Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
208. di rumah saja.


__ADS_3

Meski sudah tua, usia tak menyurutkan wibawanya. Selimutnya, segera Tuan Aryo singkap. Disambarnya ponsel mahalnya, menghubungi pelayan setianya.


Sebagai istri yang berbakti, Bu Rita dengan sigap menyiapkan pakaian keluar untuk suaminya. Membantu memakaikanya dengan tangan halusnya yang penuh cinta.


"Cup" tidak lupa Tuan Aryo memberikan kecupan sayang di kening istrinya, memeluknya sebentar memberikan dorongan ke istrinya agar lebih tenang.


"Mamah nggak usah khawatir. Dia sudah bukan bocah lagi" tutur Tuan Aryo.


"Tapi kan dia baru sembuh Pah. Kenapa ada-ada aja sih?"


"Ini akan mematangkan dia, biar dia pantas jadi ayah. Dan lebih waspada" tutur Tuan Aryo lagi.


"Iya Pah. Papah hati-hati"


"Udah mamah tidur istirahat, Papah nggak mau mamah sakit lagi"


"Iya"


Meski sudah tua, Tuan Aryo tidak pernah berubah. Selalu mesra dan menyayangi istrinya, itulah sifat yang harus Ardi ikuti.


Tuan Aryo menelpon anak buahnya segera menyiapkan dua mobil. Satu mobil yang hendak ditukar dengan mobil Ardi, satunya untuk Tuan Aryo.


Pasangan yang mendekati usia senja itu turun melewati lifr rumahnya. Di ruang tamu, besan dan menantunya menunggu mereka turun.


"Kamu pakai kerudung mau kemana menantu?" tanya Tuan Aryo melihat Alya memakai pakaian pergi.


"Lian, mau ikut Papah. Lian mau ketemu Mas Ardi Pah, Lian nemenin Mas Ardi ya Pah" jawab Alya khawatir.


"Nggak usah, kalian di rumah saja. Nanti Ardi malah marah, dia kalian di rumah saja"


"Tapi, Mas Ardi aja belum sembuh, sekarang gimana keadaanya, Lian mau ikut, boleh ya Pah?" pinta Lian seperti anak kecil yang merengek ke bapaknya. Ini pertama kalinya Alya berbicara banyak pada mertua laki-lakinya.


"Dia baik-baik saja, Alloh cuma mau kasih kenang-kenangan buat Farid dan temenmu itu. Tidak usah berlebihan"


"Tapi Pah" tutur Alya ragu, Alya harus cerita tidak mertuanya.


"Tapi apa? Kamu sedang hamil jaga kesehatanmu" tegur Tuan Aryo lagi.


"Kata Mamah, biar tidak menyesal, aku harus cerita" batin Kia dalam hati.


"Pah" panggil Alya.


"Papa berangkat! Papah nggak suka dibantah"


"Ada yang mau Lian sampaikan, Pah. Maaf" tutur Alya.


"Apa?"


"Sebelum Mas Ardi berangkat. Lian liat ada seseorang yang berjalan dari mobil, terus diam di dekat pintu keluar, di bawah lampu. Dia seperti menunggu dan memperhatikan rombongan Mas Ardi" tutur Alya bercerita.


"Paaah" Bu Rita yang mendengarkan ikut ngeri.


Sementara Tuan Aryo mengangguk tenang tanpa ekspresi. Bu Mirna ikut mendengarkan.

__ADS_1


"Pah. Ada yang mau jahat sama anak kita"


"Mamah tenang aja. Ardi pasti nggak diam aja"


"Ardi masih sakit Pah. Papa bantu Ardi dong!" pinta Bu Rita lagi.


"Iya ini Papah mau bantu Ardi. Udah kalian tenang aja. Sana istirahat. Papa berangkat" pamit Tuan Aryo.


Bu Rita, Alya dan Bu Mirna mematuhi perintah Tuan Aryo dan Ardi. Mereka memilih berdiam diri rumah.


"Sudah Jeng, istirahat"


"Aku nggak bisa tidur kalau begini, stress rasanya"


"Ini semua urusan laki-laki. Kita berdoa aja" jawab Bu Mirna.


"Iya Mah, Lian setuju sama Ibu. Kita doain keluarga kita selamet aja"


****


Deruan ombak terdengar menemani kesunyian malam para makhluk yang hidup di tepian. Tidak terkecuali dua orang yang bersembunyi di villa cantik. Ayah dan anak itu duduk di sofa menikmati minuman haram yang berharga mahal.


"Mereka tetap memberlangsungkan acara Pah" tutur Lila memberitahu ayahnya.


"Darimana kamu tahu? Kau dari tadi di rumah terus, apa kau suruh orangmu memata- matai mereka?" tanya Tuan Wira.


"Tidak Pah. Lila masih belum berani bergerak. Kasus Riko juga belum beres sepenuhnya. Lila mau cari aman dulu"


"Lantas kau tau dari siapa tentang acara itu?"


"Gunawijaa....kurangajar!" mendengar cerita putrinya, Tuan Wira langsung meradang.


Harga dirinya merasa diinjak-injak. Padahal selama ini dia merasa selevel dengan Tuan Aryo. Bahkan berniat menandingi dan mengalahkan Tuan Aryo.


Andai saja usahanya lancar, berbesan dengan menteri, lalu karir dunia politik bagus. Maka usahanya akan semakin melebar dan menguasai negara. Dia juga bisa merambah ke luar negeri.


Tapi sayang, aib anaknya kini terbongkar. Karir politiknya berhenti, tangga jalanya untuk memanjat sudah dipatahkan oleh anak, teman anak musuk bebuyutanya.


"Praaang"


Tuan Wira melempar gelas dan botol yang ada di depanya. Dengan nafas memburu dan emosi. Tuan Bayu sudah menikahkan Mira dengan Gery. Bahkan Tito antara hidup atau mati.


"Pah! Papah nggak boleh gini, kita tetep harus hidup" ucap Lila.


"Sampai kapan kita bersembunyi di sini seperti ini?"


"Papah tenanglah. Lila akan cari cara. Besok Lila akan keluar kalau berita mengenai kakak sudah redup. Lila juga harus pastikan si Bian itu dipenjara dan tutup mulut" ucap Lila menenangkan ayahnya.


"Papah nggak mau kita kalah Lila. Papa nggak mau dipermalukan Aryo dan membiarkan dia semakin berjaya" gerutu Tuan Aryo lagi geram.


"Papah tenanglah. Selamatkan diri kita dulu Pah. Baru kita melangkah" ucap Lila lagi.


Tuan Wira diam, lalu bangun meninggalkan anaknya menuju ke kamarnya.

__ADS_1


****


Sesuai dengan perjanjian sebelum acara. Tepat pukul 9 malam acara Gery dan Mira selesai. Tamu-tamu pun sudah berpamitan untuk pulang tinggal keluarga inti.


"Kamu sekarang sudah jadi anakku, bahagiakan putriku, jangan buat Mira menangis" ucap Mama Mira ke Gery di meja makan.


"Iya Tante"


"Kok Tante. Mamah!" jawab Mama Mira memarahim


"Iya Mah. He..." jawab Gery mengangguk.


Untuk pertama kalinya Gery bertemu ibunya Mira, dan itu langsung sebagai mertua. Meskipun Ibu Mira sudah tau semua cerita tentang Gery.


"Kamu ganteng juga ya ternyata" puji Ibu Mira..


"Mamah" seru Mira malu.


"He... Saya emang ganteng Tan, Eh Mah" jawab Gery lagi dengan tersipu.


"Hai Kak kenalin, sepupu Kak Mira. Panggil aku Elin" sepupu Mira pun mengenalkan diri.


Gery menjawabnya dengan senyuman ramah. Setelah berkenalan semuanya, keluarga Mira tampak senang dengan Gery.


Karena menurut mereka selain Gery keren, ternyata Gery juga lebih ganteng dari Tito. Pokoknya keluarga Mira merasa sangat beruntung. Pilihan Mira tidak salah.


"Terus ini rencananya, kalian mau kemana?" tanya Oma Mira.


"Kami mau langsung ke rumah sakit Oma" jawab Mira.


"Ke rumah sakit? Kalian nggak libur kerja?" tanya Oma Mira yang mulai linglung tidak ingat percakapan tadi pagi.


"Gery belum sembuh Oma. Jadi Gery mau lanjut dirawat dulu" jawab Mira.


"Lah terus, kapan kalian bulan madu?" tanya Oma Mira.


"Eh jangan bulan madu dulu. Tunggu nikah sah dulu!" sela Mama Mira melarang.


Lalu Mira dan Gery menoleh kecewa. Kan mereka udah nikah, harusnya terserah dong.


"Lah mau kapan nikah KUA nya?" tanya Dokter Nando.


"Terserah kalian saja" jawab Tuan Bayu menyerahkan ke Gery dan Mira.


"Secepatnya Pah" jawab Gery dan Mira bersamaan


"Ehm" Dokter Nando berdehem


"Besok pagi, papah lengkapi berkasnya. Dan papah daftarkan ke KUA. Kalian tenang saja" jawab Tuan Bayu.


"Apa nanti masih mau ada resepsi?" tanya Mama Mira.


"Tidak usah" jawab Mira dan Gery bersamaan

__ADS_1


Buat Mira dan Gery, resepsi hari ini yang sederhana saja membosankan. Mereka ingin seperti Ardi dan Alya. Mau langsung bulan madu aja setelah Gery sembuh.


__ADS_2