Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
101. Ingkar Janji


__ADS_3

Setelah dinasehati Ardi. Meski dengan ragu Gery berlari menghampiri Mira.


"Mir, kok di sini? Lo nggak bawa mobil?" tanya Gery bosa basi.


"Gue dijemput, temen gue baru aja telpon bentar lagi sampai" jawab Mira santai.


"Oh kirain nggak? Bareng gue aja" tawar Gery tiba-tiba.


"Gue udah janjian mau makan malam" jawab Mira lagi.


"Ehm" Gery berdehem. Kupingnya panas hatinya penuh tanya. "Dengan siapa Mira hendak makan malam?"


"Oh gitu? Makan malam sama siapa?"


"Anak temen nyokap gue" jawab Mira menunduk, karena ini pertama kalinya Mira hendak kencan buta dan berusaha melupakan Gery.


"Anak temen nyokap? Cewek atau cowok?" tanya Gery lagi semakin kepo.


"Cowok" jawab Mira singkat seperti ingin menunjukan. Gue udah mau move on dari lo, begitu kira-kira.


Gery menelan salivanya. Sambil menahan rasa yang tidak bisa dia ungkapkan. Gery sadar, dia nggak cinta sama Mira jadi tidak seharusnya Gery kepo dan ingin tahu. Tapi entah kenapa Gery tetap saja penasaran, dengan siapa Mira hendak berkencan.


"Oh, gitu, siapa cowok itu? Lo ada hubungan sama dia?" tanya Gery lagi tidak bisa menahan penasaranya.


"Bukan urusan Lo" jawab Mira menghindari tatapan Gery. Gery pun semakin merah padam, perempuan yang selama ini selalu ada buat dia, mengejarnya, untuk pertama kalinya menolaknya.


"Oke selamat dinner, sorry" jawab Gery kecewa dan menahan gengsi. Mira tidak menjawab hanya menunduk dan menggerakan tanganya menghilangkan rasa yang entah apa, hanya Mira yang tau.


"Temen lo udah sampai mana?" tanya Gery lagi melihat Mira hanya diam.


"10 menit lagi sampai" jawab Mira.


"Sholat dulu yuk" ajak Gery merasa kasian seorang Mira menunggu sendirian di tepi jalan.


"Gue nggak sholat" jawab Mira lagi.


"Ok, hati-hati" ucap Gery lalu pergi ke mushola dengan perasaan tidak bisa diartikan. Dibilang cemburu, Gery merasa dia tidak mencintai Mira, berarti ini bukan cemburu. Tapi entah kenapa Gery sangat ingin tau dengan siapa Mira berkencan.


Gery berjalan dengan cepat, segera mengambil wudzu dan sholat sendiri tanpa menunggu jamaah, padahal masjid rumah sakit belum iqomah. Ardi menatap sahabatnya heran, tapi Ardi bisa menebak, mungkin Gery mau mengantar Mira. Ardi tersenyum. "Syukurlah kalau Gery segera move on dari Lian". Jadi tidak ada kekhawatiran dan rasa bersalah di hati Ardi.


"Gue cabut dulu Ar" ucap Gery setelah mengucap salam.


"Lo jadi anter Mira?" tanya Ardi ingin tahu perkembangan sahabatnya.

__ADS_1


"Nggak!" jawab Gery singkat dengan ekspresi tidak bisa diartikan.


"Heh? Kenapa?" tanya Ardi sedikit emosi tidak tahu apa yang terjadi.


"Gue cabut" jawab Gery berlalu. Ardi hanya menatap sahabatnya pergi, dan penuh tanda tanya. Tidak lama iqomah terdengar, Ardi bangun dan menempatkan diri untuk berjamaah di masjid rumah sakit.


Gery berjalan cepat berharap teman Mira belum datang. Dan benar saja, saat Gery tiba diparkira, Mira masih ada, tapi dia sudah berjalan masuk ke mobil sport yang tidak terlihat siapa pengemudinya.


"Kenapa gue penasaran sih?" batin Gery merutuki dirinya sendiri. Berusaha agar tidak penasaran. Tapi tetap saja Gery penasaran. Gery mengambil kunci dan memasuki mobilnya membuntuti mobil Mira.


****


Setelah selesai sholat Ardi kembali ke ruang rawat istrinya. Ardi mendengar tawa istrinya begitu lepas, masih bersama Anya dan Dinda.


Ini pertama kalinya Ardi melihat Alya bersikap seperti perempuan pada umumnya. Bergosip dan bercerita dengan gemas. Saat Ardi membuka pintu dan masuk Anya dan Dinda gelagapan malu karena tertawa lepas. Lalu saling diam.


"Gue ganggu yah?" tanya Ardi merasa nggak enak.


"Nggak kok Kak. Kita bentar lagi mau pulang. Nanti malam kan mau jaga malam" jawab Dinda yang hendak jaga malam gantiin jadwal Alya. Sementara Anya tadi jaga pagi.


"Mas tadi telponya berdering terus lho" ucap Alya memberitahu suaminya.


"Siapa yang telpon?" tanya Ardi lembut.


"Nggak tahu. Kayaknya Dino"


"Nggak berani" jawab Alya polos, karena Alya memang tidak berani mencampuri urusan suaminya. Lalu Ardi mengambil ponselnya keluar dan meninggalkan istrinya lagi.


"Jangan pulang dulu ya!" pinta Alya ke Dinda dan Anya.


"Suami lo udah balik juga. Gue cabut yak!" pinta Anya ingin pulang.


"Gue nunggu malem di kos lo ya Nya" sambung Dinda.


"Jangan sih. Di sini aja temenin aku, nunggu jam jaga malemnya di sini aja" jawab Alya meminta Dinda tetap tinggal.


"Ogah gue jadi obat nyamuk" jawab Dinda lagi.


"Please" jawab Alya memohon agar dia tidak kesepian.


Saat mereka tawar menawar. Ardi masuk ke ruangan lagi dengan wajah cemas.


"Sayang mas pergi bentar yah, mau ada urusan" ucap Ardi berpamitan membuat Alya dan kedua temanya menatap heran.

__ADS_1


"Mau kemana Mas?" tanya Alya terbersit rasa kecewa.


"Ada yang harus diselesaikan, nanti mas balik lagi kok" jawab Ardi lagi meyakinkan istrinya.


Alya mengangguk mencoba percaya dan berbaik sangka pada suaminya. "Hati-hati Mas" jawab Alya singkat melepaskan suaminya pergi.


"Dokter Anya, Dokter Dinda. Terima kasih udah temenin istri saya. Pamit pergi dulu" ucap Ardi sopan ke teman istrinya. Anya dan Dinda mengangguk dan tersenyum sopan.


"Sama-sama Kak!" jawab Anya dan Dinda.


Ardi pun membawa kunci mobil dan ponselnya keluar entah kemana. Wajahnya tampak geram dan emosi setelah mendapat telepon Dino.


"Suamiku pergi, kalian di sini aja" pinya Alya lagi ke sahabatnya.


"Gue belum ganti Al. Baru pulang kerja" jawab Anya karena baru pulang jaga pagi langsung menjenguk Alya.


"Mandi di sini. Tuh pake bajuku" jawab Alya menunjukan tas besar yang dia bawa-bawa dari kemarin.


"Hemmm" jawab Anya manyun tidak mau karena selera baju mereka berbeda.


"Kamu juga Din, di sini dulu aja!" sambung Alya lagi.


"Oke gue di sini. Nonton film yuk!" ajak Dinda memberi ide agar sahabatnya yang sedang bedrest itu tidak bosan.


"Nanti dong. Gue mandi dulu nanti kesini lagi" ucap Anya ingin bergabung.


Malam itu pun Alya menikmati hari dirawatnya dengan bahagia. Meski tidak ada saudara di Jakarta yang menjenguknya saat sakit, tapi sabahatnya lebih dari saudara. Alya juga melupakan sakitnya. Meski harus bedrest Alya melaluinya dengan bahagia.


Alya juga merasa sangat lega sudah tidak ada yang ditutupi darinya ke sahabatnya. Alya juga tidak malu lagi disebut sebagai Nyonya Ardi Gunawijaya. Bahkan Alya merasa beruntung karena teman-temanya bilang kalau Ardi laki-laki yang sangat tampan dan penyayang. Anya yang tadinya menuduh Ardi kelainan sekarang berbalik mendukung Alya. Karena terbukti Ardi berhasil membuat Alya hamil, berarti dia normal.


Malam itu ketiga dokter itu menghabiskan malamnya menonton film yang didownload dari internet. Meski aturan rumah sakit hanya boleh ada satu penunggu karena mereka bertiga semua karyawan, satpam dan perawat membiarkanya.


Tiba-tiba Alya teringat suaminya, entah pergi kemana. Ardi pamit jam setengah tujuh malam. Tapi ini sudah hampir jam 9 belum juga kembali padahal bilangnya sebentar.


"Al, gue ke depan ya, bentar lagi jadwal operan" pamit Dinda melihat jam, sudah waktunya jaga malam.


"Oke makasih ya udah nemenin" jawab Alya ramah dan berterima kasih.


"Gue juga balik ya" pamit Anya juga.


"Temenin sampai suamiku datang dong" jawab Alya meminta Anya tinggal.


"Telfonlah suami lo. Gue besok jaga pagi. Gue mau istirahat. Sory ya gue pulang dulu" jawab Anya merasa sudah waktunya pulang.

__ADS_1


Alyapun mengangguk dengan kecewa tidak bisa memaksa sahabatnya. Anya dan Dindapun pergi.


Kini Alya sendirian di kamar. Jam dinding sudah hampir jam 9. Kemana suaminya pergi, bukankah tadi sore sudah berjanji. Malam ini suaminya tidak akan pergi-pergi. Ardi janji akan menemani istrinya. Kenapa belum juga kembali?


__ADS_2