Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
239. Misi


__ADS_3

Setelah mendapatkan ijin, dengan perasaan ragu, Faisal mengikuti Ardi, berjalan mengekor di belakang. Berlaku sopan selayaknya anak muda menghormati orang tua. Apalagi setelah dengan sadar, mengetahui seperti apa kedudukan Ardi di mata dunia dan dirinya. 


Lalu lalang orang dan berbagai keperluan. Ada yang berjalan panik menunggui keluarga dan orang terkasih yang dirawat, ada pula yang tampak bahagia saat berjalan bersama orang terkasihnya dan ada pula yang menampakan lelah karena bekerja. Ya itulah pemandangan yang mereka temui sepanjang menyusuri jalan rumah sakit. 


Berbeda dengan Alya, selama berjalan, hilang sedih ataupun cemas, dia tidak bahagia, tidak juga lelah.


Tapi Alya menatap curiga ke suaminya. Dan otaknya penuh tanda tanya.


”Kasih hadiah? Hadiah apa? Kapan siapinya? Ardi kan tau dan kenal Faisal baru tadi"


Alya kemudian mencubit lengan suaminya dan berbisik. 


“Mas” 


“Apa Sayang?” jawab Ardi mesra dengan tatapan hangatnya. 


Alya menoleh ke belakang, Faisal menampakan muka polosnya berjalan menunduk. Alya kemudin menaksir ukuran suaranya setelah mengira- ira jarak mereka agar tidak terdengar. 


“Mas rencanain apa sih?” tanya Alya berbisik 


“Rencana apa Sayang?” tanya Ardi keras, tidak paham maksud Alya. 


“Hiish jangan keras- keras” jawab Alya menggoyangkan tangan suaminya kesal. Ardi malah santui menoleh ke Faisal. 


“Kenapa malah dilihat?” ucap Alya lagi mencubit suaminya lebih kuat.


Alya kan lagi mau ngeghibahin Faisal, malah memancing Faisal melihat mereka. Alya memilih diam, Ardi memang tidak asik diajak berghibah.


Sekarang Ardi paham maksud pertanyaan Alya. Tapi Ardi sengaja mempelesetkan maksudnya. Dan Ardi juga suka kalau Alya kesal- kesal manja, menurut Ardi asik, daripada Alya menangis lebih baik merajuk. 


“Rencananya, abis ini, mas laper kita makan yuk!” jawab Ardi. 


“Makan?” tanya Alya memastikan. 


“Bro...udah makan belum?” 


Tanpa menjawab pertanyaan Alya, Ardi bersikap sok akrab ke Faisal, dan berniat menyenangkan hati Faisal mengajaknya makan.


“Sudah Tuan” jawab Faisal sopan. 


“Kapan? Makan apa?” tanya Ardi lagi. 


“Tadi siang sebelum dzuhur, makan mie ayam Tuan” 


“Oh sekarang udah sore makan lagi ya! Alergi makanan nggak?” 


“Tidak Tuan” 


“Oke. Istriku lagi ngidam makanan korea kita mampir ke restoran korea ya!” ucap Ardi ngarang.


Alya kemudian mendelik ke Ardi dan mencubitnya untuk kesekian kalinya.


“Issh dasar, ngidam apaan?” cibir Alya. 


Ardi justru tersenyum dan menggenggam tangan istrinya. 


“Nggak usah cubit, cubit, mas nggak pergi kok, pegang tangan Mas kenceng” ucap Ardi lagi sambil cengengesan. 


Alya akhirnya diam saja, entahlah mau apa dan mau kemana. Ardi memilih ke restoran korea, karena Ardi tau di dekat rumah sakit swasta yang mereka datangi ada sorum mobil dan restoran korea yang nyaman untuk ngobrol. Ardi merencanakan sesuatu pada Faisal. 


Mereka bertiga pun sampai ke mobil ferari kesayangan Ardi. Karena tempat duduknya hanya 4. Pas, Faisal di depan bersama Pak Arlan, Ardi dan Alya di belakang. Faisal tampak gugup dan bahagia naik mobil mewah. 


“Tuan, apa saya boleh mengambil foto naik mobil ini?” tanya Faisal dengan polosnya. Alya kemudian menatap kaget ke suaminya. Ardi yang sedang ingin membahagiakan Faisal mengangguk mantap dan tersenyum ramah. 


“Silahkan, mau kufotoin?” tawar Ardi di luar dugaan Alya 


“Hooh” Alya spontan terbengong.


Ardi menawarkan memfoto seseorang? Disuruh fotoin Alya saja banyak alasan dan banyak permintaan. 


“Apa tidak lancang Tuan?” tanya Faisal ragu. 


“Nggak apa- apa, mobilku memang keren, aku pesan mobil ini inden lama. Aku pernah muda juga.Sini aku fotokan, tampilkan ketampananmu!” ucap Ardi benar- benar berubah menjadi kawan asik untuk Faisal. 


Faisal tidak menyiakan kesempatan. Bergaya di mobil mewah, bahkan setelah masuk dan mobil berjalan Faisal membuat video di laman media sosialnya.


Dan Ardi yang melihat itu, menyuruh Pak Arlan membuka kap atas agar lebih keren. Faisal bahagia sekali. Jika nanti ditunjukan ke teman- temanya, pasti teman-temanya mengaguminya karena bisa dekat dengan orang sekeren Ardi. Yang tentunya banyak berita baik dan buruknya. 


Sementara Alya masih mencoba mencerna dengan apa yang terjadi. Benarkah Ardi tidak marah dan bersabar dengan sikap, dan perkataan Faisal? Atau Ardi merencanakan sesuatu.


Tidak lama mereka sampai ke restoran korea yang Ardi pilih, rupanya pemiliknya adalah sahabat Ardi, namaya Ara. 


“Hai Ardi!” sapa Ara ramah merasa dekat dengan Ardi, bahkan meski di sampingnya ada Alya, Ara menjabat Ardi memeluknya dan cipika cipiki. 


Tentu saja, muka Alya langsung merah padam, langsung hilang selera makanya. Apalagi Ara terlihat sangat cantik, rambutnya kuning lembut, kulitnya putih bersih, badanya benar- benar langsing seperti model.


Pakaianya pun indah dengan dress manis setinggi lutut. Paduan sepatu flat imut dengan hiasan bling- bling membuat betis dan kaki Ara sangat menarik. 


Alya langsung diam seribu bahasa. Tenggorokanya seperti tercekik, panas sekali rasanya. Ingin berlari pergi tapi tidak bisa. Ardi malah terlihat akrab menjawabnya. 


“Hai, siapin makanan yang enak untukku ya, oh iya kenalkan ini istriku” ucap Ardi memperkenalkan Alya.

__ADS_1


Tapi Alya tidk tersenyum sama sekali.


“Hai, Ara” ucap Ara mengulurkan tangan dengan wajah cerianya. 


Alya menelan ludahnya yang kering, melihat tangan mulus dan lentik Ara dengan jijik. Rasanya ingin menepis dan memukulnya, karena tangan itu sudah nempel- nempel tangan Ardi miliknya. 


“Ehm” Ara berdehem karena sepertinya tanganya dianggurkan. 


Demi menjaga harga diri, Alya menyambutnya meski tertunda dan sangat canggung. 


“Seperti menu biasanya kan? Di meja biasanya juga ?” tanya Ara ramah. 


“Yok” jawab Ardi mantap. 


Pertanyaan Ara dan jawaban Ardi semakin membuat Alya naik pitam dan membakar dadanya. Jadi Ardi langganan makan di sini? Berarti sering juga nempel- nempel perempuan ini. 


“Ya Tuhan apa ini. Dasar Mas Ardi kecentilan, aku aja bicara doang nggak boleh, nomer cowok diblokir semua. Awas aja ya!” batin Alya mengepalkan tangan berjalan di belakang Ardi. 


Alya jadi malas menggandeng Ardi dan membiarkan Ardi berjalan bersama Faisal. 


Rupanya restoran itu menyediakan tempat makan di rooptoof. Mereka bisa menyantap sajian makanan sambil menikmati pemandangan hamparan kota yang luas dengan gedung- gedung yang menjulang tinggi.


Di rooftoop juga dihiasi banyak tanaman bunga. Udaranya juga segar karena di ruang terbuka beratapkan langit yang cerah. 


Sebenarnya, jika tidak mengingat Ara. Alya sangat suka dengan tempat itu. Tapi bayangan tangan Ara meraih tangan Ardi menempelkan pipinya ke pipi Ardi, semuanya menjadi jelek dan menyebalkan. Alya duduk dan terus menunduk ke bawah. Rasanya jengah sekali. 


“Nyidam apaan? Mana ada aku nyidam makanan korea? Doyan aja enggak” batin Alya sangat kesal. 


Sementara Ardi memulai misinya. Menurut Ardi pemandanganya bagus, dan Alya akan menikmati suasananya meski Ardi akan cuekin Alya. Ardi akan mengobrol dengan Faisal. 


“Oh iya Bro, ngomong- ngomong, anak Mang Adi yang keberapa?” tanya Ardi duduk santai dengan kakinya diangkat satu. 


“Saya anak pertama Tuan” jawab Faisal. 


“Oh, kuliah apa kerja nih? Denger- denger anak Mang Adi ada yang kuliah?” tanya Ardi lagi. 


“Saya kerja di PT Tuan” 


“Oh udah kerja. Udah mapan ya?” tanya Ardi.


Faisal hanya tersenyum. 


“Kapan nikah?” tanya Ardi mulai masuk ke intinya. 


“Doanya Tuan” ucap Faisal. 


“Kok doanya sih? Jadi laki- laki itu harus punya planning yang jelas. Kita nahkodanya” 


“Iya Tuan” 


Dengan ragu- ragu dan malu- malu, faisal menjawab. 


“Mia, Tuan” 


“Lhoh, kamu pacarnya Mia, toh? Kok nggak bilang- bilang? Bilang ke papah. biar Papah bantu kalian nikah. Mia kan juga anak Gunawijaya” tutur Ardi memancing. 


“Maafkan saya Tuan” 


“Udah lama pacaran??” tanya Ardi lagi. 


“1 tahun Tuan” 


“Wah lama itu, gass dong biar nanti aku bilangin ke papah” 


“Kami masih menunggu restu dari Kakak Mia dan ayahnya” tutur Faisal akhirnya memberikan jawaban yang Ardi tunggu- tunggu.


Alya yang diam menahan kesal mendengar kata kakak dan ayah Mia langsung tercengang. 


“Mia punya kakak?” tanya Ardi serius.


Setau keluarga Ardi, Mia dulu anak jalanan sebatang kara yang ditinggal keluarganya. 


“Punya Tuan, semua keluarga mereka masih hidup. Tapi ibunya terpisah dari mereka” tutur Faisal lagi.


Ardi kemudian diam dengan tatapan berfikirnya. 


“Ehm... ngrokok nggak nih?” tanya Ardi mencairkan suasana agar Faisal merasa enjoy. 


“Iya Tuan” jawab Faisal.  


Kemudian Ardi mengeluarkan rokok dari tasnya. Meskipun Ardi tidak merokok, tapi Ardi menyediakan rokok, karena beberapa klienya terkadang suka merokok, dan itu semua dilakukan untuk menciptakan suasana akrab dan mengambil hati lawan diskusinya. 


“Sayang, kita boleh ngrokok nggak?” tanya Ardi ingat istrinya lagi hamil. 


Alya yang masih marah melotot ke Ardi, udah tau istrinya lagi hamil malah ngerokok. 


“Lian pengen duduk di sana aja!” ucap Alya menunjuk bangku di pojok. 


“Oke” jawab Ardi membiarkan Alya menjauh. 


Setelah suasana santai lagi, Ardi meembuka pertanyaan lagi. 

__ADS_1


“Kalau boleh tau, seperti apa keluarga Mia, jujur aja, gue baru denger lho kalau Mia punya keluarga”


“Ehm, setau saya, kakak Mia bekerja pada perusahaan Wiralila, dia sebagai pengawal di keluarga itu” ucap Faisal jujur.


Karena Faisal pekerja Pabrik yang bekerja dari pagi sampai sore, dia tidak tahu berita. Mia sendiri merahasiakan kejelekan keluargnya dari Faisal. 


Seketika wajah Ardi menegang. Ketemu jawabanya.


“****, Lila, kamu masih berkeliaran ternyata, tunggu kematianmu, berengsek” batin Ardi lagi. 


“Kamu pernah bertemu dengan kakak dan ayahnya?” tanya Ardi semakin meelisik. 


“Dengan ayahnya belum , karena sudah menikah lagi, dengan kakaknya sekali” 


“Kamu tau rumahnya?” tanya Ardi dengan tatapan tajam.


Melihat tatapan Ardi yang tak biasa, Faisal merasa ada yang aneh dengan Ardi. Faisal kemudian diam menelan ludahnya sambil berfikir. Melihat perubahan Faisal, Ardi paham.


“Aku juga ingin menemuinya, ini berita baik untuk keluarga saya, terutama ayah dan ibu saya” ucap Ardi kembali bernada santai. 


“Iya Tuan” jawab Faisal tidak curiga lagi, kemudian Faisal memberitahu alamat kaka Mia. 


“Oh iya, masalah motor, gue minta maaf ya, ambillah di rumahku besok pagi. Oh iya aku juga punya hadiah untuk kalian, kau bisa setir?” tanya Ardi. 


“Bisa Tuan” 


“Oke, setelah ini kita belanja, tuh makanannya udah dateng. Kita makan dulu ya!” ucap Ardi mematikan rokok.


Mempersilahkan pelayan resto menata makanan. 


“Sayang, makananya udah datang, kemarilah” panggil Ardi ke Alya. 


“Lian kenyang!” jawab Alya jutek sambil mainan hp. 


Ardi diam tidak menjawab, kemudian Ardi mengambil makanan yang dia suka.


“Makanlah dengan nyaman. Aku makan bersama istriku ya” tutur Ardi mempersilahkan ke Faisal. 


Ardi taunya Alya bete karena dicueki. Jadi Ardi mengalah dan mendekat ke Alya , mengira Alya ingin pacaran romantis berdua. Ardi tidak tau kalau Alya cemburu. 


“Aak Sayang” ucap Ardi menyodorkan sumpit makanan. 


Mengetahui Ardi mendekatinya, Alya memalingkan pandangan dan mengunci mulutnya. 


“Ini enak lho  Yang, coba deh!” ucap Ardi.


Alya masih diam. Ardi malah memasukan makananya ke mulutnya dan mengunyah dengan lahap.


“Enak beneran Yang, cicipi deh” ucap Ardi tanpa dosa tidak tahu kalau Alya bukan ingin makan makanan di depanya, tapi lagi pengen makan orang. 


Alya diam menelan ludahnya sendiri. Rasanya malas sekali melihat suaminya itu. 


“Mas ambilin, dagingnya ya!” ucap Ardi. 


“Nggak usah, Mas makan sendiri aja. Lian pengen cepet pulang!” 


“Bener nggak laper?” 


“Nggak” 


“Udah makan emang?” 


“Udah” jawab Alya sangat singkat. 


“Oh iya ya? Tadi kan udah mampir kafe danau ya? Mas makan sendiri ya, soalnya Mas tadi buru- buru pulang nggak ikut makan papah, di kafe juga nggak begitu banyak jadi masih lapaar” jawab Ardi tidak peka malah cerita diriya yang kelaparan. 


Ardi makan dengan lahap di depan Alya yang sedang ngambek. 


“Lihat ayahmu Nak, menyebalkan sekali, bahkan dia makan sendiri selahap itu. Padahal dia bawa- bawa nama kita buat datang kesini, centil–centil sama perempuan. Kalau kamu lahir nanti tonjok saja ayahmu” batin Alya mengelus perutnya seakan anaknya sudah bisa berkomunikasi dan menjadi sahabat sekutunya. 


“Liat saja nanti, Ibu nggak akan tidur bareng ayahmu, kamu jangan protes minta dipeluk ayah ya. Ibu sangat kesal” lanjut Alya lagi berniat melakukan aksi marahnya. 


Tidak butuh waktu lama Ardi menghabiskan makananya. Faisal pun sudah kenyang. Tapi menunya masih banyak. Tteokbokkinya masih banyak, kimchi sujebiya juga masih. Yang  banyak dimakan kimbab dan tokebinya. 


Kemudian Ardi memesankan untuk dibungkuskan menu yang masih utuh, dan memesan lagi, untuk Pak Arlan dan keluarga Faisal. 


“Yang, Mas kasih hadiah ke Faisal ya,sebagai obat setresnya kalau nanti tau kenyataan tentang Mia” bisik Ardi ke Alya saat Faisal ke kamar mandi. 


“Ehm, ya!” jawab Alya masih dingin. 


“Maaf ya, kamu pasti capek banget yah? Mampir ke sorum, bentar doang abis itu pulang, yah?” ucap Ardi lagi mengira kalau Alya jawab singkat karena lelah, tidak mengira sedang cemburu. 


“Hmm” jawab Alya lagi. 


“Jadi ke apartemen kan?” tanya Ardi. 


“Nggak ke rumah aja!!” sahut Alya cepat.


Kalau ke apartemen, gagal membiarkan Ardi tidur sendiri. 


Tapi mendengar Alya ingin pulang ke rumah Ardi bahagia, tandanya ketakutan Alya seratus persen sembuh. Ardi tidak tahu kalau Alya mau beri hukuman ke Ardi. 

__ADS_1


 


 


__ADS_2