Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
182. Belahan Jiwa


__ADS_3

****


"Kamu bawa mobil siapa sayang?" tanya Pak Mentri membuka kacamatanya melihat tuan putrinya pulang membawa Fortuner keluaran terbaru. Itu bukan mobil keluarganya.


"Ehm" Mira berdehem menelan ludahnya. Mira berjalan mendekati ayahnya, meraih tanganya dan menciunya.


Dalam hati Mira, Mira ingin bilang, "Itu mobil pacar Mira Pah"


"Mobil temen Pah" jawab Mira berbohong.


"Lho, bukanya kamu diantar Tito? Kemana dia? Papa kira kalian pergi bersama?"


"Nggak Pah" jawab Mira lagi menundukan kepala.


Mira juga ingin bilang, "Mira nggak sama Tito Papah, Mira abis ketemu pacar Mira"..


"Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Pak Menteri lagi.


Meski Mira sudah dewasa tetap saja bagi orang tua mereka. Mira adalah seorang tuan putri semata wayangnya yang sama dengan beberapa tahun silam.


"Mira, habis ada perlu sama temen Pah, papah tumben jam segini di rumah?"


"Papah kan ambil libur, lusa kan putri papah lamaran"


"Ehm ehm" Mira berdehem tidak nyaman. Mira ingin sekali bilang, kalau pertunanganya akan batal.


Tapi Mira mengingat janji Gery. Gery menuturkan ke Mira, biarkan berjalan sesuai rencana, Gery yang akan mengantarkan kejutan untuk calon mertuanya.


Mira tidak perlu menyampaikan apapun yang bisa membuat orang tuanya bertengkar. Biar semua Gery yang urus.


Mira mempercayai Gery. Mira memilih mengikuti Gery. Diam sementara waktu dan menantinya dengan tenang dan sabar.


"Mira capek, Mira masuk dulu ya Pah" tutur Mira sopan ke ayahnya.


"Iya" jawab Pak Menteri.


Mira masuk ke rumahnya. Di balik ruang tamu di depan ruang tv nenek Mira dan sepupu Mira berkumpul. Merek tampak sedang mencoba gaun dan pakaian kopelan keluarga.


"Ciee yang abis kencan baru pulang?" goda sepupu Mira yang baru pulang dari Turki. Mengira Mira pulang telat habis kencan dengan Tito.


"Ish apa sih kalian" jawab Mira mendesis malu. Mira memang habis berkencan tapi bukan dengan Tito melainkan dengan Gery, pujaan hatinya yang selama ini mengisi hatinya bertahun-tahun.


"Yeeey malu-malu" goda sepupu Mira lagi.


"Gimana rasanya mau dilamar Mir?" tanya tante Mira yang baru pulang dari Australia.


"Kalian pada ngapain sih. Mira capek Mira mau mandi" jawab Mira tidak ingin dibercandai saudara-saudaranya.


Lalu Mira berjalan menaiki tangga masuk ke kamarnya. Mira meletakan tasnya, kemudian berbaring, merebahkan badanya.


Mira menggenggam tanganya, kemudian memegang dadanya. Debaran kebahagian itu masih ada.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, menikahlah denganku, kita akan bersama sampai ujung usia kita"


"Genggam tanganku Mir, percaya padaku. Aku mencintaimu"


Kata-kata itu selalu terngiang di telinga mira. Rasanya begitu nyata, ya memang nyata. Cinta Mira terbalas, bahkan Mira mendapatkan lebih dari yang Mira mau.


Lama Mira membaringkan tubuhnya hanya untuk membayangkan pangeran tampanya. Sentuhan tangan Gery, genggamanya, suaranya, pelukanya semua masih terasa.


Mira tersadar, Mira bangun masuk ke kemar mandi dan membersihkan badanya. Setelah berganti baju dan badanya terasa segar, Mira turun bergabung bersama keluarga besarnya.


Semua keluarga Mita tampak antusias membicarakan pertunangan Mira. Tapi Mira diam saja. Mira berencana akan mengganti calon mempelai laki-lakinya.


****


Alya menundukan kepalanya, merenungi perkataanya yang keceplosan. Apakah hal itu akan membuat suaminya marah, atau memang Tuhan yang menggerakan lidah Alya.


"Maafkan Mamah kalau Mamah marah sayang" tutur Bu Rita ke Alya.


"Lian dan Mas Ardi yang meminta maaf Mah. Mas Ardi dan Lian tidak ingin buat Mamah dan Papah khawatir"


"Ya sudah, ini sudah malam, kamu udah minum obat belum?"


"Belum Mah"


"Minum obat dulu. Mamah mau cucu mamah tumbuh sehat" .


"Iya Mah" Alya kemudian turun dari kamarnya menunu ke dapur mengambil air minum. Alya meminum vitamin hamil sebelum tidur.


"Mamah tidur di sini boleh?" tanya Bu Rita.


"Iya Mah. Lian seneng Mamah temenin Lian, tapi emang Papah nggak nyariin?"


"Nggak, papahmu lagi serius sama laptopnya, udah tidur ya"


"Ya Mah, makasih ya Mah"


"Mamah nggak bisa tidur mikirin suamimu" tutur Bu Rita berbaring menarik selimut tapi belum terpejam.


"Ehm" Lian tidak menjawan habya berdehem.


Lian diam kemudian ikut memikirkan suaminya. Benar juga apa yang dikatakan Bu Rita. Mereka saja bisa membunuh Jack tanpa rasa dosa. Tidak memikirkan anak-anak Jack yang menjadi yatim. Berarti musuh Ardi itu benar-benar kejam dan jahat.


Padahal Jack hanya seorang pelayan biasa. Membunuh Jack seharusnya tidak memberi keuntungan apapun tapi tetap dilakukan. Seperti apa sebenarnya musuh Ardi. Seharusnya Alya mencegah Ardi pergi.


Alya menggigit bibirnya khawatir. Sedang dimana dan sedang apa suaminya. Alya tiba-tiba sangat merindukan suaminya. Alya ingin Ardi di depanya, memeluknya erat seperti biasanya.


"Ya Tuhan selamatkan suamiku" batin Alya menatap langit-langit kamar.


Alya memiringkan tidurnya membelakangi mertuanya. Alya mengelus perutnya.


"Mas Ardi pasti berhasil, Ayahmu hebat ya Nak, Ayah akan pulang malam ini juga denga keadaan selamat. Ayah pergi dengan niat yang baik" gumam Alya dalam hati.

__ADS_1


Alya menarik nafas panjang, memejamkan matanya berusaha tidur. Tapi tidak bisa. Alya kemudian berbaring terlentang lagi.


"Kenapa aku jadi khawatir gini sih?"


Alya kemudian membuka matanya, ternyata mertuanya juga belum tidur dan malah duduk.


"Mamah sedang apa?" tanya Alya.


"Mamah rasanya nggak karuan sayang. Mamah mau ambil minum"


"Lian temenin nggak Mah"


"Boleh"


Malam itu jam dinding menunjukan pukul 10 malam. Biasanya Alya sudah tidur dalam pelukan hangat suaminya. Tapi mala itu Alya dan Bu Rita masih terjaga.


Seperti sahabat beda usia. Alya dan Bu Rita berjalan beriringan menuruni tangga menuju ke dapur. Mereka mengambil botol besar air mineral, Bu Rita membawa minumnya, Alya membawa gelasnya. Kemudian mereka duduk berdampingan di ruang televisi.


Bu Rita menyalakan televisi, mencari film bagus. Berusaha mengalihkan pikiranya. Usia memasuki menopause dan keadaan perempuan hamil membuat hormon perempuan tidak seimbang. Dua perempuan beda usia sama-sama terjebak dalam rasa panik berlebihan.


"Mamah suka drama korea juga?" tanya Alya heran mertuanya menyalaka serial drama yang disukai anak-anak SMA.


"katanya drama korea itu bisa bikin orang terhanyut dan bikin baper. Mamah penasaran"


"Oh, kirain"


"Memang kenapa?"


"Lian kira mamah mau liat acara dangdut atau sinetron gitu"


"Mamah mau nyari acara yang lucu dan menegangkan Lian"


"Sini Mah biar Lian carikan"


Kemudian Alya mengambil remotnya, Alya memilihkan drama DOTS yang sempat menjadi favorit agar mertuanya terhibur.


Tapi meskipun drama itu sangat disukai penonton lain pada masanya. Bu Rita tampak tidak terhibur. Tatapan matanya tetap tidak fokus.


"Nggak sembuh Lian. Mamah malah tambah dheg-dhegan" tutur Bu Rita melempar remot. Sekarang sudah menunjukan jam 12 malam.


"Lian juga Mah, kok Mas Ardi belum pulang, belum ngabari juga ya. Padahal bilangnya bentar doang"


"Aduh, anaku satu-satunya. Kenapa suka sekali membuat mamah khawatir"


"Maafin Lian ya Mah".


"Udah terjadi"


"Lian sholat sunah aja kali ya Mah, sama ngaji juga" tutur Lian.


"Oh iya benar sayang. Astaghfirulloh, kenapa Mamah nggak berfikir kesitu"

__ADS_1


__ADS_2