Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
146. Kembali


__ADS_3

Alya memeluk ibunya erat, menumpahkan segala resahnya. Mencurahkan segala rasa khawatirnya ditukar dengan rasa pasrah. Karena kini status Alya sudah berubah.


Ada sesak di dadanya. Meninggalkan ibunya yang mulai renta seorang diri. Tapi apa daya, kini Alya sudah menjadi seorang istri. Tugas Alya sekarang mengabdi pada suami. Mendampingi kemana suaminya pergi.


Ardi di belakangnya menatapnya lekat, ada haru yang menghampiri. Menambah tekad Ardi semakin bulat. Ardi harus membahagiakan Alya. Membayar pengorbananya dengan cinta dan segenap jiwa raga Ardi.


"Udah yuk. Anya nanti jaga malam lho!" bisik Ardi ke Alya.


Bu Mirnapun menepuk pundak Alya lembut dan melepaskan pelukanya. Bu Mirna tersenyum mengangguk mempersilahkan dan mengikhlaskan putrinya pergi mengikuti suaminya.


Bu Mirna sadar sepenuh hati, kodrat Alya sebagai perempuan ketika sudah menikah adalah menjadi milik suaminya. Bu Mirna tidak mau menjerumuskan putrinya menjadi istri durhaka dengan menahanya. Harapanya cuma satu, Alya akan tetap hidup bahagia sepeninggal dirinya nanti.


Meski sejujurnya ada lubang rindu yang masih menganga di hatinya. Bohong kalau Bu Mirna tidak sedih dengan kepergian Alya. Atau sudah puas dengan kebersamaan putri dan menantunya.


Tapi apalah daya, sejatinya kita hidup hanya mengikuti garis tangan dari yang kuasa. Menjalaninya dengan penuh syukur dan bahagia. Bu Mirna harus ikhlas ditinggal pergi putrinyam


Bisa saja Bu Mirna ikut menantunya. Tapi sebagai manusia yang mempunyai harga diri, Bu Mirna tidak mau menempel dan berpangku tangan di rumah besanya, sekaya apapun besanya itu. Bu Mirna masih punya kehidupan dan aktivitas sendiri. Mempunyai kelompok pengajian dan bertani.


"Kapanpun Ibu berubah pikiran telpon saya Bu, secepatnya Ardi jemput" tutur Ardi mencium tangan Bu Mirna, sebagai anak yang terakhir pamitan.


Bu Mirna tersenyum mengangguk.


"Iyo le, wes kono! Hati-hati, salam buat ibu bapakmu. Seng sabar sama anak ibu. Bahagiakan anak istrimu, ibu titip"


"Siap Bu!" jawab Ardi sigap.


Tentu saja Ardi bersedia. Karena kebahagiaan Ardi sekarang anak dan istrinya. Istri cantik dan sederhana yang tidak banyak menuntut seperti impianya selama ini.


Istri yang bisa melepas semua lelahnya ketika pulang kerja. Ardi hanya tinggal mendidik Alya agar mau menjadi istri yang patuh dan mau fokus di rumah.


Ardi dan Alya menyusul teman-temanya yang sudah berjalan lebih dulu. Farid duduk di depan di samping Dika. Anya dan Dinda di belakang. Ardi dan Alya di tengah, seperti biasa, Ardi mau Alya selalu menempel padanya.


"Thin thin" Dika menyalakan klakson dan menganggukan kepalanya dari balik kaca, sebagai bentuk pamitan terakhir.


Alya dan teman-temanya menatap sendu meninggalkan Bu Mirna yang berdiri di halaman. Tidak terkecuali Farid.


Ardi melihat istrinya sedih mengulurkan tangan kekarnya. Menawarkan kehangatan lewat pundaknya melepas semua gundahnya.


"Ibu akan baik-baik saja sayang. Kan tadi kita udah bilang ke Lastri untuk awasin ibu minum obat" tutur Ardi lembut menenangkan Lian.


"Iya" jawab Lian mengangguk.


Farid yang duduk di depan tanpa sengaja memperhatikan percakapan mereka berdua lewat spion. Tidak sengaja Ardi dan Alya menangkap tatapan Farid. Sehingga mereka saling canggung.


Ardi, dan Farid tahu, dulu alasan Alya nolaknFarid karena Alya tidak ingin meninggalkan ibunya. Alya tidak mau menikah dengan orang Jakarta.


Tapi nyatanya sekarang nikah juga dengan orang Jakarta, sama sahabat Farid sendiri lagi. Lalu mereka saling membuang pandangan. Menyadari semua takdir Tuhan.


Sekitar 1 jaman mereka sampai ke bandara. Dika melewati jalan privat yang khusus untuk orang-orang tertentu. Pesawat Gunawijaya kepunyaan Tuan Aryo sudah menunggu beserta pegawainya. Mereka pun berpamitan dengan Dika.


"Ternyata Gunawiya benar-benar crazy rich ya? Kenapa barang-barang Alya nggak ada yang bermerek satupun, kenapa Alya biasa aja ya" bisik Dinda ke Anya saat melihat pesawat dengan logo "GW"


"Hush diam jangan berisik. Ardi bisa marah dan ninggalin kita di sini lho kalau denger" jawab Anya sambil berjalan.


"Ya kali, kalau gue jadi Alya gue tiap hari bakal shoping tas baju sepatu. Louis vuitton, Dior, Hermes, chanel dan sebagainya. Kaya artis-artis gitu" jawab Dinda lagi.


"Ya itu kan lo, bukan Alya. Makanya lo sama Tuhan belum dikasih jodoh otak lo udah begituan dulu sih" sahut Anya lagi.


"Tapi kok Ardi milihnya Alya ya? Nggak nyari yang selevel gitu?" tanya Dinda masih ingin membahas temanyam


"Hiish lo tuh ya. Ya ngapain Ardi nyari yang kaya kalau kekayaanya sendiri aja udah cukup. Orang kaya dia tuh yang penting yang bikin hidupnya bahagia, nyari bibit yang baik untuk keturunanya, gitu kali" jawab Anya menebak.


"Brisik banget sih kalian. Ghibah aja kerjaanya" sindir Farid yang berjalan di belakang mereka lalu berjalan mendahului.


"Iuuyy, apa sih?" jawab Anya bete dikatai ghibah.


Lalu mereka bertiga menyusul Alya dan Ardi yang sudah lebih dulu naik. Pramugari yang disewa Tuan Aryo pun menyapa mereka dengan istimewa. Dinda dan Anya benar-benar ikut menikmati fasilitas dari suami sahabatnya itu. Sementara Farid biasa saja, karena Farid sudah mengetahuinya sejak lama.


Pesawat pribadi Tuan Aryo tidak begitu besar, hanya muat 14 orang lengkap beserta pilot, enginer dan pramugari. Akan tetapi fasilitas di dalamnya benar-benar eksklusif.


Tersedia tempat tidur untuk dua orang lengkap dengan selimut dan bantalnya. Dibatasi dengan sekat kecil yang masih terlihat dari bagian lain. Setelah itu tempat duduk yang tampak sepeti ruang tamu berpasangan 8 bangku.


Ardi dan Alya tentu saja memilih tempat tidur. Farid, Anya dan Dinda duduk di kursi.


"Nyaman kan sayang?" tanya Ardi membuka selimut membiarkan Lian naik ke tempat yang disediakan.


"Emem, makasih Mas" jawab Lian mengangguk manis.


"Makasih doang?" tanya Ardi mulai berulah.


"Terus, maksudnya?"


"Cium!" jawab Ardi ikut duduk dan mendekatkan wajahnya ke Lian.


"Hemm malu kalau diliat temen-temen" jawab Alya melirik ke teman-temanya.


"Nggak liat mereka. Cup" jawab Ardi lalu mencuri ciumannya lebih dulu.


Semenjak menikah selain tahu itu semua berpahala. Ardi sangat menyukai bibir istrinya itu. Rasanya seperti ada energi yang tersalur saat menciumnya.


"Ish" desis Alya menatap suaminya.


"Makanya lain kali kalau mas nentuin sesuatu nggak usah protes. Naik pesawat lebih nyaman kan?" tutur Ardi mengingat tempo hari mereka berdebat.

__ADS_1


"Lian tuh takut mas, Lian takut mual sama pusing. Ini udah mau take off belum?" tanya Lian masih membela diri. Kemarin Lian tidak tahu kalau pesawat pribadi Gunawijaya ada tempat tidurnya.


"Bentar lagi. Nggak usah takut, sini peluk mas biar nggak takut" jawab Ardi menepuk badanya. Lalu Ardi menaikan kakinya dan merebahkan kepalanya di bantal.


"Mas" panggil Lian lembut.


"Hemm" jawab Ardi menatap istrinya


"Mas beneran cinta sama Lian?" tanya lirih merasa terharu diperlakukan istimewa.


"Plethak" Ardi menyentil kening istrinya tidak menjawab.


"Uh sakit!" jawab Alya mengusap keningnya.


"Pertanyaan macam apa ini? Masa kamu nggak tahu!"


"Ya kan Lian takut, tapi kok Mas bisa cinta sama Lian?"


"Nggak tahu. Itu juga yang mau mas tanya. Kamu pake pelet apa sih?" jawab Ardi membercandai Lian. Menurut Ardi tidak penting membahas seperti itu. Karena yang penting buktinya, dengan cara Ardi harus menjamin semua yang terbaik untuk anak dan istrinya nanti.


"Ish, ck. Enak aja Lian pake pelet. Bilang aja mas tuh jatuh cinta karen Lian cantik" jawab Alya tidak terima dan ingin dipuji.


"Nggak Yang! Sungguhan. Kalau diperhatiin kamu tuh jelek, pendek kecil, cerewet lagi!" jawab Ardi lagi meledek istrinya.


"Hih! Aku nggak pendek kok enak aja. Ya udah sana sama Mba Intan yang tinggi!"


"Hehehehe nggak sayang, Mas bercanda. Nggak usah sebut-sebut nama itu" jawab Ardi memencet hidung Lian.


"Kenapa? Mas masih cinta?"


"Nggaklah ngapain? Di samping mas udah ada kamu"


"Katanya aku cerewet?"


"Tapi mas suka"


"Ish"


"Udah do'a, tuh mau tak off"


"Ya! Doa bareng ya!"


"Hum. Bismillahi majreha wa mursaha. Inna robbi la ghofururohiim" Lalu mereka berdua berdoa bersama.


"Udah tidur. Nggak usah tanya aneh-aneh. Nggak usah mikir aneh-aneh" tutur Ardi menarik selimut agar mereka berdua nyaman menimmati perjalanan.


"Hemmm" jawab Alya menurut membiarkan perlakuan Ardi.


Pesawat pun tak off. Dan benar saja entah karena hormon atau sudah sugesti. Alya merasa mual dan pusing.


"Sampai Jakarta langsung priksa yah" tutur Ardi lembut merasa kasihan melihat Lian mual dan bersendawa.


"Nggak usah" jawab Lian pelan.


"Mas nggak mau kamu sakit Yang"


"Insya Alloh nggak apa-apa?"


"Bener? Kamu mual gitu?"


"Kan tadi sekarang udah nggak. Lagian kan malam-malam ke rumah sakit adanya dokter umum. Mas lupa Lian dokter juga"


"Ya udah. Tidur! Tidur"


Ardi kemudian membelai kepala Lian perlahan. Sambil menikmati pemandangan di atas awan, pelan-pelan Lian memejamkan matanya. Tidak peduli teman-temanya Lian tertidur.


****


Di ruangan lain Dinda Anya dan Farid duduk berdampingan. Karena sekatnya tidak tertutup, mau tidak mau Dinda melihat sahabatnya itu.


"Mesranya mereka" gumam Dinda iri.


"Nggak usah liat-liat mereka" jawab Anya menyenggol tangan Dinda kemudian melihat ke luar.


"Ehm. Ehm" Farid berdehem mendengar percakapan Dinda dan Farid.


"Nggak usah iri Neng. Kita juga bisa kalau kamu mau" batin Farid menatap Anya.


Sementara Anya memilih mengalihkan pandangan melihat ke awan. Dinda membuka ponselnya melihat hasil jepretanya. Mengenang kebersamaanya yang entah kapan bisa berlanjut.


"Ck. Kenapa aku lupa nggak minta nomer ponselnya yah? Iiih" gumam Dinda kesal menatap foto di layar ponselnya.


"Lo kenapa sih?" tanya Anya risih melihat Dinda.


"Brisik"


"Lo yang brisik juga. Gue denger lo bilang apa? Siapa yang lo maksud?"


"Kepo"


"Lo naksir Dika?" tanya Anya menebak.


"Hemmmm" Dinda melengos tidak menjawab.

__ADS_1


"Aiiih, Dika berondong lhoh! Dia masih kuliah Din!"


"Ya biarin kenapa sih. Yang penting kan dia baik sopan nggak kaya Agung"


"Hemm, lo ngatain gue?"


"Nggak! Lo yang ngatain gue duluan!"


"Ya emang lo bisa jalanin hubungan lo. Nomor ponsel aja nggak punya!"


"Nanti gue minta sama suami Alya!"


"Kalian berdua jangan berisik, gue mau tidur!" tegur Farid melihat dua wanita di depanya.


"Ishh" jawab Anya dan Dinda berhenti bertengkar.


Mereka diam, lama-lama tertidur sampai pesawat landing. Sopir dan anak buah Ardi sudah menyambut dan menunggunya. Ardi kembali terlihat berwibawa sebagai penerus Gunawijaya.


Untung saja, Ardi tidak sesering Tuan Aryo muncul di televisi atau majalah. Jadi Ardi masih bisa bebas berjalan di tengah keramaian menggandeng Alya. Peresmian Ardi sebagai pewaris memang belum rilis, apalagi hidup Ardi di luar negeri. Jadi baru segelintir orang yang mengenal Ardi.


"Masih pusing nggak yang?" tanya Ardi panik memapah istrinya.


"Dikit kok"


"Kamu pucet banget"


"Nggak apa-apa" jawab Lian menenangkan suaminya.


"Kita makan dulu ya"


"Lian pengen cepet sampai rumah, makan di rumah aja"


"Mas gendong ya"


"Nggak ih, Lian bisa jalan sendiri"


"Bener ya nggak apa-apa?"


"Iyaaa!"


Mereka pun berjalan ke mobil. Farid sendiri membawa mobil jadi dia pamitan berpisah. Farid mengajak Anya gabung. Tapi tentu saja ditolak karena Anya masih gengsi.


"Al. Gue naik taksi aja ya. Gue langsung ke rumah sakit" pamit Anya di depan mobil Ardi.


"Kita antar aja, sekalian sama Dinda" jawab Alya ramah.


"Nggak usah repot-repot. Kita udah pesen taksi kok. Makasih ya!" jawab Dinda


"Beneran nggak mau kita anter?"


"Iyah"


"Daaah, hati-hati ya!"


"Makasih ya Al"


Mereka berlimapun berpisah. Sopir Ardi membukakan pintu mobil untuk Alya. Alya dan Ardi masuk. Mereka pulang ke rumah tuan Aryo.


Di istana Tuan Aryo Alya dan Ardi sudah disambut para pelayanya, tidak terkecuali Ida dan Mia. Sesaat setelah Alya berangkat ke danau bersama Farid, Pak Arlan menjemput Ida dan Mia.


"Non Alya?" pekik Mia kegirangan.


Melihat dua sahabatnya, Alya pun tersenyum riang. Lian melepaskan tangan dari menggandeng suaminya. Lian berjalan ke Mia dan Ida tidak sabar menanyakan kabarnya. Lian meraih tangan Mia sehingga hampir berpelukan.


"Ehm" Ardi berdehem dan menarik Lian tidak terima.


"Kenapa Mas?" tanya Lian tidak mengerti suaminya menarik Lian menjauh dari Mia. Mia dan Ida menunduk ketakutan dan mundur.


"Kangen-kangenanya nanti. Ke kamar dulu. Kamu belum bersih-bersih kan? Ayo!" jawab Ardi ketus.


"Ya!" jawab Alya menunduk lalu mengikuti suaminya masuk ke kamar.


"Mas nggak suka kamu peluk-peluk orang sembarangan" tutur Ardi ketus meletakan tas Alya.


"Mia dan Ida kan bukan orang sembarangan Mas"


"Kamu itu punya mas, cuma mas yang boleh peluk-peluk kamu! Mas nggak mau berbagi sama orang lain"


"Iiih. Ck. Lebay deh!"


"Bilang apa?"


"Iya, nggak!"


"Ya udah telpon mereka suruh siapin air buat mandi!"


"Nggak usah suruh mereka, Lian bisa kok siapin"


"Mas nggak mau kecapekan. Emang kamu udah nggak pusing?"


"Nggak! Timbang isi air doang kok. Mandi di bathub kan?"


"Mandi bareng yah!"

__ADS_1


"Mandi aja lho ya! Nggak lebih!"


"Hemmm!"


__ADS_2