
Ardi tersenyum melihat dirinya sendiri di cermin. Ardi merasa sangat bersyukur ibunya menghadirkan perempuan yang tepat di sisinya. Bayangan seseorang yang dia temui semalam sedikit mengganggunya. Ardi berniat segera menyelesaikan masalalunya.
Ardi yakin, Berlian adalah masadepanya, entah kenapa sejak pertama melihatnya Ardi yakin Berlian berbeda dari wanita yang lain. Apalagi saat Ardi tahu, Berlian perempuan yang kebaikanya selalu dibicarakan Farid, keyakinan bahwa Berlian secantik namanya semakin bulat.
Dan kini Ardi sudah menggenggamnya, Berlian indah itu sudah menjadi miliknya, meskipun masih ada beban di hatinya. Bagaimana Ardi menjelaskan kepada Farid. Bagaimana jika Berlian mengetahui masalalunya yang semalam kembali datang ke Indonesia.
Cepat atau lambat, Ardi akan memberitahu posisi Berlian di hidupnya kepada Farid. Ardi juga akan memberitahu kepada rekan-rekan bisnisnya kalau status Ardi sekarang sudah beristri. Jadi tidak ada lagi yang mendekatinya dan merayunya.
Tapi tentu saja semua itu harus Ardi pertimbangkan baik-baik. Ardi tidak ingin menyakiti Farid, Ardi juga tidak ingin menyakiti Berlian jika beberapa perempuan yang mengejarnya membahayakan Berlian. Itulah sebabnya Ardi hanya berfikir segera menikahi Alya tanpa membahas resepsi.
Setelah mengenakan kemejanya, Ardi bergegas turun menyusul istrinya yang masih selalu ngambek denganya. Tapi Ardi yakin kelak Berlian akan patuh dan mencintainya.
"Bi.... liat istriku nggak?" tanya Ardi pada Mia yang sedang menyiapkan sarapan. Mia menelan salivanya, "Ternyata perkiraan Ida benar, Non Alya dan Den Ardi sudah menikah diam-diam kemarin di Jogja"
"Sepertinya Non Alya dan Nyonya Rita berada di taman depan Tuan" jawab Mia melanjutkan pekerjaanya.
Ardi segera menyusul istrinya ke halaman depan. Terlihat Berlian sudah cantik menenteng tas, dan Bu Rita terlihat merayu mencegah Alya untuk pergi.
"Pagi Mah" sapa Ardi mencium pipi Mamahnya memakai baju olahraga.
"Kamu ini kenapa lama, tidak lihat istrimu buru-buru, hampir saja dia mau nekat pesan taxi" omel Bu Rita ke anaknya, karena Alya memang berniat pergi ke rumah sakit sendiri.
"Iya maaf Mah, ini kan masih petang, Lian saja yang kepagian" jawab Ardi tidak terima disalahkan sebagai suami.
Alya diam, sebenarnya memang masih terlalu pagi, masih jam 5 lebih 20 menit, perjalanan sekitar satu jam. Alya berniat buru-buru berangkat karena memang tidak ingin bersama Ardi. Kejadian semalam membuat jantung Alya berdetak tidak karuan saat bersama Ardi. Kesal, geram, tapi juga memacu hormon dopaminya. Sungguh sesuatu yang tidak bisa diungkapkan oleh Alya.
"Ya sudah, kalian sarapan dulu, sepertinya Pak Yang memasak lebih pagi. Mama mau olahraga dulu ya" jawab Bu Rita hendak meninggalkan anak dan menantunya.
"Ya Mah, " jawab Ardi.
"Mama nggak ikut sarapan?" tanya Alya akan canggung sarapan berdua dengan suaminya.
"Al, Lian, aduh mamah jadi pusing mau panggil kamu apa? Udah kalian makan duluan, nanti mamah sama papah" jawab Bu Rita.
"Jangan panggil Lian mah, Berlian cuma buat aku" jawab Ardi posesif. Mamanya terkekeh geli melihat anaknya.
"Apa si mas?" jawab Alya gatal mencubit suaminya. "Mamah bebas manggil Alya apa aja. Alya boleh, Lian boleh Sari juga boleh" jawab Alya ke Bu Rita.
"Kalian ini. Ya udah mamah mau olahraga. Sebelum pergi sarapan dulu. Nanti pulang ke sini lagi kan?"
__ADS_1
"Iya Mah"
"Nggak Mah"
Jawab Ardi dan Alya berbarengan tapi tidak kompak.
"Ck. Kalian pengantin baru tapi nggak pernah kompak. Jadi yang benar nanti mau pulang ke sini apa apartemen?"
"Pulang ke sini Mah" jawab Ardi.
Ardi ingin dirinya dan istrinya tinggal di istana Tuan Aryo, agar Berlian patuh dan harapan indah menemui malam panjangnya segera terwujud. Kalau di apartemen mode macan istrinya akan selalu on dan pasti Ardi yang kalah.
"Nggak Mah, Alya nggak bisa, Alya lembur, Alya mau istirahat di apartemen" jawab Alya menolak berbeda pendapat dengan Ardi. Di apartemen Alya tidak malu tidur di depan tv, bahkan Alya bisa kabur ke rumah sakit atau kosan Anya jika Ardi macam-macam.
"Nggak, nggak bisa gitu, istri harus nurut sama suami" jawab Ardi menimpali tetap ingin memperjuangkan cita-citanya mendapatkan malam panjang dan indah.
"Tapi Alya jaga Mas, Alya harus bayar jaga ke temen Alya" jawab Alya menyanggah suaminya.
"Nggak bisa titik!" Ardi mempertahankan pendapatnya, pokoknya si junior harus dapetin haknya.
"Mana bisa gitu, ini tanggung jawab Alya, Alya nggak mau capek bolak balik perjalanan jauh" jawab Alya kekeh.
"Nggak" jawab Alya ngotot.
"Sudah-sudah, kalian sudah tua masih saja kaya anak kecil. Mamah terserah kalian mau pulang kemana, yang penting kalian jangan bertengkar seperti ini. Malu-maluin tau! Dah sana sarapan!" lerai Bu Rita membuat Alya dan Ardi diam.
Bu Rita ikut kesal dan gemas, ternyata anak dan menantunya seperti anak kecil. Padahal mereka berdua sudah sama-sama dewasa. Tapi wajar saja mereka anak tunggal, keras kepalanya sama-sama besar.
Menyadari sudah siang Alya dan Ardi masuk ke ruang makan untuk sarapan. Alya mengambil menu yang ada dan memulai sarapan dengan bismillah. Sementara Ardi diam mematung tidak bergerak sedikitpun.
"Ehm Ehm" Ardi berdehem melihat istrinya makan dengan lahap. Mendengar suaminya berdehem Alya menoleh.
"Kenapa nggak makan? Aku tuh jaga pagi Mas, nggak enak kalau telat? Buruan makanya!" omel Alya melihat Ardi diam saja.
Alya melanjutkan makan, tapi Ardi masih diam memperhatikan Alya.
"Mas, kok diam aja sih? Nggak tahu kalau aku telat? Aku tuh masih magang, nggak enak telat-telat" omel Alya lagi suaminya tidak segera makan.
"Apa menunya kurang enak? Menurutku ini sangat enak. Mas di apartemen dan di Jogja makan sama tempe dan kangkung aja rakus banget?" tanya Alya heran, bahkan Alya sudah menghabiskan makanya.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus memeberi banyak pelajaran" jawab Ardi menatap Alya tajam.
"Entahlah aku tidak bisa mengerti perkataanmu, daripada berdebat denganmu lebih baik aku pesan taksi online saja" jawab Alya masih tidak mengerti.
"Kamu pikir kamu bisa? Aku akan menghancurkan mobil yang membawa kabur istriku tanpa ijinku" ancam Ardi ingin menunjukan kekuasaanya.
"Ck, ya udah ayo berangkat!" jawab Alya jengkel.
"Suapi!" perintah Ardi dingin.
"Hah? Hahahaha" jawab Alya mengejek mendengar perkataan Ardi.
"Lebay banget sih kamu mas, jadi dari tadi kamu nungguin aku makan karena mau disuapi? Iya?" jawab Alya meledek Ardi.
"Iya" jawab Ardi diam menahan kesal.
"Nggak mau! Makan aja sendiri! " jawab Alya tegas sambil meletakan sendok. "Aku tuh bisa telat cuma ngeladenin kamu yang kaya bayi tua" jawab Alya kesal ke suaminya.
"Ya sudah, pilih telat atau nggak aku ijinin keluar!"
"Apa maksudmu?"
"Tentu saja, aku sekarang bisa membawamu ke kamar, semua kekuasaan di rumah ini punyaku. Tanpa seijinku kamu tidak bisa keluar dari sini"
"Ck. Sombongnya... " Alya berdecak kesal.
"Kamu itu punyaku, harus patuh terhadapku!"
"Yeee, enak aja! Emang aku robot. Nggak, aku mau berangkat!" jawab Alya meraih tasnya hendak bangun.
"Duduk!" bentak Ardi dengan nada lebih tinggi membuat Alya sedikit menciut. Alya menelan salivanya Ardi beneran bernada tinggi.
"Iya aku duduk" jawab Alya pelan.
"Mulai sekarang kamu harus selalu suapi aku, kalau nggak, sekarang juga aku gendong ke kamar dan nggak kuijinin keluar" ancam Ardi posesif.
"Iya ini aku suapin" jawab Alya tiba-tiba nurut. "Kok serem sih liat dia galak dingin begini?" ujar Alya dalam hati melihat suaminya mode vampir.
"Satu bantahan satu ciuman! Itu aturanya!" ujar Ardi lagi membuat aturan.
__ADS_1
"Hah? Apa maksudnya?" jawab Alya mengambil nasi.