Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
241. Dasar..


__ADS_3

"Maaf Sayang lama ya nunggunya?" tanga Ardi menghampiri Alya yang duduk di ruang tunggu depan sorum


"Udah selesai semua urusanya?" tanya Alya singkat.


"Udah Sayang,  yuk pulang yuk" ajak Ardi lagi tersenyum. Ardi mengulurkan tangan berniat menggandeng Alya mengira Alya sudah biasa saja.


Tapi sayangnya, Alya bangun memegang gagang tas dan sekali lagi mengacuhkan Ardi. 


"Hemm" Ardi hanya bisa pasrah dan berdecak, lalu menyusul Alya ke mobil.


"Bagaimana respon Faisal besok ya? Kok aku jadi nggak tega bayanginya" tutur Ardi di dalam mobil mengajak Alya ngobrol setelah Pak Arlan melajukan mobilnya.  


Tapi kasian Ardi,  Alya tetap diam tidak menanggapi. Merasa dikacangi Ardi menoleh ke Alya. 


"Yang,  denger nggak sih?  Mas ngomong lho!"


"Maas Mas Lian lagi nggak pengen ngomong?"  jawab Lian dengan nada bete.


"Kenapa sih?" tanya Ardi lembut dan hampir frustasi denga sikap istrinya.


"Nggak apa-apa" jawab Alya singkat.


"Bukanya tadi kita udah sepakat? Sayang marah sama mas ya? Mas lama yah? Mas minta maaf" tutur Ardi sopan.


"Nggak!" jawab Alya ketus dan singkat.


"Terus kenapa?" 


"Udah sih Mas,  Liah capek Lian mau tidur" jawab Alya lagi dengan tatapan menjauhi Ardi.


"Hemm. Yaya" jawab Ardi akhirnya memilih menyerah dan pasrah. Nantilah sampai rumah mungkin Alya kembali baik.


Entah apa salah dan apa yang terjadi pada istrinya. Ardi memilih bersabar dulu.


Padahal tadi saat di mobil di kantor polisi, di rumah sakit, Alya agresif,  nempel kaya dilem. Ardi bahagia sekali kalau Alya agresif.


Ardi bahkan sudah membayangkan akan mendapatkan jatah double nanti malam karena semalam mereka hanya tidur saja. Tapi sepertinya PR Ardi banyak.


Suasana kemudian menjadi hening. Ardi menatap ke jalan. Hari mulai petang, untung saat di rumah sakit mereka sempat sholat sebelum pergi.


Ardi meneliti ponselnya. Anak buah Ardi belum melapor.  Rupanya Mia masih merahasiakan identitas kakanya. Ardi tersenyum, mengingat taktiknya ke Faisal berhasil mendapat informasi.


"Lihat besok, kau akan menyesal karena berani menghianatiku,  bocah malang" ucap Ardi dalam hati membayangkan pertemuan Faisal dan Mia.


Lalu Ardi mengirimkan alamat tempat tinggal kakak Mia ke anak buahnya agar mereka mengejar Ciko dan Mia.  Ardi merasa malam ini adalah waktunya bersama istrinya. Biar urusan lain anak buahnya yang bekerja.


Ardi menoleh ke istrinya. Alya benar-benar terlelap.  Ardi menatap hangat Alya, lalu membelai pipi mulus istrinya dengan lembut.


Jika sedang tidur begini,  meski mulutnya melompong. Alya terlihat sangat imut dan menggemaskan. Ardi ingin menutup mulut Alya yang melompong dengan bibirnya. Dan itu dilakukanya tanpa ragu. Tidak malu lagi terhadap Pak Arlan.


Ardi melakukanya dengan lembut, sehingga Alya hanya sedikit menggeliat tapi tetap tertidur.


"Pasti kamu sangat lelah Sayang,  hari ini banyak hal yang kita lalui. Mas janji nanti sampai rumah mas pijitin" Ardi membatin dalam hati. Pokoknya malam ini harus Q time.


Tidak terasa mereka sampai ke rumah Tuan Aryo. 


Pak Arlan memberhentikan mobilnya pelan. Lalu turun membukakan pintu mobil. 


"Ssst pelan-pelan. Nanti istriku bangun" tegur Ardi berbisik. Arlan mengangguk tanpa bersuara.


Dengkuran halus Alya terdengar. Alya tampak sangat nyaman dengan tidurnya, sampai Ardi tidak tega membangunkanya. Akhirnya Ardi memilih menggendong Alya. 


Karena hamilnya sudah mulai membesar,  Alyapun bertambah gendhut. Ardi tersenyum menyadari istrinya tambah berat. Tapi tetap berusaha menggendongnya dengan nyaman. 

__ADS_1


Saat melewati ruang tengah. Ketiga orang tua mereka sudah menunggu dengan tatapan melotot. Lalu Ardi memberikan isyarat agar janga berisik agar Alya tidak bangun. 


Ardi kemudian masuk ke kamar dan membaringkan Alya dengan nyaman. Padahal Alya belum sholat maghrb dan belum mandi. Ardi bingung mau membangunkan Alya atau tidak. Tapi kasian.


Kemudian Ardi memilih masuk ke kamar mandi duluan. Membersihkan dirinya dan ambil wudhu untuk sholat maghrib. Baru nanti membangunkan Alya.


Saat Ardi masuk dan menutup pintu kamar mandi Alya terbangun. Alya membuka matanya perlahan. Jilbanya sudah terlepas,  rupanya Ardi sudal melepas nya. 


"Haiiish. Dia tidak membangunkan aku" gerutu Alya tidak bersyukur malah menyalahkan Ardi. Dasar cemburuan.


"Untung aku bangun kalau tidak gagal rencanaku" ucap Alya melihat ke sekitar dan mendengar gemericik air.


Alya kemudian bangun, berjalan mengendap mengambil pakaian tidur. 


"Males banget liat wajahnya! Haii hello.  Apaan?" cibir Alya mengingat Ara dan perkataan Alex. Rasanya sangat kesal ke Ardi dan Ara.


Untung di meja kamar Alya ada minuman dan camilan Alya mengambilnya dan membawanya ke kamar ibunya. 


Setelah sampai di kamar ibunya.  Bu Mirna ternyata sedang di bawah dan kamarnya kosong. Alya mandi sholat ngemil kemudian membaringkan tubuhnya di bawah selimut dengan nyaman.


Tidak butuh waktu lama dunia Alya sudah masuk dalam dunia lain yang indah. Alya tidur di bawah selimut.


****


Setelah selesai mandi,  badan Ardi terasa segar. Ardi pun bersiul sambil melihat dirinya di cermin.  Mengagumi ketampananya sendiri sambil merapihkan rambut. Waktu mandi Ardi memang lama.


"Mulai dateng lemak nih. Gue harus fitnes lagi" gumam Ardi menyadari kesispekanya mulai tersamarkan lemak. 


Setelah puas bercermin di kamar mandi dan mencukur kumisnya. Ardi keluar hendak membangunkan Alya. Tapi Alya tidak ada.


"Sayang. Kamu udah bangun?" tanya Ardi mencari Alya.


Ardi membuka pintu balkon mengira Alya menunggu ke balkon. Karena sudah malam suasana luar mulai petang. Suasana lengang tidak ada orang.


"Apa dia ke dapur ya?" gumam Ardi menebak.


Dheg 


Tetiba jantung Ardi iramanya bertambah. Ardi teringat kejadian tadi pagi, semua tampak baik-baik saja,  tapi nyatanya Mang Adi jatuh tersungkur tak berdaya. Ardi kembali panik.


"Jangan-jangan di rumah, masih ada Mia Mia yang lain" 


Meski masih dengan handuk.  Ardi spontan keluar kamar, Ardi berjalan berkeliling lantai dua, mencari Alya.


"Sayang,  kamu dimana?" panggil Ardi cemas dan berteriak. Tapi lantai dua tampak lengang.


Ardi berlari turun ke ruang keluarga, memastikan  dan bertanya ke anggota keluarga yang lain.


"Ya Ampun Ardi.  Apa-apaan kamu?  Pakai baju dulu!" omel Bu Rita melihat Ardi masih pakai handuk dan bertelanjang dada. 


"Mah Alya ke sini nggak?" tanya Ardi panik. 


"Bukanya tadi tidur, kan kamu yang gendong?  Aneh kamu" jawab Bu Rita.


"Beneran Alya nggak kesini?" tanya Ardi lagi 


"Nggak ada Alya, kenapa sih?  Kamu belum cerita kenapa kalian ke polisi tadi pagi. Mang Adi kenapa?" tanya Bu Rita malah menagih penasaranya.


Ardi tidak memperdulikan pertanyaan Bu Rita dan berjalan ke dapur masih dengan handuk. 


Dapur lengang tidak ada orang, karena pembantu sudah kembali ke rumah belakang. Dan waktu makan malam belum tiba. 


"Mah Pah gawat. Cari Alya!" seru Ardi dengan nafas memburu dan wajahnya tampak sangat gusar. 

__ADS_1


"Ada apa sih?" tanya Bu Rita dan Bu Mirna heran.


"Nanti Ardi cerita. Panjang ceritanya Mah. Telpon satpam kunci gerbangnya. Cari Alya sekarang!" perintah Ardi seperti ada kegawatan mendadak. 


Bu Rita dan Bu Mirna yang masih mencerna keadaan tampak bengong. Tuan Aryo juga diam tertegun sambil berfikir. 


"Cepat Mah! Cari Alya!" seru Ardi lagi. 


"Ya ada apa ini?" tanya Tuan Aryo. 


"Pokoknya sekarang cari Alya dulu!" ucap Ardi menegaskan.


"Ya. Mamah cari.  Tapi kamu juga pakai baju dulu?" jawab Bu Rita memberi saran.


"Sholat juga.  Udah mau abis waktu maghrib lho!" sahut Bu Mirna. 


"Ya Mah, Bu" jawab Ardi berlari ke atas. 


Lalu Ardi memakai baju dengan kilat. Sholat juga buru-buru.


Meski masih bingung dengan apa yang terjadi. Bu Mirna, Bu Rita dan Tuan Aryo mematuhi Ardi, mereka berpencar mencari Alya ke setiap sudut rumah. Bahkan mereka ke rumah pembantu dan menggegerkan seisi rumah. 


Tuan Aryo melihat cctv dengan seksama. Tidak ada tanda-tanda orang keluar atau masuk ke rumah itu. Terakhir adalah mobil Ardi. Untuk depan kamar Alya entah karena apa, mati.


Sebenarnya Bu Mirna sudah masuk kamar. Bu Mirna membuka pintu dan memanggil Alya, tidak ada jawaban. Kamar masih tampak rapih dan lengang, bahkan sebelumnya dimatikan. tubuh Alya tampak seperti guling. Bu Mira tidak membukanya dan melewati ranjangnya biasa saja. Bu Mirna berjalan ke kamar mandi kosong. 


Karena tidak ada tanda-tanda di temukan Alya ataupun hal mencurigakan. Semua berkumpul.


Saking panik dam frustasi, ditambah lelah seharian pergi dan dicueki Alya, Ardi meneteskan air matanya. Dan itu adalah hal yang sangat jarang terjadi. 


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Tuan Aryo tenang. 


"Hags… hags..." Ardi menahan paniknya, mengelap air matanya dan mencoba atur nafasnya. 


"Cerita Ar.  Katakan ke mamah papah. Jangan buat mamah jantungan begini!" tanya Bu Rita memhuru.


"Mia Pah, Mah, dia ternyata suruhan Tuan Wira!" ucap Ardi dengan nada geram.


Baik Tuan Aryo,  Bu Rita dan Bu Mirna langsung melotot tidak percaya. 


"Apa maksudnya bagaimana ceritanya? Omong kosong macam apa ini?" tanya Bu Rita emosi.


"Kita harus temukan Lila secepatnya. Mang Adi dibawa ke rumah sakit karena makan sambel tempe yang mau dimakan Alya. Yang tadi pagi dicariin Alya. Dan ternyata itu dikasih racun sama Mia" 


"Hoooh.  Bug bug" Bu Rita memukul-mukul dadanya masih tidak percaya. 


Telinga Bu Rita terasa tersambar petir yang sangat keras. Mendengar certia Ardi otaknya langsung bleng. Nafasnya terengah-engah, sulit untuk bernafas.


"Miaa…  Mia anakku?" gumam Bu Rita sedih, syok dan kecewa. Mengingat dulu dia yang memungutnya di jalan, menitipkan ke Bu Siti dan menghidupinya dengan penuh keikhlasan.


"Iya Mah. Dia sekarang ada di markas Gunawinaya. Ardi minta bantuan Topan untuk mengawasinya. Tadi pagi Alya dan semuanya ke kantor polisi karena anak Mang Adi nggak terima, Mang Adi sakit. Farid temenin Alya dan curiga ke Mia. Ardi harus pergi sekarang Mah" tutur Ardi menjelaskan sambil mengenggam tanganya.


Ardi berniat mendatangi Mia,  pokoknya malam ini harus dibereskan. Pikiran Ari juga sangat kacau mengira Alya dalam bahaya.


"Hah… terus Alya sekarang dimana?" tanya Bu Rita dengan nafas yang berat.


Tidak tahan dengan cerita anaknya. Bu Rita badanya langsung lemas, matanya berkunang-kunang dan drop pingsan.


"Jeng...kamu baik-baik saja kaan?" Bu Mirna mencoba membangunkan Bu Rita.


Tapi sepertinya Bu Rita pingsan. Tuan Ardi dan Ardi hanya bisa memijat keningnya. Masalah lagi ini. Lalu mereka membantu, Bu Rita berbaring dengan benar. 


"Telpon Dokter!" perintah Tuan Aryo ke Ardi. 

__ADS_1


Ardi pun menelpon Dokter. Setelah itu memasrahkan urusan rumah pada Tuan Aryo. Ardi pergi menyusul anak buahnya. Mereka lapor sudah dalam perjalanan ke rumah Ciko. 


__ADS_2