Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
235. Mia berakhir


__ADS_3

Ardi berjalan cepat, sambil menelpon seseorang. Pikiranya kacau, merasa gagal dan kecolongan. Seketat apapun penjagaanya tapi masih ada yang membahayakan keluarganya.


Ardi merasa sudah waspada. Sampai mempekerjakan Fitri membayar banyak oenjaga dan pelayan. Memasang cctv di setiap sudut. Eh musuhnya ada di dekatnya sendiri. Tentu saja berhasil, orang itu tau semua seluk beluk rumah Ardi. Hafal dimana saja cctv terpasang.


Bahkan saat mereka tinggal di apartemen aerim,  Ardi memboyong Ida dan Mia,  Ida dan Mia yang paling tau tentang Alya dan Ardi. Ardi percaya mereka, karena istrinya menyukainya,  Ardi ingin istrinya bahagia. Ternyata malah dia yang ingin menyelakainya. 


"Mas Ardi kemana?" tanya Alya ke Farid,  bibirnya masih belepotan saus dan mayonais. 


Alya sakit hati, Farid balik sendiri dan melihat suaminya pergi buru-tanpa berpamitan padanya. Padahal baru saja Ardi merayu, minta maaf dan berjanji akan selalu jaga Alya. 


"Ada perlu Al,  udah kamu santai aja di sini sama kita" jawab Farid menenangkan Alya, Farid mendapat amanah Ardi untuk jaga Alya dulu. 


"Tuh kan dia ingkar janji lagi" gerutu Alya tidak peduli omongan Farid. Alya meraih tisu mengelap bibirnya yang belepotan.


Mungkin karena hamilnya,  Alya seperti anak kecil yang tidak mau jauh dari suaminya. Mendengar Ardi pergi, Alya seperti merasa dihianati,  matanya berkaca-kaca tidak terima dan langsung bangun mengejar suaminya. 


Anya dan Farid saling pandang menghela nafas.  Kedua sahabatnya itu benar-benar merepotkan dan seperti anak kecil. Lalu mereka menyusul Alya. 


"Alya. Tunggu,  lo mau kemana?" kejar Anya. 


Alya tidak peduli panggilan Anya dan Farid, rasanya benar-benar jengkel. Alya tidak mau yang lain, Alya mau ada Ardi di sisinya. 


Alya berlari mengejar suaminya.  Farid dan Anya pun ikut mengejar seperti orang tua yang mengejar anak asuhnya. 


"Maaaas!" teriak Alya memanggil Ardi. urat malunya putus. 


Karena Ardi fokus dengan telpon dan buru-buru Ardi tidak mendengar istrinya.  Ardi membuka mobil dan menyuruh Arlan langsung tancap gas. 


"Mas Ardiiiiii,  tungguuu!" panggil Alya teriak lagi sekuatnya. 


Tapi yang mendengar bukan Ardi, melainkan semua orang di sekelilingnya. Sampai orang di dekatnya reflek menutup telinganya, suara Alya sangat cempreng saat berteriak sambil menangis. Semua yang mendengar pada melihat iba ke Alya dan mencibirnya. 


Alya tidak peduli, Alya memilin ujung jilbabnya dan menghentakan kakinya, sebagai ungkapan saking dongkolnya. Sifat chieldist Alya keluar lagi. Alya pun menangis lagi, entahlah karena hamil Alya sangat cengeng.


Dengan nafas ngos-ngosan, menahan malu dan sabar,  Farid dan Anya berhasil menyusul Alya.  Alya menangis seperti anak kecil.


"Haiish" Anya menepuk jidat lagi rasanya ingin membungkam mulut Alya atau menghilang saat itu juga. Tapi mau bagaimana lagi, Anya terlanjur sayang pada sahabatnya itu.


"Kumat  nih sakitnya Alya" batin Anya.


Farid yang baru pertama menyaksikan sifat asli Alya pun bergidik. Alya seperti Vivi anak panti,  suka menangis. Untung Farid nggak jadi nikah sama Alya.


"Kak Farid,  susul Mas Ardi sekarang!" rengek Alya ke Farid tidak tahu malu.


"Gue nggak tau Al.  Dia mau kemana?" jawab Farid.  


"Ya udah pokoknya ayo sekarang susul!"ucap Alya memaksa. 


Anya yang tidak tau kemana dan apa alasan Ardi pergi,  menatap Farid memberi kode untuk penuhi saja permintaan Alya.  Toh kalau Alya udah sama Ardi, beban Farid dan Anya mengasuh bayi tua hilang. 


"Ayok!" jawab Farid mengangguk dan merogoh kunci mobilnya.


Mereka pun menyusul Ardi,  untung Ardi sempat menemui lampu merah. Jadi Farid tidak kehilangan jejak Ardi. 


Alyapun menelpon Ardi menyuruhnya berhenti dan tunggu dia.

__ADS_1


"Apa, Sayang? Tunggu mas di kafe. Bersenang-senanglah bareng Anya, jangan ikut mas" tutur Ardi menjawab telpon Alya. 


"Nggak. Mas janji mau bareng Lian terus. Lian mau ikut!" rengek Alya manja membuat Farid dan Anya jadi jijik mendengarnya.


Perasaan Anya dan Farid juga saling cinta tapi nggak gitu-gitu amat. 


"Nggak Sayang,  please.  Kali ini aja.  Nurut dulu.  Bahaya soalnya" tutur Ardi lagi. 


Mendengar penolakan Ardi, tidak peduli apa alasanya Alya mematikan telepon ngambek, tapi tetap membuntuti, dan menyuruh Farid lebih cepat.


Ardi tidak mau Alya ikut, karena laporan Topan, Mia masuk ke markas preman. Ardi sendiri tidak mau gegabah. Menyuruh Topan menunggu dan Ardi meminta bantuan tim keamanan Gunawijaya. 


Ardi tidak mau, Alya melihat suaminya bertengkar. Tapi dasar watak Alya ngeyel,  dia nggak mau tau. Pokoknya mau ikut Ardi.


Anak buah Ardi sampai di lokasi tujuan lebih dulu.  Mereka pun langsung mengeksekusi teman-teman kakak Mia. Dan terjadi pertarungan sengit. 


Sayangnya saat itu Lila tidak ada di tempat.  Hanya ada Ciko si kakak Mia dan gengnya.


"Anyiing! Goblok! Kenapa bisa ketahuan! Tamat riwayat kita" umpat Ciko melihat anak buahnya mulai berjatuhan. 


Mia tersudut dan ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetar. Ya dia menyadari ini akhir dari semuanya. 


Ada rasa sakit,  menyesal, takut,  seperti dunianya berhenti.  Dirinya ketahuan! Pria-pria kekar yang sedang berkelahi di depanya adalah orang-orangnya Ardi. Mia bisa selamat dari polisi, tapi tidak dari orang- orang Ardi.


"Cepet kabur goblok" omel kakak Mia menarik tangan Mia. 


Mia yang sudah berhari-hari tertekan bingung.  Di saat dia mau melangkahkan kakinya mobil Ardi tiba. Mia melihatnya dan hafal mobil ferari itu mobil kesayangan Tuanya. 


Sementara Ciko langsung lari meninggalkan Mia. Dan kini Mia terpaku sendirian menyaksikan gerombolan teman kakaknya terkapar. 


Sebenarnya hati Ardi sangat ngilu melihat Mia. Setau Ardi Mia gadis yang baik,  kenapa bisa ada di situ. Hati Ardi benar-benar terkoyak. Ardi masih berharap dugaan dan kecurigaan Farid salah. Tapi dia benar-benar Mia.


Lalu Ardi mengingat dirinya saat jantungnya seperti hampir mau copot, merasakan betapa sakitnya meninggalkan dunia dan istrinya. Merasakan mobilnya blong.


Untung samping jalan tak ada pembatasnya dan langsung pasir. Kalau tidak, mobil mereka sudah kebablasan nyungsep masuk ke bawah truk tronton dan entah apa jadinya. Atau mungkin jatuh ke jurang.


Ardipun mengepalkan tanganya dan langsung menghampiri Mia. Ardi meraih kerah baju Mia membabi buta, emosinya tak tertahankan ingin membunuh Mia saat itu juga. 


"Ampun Tuan. Ampuuun" jerit Mia memohon saat Ardi mencekiknya. 


"Kau..." pekik Ardi dengan mata merah menahan emosi mencekik leher Mia dengan sekuatnya.


Mia tampak sesak nafas kesakitan bersusah payah menahan tangan Ardi.


"Maaas, hentikan!" teriak Alya berlari dari belakang.


Mata Ardi yang nanar dan memerah menoleh ke istrinya yang berlari menangis. Ardi langsung melempar Mia kasar sehingga jatuh tersungkur dan membentur tembok.


Mia menangis tersedu-sedu, wajahnya menunduk, Mia mengenali suara Alya. Mia tidak berani menatap Alya. Mia malu sangat malu pada dirinya sendiri.


Saat sampai di depan Mia dan Ardi. Alya berdiri mematung dengan deraian airmata. Seluruh tubuhnya seketika kaku. Dengan mata kepalanya sendiri, Alya menyaksikan perempuan yang duduk mengesot di depanya memang Mia. 


"Hiks hiks. Mia… kenapa harus kamu?" rintih Alya tidak tahan melihat Mia. Hati Alya benar-benar hancur. Sangat sakit. Kasih sayang dan ketulusan Alya ke Mia begitu besar.


Ingatan Alya kembali ke masalalu,  saat pertama Alya datang ke Jakarta. Mia dan Ida yang membercandai Alya,  kalau Ardi itu seperti fampir,  Mia yang doain Alya berjodoh dengan Ardi. Mia yang melayaninya dengan baik dan menjadi sahabatnya di kala sepi. 

__ADS_1


"Maafkan aku Non. Ampuni saya Tuan Ardi, Saya pantas mati, saya pantas mati" rintih Mia belum berani mengangkat wajahnya. 


Ardi sendiri tidak bisa berkata apa-apa. Mulut ya tercekat. Sejak kecil mereka menampung Mia.


"Kenapa harus kamu?  Kenapa harus kamu? Kenapa harus kamu yang melakukan ini? Apa salahku? Apa salah anakku?"  tanya ya lagi.


Alya memaksakan diri mendekat ke Mia dan menanyainya dengan penuh emosi. 


"Ampun Non. Saya hina saya salah. Saya pantas mati" lirih Mia.


Mia beringsut dan mendekati Alya hendak bersujud dan meminta ampun.


"Jaga tanganmu!  Jangan sentuh istriku" teriak Ardi emosi melihat Mia hendak meraih kaki Alya. Lalu Ardi menginjak tangan Mia sangat geram.


Melihat hal itu Alya merasa semakin ngilu dan tidak tega. Alya tau pasti tangan Mia sangat sakit.


"Mas jangan sakiti Mia, kasiaan" ucap Alya sambil nangis masih tidak tega melihat keadaan Mia. 


"Sayang dia mau bunuh kita. Dia yang mau kita mati, dia yang mau lenyapi anak kita" jawab Ardi emosi. 


"Hiks hiks hiks" Alya menangis tambah kencang,  begitu juga Mia. Mereka berdua menangis bersama saling berhadapan.


"Saya pantas mati. Maafkan saya. Ampuni saya Non,  Ampuni saya Tuan" rintih Mia lagi. 


Kuping Ardi panas dan ingin menendang Mia. Farid dan Anya berdiri memperhatikan adegan itu, lalu Farid mencegah Ardi berlaku kasar.


"Stop Ar, jangan kotori tangan dan kaki Lo. Lo bisa masuk penjara kalau terjadi sesuatu sama dia" bisik Farid menenangkan.


"Sebaiknya kita bawa ke polisi!" tambah Farid memberi saran.


"Nggak! Gue mau, sebelum ke polisi dia harus jawab dulu, siapa yang suruh dia ngelakuin ini!" ucap Ardi menghempaskan tangan Farid. 


Anak buah Ardi kemudian maju.


"Bawa perempuan ini ke markas kita. Papah harus melihatnya!" ucap Ardi memberi perintah. 


"Baik Tuan"


Lalu anak buah Ardi menarik Mia kasar. Mia pasrah sambil menangis. Lalu mereka membawa Mia.


Ardi tidak kuat melihat Alya menangis. Ardi kemudian memeluk istrinya dan mengajak pulang. 


"Mas kan udah bilang Sayang, jangan ikut" 


"Hiks hiks" Alya masih terisak di pelukan Ardi. 


"Kita harus tangkap siapa yang buat Mia jadi begini" ucap Ardi lalu menggendong Alya ke mobil. 


"Gue pulang ya Ar.  Kasian Anya, dia baru jaga malam" ucap Farid mengetuk mobil Ardi dari luar. 


"Lo nggak mampir ke rumah dulu?" tanya Ardi.


"Nggak!"


"Oke . Thanks Bro!" 

__ADS_1


"Yoi" 


__ADS_2