
Matahari mulai meredup. Langit mulai muram, rumah besar itu kembali sepi, masing-masing penghuni bermukim di kamarnya.
Tidak terkecuali pasangan suami istri yang sedang menanti buah hatinya, berharap tumbuh sehat dan lahir ke dunia dengan selamat.
Ardi dengan muka kesal bercampur rindu, duduk bersila di atas kasur menanti istrinya. Ardi sudah mandi, sholat dan menunggu, tapi istrinya tidak kunjung naik.
"Hee..." Alya nyengir membuka pintu kamar. Dihatnya suaminya menanti dirinya. Lalu Alya, masuk ke kamar dengan hati-hati.
Ibu hamil itu tau kalau suaminya sedang di posisi mode on dan tanduknya mulai nongol.
"Maaf, Lian lama ya ke atasnya?"
"Hemm" Ardi tidak bergeming.
"Suamikuu sayang? Lian bawain segeran nih! Dimakan ya" sapa Alya hati-hati, sambil meletakan sekotak salad buah dan jus mangga di meja santai depan ranjang tidur, tempat mereka beribadah indah dan berolahraga malam.
"Tumben manggil sayang?" jawab Ardi mode jutek.
"Lhoh, Lian kan emang sayang sama suami Lian yang ganteng banget ini" lanjut Lian lagi berlatih menggoda suaminya.
"Hmm" Ardi berdehem lagi tidak menjawab.
Sebenarnya Ardi tersipu malu, tapi kalau dia tunjukan, istrinya bisa ngelunjak, dan Ardi gagal memberi pelajaran istrinya. Jadi Ardi harus jaga image.
"Kok hmm, beneran Mas, Lian sayang sama Mas" tutur Lian lagi sambil membuka jilbabnya dan pakaian panjangnya. Kini Alya hanya memakai tangtop dan celana legging.
Kemudian Alya berdiri di depan meja rias. Merapihkan rambutnya dan dibiarkan tergerai, sebagai kompensasi seharian sudah terbekap dan tertutup.
Sungguh, meski belum mandi, Alya sangat seksi dan menggoda. Sebenarnya itu pemandangan indah yang menggoda imron Ardi setelah beberapa hari dianggurkan.
Rasanya Ardi ingin bangun dan langsung memeluk istrinya, tapi kan dia lagi marah. Batal nanti memarahi Alya kalau Ardi terbuai. Ardi hanya menelan salivanya sendiri dan menahan sabar.
"Kok diam sih Mas?" tanya Alya mulai takut karena Ardi tidak seperti biasanya mudah luluh.
"Oh ya Mas, Mas udah nggak pakai tongkat lagi? Udah sembuh ya? Alhamdulillah, Lian seneng lihatnya. Oh iya tadi malam gimana ceritanya, ceritain dong!"sambung Alya lagi meski Ardi diam.
Kali ini Alya sangat cerwet, berusaha dengan segenap jiwa, pantang menyerah membuat suaminya sembuh dari marahnya. Tapi Ardi tetap diam memperhatikanya.
Alya terdiam, menundukan kepala merasa gagal, dia bicara sendiri seperti radio.
Sebenarnya dari tadi Ardi juga berjuang menahan hasratnya, melihat bibir Alya yang komat kamit cerewet sekali, rasanya ingin menghabisinya, melahap dengan nikmat dengan bibirnya.
Tapi kalau Ardi kalah, Alya akan selalu ngeyel. Padahal sebelum Lila ditangkap menurut Ardi mereka masih dalam bahaya. Jadi Ardi bertahan dengan mode on_nya.
"Duduk sini!" ucap Ardi akhirnya menepuk kasur di depanya.
"Iya" jawab Alya menunduk lalu duduk di kasur dekat dengan Ardi.
"Siapa yang ijinin kamu pakai motor sampah itu?" tanya Ardi mode galak.
"Mas itu motor Mang Adi, masih bagus dan nyaman, bukan sampah" jawab Alya menyela.
"Jawab pertanyaan Mas dan jangan bantah!"
"Ehm" Alya berdehem menunduk.
"Jawab, siapa yang ijinin kamu naik motor?"
"Maafin Lian Mas. Sungguh Lian terpaksa"
"Mau berhenti magang atau mau dengerin Mas?" tanya Ardi lagi.
"Dengerin Mas" jawab Alya memilih.
"Bakar motor itu!"
"Hah? Bakar? Maas?" jawab Alya merasa suaminya bertindak kejam dan berharap berubah pikiran.
"Iya, motor itu buat istri Mas ngeyel"
__ADS_1
"Lian minta maaf Mas, Fitri tadi pagi belum datang, Lian udah telat, jadi Lian terpaksa pinjam motor. Kasian Mang Adi? Tolong jangan dibakar!"
"Panggil Fitri suruh dia ke ruang kerja!" ucap Ardi tegas tidak menggubris permintaa Alya. Telinga Ardi justru gatal mendengar alasan Alya.
"Maaas, Lian minta maaf, kasih hukuman ke Lian aja. Jangan ke mereka, yah! Jangan bakar motor Mang Adi" tutur Alya lagi meminta pengampunan suaminya agar perbuatan Alya tidak merugikan orang lain.
Tapi bagaimana mungkin Ardi bisa menghukum Alya. Melihat Alya murung, cemeberut, diam atau sedih saja bisa langsung memporak porandakan hati Ardi.
"Ya udah hukumanmu. Berhenti keluar kerja!" jawab Ardi memberi pilihan.
"Maas" sela Alya mengharap belas kasihan suaminya.
"Mas hitung 3 mundur. Panggil Fitri dan Mang Adi atau mulai besok pagi mas urus pengunduran diri kamu!" ucap Ardi mendesak pilihan Alya.
Alya diam menundukan kepalanya, kali ini Ardi tak semudah biasanya dia luluhkan. Alya tidak bisa memilih, sifat Alya yang terlalu perasa, tidak tega membakar motor Mang Adi. Tapi keluar kerja juga tidak bisa.
Akhirnya Alya kehabisa akal untuk menjawab dan membela diri. Alya menundukan pandangan dan akhirnya air matanya keluar.
Ardi yang dari tadi menahan hasratnya melihat istrinya menangis pertahananya jebol. Kelemahan Ardi adalah Alya, manabisa dia melihat Alya menangis sedih.
"Aish jangan menangis" decak Ardi.
Ardi langsung memeluk Alya erat.
"Hiks hiks, maafin Lian Mas, maaf, Mba Fitri tadi pagi nggak ada di rumah, dia ijin, Lian udah mau telat, Lian yang maksa Mang Adi minjamin motor" tutur Alya dalam dekapan suaminya.
Ardi tidak menjawab, tapi Ardi melepaskan pelukanya, meraih tengkuk Alya. Diciumnya bibir mungil Alya dengan hi*a*pan lembut dan hangatnya. Alya berhenti menangis dan menikmati gerakan lidah suaminya.
Setelah emosi Ardi mereda, hasratnya tersalurkan. Dan Alya mulai kesusahan bernafas, Ardi melepasnya dan kembali memeluk Alya.
"Mas khawatir Sayang, ingat kamu lagi hamil, kalau di jalan kenapa-kenapa gimana? Mas bisa gila membayangkanya" tutur Ardi lembut.
"Maafin Lian, tapi kan sekarang Lian udah pulang Mas, Lian sehat, Lian selamat. Jangan hukum mereka ya, maaf"
"Ck" Ardi berdecak Alya masih saja tidak mengerti.
"Dengar Mas! Kamu kan yang kasih tau Mas ada orang yang mau mencelakai Mas?" tanya Ardi intens.
"Iya!" jawab Alya mengangguk.
"Kamu tau kan? Mas, Farid, Anya temenmu itu dan Pak Arlan hampir celaka?"
"Lian tau Mas"
"Mas selamat karena Pak Arlan ditolong Alloh nemuin gunungan pasir, bukan jurang bukan sungai, bukan perumahan. Kamu bisa bayangin nggak kalau samping jalan itu jurang?"
"Iya Mas Lian minta maaf"
"Dan kamu tau itu artinya apa?" tanya Ardi lagi
Alya hanya diam menundukan tatapan matanya dari tatapa Ardi.
"Mereka tidak punya ampun Sayang! Saat mereka rusak mobil Papah, mereka tidaj memikirkan ngawa banyak orang, bahkan kematian kita yang mereka pengin" tutur Ardi menyadarkan Alya.
Alya diam mendengarkan.
"Dan kalau mereka saja tidak punya belas kasihan ke nyawa Farid dan Anya yang tidak tahu apa-apa, apalagi ke kamu, istri Mas. Mereka bisa celakain keluarga kita kapanpun. Mereka bukan manusia. Mereka tidak punya rasa kasian seperti yang kamu pikirkan? Mengerti?"
"Iya Mas"
"Terus kalau kamu ceroboh begini gimana? Bener? Heh?"
"Maaf, Lian salah"
"Mas nggak marah sama kamu Sayang, Mas nggak mau kehilangan kamu, Mas nggak bisa hidup tanpa kamu?"
"Iya, Lian janji, Lian nggak akan ulangi. Masalahnya tadi pagi Fitri nggak ada"
"Ck. Arlan gimana sih nyari karyawan kerjanya nggak becus" decak Ardi kesal.
__ADS_1
"Ya udah sana kamu mandi!" perintah Ardi.
"Iya"
"Yang wangi, malam ini kamu berhutang banyak sama Mas"
"Ya"
"Ya udah Mas mau nemuin Fitri"
"Mas mau apain dia?"
"Urusanya Mas!"
"Lian boleh ikut nggak?"
"Nggak!"
"Mas jangan marahi dia, kasian, mungkin dia ada perlu sama keluarganya Mas"
"Haiish" desis Ardi gemas ke istrinya dan ingin nguwel-uwel. Kenapa istrinya selalu kasian ke orang padahal orang itu salah.
"Iya Maaf!" jawab Alya lagi tidak bosan mengucapkan kata maaf.
"Ini nih kelemahan kamu. Selalu kasian kasian terus sama orang. Nggak! Kamu diam di sini dandan yang cantik buat Mas!"
"Ya"
Tidak peduli saat itu waktu menjelang magrib apa bukan, Ardi keluar kamar, menelpon kepala pelayan memanggil Fitri ke ruang kerjanya.
****
"Mas Ardi, kalau marah ternyata serem" batin Alya di kamar mandi.
"Mas Ardi benar, berarti aku harus cerita tetang foto itu ke Mas Ardi"
"TF? Apa Mba Fitri? Tapi apa iya Mba Fitri punya motor besar. Mba Fitri terlihat kalem dan baik, sepertinya bukan"
Sepanjang mengguyur tubuhnya dan meenggosok tubuhnya dengan sabun, Alya terus memikirkan foto dirinya yang dicoret-coret.
****
Ardi duduk tegap di ruang kerjanya. Ardi memijat pelipisnya menunggu Fitri datang. Tidak asa 10 menit Fitri datang. Belum Ardi bicara, Fitri sudah keringetan dengan wajah menunduknya.
"Duduk!" perintah Ardi dingin.
"Baik Tuan"
"Kamu tau kenapa saya panggil kesini?" tanya Ardi mode galak.
Fitri menunduk, dia tahu dia salah. Tapi dia terlihat takut saat hendak menjawab.
"Kamu mau pesangon berapa?" tanya Ardi halus tapi langsung tajam ke pangkalnya.
"Maaf Tuan, apa maksud Anda saya akan dipecat? Saya tidak ingin pesangon, saya ingin bekerja. Tolong jangan pecat saya, Tuan" jawab Fitri dengan mata berkaca-kaca.
"Apa alasanku tidak memecatmu? Kamu pikir kamu sudah menjalankan pekerjaanmu dengam benar?"
"Pak Arlan bilang Tuan di rumah sakit, Nyonya Alya juga ikut menunggu, jadi saya ambik libur. Saya tidak tahu kalau Non Alya sudah aktif bekerja. Saya, sungguh tidak tahu dan sengaja Tuan. Mohon ampuni saya"
"Ck. Tetap saja kau salah!"
"Paman saya sakit Tuan. Jadi saya menjenguknya, tolong ampuni saya Tuan. Jangan pecat saya, saya berjanji akan selalu siap menjaga Nyonya Alya, Tuan!"
"Apa kau bisa dipercaya?"
"Iya Tuan, saya berjanji" jawab Fitri menangkupkan tangan dan memohon.
Kemudian Ardi diam melihat wajah Fitri dan memikirkan apa Fitri bisa dipeecaya?
__ADS_1