Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
139. Perhatian.


__ADS_3

tbc di Jogja.


Kalau di Jakarta Alya yang sering pundungan dan ngrepotin Anya. Kini gantian Anya yang patah hati butuh dinasehati selama di Jogja.


Ya itulah gunanya sahabat. Saling berbagi dan saling memperingati. Karena kata orang, manusia lebih mudah menilai orang lain. Tapi tidak mudah menilai sendiri. Seseorang menjalani kehidupan sesekali memang butuh pengontrol dan refleksi diri dari orang lain. Meski pada akhirnya tetap kita sendiri yang menentukan.


"Anya... " panggil Alya lembut sambil mengelus rambut Anya yang terurai. Anya masih tetap menenggelamkan mukanya ke bantal.


"Bentar lagi maghrib lho. Nggak baik maghrib-maghrib di kamar. Keluar yuk. Mau aku buatin minum hangat?" tutur Alya lembut merayu Anya. Anya terdengar terisak.


"Katanya kamu pengen nikmati liburan di sini? Kenapa jadi gini? Happy dong" lanjut Alya lagi. Kali ini Anya bergerak. Lalu bangung dan memeluk Alya.


"Hiks hiks" Anya masih nangis.


"Kamu kenapa? Cerita sih?" Alya mengelus rambut Anya pelan.


"Lo pasti seneng kan gue begini!" ucap Anya terbata dan menyeka air matanya.


"Kok kamu bilang gitu? Masa aku seneng liat sahabatku nangis, nggaklah. Ada apa emangnya?"


"Hu hu hu" Anya masih lanjut nangis.


Alya menelan ludahnya sedikit bingung melihat Anya menangis. Alya menunggu Anya sedikit tenang. Ternyata begini rasanya melihat sahabatnya menangis. Pantas saja waktu di Jakarta Anya marah dan gemas kalau Alya nangis.


"Udah lega. Ayo cerita ada apa?" tanya Alya setelah Anya menurunkan nada tangisanya.


"Gue putus sama Agung"


"What?" tanya Alya melotot, kemudian menyunggingkan senyum. Tapi tidak lama Alya langsung sadar, pura-pura bersimpati. Alya tahu kalau ketahuan Alya bahagia, Anya tersinggung dan marah.


"Sabar yah! Kok bisa?" tanya Alya lagi pura-pura ikut sedih dan bersimpati. Padahal dalam hati. "Alhamdulillah Nya. Kamu putus juga. Jadi nih nikah sama Farid"


"Lo seneng kan? Lo pasti ngata-ngatain gue kan?" jawab Anya tau kalau Alya pura-pura simpati. Soalnya dari awal Alya selalu cerewet nyuruh Anya ninggalin Agung.


"Nggak lah Anya. Aku kan selalu mendukung kebahagiaan dan pilihan kamu. Kalau yang terbaik putus, ya udah. Tapi emang kenapa kok putus? Bukanya kamu mau liburan bareng?" tanya Alya lagi sedikit menyindir.


"Semua gara-gara Aa Farid!" jawab Anya ketus, mengingat kelakuan Farid yang menurutnya sangat menjijikan dan menyebalkan.


"Aa Farid?" tanya Alya terkejut dan penasaran.


"Dia nyium gue di depan Agung" jawab Anya lirih menundukan kepala.


"Hoh? Ups!" Alya terbengong setengah tertawa bahagia lalu menghentikan tawanya sendiri.


Alya tidak mau mengubah mood Anya. Tapi dalam hati Alya jingkrak-jingkrak ingin ketawa lepas dan Alya ingin cepat-cepat cerita ke Ardi.


"Ternyata diam-diam Kak Farid nekad juga" batin Alya.


"Kok kamu kaya seneng gitu? Gue benci banget sama Farid" tutur Anya kesal.


"Ehm" Alya berdehem bingung mau bilang apa. "Aduh, kok malah jadi benci sih, susah niih. Gawat_gawat" batin Alya dalam hati dan menyiapkan kata-kata merayu Anya lagi.


"Emang gimana ceritanya? Maksudnya, kok Kak Farid bisa langsung cium kamu. Terus kamu bisa langsung putus gitu aja?" tanya Alya memelankan suara dan perkataanya, Alya sangat berhati-hati agar Anya mau cerita.


Karena Anya sedang labil dan butuh cerita, Anya menceritakan semuanya. Mulai dari perkataan Farid, orang tuanya yang kembali menanyakan Anya. Pertengkaranya dengan Agung.Pernyataan Agung dan sampai mereka putus.


"Oooh gitu?" jawab Alya mengambil kesimpulan. Alya lega Anya mau cerita.


"Kenapa sih si Farid ikut nginep di sini segala? Bete gue!" gerutu Anya lagi mengingat Farid


"Emm, aku boleh tanya nggak?" tanya Alya mengambil ancang-ancang. Karena Anya sudah mau cerita. Sekarang waktunya menyadarkan Anya dan tidak pura-pura bersimpati atau bersedih.


"Sok aja" jawab Anya.


"Menurut kamu, Agung salah nggak sih mutusin kamu gitu aja?"


"Kok kamu bilang gitu?"


"Kamu bilang, sebelum kamu putus, meski dia udah liat kamu sama Kak Farid ciuman dan kamu jelasin itu pemaksaan. Dia masih kasih penawaran hubungan ke kamu kan? Dia nggak langsung mutusin kamu gara-gara ciuman Kak Farid dan perjodohan kalian kan?" tanya Alya panjang, ingin Anya sadar.


"Iya!"


"Penyebab dia mutusin kamu bukan tentang Kak Farid kan? Tapi karena kamu nggak mau nginep di kosnya, benar?" tanya Alya lagi, kali ini berhasil membuat Anya berfikir jernih.


"Iya" jawab Anya lagi.


"Maaf banget ya Nya.... aku bukan ngebela Kak Farid ya. Ya aku setuju sama kamu. Kak Farid itu salah! Dia emang salah dan kurang ajar. Aku juga nggak nyangka Kak Farid diam-diam menghanyutkan!?"

__ADS_1


"Iyalah Kak Farid diajarin Mas Ardi" batin Alya ditengah omonganya. Ardi berhasil memanas-manasi Farid.


"Kamu berhak marah ke dia ataupun benci ke dia atas apa yang dia lakukan ke kamu. Tapi. Coba deh dipikir lagi, kalau emang Agung baik dan cinta ke kamu. Apa iya sih setega itu dia maksa kamu buat ikut ke kos. kemudian semudah itu dia putusin kamu gitu aja!" lanjut Alya lagi.


Anya diam mendengarkan Alya.


"Terus, kok dia tega ngatain kamu egois. Kalau emang dia cinta sama kamu. Dia seharusnya nggak milih putus, meskipun dia belum siap nikah, laki-laki harus lhoh jentel dan berani ke orang tua perempuan. Setidaknya jelasin, setidaknya berjuang dulu"


"Gue udah ngomong gitu"


"Berarti kamu tau kan dimana letah kesalahanya?"


"Iya gue tau!"


"Apa?"


"Aa Farid cium gue di depan umum dan hancurin semuanya"


"Aiiih, bukan itu!"


"Terus apa?"


"Ya seharusnya kamu tau, apa arti kamu di hidup dia? Berarti nggak kamu buat dia?" tanya Alya lagi lebih pedas.


Anya diam menelan ludahnya sambil berfikir


"Sadar Anya, kamu udah ngasih cinta kamu ke orang yang salah. Anya kamu itu smart, cantik. Kamu itu pantas diperjuangin. Bukan kamu yang bucin dan nangis begini! Kamu jangan butain otak kamu dengan cinta yang salah" lanjut Alya lagi.


"Emang gue keliatan bucin?" tanya Anya lirih tidak terima dibilang bucin.


"Banget, seganteng apa sih Agung? Jadi nyesel aku nggak ikut, ada fotonya nggak?" jawab Alya terus terang.


"Ada. Nih!"


Alya kemudian mengambil ponsel Anya. Dan kali ini Alya tidak bisa membendung tawanya lagi.


"Ya ampun Anya jadi kamu nangis buat orang ini? Gantengan Kak Farid kemana-man Anya" ceplos Alya spontan.


"Kok kamu bilang gitu, Agung tuh manis tau!" jawab Anya masih membela Agung tidak terima kalau Alya ambil kesimpulan seleranya salah.


"Tapi cungkring begini, ya mending Kak Farid lah" jawab Alya jujur.


"Kenapa kamu masih nggak terima? Hello, sadar Anya. Dia yang mutusin kamu, kalau aku jadi kamu, ih turun harga diriku diputusin cowok nangis-nangis begini. Mending kalau ganteng. Jelek begini. Dia menang dokter doang. Itu aja belum selesai. Sadar Anya!" sambung Alya lagi terus terang.


Mentang-mentang suami Alya ganteng jadi Alya bisa ngehina Anya. Tapi bukan ngehina sih. Alya ingin Anya sadar.


"Emang gue terlihat menyedihkan ya?"


"Sangat!" jawab Alya lagi terus terang.


"Ah kenapa lo ngata-ngatain gue sih!" jawab Anya bete. Sekarang Anya sudah tidak sedih lagi dan kesadaranya mulai pulih.


"Ya udah makanya. Cuci muka geh sana, mandi sekalian. Biar kesadaranmu kumpul. Meski aku nggak pernah pacaran, haram hukumnya termehek-mehek karena cowok. Apalagi diputusin cowok!"


"Apaan lo juga nangis-nangis juga gara-gara cemburu nggak jelas"


"Ya kan aku udah nikah, dia udah ambil harta paling berhargaku, ya wajarlah aku nggak terima. Kamu? Baru juga pacaran. Udah sih move on!"


"Iya ya" jawab Anya menunduk sekarang Anya benar-benar sadar kesalahanya.


"Gitu dong. Senyum!"


"Ogah"


"Mandi sana!"


"Males dingin"


"Astaghfirulloh, kamu tuh gadis, mandi biar wangi. Tuh para laki-laki mau bakar-bakaran tau. Kayaknya enak tuh" sambung Alya lagi.


"Iya ya"


"Nih dengerin ya Nya..., meski aku nikah baru mau masuk bulan ketiga. Tapi nikah bukan cuma tentang cinta. Kamu juga harus pikirin restu orang tua kamu, masa depan kamu. Selebihnya aku yakin kamu tau tanpa aku kasih tau"


"Iya ya, udah sih cerewet" jawab Anya lagi mengumpat ke Alya. Lalu dari luar Dinda masuk selepas mandi.


"Ngobrolin apa sih? Asik banget!" tanya Dinda merasa selalu dicueki Anya dan Alya.

__ADS_1


"Anak kecil nggak boleh tau" jawab Alya merasa Dinda jomblo jadi nggak perlu tau.


"Iuw gayanya yang udah punya suami ngatain gue anak kecil. Gue lebih tua dari lo. Meski berapa hari doang" jawab Dinda tidak terima dikatain anak kecil.


"Kamu mandi?" tanya Anya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


"Mandilah masa enggak" jawab Dinda sambil mengeringkan rambut pendeknya. Dinda lega Anya udah mau ngomong.


"Nggak dingin?" tanya Anya lagi.


"Pakai air anget dong, tuh udah Kak Farid rebusin, dia nanyain lo, katanya buat lo" jawab Dinda jujur.


"Aa Farid?" tanya Anya tidak percaya dan terkejut, ternyata Farid memperhatikan dia.


"Lhoh mereka udah balik?" sahut Alya ikut bertanya, mereka tidak sadar kalau Alya dan Anya ngobrol udah lama.


"Udah Al. Eh Al. Suami lo kan kaya. Kok nggak ada water hiternya sih? Apa shower gitu? Di sini kan dingin banget" tanya Dinda blak blakan.


"Ada tapi dikamarku. Yang di luar ibuku katanya nggak suka, dan nggak bisa makainya. Daripada ibu bingung kamar mandi yang di luar nggak dikasih"


"Iuuuh dasar mikirin diri sendiri. Ibunya diajarinlah. Mikirin tamu juga"


"Iya nanti aku bilang ke suami. Eh suamiku udah lama baliknya?"


"Lumayan. Tuh laki lo sama ibu lho lagi pada nyiapin bumbu, sana keluar kasian ibu lo udah tua juga"


"Iya, terus yang lain kemana?"


"Mas Dika sama Kak Farid lagi mau potong kelinci" cerita Dinda polos.


Mendengar kelinci Anya dan Alya mendengarkan antusias. Dan ingin keluar ikut gabung. Pasti seru bikin sate dan bakar-bakaran.


"Aku mau ke suamiku ya. Udah nggak usah sedih lagi ya Nya! Sana mandi. Udah direbusin air buat mandi tuh. Perhatian kan Aa Farid?" goda Alya ke Anya.


Anya hanya diam malu. Tapi sebenarnya Anya juga senang mendapat perhatian Farid.


Alya dan Dinda ikut ke dapur menggantian Bu Mirna, membantu cowok-cowok masak, buat bumbu, potong-potong dan bersihin. Sementara Anya mandi. Tidak lama adzan maghrib terdengar. Mereka semua sholat.


Setelah sholat maghrib di halaman belakang rumah Alya. Beratapkan langit yang disinari rembulan. Mereka berenam barbequean ala Jawa, alias buat sate dan buat ikan bakar.


Si perempuan bersih-bersih menyiapkan tikar, piring dan minuman. Dika dan Farid bagian bakar membakar. Ardi cukup jadi asisten melakukan apa yang diminta Dika dan Farid.


Karena sedang hamil Alya meminta dipisahkan ikan nilanya untuk digoreng matang. Mereka berenampun masak sambil bercerita. Tidak lupa menyalakan musik dari ponsel. Sebenarnya tokoh utama yang mendominasi cerita Dika dan Dinda. Lalu disambung Ardi yang sesekali meledek Dinda.


Farid dan Anya lebih banyak diam. Sesekali mereka saling pandang. Dan meski tidak sesuai angan-angan dan ekspektasi, dalam hati Anya tetap menikmati kebersamaan mereka. Dan liburan Anya tetaplah indah. Makan dan masak bersama di rumah Alya juga cukup seru.


Dinda merasa sangat bahagia. Akhirnya sisi kehidupanya tidak melulu dihadapkan dengan darah, luka jahitan, infus dan tumpukan rekam medis. Dinda tertawa lepas menikmati sate kelinci yang dibuat oleh teman dadakanya itu.


Bu Mirna ikut bergabung menikmati nika bakar. Bu Mirna juga tampak lega, Bu Mirna yakin kalau kehidupan Alya di Jakarta bahagia melihat Alya mempunyai teman sebaik mereka.


Dalam hati Bu Mirna terselip doa, semoga tidak ada yang mengganggu rumah tangga anaknya. Dan kehidupa Alya di Jakarta akan tetap seperti yang dia saksikan sekarang. Semoga setelah kembali ke Jakarta Alya akan tetap selalu harmonis dengan suaminya.


"Besok jadi kan?" tanya Dinda di sela-sela makan. Dinda selalu terbayang dan tidak sabar menikmati betapa seru agenda besok.


"Jadi apa?" tanya Anya nggak ngeh.


"Katanya mau jalan-jalan naik jeep. Kita wisata lava tour, keliling ke situs-situs merapi, gue liat di youtube asik tuh" jawab Dinda lagi.


"Saya manut Mba, kalau jadi saya hubungi teman saya" jawab Dika.


"Jadi lah ya, please, udah sampai sini juga"Dinda memohon.


"Jadi" jawab Farid tegas, menatap ke Anya.


Anya sadar di tatap lalu menelan ludah dan mengalihkan pandangan ke Dinda. Dinda menatap Anya memohon agar ikut dan jadi jalan-jalan.


"Oke jadi" jawab Anya mengangguk lalu semuanya tersenyum bahagia.


"Aku nggak ikut yah" tutur Alya lembut di sela-sela tawa temanya.


"Kenapa?" tanya Dinda terkejut.


"Kan Alya lagi hamil" jawab Anya lirih.


"Oh iya lupa, hehe"


"Kebetulan Jeepnya juga untuk 4, 5 orang maksimal Mba" sambung Dika menjelaskan.

__ADS_1


"Wah pas udah cocok, gue nggak usah ikut!" sambung Ardi bahagia.


Ardi ingin sahabatnya itu lancar pedekatenya. Sementara dirinya merasa sudah tidak perlu ikut wisata begituan. Menghabiskan waktu di kamar bersama istrinya lebih menyenangkan menurut Ardi.


__ADS_2