
TBC Jogja
"Anya. Gimana Agung?" tanya Alya lembut.
"Dia masih sibuk. Katanya masih harus presentasi sama dokter konsulenya" jawab Anya bete
"Sabar yah! Kan tau sendiri nasib jadi PPDS gimana? Nggak apa-apa kan, di sini nemenin aku?"
"Apa-apalah. Gue pengen jalan-jalan" jawab Anya ketus dan kesal.
"Ya terus jalan-jalan gimana? Pacar kamu sibuk. Aku nggak bisa ninggalin ibu gitu aja, maaf" tutur Lian memahamkan Anya. Padahal dalam hati Alya membatin "Sabar Anya. Entar kamu jalan-jalan sama Kak Farid aja"
"Sore nanti katanya dia jemput gue" jawab Anya lagi.
"Kamu mau pergi bareng Agung? Bener? Dinda kan mau ke sini. Dia naik kereta pagi lho. Kemungkinan ashar udah sampai. Suamiku juga nggak akan ijinin" jawab Alya lagi berusaha menggoyahkan Anya.
"Iya ya Dinda kan mau dateng. Ih Agung tuh gimana sih. Ck" Anya berdecak kesal sendiri.
"Ehm... Ehm" Alya berdehem ingin merayu Anya lagi. "Anya... mending ketemu Agungnya lain waktu deh"
"Lain waktu gimana? Gue jauh-jauh ke sini buat ketemu dia. Gue udah hampir 6 bulan nggak ketemu, dia pasti nemuin gue kok. Liat aja ntar malam" jawab Anya bersikokoh menunjukan peranya sebagai pacar yang baik.
"Ya gimana? Tau sendiri jadi residen hidupnya di rumah sakit? Kamu mau nyamperin ke rumah sakit? Tau sendiri kan di Sa****o pasiennya banyak banget. Apalagi di sini rumah sakit pusat"
"Nggak kok dia udah janji buat nemuin gue di sini. Entah siang, sore atau malem. Dia juga katanya lagi butuh bantuan gue"
"Bantuan?
"Ya lo kan tau nasib ppds. Dia mau minjam uang"
"Ehm, uang maksudnya?"
"Iya"
"Maaf ya Anya. Kenapa kamu nggak milih Kak Farid aja sih. Kak Farid dosen lho. Mapan! Siap nikah, baik lagi. Kalau Agung, dia residen baru aja mulai, apalagi masih minta bantuan kamu. Berarti dia belum mandiri. Kapan kamu nikahnya? Belum nanti wkds. Ingat lho kita udah 25 tahun, yakin mau nunggu dia??"
"Udah sih. Stop bahas Farid. Bete gue!"
"Kok bilang gitu?"
"Ya lo kan tau dia? Kenapa lo lebih milih Ardi timbang Farid? Gue juga nggak mau kali nikah sama orang yang hatinya bukan buat gue, dia tuh cintanya sama lo"
"Anya, dengerin aku" panggil Alya lembut ke Anya.
Lalu Alya menceritakan pernikahan Alya. Alya menceritakan detail tentang pertemuan dan sebab pernikahanya. Alya bukan dijodohkan, tapi Ardi, Bu Rita dan Tuan Aryo yang licik.
"Oh gitu? Jadi awalnya lo itu sukanya sama Farid?"
"Bukan suka, tapi kagum! Aku yakin kamu akan bahagia bareng dia. Awalnya juga aku bete dan benci banget sama suamiku. Tapi.... he"
"Tetep aja gue nggak suka Farid. Ketuaan!"
"Hemm. Jadi kamu ngatain aku nikah sama orang tua. Mas Ardi seumuran lho sama Kak Farid. Jarak 4 tahun 5 tahun kan seimbang"
"Hssshhh. Stop stop! Udah lo nggak usah berisik! Udah cukup yak" jawab Anya mengalihkan pembicaraan.
Meski memejamkan mata, tapi diam-diam Bu Mirna mendengarkan percakapan Anya dan Alya. Karena Anya sudah malas ngobrol Alya mendekati ibunya, memegang tanganya. Kemudian Alya meletakan kepalanya di dekat ibunya dan ikut terlelap.
****
Kata pepatah waktu adalah uang. Kata orang juga peluang atau kesempatan adalah emas. Begitu juga kata Dika dan Ardi. Mereka tidak mau waktu dan pertemuan mereka sia-sia. Selain silaturrahim dan piknik, mereka harus produktif dan bermanfaat.
Dika seorang pemuda, mahasiswa dan petani desa yang berjiwa semangat. Dika juga berfikir modern, mandiri dan ingin menjadi enterpreneur. Bertemu Ardi seperti mendapatkan hadiah dan penghargaan.
Ardi seorang pengusaha yang berjiwa sosial tinggi dan maju juga merasa menemukan jodoh melihat kearisan, kerendahatian dan jiwa semangat Dika.
Fatan memberikan mobil dan kuncinya ke Dika juga tidak cuma-cuma. Fatan tau jika Dika mau berkembang Dika butuh bertemu dengan orang seperti Ardi. Karena pengusaha di daerah Jogja sudah menjadi langganan Fatan, Fatan ingin mencarikan langganan untuk Dika, yaitu Ardi.
Setelah menjemput Farid mereka bertiga berkunjung ke desa Dika. Ternyata tidak jauh dari rumah Bu Mirna. Mereka pun seperti sedang berwisata ke pegunungan.
Di luar dugaan Ardi. Ternyata Dika benar-benar mahasiswa yang ulet dan tekun. Dengan belajar dari Fatan kawan Ardi saat kuliah bisnis dulu, Dika sudah punya 15 ekor sapi. Dan memiliki tambak ikan air tawar yang lumayan banyak. Meski baru permulaan tapi Dika terlihat serius menekuni bidang itu.
"Selama ini dibuang kemana *(dijual)?" tanya Ardi antusias melihat-melihat.
__ADS_1
"Saya baru belajar Mas. Jadi saya masih ngikut Mas Fatan. Kalau stok Mas Fatan kurang baru ambil ke saya" jawab Dika sopan.
"Kebetulan gue baru buka 2 restoran gimana kalau mulai sekarang lo setor ke gue. Gimana Rid, tapi ke Jakarta?" tanya Ardi serius dan merasa puas melihat ternak Fatan.
"Iya. Petani yang dari Bogor soalnya sering telat barang, jadi bisa gantian waktunya. Terutama kalau pas kita terima party besar" jawab Farid menyetujui.
"Saya sih sangat berterima kasih Mas kalau Mas Ardi dan Mas Farid mau bantu masarin saya. Cuma kalau pengiriman ke Jakarta ya berarti barangnya langsung banyak"
"Ya Fiks gue ambil barang dari lu. Masalah pegiriman biar nanti gue rapatin dulu sama pengurus yayasan. Gue juga pengen buka cabang di sini" tutur Ardi lagi.
Dika pun tersenyum bahagia. Lalu mereka berkeliling ke tambak Dika menikmati suasana pegunungan yang dingin. Airnya juga mengalir jernih.
Kemudian mereka menikmati teh hangat di saung bambu di tengah sawah itu. Dika menceritakan kekayaan pariwisata dan kearifan lokal di daerah situ. Sementara Farid hanya menyimak dan sesekali menimpali. Karena basic Farid seorang dosen dan psikolog bukan pengusaha. Tapi Farid tetap ikut menikmati dan tertarik dengan cerita Dika.
"Mas Ardi. Ibu saya selesai masaknya. Monggo, nyicipi masakan orang desa Mas" ajak Dika sopan.
"Waduh gimana ya? Saya janji makan siang bareng istri Mas Dika, mohon maaf" ucap Ardi terus terang tidak pandai bosa basi.
"Ehm" Farid berdehem, merasa tidak nyaman ternyata Ardi segitu perhatianya ke Alya.
"Oh kalau gitu biar dibungkus mawon nggeh?" tawar Dika sopan karena ibunya sudah menyiapkan masakan.
"Ngrepotin dong"
"Mboten Mas, saestu mboten" (Tidak Mas, sungguh tidak) jawab Dika.
Lalu Dika masuk ke rumahnya meminta ibunya membungkus makanan. Ternyata ibunya membuat masakan gurameh bakar dan pepes jawa. Setelah berbosa- basi dan puas berkeliling mereka pamitan.
"Lo seminar dimana Rid?" tanya Ardi diperjalanan.
"Di UGM" jawah Farid.
"Udah dapet hotel belum?"
"Ntar deh nyari yang deket" jawab Farid singkat.
"Mas Dika, jarak rumah mertuaku sama kampus jauh nggak?"
"Nggak begitu Mas, tergantung macet atau nggak, 1 jaman lah kurang lebih" jawab Dika.
Ardi ingin menunjukan ke istrinya. Kalau keputusan merenovasi rumah mertuanya bermanfaat dan merupakan ide brilian. Ardi juga ingin memberi tahu Alya kalau Ardi patut diberi pujian dan hadiah yang banyak.
"Oke" jawab Farid tidak bosa basi. Karena Farid juga ingin tahu latar belakang Alya.
Mereka bertiga mampir ke rumah Bu Mirna meletakan tas Farid kemudian menuju ke rumah sakit. Kali ini karena mereka tiba di jam besuk, Dika tidak menunggu di mobil lagi. Melainkan ikut menjenguk Bu Mirna.
"Thok Thok. Assalamu'alaikum" sapa Ardi dan kedua sahabatnya. Alya dan Bu Mirna masih telelap tidak mendengar. Jadi Anya yang bangun membukakan pintu.
"Aa Farid?" guman Anya melongo.
Anya melirik kesal ke Ardi. "Pasti ini ulah Ardi Kak Farid di sini" gumam Anya kesal.
Ardi dengan memasukan tanganya ke saku menerobos masuk dengam ekspresi cuek, sombong dan jaim pura-pura tidak peduli dengan Farid dan Anya. Farid menatap Anya sedikit kikuk. Sementara Dika yang tidak tahu apa-apa berjalan biasa.
Ardi masuk melihat istrinya tidur sambil duduk memegang ibunya. Ardi langsung mencium kepala Alya, merangkulnya dan membangunkanya.
"Sayang bangun" bisik Ardi ke Alya lembut. Alya dan Bu Mirna terbangun. Saat Alya bangun dan menoleh, Ardi langsung mengecup bibir istrinya tanpa tau malu apalagi permisi.
Tentu saja hal itu dilihat Farid, dan membuat Farid sedikit tidak nyaman. Tapi Ardi sengaja ingin mengumbar kemesraan di hadapan semua orang. Ardi ingin semua tau Alya miliknya dan membut Farid segera move on, lalu menikahi Anya.
"Malu ih Mas" bisik Alya ke Ardi.
"Biarin" jawab Ardi percaya diri sementara Bu Mirna dan yang lain menatap risih ke mereka berdua.
"Lhoh kok uakeh cah ganteng?" tutur Bu Mirna menyadari banyak yang jenguk. Kemudian Farid dan Dika menyapa Bu Mirna.
"Sopo yo? Koyo tau ketemu" *Siapa ya? Kaya pernah ketemu* sapa Bu Mirna ke Dika ternyata mereka sering bertemu.
"Ibuk jualan gudheg di pasar nopo nggeh?" tanya Dika sopan.
"Ho lha iyo. Hooh" jawab Bu Mirna tersenyum.
Ternyata Dika langganan Bu Mirna dan anak dari teman Bu Mirna. Dika pun menjadi terkesan, ternyata di balik sosok sederhana Bu Mirna menyimpan kenyataan dia mertua dari bos besar.
__ADS_1
Farid menatap Bu Mirna kikuk. Mengingat alasan Alya menolak dirinya dulu. Bu Mirna yang mendengar percakapan Alya dan Anya juga ikut memahami dan ingat cerita anaknya dulu. Kalau Alya pernah dilamar orang.
"Terus sek iki sopo?"
"Teman Saya Bu" jawab Alya dan Ardi bersamaan.
"Saya Farid Bu" jawab Farid sendiri.
"Opo cah bagus iki sek mbok ceritake cedhak karo Jeng Rita, Nduk?" tanya Bu Mirna spontan. *Apa anak ganteng ini yang kamu ceritain dekat dengan Bu Rita Nduk?*
Anya, Ardi dan Farid sebenearnya tidak begitu tau bahasa jawa. Tapi mencoba menebak sendiri kalau Bu Mirna tau tentang cinta segitiga mereka. Mereka berempat pun saling berpandangan.
"Enggih Bu" jawab Alya lembut.
"Dia calonya Mbak yang ini Bu" celetuk Ardi rese.
Anyapun menatap Ardi tambah kesal. Farid sendiri merasa sangat malu. Bu Mirna yang mendengar percakapan Alya dan Anya mengangguk, lalu memegang tangan Farid.
"Cah bagus. Mantuku sing sontoloyo kui, di ngapuro nggeh. Mohon dimaafkan. Kabeh wes takdir, ndang podo guyup rukun lilo legowo" ucap Bu Mirna bijak. Memohonkan maaf menantunya yang kurang ajar.
"Iya Bu" jawab Faris sopan dan mengangguk. Sedikit-sedikit Farid paham maksud Bu Mirna.
Farid, Alya dan Anya pun menelan ludahnya malu ternyata Bu Mirna tahu. Sementara Ardi yang tidak tahu malu, masih cengengesan masih ingin mengerjai Anya.
"Bu bentar lagi mereka menikah lho. Ibu ikut ke Jakarya aja biar bisa kondangan" celetuk Ardi lagi.
Anya melotot ke Ardi menahan geram, tapi tidak bisa melampiaskan. Farid yang sudah paham Ardi dari kecil hanya diam menggaruk pelipisnya. Dika yang tidak tahu apa-apa hanya diam. Alya langsung mencubit suaminya.
"Maas" bisik Alya berusaha ngerem suaminya. Alya tau Anya sudah sangat kesal ke Ardi.
"Apa? Mas benar kan? Mas pengin ibu ikut kita aja" jawab Ardi santai sambil menggenggam tangan Alya yang tadi mencubitnya.
Selanjutnya Bu Mirna mengajak mengobrol tamunya dan mencairkan suasana. Lalu siang itu mereka makan bersama dari bekal yang Alya bawa dan makanan dari Ibu Dika. Setelah itu sholat dzuhur dan duduk di depan ruang vvip itu.
Karena Ardi terus menempel pada Alya. Anya pun merasa risih dan menjauh dari Alya. Anya memilih keluar dan duduk di bangkus dekat taman. Dika sehabis sholat beranjak ke mobil. Tidak ada pilihan lain Farid ikut duduk di tempat yang sama dengan Anya.
Mereka dua saling terdiam dan menunduk. Anya menelan salivanya. Semua umpatan dan keberanian Anya hilang. Yang ada, Anya salah tingkah dan gugup berduaan dengan Farid.
"Bapak kemarin telpon" tutur Farid membuka percakapan.
"Hemm"
"Kamu masih marah sama mereka?" tanya Farid pelan. Farid tahu, Anya menolak perjodohan dan marah ke Bapaknya.
"Bukan urusan A' Farid"
"Apa kamu kesini buat nemuin pacar kamu? Udah ketemu?"
"Kepo banget sih! Heran. A' Farid ngapain datang ke Jogja segala sig?" jawab Anya jengkel.
Farid hanya diam lalu mengambil ponselnya. Membuka galeri dan menunjukan ke Anya.
"Baca!" tutur Farid menunjukan iklan seminar.
"Aa kesini bukan karena kamu, tapi buat ini" jawab Farid lembut berusaha agar Anya tidak salah sangka.
"Terus kenapa bisa kesini?"
"Kita ada urusan kerjaan" jawab Farid lembut.
Anya menelan salivanya dengan wajah memerah, ternyata prasangkanya salah. Sejenak beberapa saat mereka terdiam. Dari arah dalam Alya keluar berjalan bersama suaminya.
"Kalian di sini ternyata. Dika dimana ya?" tanya Alya ke Anya.
"Dia ke mobil katanya" jawab Farid.
"Ada apa Al?" tanya Anya.
"Tak suruh jemput Dinda. Dinda udah mau nyampe"
"Benarkah? Aku ikut" jawab Anya spontan.
Anya bete banget di ruangan liatin Ardi sama Alya mesra terus, nggak tahu malu. Dan kini jika tidak ikut pergi tersisa Farid dan Bu Mirna. Kemudian Farid melihat tangan Ardi yang terus menempel ke Alya.
__ADS_1
"Gue ikut juga. Suntuk di sini" ucap Farid ikut bangun.