Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
162. Temu Kangen


__ADS_3

"Alhamdulillah, sampai juga. Apa kabar sayang? Mama kangen sama kalian" ucap Bu Rita kegirangan lalu memeluk menantunya.


"Mamah sehat Mah?" tanya Alya lembut setelah mencium tangan mertuanya bergantian.


"Sehat sayang" jawab Bu Rita.


Menantu dan mertua itu kemudian berjalan bergandengan melepas rindu menuju ke mobil.


Bu Rita semakin terlihat cantik meski usianya sudah tua. Rambutnya dipotong pendek dan rapih mengurangi kesan tua. Kulitnya tetap kencang dan mulus tanpa flek hitam.


Sementara Tuan Aryo masih sama. Laki-laki matang itu tampak dingin dengan rahang tegasnya. Rambutnya mulai beruban meski baru beberapa.


Ardi dan Tuan Aryo berjalan di belakang mengikuti Alya dan Bu Rita. Petugas portir yang membawakan koper Bu Rita.


"Setelah ini Mamah menetap di Jakarta kan?" tanya Alya polos.


"Mamah ikut papamu aja sayang. Tapi sih sekarang sudah ada sepupu Ardi yang mengurusi usaha papah di Singapur. Kemungkinan Mamah menetap di Jakarta" jawab Bu Rita.


Lalu mereka berempat masuk ke mobil besar yang pintunya sudah dibuka oleh Arlan. Ardi dan Tuan Aryo sangat tau para wanitanya sedang melepas rindu. Anak bapak itu memilih duduk di jok belakang sementara Bu Rita dan Alya di jok tengah di belakang sopir.


Ardi dan Tuan Aryo menikmati perjalanan saling diam dan menyandarkan kepalanya. Sementara Bu Rita dan Alya saling bercengkerama dengan riang.


"Sayang, boleh mama pegang perut kamu? Mamah mau sapa cucu Mamah. Mama nggak sabar buat nimang cucu" tutur Bu Rita ramah.


"Hehehe boleh Mah. Tapi dia masih kecil, belum terasa apa-apa" jawab Alya tersenyum.


"Nggak apa-apa, kan biar dia tumbuh sehat, kenal sama omanya" tutur Bu Rita mengelus perut Alya. Bu Rita sangat bahagia akan menjadi oma.


"Aamiin" jawab Alya tersenyum.


"Pokoknya habis ini kita persiapkan resepsi kalian ya"


"Iya Mah?"


"Mamah mau resepsi kalian megah dan mewah, mamah nggak sabar buat adainya" tutur Bu Rita semangat.


"Emang mau kapan Mah?" tanya Alya lirih.


"Secepatnya! Sebelum perut kamu membesar. Biar kamu tetap cantik pakai gaunya"


"Iya Mah" Alya hanya mengangguk.


"Kamu udah mulai cari-cari MUA, sama fotografer belum?"


"Belum" jawab Alya polos tanpa dosa. Alya dan Ardi memang tidak kepikiran sejauh itu.


"Kok belum, gimana sih? Mamah mau kalian resepsi sebelum kandunganmu 4 bulan itu berarti tinggal berapa minggu lagi. Kok belum persiapan apa-apa?" tanya Bu Rita gusar merasa gemas ke anak dan menantunya.


"He... Maaaf Mah. Lian bingung"


"Kalian ini benar-benar ya? Keterlaluan. Ini tuh resepsi kalian, kok nggak dipikirin. Pokoknya abis ini mamah temenin kamu nyari MUA nya, fitting baju juga. Yah!" tutur Bu Rita memarahi Alya dan Ardi.


"Baik Mah" jawab Alya menunduk. Alya memang hanya berfikir udah nikah ya udah tinggal berusaha menjalaninya dengan baik.


"Maaah. Mama lho baru sampe" sahut Ardi dari belakang tidak terima dimarahi. Ternyata Ardi menguping pembicaraan dua perempuan penting dalam hidupnya.


"Ya kenapa sih Ar?" tanya Bu Rita merasa benar.


"Mamah baru sampe udah marah-marah banyak rencana gitu!"


"Ardi! Tiap hari mamah tuh mikirin resepsi kalian berdua, mamah juga ngrasa bersalah sebagai orang tua, karena resepsi kalian udah telat 3 bulan" ucap Mama Rita tidak terima ditegur anaknya.


"Ya ya, tapi nggak usah ambisi, marah-marah gitu. Mamah baru sampe, istirahat dulu santai dulu" tutur Ardi lagi menegur Bu Rita.


"Mamah juga bilang besok, Mamah kan lagi ngajakin Alya berdiskusi. Apa salah mamah sih?" jawab Bu Rita membela diri.


"Ardi nggak mau mamah nyalahin Ardi sama Lian. Ardi juga nggak mau Lian kecapekan ikutin Mamah" jawab Ardi lagi.

__ADS_1


"Kok kamu bilang gitu sama Mamah. Mamah itu mamah kamu lho. Mamah cuma pengen yang terbaik buat kalian. Mamah pengen resepsi kalian itu jadi pesta terindah yang pernah orang kunjungi. Jadi harus dipersiapkan dengan matang. Ini aja mepet. Gimana sih kamu tuh?" sahut Bu Rita semakin geram ke Ardi.


"Mah resepsi itu bukan prioritas. Lian sekarang udah hamil juga! Sederhana aja" ucap Arde emosi.


"Nggak prioritas gimana? Ya prioritaslah! Orang-orang harus tau kalau mamah punya menantu cantik. Kamu ini nggak ngertiin banget sih" jawab Bu Rita lagi kekeh ingin adakan pesta yang megah.


"Mah, resepsi itu tujuanya buat syukuran dan memberi tahu rekan. Ya sewajarnya ajalah Mah. Cukup saudara sama teman-teman aja" sahut Ardi mengeluarkan pendapatnya.


Anak dan ibu itu masih saling bersi tegang dengan pendapatnya masing-masing. Alya menelun ludahnya memilih diam memperhatikan. Tidak etis kalau Alya ikut nimbrung. Ardi suaminya, Bu Rita mertuanya semua harus dihormati.


"Ya Mamah tahu Ardi. Tapi kan temen papa mama banyak, jadi pasti nanti tamunya juga banyak" jawab Bu Rita tidak mau kalah.


"Kalian berdua. Baru ketemu sudah bertengkar!" celetuk Tuan Aryo merasa terganggu dari dulu anak sama ibu nggak pernah sepemikiran.


"Ya, anak papah itu sukanya begitu" cibir Bu Rita ditegur suaminya.


"Maafin Mas Ardi Mah" ucap Alya ikut menimpali merasa tidak nyaman.


"Iya sayang. Jangan di dengerin omongan suamimu itu" jawab Bu Rita lembut ke Alya.


"Mah Ardi nggak suka pesta-pestaan nggak jelas gitu. Pasti melelahkan, nggak kasian apa sama Lian. Udah sederhana aja, yang penting umumin ke orang terdekat kalau Ardi udah punya istri. Udah cukup" tutur Ardi masih belum puas menyampaikan pendapatanya.


"Ardi, kamu tuh harusnya ngertiin Alya. Resepsi pernikahan itu kan impian semua wanita. Jadi harus sebaik mungkin, seindah mungkin. Iya kan sayang?" jawab Bu Rita mempertahankan pendapatnya dan meminta dukungan dari Alya.


"Iya Mah" jawab Alya lirih takut menyakiti perasaan mertuanya.


"Ardi setuju ada resepsi tapi nggak usah berlebihan, cukup keluarga dan teman dekat Mah"


"Mamah nggak berlebihan Ardi, Mamah hanya ingin yang terbaik"


"Tapi ribet"


"Ck. Kamu ini. Udah kamu diam dan ikut aja, semua biar Mamah dan Alya yang pikirin" ucap Bu Rita emosi.


"Nggak!"


"Kalau Mamah begini terus, ya udah Lian sama Ardi tinggal di Aerim lagi aja" ucap Ardi kesal pendapatnya tidak didengar.


"Eh, nggak bisa. Istrimu ini lagi hamil. Mamah harus pastiin calon cucu mamah sehat, ya sayang yah. Kamu tingal bareng Mamah aja ya!" jawab Bu Rita kembali meminta dukungan Alya.


"He.. Lian ikut suami Lian Mah" jawab Alya lirih melirik ke Ardi. Alya bingung berada di tengah ibu dan anak itu.


"Kok kamu jadi berpihak sama Ardi sih?" tanya Bu Rita kecewa.


Bu Rita berfikir, Bu Riya kan lebih dulu dekat Alya, seharusnya Alya berpihak pada Bu Rita dalam mengambil keputusan keluarga.


"Ya kan Lian istri Ardi Mah, yang tentuin konsep resepsi itu Ardi titik!" sahut Ardi di belakang tidak mau kalah dengan ibunya.


"Sudahlah! Bahas nanti kalau sudah sampai rumah. Ini itu di mobil, nggak akan ketemu titik terang. Semuanya diam" lerai Tuan Aryo dingin.


"Heh" Bu Rita manyun dan tampak kecewa.


Semua terdiam mendengar titah Tuan Aryo. Jika Tuan Aryo keluar tanduknya tidak ada yang berani melawan. Karena pemegang kekuasaan tertinggi adalah Tuan Aryo.


Entahlah mereka berempat ketika berada di luar atau di depan kamera tampak berwibawa, dewasa dan anggun. Tapi tidak ada yang tahu ketika bercampur dan tidak ada orang saling bertengkar dan seperti anak kecil.


Tidak berselang lama mereka sampai ke istana Tuan Aryo. Bu Rita terlihat sangat bahagia memasuki istana yang sudah hampir 2 bulan dia tinggalkan.


"Anggrek Mamah mati nggak? Ada yang ngrawat nggak ya?" tanya Bu Rita saat sampai du ruang tengah.


Ardi dan Tuan Aryo berdecak mendengar pertanyaan Bu Rita. Sementara Alya tersenyum menatap mertuanya.


"Udah pada speik Mah yang anggrek bulan, yang onchidium malah ada yang mekar, Lian rawat tiap hari kok" jawab Alya ramah.


"Benarkah. Makasih sayang. Kamu suka anggrek juga?"


"Lian suka semua tanaman Mah"

__ADS_1


"Tuh kan hobby kita memang sama. Udah ya, jangan mau kalau diajak tinggal di apartemen tinggalah di sini temenin Mamah ya" tutur Bu Rita kembali merayu Alya.


Alya hanya tersenyum.


"Ehm" Ardi berdehem di belakangnya. "Lian punya Ardi jadi terserah Ardi mau tinggal dimana"


"Ardi. Mamah nggak mau tau, kalian tinggal di sini. Nggak ada acara tinggal di apartemen. Sampai kapanpun. Biar mamah yang asuh anak kalian"


"Bertengkarnya masih dilanjut?" tanya Tuan Aryo lagi.


"Mamah nggak bertengkar kok. Oh ya Al. Mamah beli anggrek lagi. Kita tanam yuk. Tuh ada di koper" ucap Bu Rita menunjukan bingkisan. Ternyata oleh-olehnya berupa tanaman.


Alya mengangguk mengikuti mertuanya. Tapi Ardi dan Tuan Ardi melotot semuanya.


"Mah, urusin tanamanya nanti lagi. Mandi dulu. Abis itu makan siang. Baru urusin anggrek" ucap Tuan Aryo.


"Sayang ikut Mas, Mas mau ngomong" ucap Ardi menimpali dan mengulurkan tangan menggandeng istrinya masuk.


Bu Rita dan Alya pun mengikuti suaminya masing-masing. Bu Rita masuk ke kamar bersih-bersih dan bersiap makan siang.


Alya juga mengikuti Ardi masuk ke kamarnya. Entah apa yang akan disampaikan suaminya.


"Abis makan mas mau takziah ke kediaman Jack sayang" tutur Ardi ke Alya sambil duduk di ranjang.


"Iya Mas, Lian titip salam buat anak istrinya"


"Jangan cerita apa-apa ke mamah papah ya"


"Kenapa Mas?"


"Mas nggak mau papa sama mama jadi ikut kepikiran. Biar mas selesaikan masalah mas sendiri"


"Baiklah. Lian cuma bisa doain Mas, semoga masalahnya cepet selesai. Sebenarnya Lian takut mas berurusan dengan begituan. Sungguh! Menurut Lian lebih baik jauh-jauhin orang kaya Lila" tutur Alya pelan dan lembut ke suaminya.


"Kamu tenang aja. Mas baik- baik aja. Mas kan udah jelasin alasan Mas, sayang. Orang jahat nggak boleh dibiarin gitu aja. Riko menempuh cara lain. Dia laporin ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik" tutur Ardi bercerita.


"Berarti yang ngegrebek transaksi obatnya udahan?"


"Masihlah yang. Itu kan target polisi juga. Mas hanya bantu polisi sebagai warga negara yang baik. Mas udah sampaiin ke polisi tempat-tempat mereka transaksi seperti yang Jack laporkan"


"Semoga bernilai ibadah ya Mas. Kasian Jack. Semoga dia khusnul khotimah" ucap Alya sendu mengingat Jack.


"Aamiin. Mas harus tangkap siapa pembunuh Jack. Kamu baik-baik ya di rumah. Jangan pergi-pergi tanpa seijin mas!" tutur Ardi memberi peringatan.


"Iyah. Eh mas. Emang bener kita mau tinggal di apartemen lagi?"


"Nggak. Mas cuma ngeledek mamah aja"


"Iiih. Mas ini, sama ibunya juga, sukanya berantem. Durhaka lho!"


"Mamah kalau diikutin orangnya suka ribet"


"Emang mas nggak? Nggak ngaca. Huh" jawab Alya mencibir suaminya.


"Siapin baju takziah Mas!" perintah Ardi ingin dilayani istrinya.


"Ya" jawab Alya patuh.


Alya ke ruang pakain mengambilkan kemeja untuk suaminya takziah. Alya kemudian membantu Ardi menutup setiap kancing kemejanya dengan teliti.


"Dah rapih" tutu Alya menepuk tubuh kekar di depanya itu.


"Cup, makasih sayang" Ardi mencium kening Alya lembut.


"Hati-hati ya! Cepat pulang kalau urusanya udah selesai"


"Ya. Udah ayok turun, kita makan bareng mamah papah.

__ADS_1


__ADS_2