Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
167. Mengejar Cinta


__ADS_3

Jarum yang berputar menunjuk pada angka 5 dan 12. Langit yang biru mulai memudar menjadi abu, dengan sinar terang yang mulai redup.


Menantu dan mertua itu mulai kehilangan tenaganya. Otot-ototnya mulai terasa lemas. Dengan kulit mulai lengket, seakan meminta sang empunya tubuh direfresh. Kembali ke rumah, mandi, istirahat dan makan.


"Sayang, Kak Alya pulang dulu ya!" ucap Alya ke Vivi dan teman-temanya. Seperti biasa Alya ikut nimbrung Us Zahra dan kebagian memberikan dongeng.


"Yaaah. Kak Alya kan udah lama nggak ke sini? Kok cepet banget udah mau pergi" ucap salah satu anak panti.


"Maaf ya, Kak Alya sekarang sudah menikah, jadi Kak Alya juga punya tugas ke suami Kak Alya"


"Kenapa harus menikah sih!" gerutu Vivi belum tahu siapa suami Alya dan hakikat menikah itu apa.


"Lain kali, Kak Alya akan sering main deh" ucap Alya lagi.


Lalu dari kejauhan Bu Rita tampak menunggu Alya dan memberi kode untuk segera pulang. Setelah berpamitan dan merayu anak - anak, Alya berjalan menghampiri Bu Rita.


"Papahmu bentar lagi pulang, yuk pulang!" ajak Bu Rita ke Alya.


"Ya Mah"


Lalu mereka berdua pulang. Sampai rumah, Bu Rita langsung mandi dan bersiap menanti suaminya pulang. Bu Rita memang istri yang berbakti. Hari itu Tuan Aryo pulang lebih dulu dari anaknya.


Alyapun mengikuti jejak mertuanya. Mandi, berhias, menata rambutnya dan memakai parfum.


Sambil menunggu suaminya, Alya membaca dzikir petang, sholat dan mengaji. Kemudian kembali membaca buku-buku tentang pernikahan.


Kurang lebih pukul 19.00 suaminya pulang.


"Assalamu'alaikum sayang" sapa Ardi membuka pintu kamar.


"Waalaikumsalam Mas" jawab Alya menutup bukunya meletakan ke nakas,


Alya bangun dan mencium tangan suaminya. Membantu melepas baju kotornya.


"Lian siapin air buat mandi ya Mas" tutur Lian.


"Makasih sayang. Boleh nggak Mas peluk kamu. Aku merindukanmu" ucap Ardi lesu seperti menimbun beban pikiran.


Padahal baru tadi siang mereka berpisah. Entah hari itu Ardi pergi kemana saja dan bertemu siapa, pulang-pulang wajahnya sepertu benang kusut.


Alya mengangguk dan membiarkan suaminya mendekapnya. Lama Ardi mendekap istrinya, tidak ada *****, atau keisengan. Tapi merasakan kenyamanan.


Alya merasa Ardi seperti sedang melepaskan sesuatu yang membuatnya pusing. Memeluk istrinya lama seperti mendapatkan energi lagi, tenang dan hangat.


"Mas baik-baik saja?" tanya Lian lembut mengelus tubuh belakang suaminya. Ardi diam tidak menjawab. Ardi menyandarkan kepalanya ke Alya.


"Siapin air hangat buat mandi ya?" tutur Ardi melepaskan pelukan. Aneh sekali sikapnya.


"Pakai bathub berarti? Aromatherapi ya?"


"Terserah kamu, kamu udah makan?"


"Belum, Lian nunggu Mas"


"Abis Mas sholat ya"


"Huum" jawab Alya mengangguk lalu ke kamar mandi, menyiapkan handuk. Alya mengisi bathub dengan air hangat untuk suaminya mandi dan merilekan tubuhnya.


Alya tau dari tatapan guratan wajah suaminya Ardi seperti ada masalah. Entah apa? Biar nanti Ardi cerita sendiri. Tugas Alya membuat Ardi tenang dan meringankan bebanya.


"Udah siap Mas" ucap Alya keluar dari kamar mandi.


Ardi kemudian masuk dan membersihkan tubuhnya. Sambil menunggu, Alya menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya.


Setelah beberapa saat Ardi selesai mandi, mengenakan pakaian yang istrinya siapkan. Menunaikan sholat isya, kemudian mereka turun dan makan malam.


"Mas pengen Alya siapin makanan atau seadanya masakan Pak Yang?" tanya Alya menawarkan membuat makanan.


"Seadanya masakan Pak Yang, kamu temani mas makan"jawab Ardi.


"Baiklah" jawab Alya mengangguk dan tersenyum.


Selesai makan mereka kembali ke kamar. Meski rumah Tuan Aryo sangat besar dan banyak ruangan, tetap saja ruang favorit mereka berdua adalah kamar.


"Seharian kemana aja Sayang?" tanya Ardi ke Alya membuka pembicaraan sambil menyandarkan kepala di sandaran kasur mereka. Mereka berdua bersantai di kasur bersama.


"Memfikskan MUA, terus belanja, terus ke panti" jawab Alya menceritakan aktivitaanya.


"Ke panti?"


"Huum, Mamah lama nggak jengukin anak-anak, kangen katanya"


"Yaya"


"Maas" panggil Alya lembut.


"Hemm kenapa?"


"Mas kenal Mba Sinta nggak?"


"Kenal, kenapa?"


"Dia jahat apa baik sih?" tanya Alya polos. Sinta terlihat baik saat di panti, tapi nyatanya jahat ke Alya.


"Kenapa kamu tanya begitu?"


"Nggak, nggak apa-apa, penasaran aja. Kan temenya mba Intan" jawab Alya tidak ingin menyakiti Sinta.

__ADS_1


Alya yakin, sekali saja Alya menceritakan kelakuan Sinta, sudah pasti Ardi langsung keluar tanduknya dan mendepak Sinta.


Meskipun Sinta tidak bersikap baik ke Alya. Tapi Alya berfikir Sinta banyak berjasa ke panti. Ilmu Sinta dibutuhkan untuk masa depan anak-anak, punya keterampilan agar bisa hidup mandiri dan berkarya lewat makanan.


"Alya malu Mas" tutur Lian lagi.


"Kenapa?"


"Sekarang orang-orang panti udah tahu kita menikah. Mereka jadi lebay. Jadi ada jarak ke Lian. Ahhh tidak nyaman rasanya" tutur Alya curhat.


"Ck" Ardi berdecak merasa istrinya lucu sekali.


"Kok gitu responya?" tanya Alya cemberut manja.


"Plin plan banget sih istri mas ini. Dulu disembunyiin bilangnya Mas nggak cinta. Mas nggak anggap kamu. Terus pundung nangis, ngambek, cemburuan. Giliran diumumin malu, kamu malu jadi istri Mas? Heh?" cibir Ardi menyindir.


"Bukan. Lian seneng jadi istri Mas. Lian kan cuma curhat. Rasanya jadi aneh. Mereka jadi kaya segan gitu ke Lian, ada jarak. Nggak berani bercanda dan bergosip seperti sebelumnya, nggak suka Lian"


"Baguslah! Kan emang seharusnya gitu"


"Hemmm. Pengennya tetep akrab, kan asik"


"Nanti lama-lama juga deket lagi"


"Oh iya Mas, tadi Kak Farid curhat minta tolong"


"Apa?"


"Dia pengen segera lamar Anya. Tapi Anyanya nggak mau diajak pulang ke Bogor. Lian suruh rayu"


"Ck. Halahh. Kalian para perempuan, sukanya malu-malu kucing, giliran udah ditoblos juga nanti keenakan" jawab Ardi meledek Alya mengingat mereka dulu kerjaanya bertengkar.


"Huh, maksudnya?" tanya Alya tersinggung.


"Yaiya. Kaya kamu dulu. Sok-sokan nolak, marah-marah, giliran sekarang kerjaanya cemburu, nempel terus"


"Iissshh" Alya mendesis malu. Lalu mencubit tangan suaminya kesal diledekin. Betapa kekanak-kanakanya Alya di awal-awal pernikahan.


"Ya Lian minta maaf. Abis Mas bikin kesel. Ngata-ngatain Lian keganjenan, padahal kan mas yang ganjen" jawab Alya membela diri.


"Udah tua, nggak boleh kasar-kasar sama suami. Harusnya kamu lebih tau! Dosa tau!"


"Ya Lian tahu. Lian minta maaf! Itu kan dulu. Jangan dibahas malu"


"Hemm"


"Lian juga minta maaf. Waktu Lian kabur, Lian ketemu Kak Farid, terus dianter Kak Farid, sempet ke danau juga" ucap Lian jujur menyadari kesalahanya.


"Oooh, jadi kamu selingkuh. Nggak nggak. Mas nggak maafin" jawab Ardi pura-pura marah.


"Iiih bukan selingkuh, Lian capek jalan, lagi kesel juga, ya udah Lian terima aja tawaranya" jawab Alya polos menceritakan kebodohanya ke suaminya.


"Terus kaya gitu bener?" tanya Ardi lagi ingin mengerjai Alya.


"Nggak!" jawab Alya menggelengkan kepalanya.


Alya tau sudah bersikap salah sebagai istri karena termakan emosi.


"Kenapa dilakuin?"


"Abis Lian pusing sama sebbel. Makanya ini sekarang Lian minta maaf. Maafin ya. Terus jangan dibahas lagi"


"Enak aja, ada hukumanya"


"Ishh"


"Mana ponsel Mas? Mas harus ajarin Farid biar cepet nikahin Anya. Bahaya nih kalau jomblo terus dia"


"Ihh, Mas nuduh Lian selingkuh?"


"Lha itu namanya apa? Perempuan bersuami, berjilbab lagi, pergi sama laki-laki lain?"


"Lian kan udah jujur, minta maaf, Lian nggak ngapa-ngapain. Nebeng mobil doang!"


"Doang?"


"Iya minta maaf! Jadi nyesel cerita ihh"


"Sini ponselmu! Hapus semua kontak cowok di ponselmu. Nggak boleh keluar mas tanpa seijin Mas. Itu hukumanmu!" ucap Ardi memberi pelajaran ke Alya.


"Iya" jawab Alya pasrah karena memang salah.


"Itu hukuman paling ringan"


"Hmmm" Ardi tersenyum melihat Alya menurut.


"Udah tidur, besok jaga pagi kan?"


"Ya, Lian sikat gigi sama minum obat dulu"


****


Pagi harinya.


Pagi itu Gery berangkat ke rumah sakit pagi-pagi. Gery harus segera bertemu Mira dan mencegah pertunangan Mira yang tinggal satu hari lagi.


"Pagi Sus" sapa Gery ke perawat yang mengasisteni Mira di klinik anak.

__ADS_1


"Pagi Dok, ada yang bisa saya bantu Dok"


"Dokter Mira udah dateng?"


"Belum Dok. Jam. 08.00 biasanya Dok"


"Oke. Antrian pasienya banyak nggak? Kalau poliklinik udah selesai, kabari gue ya! tapi jangan bilang dia" tutur Ardi meminta tolong ke perawat.


"Siap Dok"


"Siip" ucap Gery lalu pergi untuk visit pasien ke ruang ICU.


Perawat pun saling berbisik dan menggosip.


"Mereka pacaran ya?"


"Bukanya Dokter Gery suka sama Dokter Alya?"


"Dokter Alya kan udah jadi menantu pengusaha yang suka muncul di tivi itu"


"Oh. Berarti bener Dokter Mira dan Dokter Gery jadian?"


"Dokter Mira kan mau tunangan sama anggota dewan"


"Ah entahlah urusan percintaan mereka membuatku pusing"


Pucuk dicinta ulampun tiba. Saat Mira datang, ruang kebidanan dari bawahan Dokter Siska memeberik kabar. Ada ibu melahirkan dengan diagnosa fetal distress dan harus segera dilahirkan dengan operasi.


Mau tidak mau Mira ikut membantu menerima bayinya karena pasti butuh tindakan resusitasi. Dan otomatis di ruang operasi, Gery dan Mira bertemu.


Dan kebetulan bayinya keadaan lahirnya buruk sehingga butuh banyak tindakan termasuk pasang et, vtp dan rjp.


Melihat kegawatan dan melihat raut wajah Mira panik, Gery ikut membantu Mira meskipun bukan tanggung jawabnya. Sehingga mereka berdua bekerjasama. Dan akhirnya berhasil membuat bayinya tetal bernafas dan tertolong.


"Rawat NICU ya Sus" perintah Mira ke perawat memberikan catatan rencana tindak lanjut.


Perawatpun melanjutkan tugasnya sesuai advia Mira.


"Mir gue mau ngobrol sama lo" turur Gery di mensejajari Mira di lorong rumah sakit tempat mereka beristirahat dan sepi lalu lalang orang.


"Lo mau ngomong apa? Ngomongin Alya lagi? Sory gue nggak ada waktu" jawab Mira berburuk sangka ke Gery masih saja cemburu. Mira berusaha menghindar menutupi perasaanya.


"Duduk" ucap Gery menarik tangan Mira untuk tetap duduk di lntai tangga.


Hal itu membuat jantung Mira berdetak kencang. Ini pertama kalinga Gery agresif, apagi berdua di tempat sepi.


"Ini tentang kita" ucap Gery serius membuat Mira semakin dheg-dhegan.


"Kita?" tanya Mira ketus tapi sebenarnya hatinya seperti mengembang dan mengeluarkan bunga-bunga beterbangan.


"Batalin pertunangan lo sama Tito?" ucap Gery tegas.


"What? Maksud lo apa, atas dasar apa lo minta gue batalin pertunangan gue" tanya Mira kaget dan tidak mengira.


"Tito bukan laki-laki baik-baik Mir. Lo harus batalin tunangan lo sebelum lo menyesal!" ucap Gery yakin.


"Hah! Menyesal, kenapa gue harus menyesal? Gue bahagia sama dia" jawab Mira merasa gengsi dan omongan Gery tidak berdasar.


"Gue tau lo nggak cinta sama dia. Lo terpaksa kan terima perjodohan kalian. Lo masih cinta kan sama gue?" jawab Gery lagi.


"Hoh!" jawab Mira merasa terhina.


"Tatap mata gue. Lo masih cinta kan sama gue. Kembalilah ke gue dan batalkan tunangan lo" ucap Gery dingin.


"Lo gila ya Ger. Lo pikir lo siapa bisa ngacak-ngacak hidup gue. Keluarga gue udah siapin semuanya dan gue tunangan lusa. Terus lo suruh gue batalin. Lo pikir lo siapa? Hah! Gue bahagia dengan hidup gue!" jawab Mira salah paham ke Gery.


"Tatap mata gue, dan bilang lo udah lupain gue" ucap Gery lagi dengan serius.


"Sory gue nggak ada waktu buat ngobrol nggak penting sama lo" ucap Mira bangun dan beranjak meninggalkan Gery.


Sesungguhnya pertahan keegoan Mira mulai oleng. Mira benar-benar campur aduk rasanya. Senang tidak percaya. Bingung! Kabur adalah solusi tepat menurutnya.


Gery kemudian bangun, menyeret Mira dan mengunci di dinding lorong rumah sakit.


"Batalin tunangan lo. Kembalilah ke gue. Gue cinta sama lo" ucap Gery semakin membuat jantung Mira berdetak kencang. Mira menelan ludahnya dan mengalihkan tatapan matanya.


"Minggir" jawab Mira mendorong tubuh Gery, tapi Gery semakin kuat mengunci Mira bersandar ke tembok.


"Gue serius Mir" ucap Gery tegas.


"Cinta? Lo pikir gue percaya? Kenapa nggak dari dulu lo bilang. Gue tau lo patah hati kan sama Alya makanya lo gini. Gue bukan benda, selama ini lo buang gue, dan sekarang lo bilang cinta. Lo mau gue permaluin keluarga gue? Nggak! Lo brengsek tau nggak!" jawab Mira merasa sakit hati mengingat masalalu.


"Gue minta maaf udah sakitin lo. Tapi gue serius. Tito dan keluarganya itu brengsek. Mereka cuma manfaatin lo dan keluarga lo" ucap Gery ingin menyadarkan Mira.


"Omong kosong! Apa buktinya. Lo tau apa tentang mereka? Minggir, nggak!" ucap Mira mendorong Gery lagi tapi justru Gery semakin mendekat dan mereka berhadapan sangat dekat.


"Tatap mata gue. Lo masih cinta kan sama gue?" tanya Gery lebih serius, tapi Mira mengalihkan tatapanya.


"Minggir nggak!" bentak Mira berusaha mematahkan pertahanan Gery.


"Gue cinta sama lo Mir"


"Gue nggak percaya. Gue nggak mau mengulangi kebodohan gue" jawab Mira masih cemburu sakit hati.


"Gimana caranya biar lo percaya"


"Lepaskan gue. Dan buktikan omongan lo benar. Bawa bukti kalau emang Tito tidak lebih baik dari Lo" ucap Mira tegas melawan rasa dheg-dheganya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2