menjodohkan Dokter Mira dan Tito. Tapi Tito ternyata mafia narko*a"
"Jadi itu sebabnya anakku belum mau menikah?"
"Ehm" Alya berdehem tidak menjawab, ya mana Alya tau masalah alasan Dokter Gery belum menikah.
"Maafkan suami saya, karena mereka pergi ke tempat Tito tanpa perhitungan matang. Dan berakibat seperti ini" ucap Alya lagi.
"Hah" Dokter Nando justru menghela nafas dan tersenyum. Seakan menemukan sesuatu yang dia cari.
Alya sedikit bingung kenapa Tuan Nando malah berekspresi bahagia. Padahal dari tadi Alya menjaga sikap bertahan dalam situasi kaku. Alya sangat berhati-hati agar Tuan Nando tidak tersakiti.
"Saya ingin bertemu dengan Dokter Mira, bisakah aku menemuinya?" tanya Dokter Nando.
"Hoh?" jawab Alya spontan terbengong.
"Kamu temanya kan? Bisakah saya menemuinya?"
"Tentu Dok" jawab Alya tersenyum.
__ADS_1