
Alya menatap cermin di kamar apartemen. Memperhatikan dirinya sendiri memakai setelan baju jaga malam. Diingatnya perjuangan Alya ketika di Jogja. Setiap pagi sebelum sekolah membantu Bu Mirna menyiapkan dagangan, sepulang sekolah bersih-bersih. Alya juga harus belajar hingga larut malam. Semua dia lakukan untuk meraih cita-citanya.
Alya ingin membuat ibunya bangga. Alya ingin merawat ibunya, mengobati ibunya ketika sakit. Membantu orang banyak, dan yang pasti agar ibunya tidak seperti almarhum ayah Alya. Sakit tanpa mendapat pertolongan.
"Apapun rintanganya akan aku hadapi. Aku harus selesaikan magangku dengan baik" ucap Alya menatap cermin.
Alya memakai jilbab hitam, lalu meraih tasnya, berjalan membuka pintu keluar menuju lift. Apartemen tampak sepi, para penghuni apartemen beristirahat dalam kamar. Alya memencet tombol ke lantai satu. Setelah pintu terbuka Alya meninggalkan apartemen, berjalan menuju ke rumah sakit.
"Thing thong" Dokter Alya membunyikan bel ruang perawatan bayi yang selalu tertutup rapat.
Lalu perawat jaga membukakan pintu untuk Alya.
"Malem Dok" sapa perawat.
"Malem Kak" jawab dr. Alya ke perawat muda.
Di Nurse Station tampak beberapa perawat sedang membereskan dokumentasi pasien dan Dokter Anya duduk dengan ponsel pintarnya.
Dokter Alya mengangguk senyum sambil menyapa. Lalu berlalu menuju kamar tempat istirahat dokter untuk meletakan tasnya.
"Ceklek" Dokter Alya membuka pintu. Alya terkejut melihat perempuan berambut pirang berbodi gitar spanyol sedang duduk memegang ponsel pintar di kasur ruang kecil itu.
"Dokter Mira?" Dokter Alya menelan salivanya, mukanya memerah, kuping dan kepalanya terasa panas. Dadanya bergemuruh.
"Apa yang hendak nenek lampir ini lakukan? Aku bukan tandingan Dokter Mira. Bahkan aku menjadi Dokter karena keberuntungan mendapat beasiswa. Sementara Dokter Mira anak pak menteri yang berkuasa, aku menyerah, Tuhan selamatkan STRku" batin Alya dalam hati.
"Malam Dokter Alya" sapa dr. Mira memberikan senyum cantik yang tidak pernah dr. Alya lihat.
"Malam Dok" Dokter Alya membalas senyuman Dokter Mira dengan was-was. "Hah dia tersenyum, senyumnya beda banget sama tadi pagi, apa dia sudah berubah?" gumam dr. Alya dalam hati.
"Duduklah, boleh minta waktunya sebentar, aku ingin bicara" ucap Dokter Mira pelan. Dokter Alya sangat kaget melihat perlakuan lembut dr. Mira.
"Semoga dr. Mira beneran udah baik" do'a dr. Alya dalam hati lalu duduk di samping dr. Mira
"Iya Dok. Dokter Mira mau ngomong apa?" tanya Dokter Alya hati- hati. Lalu Dokter Mira meraih tangan Dokter Alya dan mengenggamnya.
"Maafkan aku, maukah kamu jadi temanku?" tanya dr. Mira tulus.
Dokter Alya menatap lekat Dokter Mira. Rasanya masih tidak percaya orang yang tadi pagi mengancamnya berubah menjadi lembut, baik dan mengajaknya berteman.
"Kamu benar, aku tidak profesional dan memalukan" lanjut dr. Mira lembut. Alya hanya terdiam menelan salivanya.
"Aku sudah salah mengira, kalau kamu kecentilan menggoda Gery, padahal kenyataanya terbalik. Maukah kamu memaafkanku?" tanya Dokter Mira penuh penyesalan.
__ADS_1
"Tentu saja mau Dok" jawab Alya tersenyum memastikan dr. Mira tulus.
"Aku ingin belajar darimu, kenapa Gery begitu tertarik padamu?" ungkap dr. Mira membuat Alya kaget.
"Hah? Apa maksud Dokter? "
"Aku ingin sepertimu, aku ingin dicintai Gery"
"Aku tidak mengerti maksud Dokter" jawab Alya.
"Bahkan belum ada satu bulan kalian bertemu, Gery selalu menatapmu dalam. Aku iri melihatnya. Aku ingin ditatap seperti itu. Aku bahkan mencintainya sejak SMA, aku hanya selalu menatapnya, aku berusaha menjadi yang dia suka. Tapi dia tidak pernah menatapku, dia selalu mengabaikanku, apa yang ada di kamu yang buat dia menatapmu?"
Mendengar perkataan dan pertanyaan Dokter Mira, Alya semakin bingung. Bahkan Alya sendiri tidak tahu pasti kalau dr. Gery begitu mencintainya. Mengungkapkan cinta saja belum. Yang ada selalu bertengkar.
"Apa benar Dokter Gery menatapku dalam penuh cinta?" Lalu pikiran kotor Dokter Alya datang, mengingat kejadian memalukan setelah operasi. "Apa iya aku jelaskan ke Dokter Mira kejadian itu? Apa benar Dokter Gery menatapku gara-gara melihatku ganti baju? Ah itu sangat gila"
"Maaf Dok, jujur sampai di sini saya masih belum mengerti, bahkan hubungan saya dengan Dokter Gery bisa dikatakan tidak begitu baik, kami selalu bertengkar jika bertemu" jawab Alya mencoba menjelaskan ke Dokter Mira.
"Iya jelas saja aku selalu bertengkar, melihatnya membuatku sangat malu karena kejadian itu. Dan dia sangat menyebalkan. Kenapa bisa Dokter Mira tergila-gila padanya, aku sungguh kasian" batin Alya menatap dr. Mira.
"Tapi dia mencintaimu" jawab Dokter Mira.
Alya tersenyum menetralkan keteganganya.
Dokter Mira diam mendengarkan dan mencoba mencerna apa Alya katakan.
"Jadilah diri sendiri Dok. Jadilah versi terbaik dari diri dokter tanpa peduli siapapun, dan mulai sekarang cintai diri dokter sendiri sebelum dicintai orang lain, akan ada waktu dimana Tuhan hadirkan seseorang yang hatinya selalu menatap dokter".
"Begitukah?" tanya Dokter Mira tertegun mendengar perkataan Alya.
"Iya.... cinta itu dari sini dari hati" ucap Alya menunjuk ke dada.
"Nggak bisa dipaksain datang dan perginya Dok, belajarlah mencintai diri dokter sendiri sebelum Dokter Gery mencintai Dokter Mira. Jangan biarkan Dokter Mira sakit karena diabaikan. Lepaskan bayangan Dokter Gery pelan-pelan, lalu berdo'a. Serahkan Dokter Gery pada Tuhan. Kalau memang Dokter Gery jodoh Dokter Mira pasti ada jalanya" lanjut Dokter Alya sok menasehati. Tiba - tiba.
"Thok thok" suara pintu diketok dari luar.
"Permisi, maaf ganggu mau ambil tas" dr. Anya masuk.
Melihat Anya masuk hendak mengambil tas, Alya mengerti kalau jam jaga malam sudah dimulai. Dan dia tidak mau membuang waktu kerjanya untuk hal pribadi.
"Maaf Dokter Mira, operan jaga malam sudah dimulai".
"Baik Alya, aku mengerti. Aku juga akan segera pulang. Makasih waktunya, lain waktu bisa ngobrol lagi kan?" tanya dr. Mira. Alya tersenyum mengangguk.
__ADS_1
Mereka keluar ruangan. Dokter Alya menuju ke Nurse Stasion bergabung dengan perawat jaga malam. Dokter Mira dan Anya segera pulang ke rumah masing-masing. Malam itu Alya dan Dokter Mira berbaikan dan resmi menjadi teman.
******
Kediaman Tuan Aryo.
"Apa kamu mau keluar malam lagi Nak?" tanya Mama Rita ke Ardi saat mereka berdua di ruang keluarga.
"Nggak Mah" jawab Ardi.
"Bagus, mama suka".
"Ardi bukan anak kecil Mah" jawab Ardi kesal melihat mamanya mulai posesif.
"Besok di rumah ya! Mama mau kenalin kamu sama seseorang" ucap Rita lembut.
Mendengar perkataan mamanya Ardi langsung emosi.
"Mamah lupa? Mamah, kan Ardi udah bilang, Mama nggak usah kenal-kenalin Ardi dengan siapapun!" Ardi merajuk seperti anak kecil.
"Mama nggak maksa kamu untuk nikahin dia. Mama cuma pengen kamu kenal dulu".
"Nggak!" jawab Ardi tegas.
"Dengerin dulu Nak. Hanya kenalan, ketemu saja. Kamu boleh menolaknya jika kamu tidak suka"
"Mah!" suara Ardi sedikit meninggi
"Sebenernya sore tadi mamah pergi bersama dia. Karena kamu telat mamah besok akan ajak dia kesini"
"Mah, mamah sudah ingkar janji sama Ardi"
"Dia baik, dia cantik. Mamah bukan ingin menjodohkanmu Mamah hanya ingin kamu berkenalan saja"
"Dan selalu itu yang mama sampaikan ke Ardi, ujung -ujungnya sama"
"Bukankah waktu itu kamu sendiri yang bilang ke Mamah kalau kamu ingin menikah?"
"Ya tapi bukan dijodoh-jodohin Maah"
"Mamah nggak jodohin, kamu hanya perlu ketemu dengan dia. Tidak jodoh tidak apa-apa. Asal kamu bisa membawa perempuan yang lebih baik dari dia ke hadapan Mamah".
"Ardi capek bilang sama Mamah, sekali nggak! Tetap nggak!" Ardi bangkit dari duduknya pergi ke kamar tidak ingin bertengkar dengan mamanya.
__ADS_1