Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
61. Sweet Morning


__ADS_3

Pagi itu alam bawah sadar Alya memenuhi keinginanya. Alya tidak peduli suaminya pergi kemana? Dengan Siapa? Pulang jam berapa? Yang penting Alya harus bangun pagi. Dan tepat jam 4 pagi Alya terbangun. Alya merasa seperti sesak dan terhimpit.


Alya membuka matanya, dia sangat kaget melihat apa yang ada di depanya, Alya memejamkan matanya lagi, berharap tadi salah lihat. Alya membuka matanya lagi.


"Ya Tuhan!" Alya menelan salivanya menyadari apa yang terjadi. Tepat di mata Alya nampak kaos berwarna hitam dengan lekukan dada bidang dan tegas. Bahkan hidung Alya menempel dan merasakan aroma rokok.


Ternyata Alya sedang bergelung di dada bidang suaminya. Dan entah kapan kejadian itu dimulai, dan bagaimana mulainya. Bahkan satu tangan Alya melingkar memeluk suaminya dengan nyaman.


Seingat Alya, Alya tidur sendirian, Alya juga tidak bermimpi aneh-aneh. Hanya saja kebiasaan Alya di Jogja Alya tidur berdua dengan ibunya. Ya meskipun Alya sudah dewasa, Alya masih sangat suka tidur dan memeluk ibunya. Itu karena di hidup Alya hanya punya ibu.


Alya diam sejenak merasakan kehangatan suaminya. Merasakan dekapan dari tangan kokoh yang katanya sudah halal baginya. Tapi kemudian akal sehatnya sadar. Bagaimana bisa dia tiba-tiba seperti ini. Apa saja yang sudah dilakukan suaminya saat dia tidur? Bisa-bisanya dia nyaman bersama laki-laki yang tega membohongi ibunya, menghancurkan kepercayaan ibunya, mengaku berzinah hanya biar segera dinikahkan.


Alya segera menarik tangan yang melingkar di perut suaminya. Alya mencoba menjauh dan melonggarkan tangan suami yang merengkuhnya. Tapi tangan dan kaki suaminya erat mengunci Alya. Bahkan dagu suaminya berada tepat di atas kepala Alya.


Alya mengatur nafasnya, menarik tubuhnya dengan hati-hati. Alya mencoba menggeser kaki suaminya, agar menjauh darinya, lalu melepaskan tangan suaminya yang melingkar. Tapi sayang, saat Alya bergerak, kepala Alya menyenggol dagu Ardi, sehingga Ardi terbangun.


"Emm, sudah bangun rupanya" gumam Ardi semakin mempererat lingkaran tanganya.


"Aku sesak" ucap Alya sedikit gerogi berusaha melepaskan tangan Ardi.


"Cup" Ardi mencium rambut Alya, semakin erat memeluknya. Ardi tidak percaya perkataan Alya. Karena pagi-pagi yang dingin memeluk istrinya di tempat tidur sangatlah nyaman. Semakin erat semakin nyaman pikirnya.


"Lepaskan mas, aku mau bangun" pinta Alya sedikit lebih keras.


"Tetaplah seperti ini, nyaman sekali rasanya" jawab Ardi tetap memeluk Alya.


"Iya tapi aku tidak bisa bernafas, lepas!"


"Hemmm masih jam segini, kamu mau kemana?"


"Ish" Alya menonjok perut Ardi dengan keras.


"Auw, sayang apa yang kau lakukan?" Ardi reflek melonggarkan tanganya. Merasa sakit akibat ulah Alya, Alya tidak menyia nyiakan kesempatan mendorong suaminya menjauh.


"Dibilang sesak, mau bangun juga! Rasain!" jawab Alya kesal.


"Drrrrr drrrttt" ponsel Alya menyala dan bergetar di bawah bantal Ardi. Mendengar ponsel bergetar Ardi langsung meraihnya sebelum Alya.


"Itu ponselku, sinih!"


Ardi hanya diam melihat nama panggilan di ponsel Alya.


"Siapa mas yang telfon? Kembalikan!" tanya Alya panik ponselnya dipegang suaminya.


Ardi tersenyum nakal melihat istrinya. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.

__ADS_1


"Kemarilah" jawab Ardi menepuk tempat di samping Ardi seperti tadi.


"Kembalikan ponselku"


"Siniih, nggak usah malu-malu, aku suamimu" jawab Ardi tersenyum melihat Alya gelagapan.


"Hitung 3 mundur, nggak mendekat, aku angkat nih!" ancam Ardi karena Alya tetap diam.


"Bentar lagi mati lho ini" ucap Ardi lagi memberi peringatan.


Alya menggigit bibirnya geram, lalu menggeser tubuhnya mendekat ke Ardi lagi. Setelah Alya kembali mendekat di sisi Ardi, Ardi menjawab panggilan teleponnya.


"Halo Bu" sapa Ardi terhadap perempuan di panggilan videonya.


Betapa kagetnya Alya mengetahui itu telepon dari ibunya. Kemudian Ardi memperlihatkan ke mertuanya kalau seakan-akan Alya masih bergelung manja di pelukanya.


"Ealah sontoloyo, jam segini ijek kelon ae (jam segini masih malas-malasan di tempat tidur" omel Bu Mirna.


"Iya Bu. Alya nggak mau bangun katanya masih mau dipeluk" jawab Ardi berbohong. Mendengar suaminya berbohong lagi Alya tidak terima.


"Nggak Bu. Mas Ardi yang nggak ngebolehin Alya bangun" jawab Alya berusaha mencubit suaminya. Ardi hanya tersenyum nakal menahan serangan Alya.


"Yo wes kono,(ya udah situ) udah lupa sama ibu, pacaran terus. Ibu nggak dikabari?" jawab Bu Mirna kesal merasa diabaikan anaknya


"Mboten Bu (nggak Bu), Alya nggak begitu" jawab Alya berusaha bangun lalu merebut ponselnya.


"Bohong Bu, Alya bohong, Alya pacaran terus Bu, sampek lupa ngabarin Ibu" jawab Ardi nimbrung senang menggoda istri dan mertuanya. Tentu saja semakin membuat Alya geram dan memberikan ekspresi yang sangat imut.


"Apa sii masss" jawab Alya geram kembali mencubit lengan Ardi.


"Yo wes, yang penting ibu sudah tau kamu tiba dengan selamat. Saiki bangun, sholat!"


"Enggih Bu, Alya mau bangun" jawab Alya sopan


"Kemarin pura-pura nggak mau dinikahkan, sekarang nempel terus!" ucap Bu Mirna melihat anaknya tidur bersama menantunya.


"Ibu, apa maksudnya? Nggak bu, Alya nggak seperti itu?" jawab Alya malu dikatai ibunya


"Wes tak tutup yo telponya, Ibu malu liat kamu pake baju begitu, ndang kasih ibu cucu yo (segera kasih ibu cucu ya!" jawab Bu Mirna mengakhiri telepon.


"Ibu?" jawab Alya heran ibunya bilang begitu.


"Siap Bu! Ibu sehat-sehat ya" jawab Ardi nyengir di belakang Alya. Bu Mirna menutup teleponya.


Mata Alya melotot, dan menelan salivanya mendengat salam penutup ibunya. Lalu Alya melihat ke bawah dirinya sendiri. Ternyata tali dress Alya yang sedikit kebesaran turun dan menampakan sedikit payudara Alya. Pantas saja ibunya merasa malu sendiri melihatnta. Pasti Bu Mirna menebak Alya melakukan hal yang macam-macam.

__ADS_1


Dan tentu saja pemandangan itu dari tadi dilihat Ardi. Alya menelan salivanya menahan malu, Alya segera menaikan dress tidurnya ke atas. Alya mengeraskan rahangnya dan menatap tajam ke Ardi. Sepertinya semuanya memang rencana Ardi.


"Masih pagi jangan cemberut" goda Ardi ke istrinya yang tampak gugup.


Alya beringsut dan menjauh dari Ardi.


"Mau kemana? Kemarilah sebentar aja. Aku masih ingin memelukmu" goda Ardi lagi semakin senang melihat wajah Alya memerah.


"Buk" Alya melempar bantal ke Ardi dengan keras. "Makan tuh peluk" umpat Alya kesal lalu bangun dari kasur menuju ke kamar mandi.


"Handukmu semalam basah. Ni, kunci lemari ada di sini" jawab Ardi memberitahu. Lalu Alya diam berbalik melihat suaminya.


"Pintu lemari sisi sebelah kanan, kuncinya ini, di situ ada banyak handuk dan pakaian panjangmu. Pilih sesukamu, jangan keluar kamar pakai baju itu" jawab Ardi mengambil kunci dari laci nakas di samping tempat tidur.


"What? Ada baju panjang di sini? Jadi semalam kamu mengerjaiku?" tanya Alya mengepalkan tangan.


"Aku hanya memberimu kesempatan mendapatkan pahala. Nggak usah cemberut gitu, nanti juga terbiasa" jawab Ardi masih tersenyum nakal. Melemparkan kunci lalu berlindung di bawah selimut lagi.


Malam pertama mereka menjadi suami istri, Ardi mendapat ganjaran yang setimpal dari kesalahanya. Malam keduanya Ardi menang banyak. Kini tinggal melancarkan aksinya untuk bisa memiliki Alya seutuhnya.


"Hiiiiiih" Alya sangat geram melihat kelakuan laki-laki di hadapannya itu. Rasanya ingin menonjoknya lagi.


Di ruang ganti memang ada 4 lemari. Ada lemari untuk tas- tas, sepatu dan pakaian. Ada juga beberapa benda koleksi Ardi. Tapi pada malam saat Alya hendak mandi, Ardi hanya menunjukan lemari dengan pintu terbuka. Di situ memang kusus pakaian tidur dan santai. Alya tidak pernah ingin tahu barang milik suaminya, dan tidak menyangka kalau ternyata di lemari tertutup itu berisi barang-barang Alya dan bajunya.


Setelah mendapatkan kuncinya Alya membuka lemari suaminya itu. Betapa kagetnya Alya, semua baju Alya dari kamar samping sudah berpindah kesitu. Ditambah lagi beberapa setel baju baru, Bu Rita dan pelayan yang membelikanya. Karena memang saat Ardi masih di Jogja, Ardi meminta bantuan Bu Rita pulang lebih dulu menyiapkan keperluan Alya.


"Hsshhh dasar, kenapa nggak dari tadi malem kasih taunya" gerutu Alya menahan emosi. Ternyata memang akal-akalan suaminya, ingin melihat Alya berpakaian terbuka. "Dasar mesum, licik, pembohong, menyebalkan" umpat Alya dalam hati merasa dibodohi suaminya.


Alya mengambil pakaian dalam, gamis dan jilbabnya. Alya segera mandi, menunaikan sholat subuh dan bersiap-siap bekerja. Alya kini sudah kembali rapih dengan baju panjangnya.


"Benar-benar ya, bukanya bangun sholat malah tidur lagi" gerutu Alya melihat suaminya masih berlindung di balik selimut. Alya hendak membangunkanya tapi gengsi. Sejenak Alya berfikir lagi. Sekarang dia sudah menjadi istri. Kewajiban Alya membangunkan suaminya sholat.


"Mas" panggil Alya ragu-ragu. Sebenarnya Ardi mendengarnya. Tapi Ardi pura-pura masih tidur.


"Mas, bangun!" panggil Alya lagi sedikit menggoyangkan badan Ardi. Ardi tetap tidak bergeming.


"Mas bangun sholat subuh, bentar lagi siang! Aku mau jaga pagi" ucap Alya sekali lagi sedikit emosi.


"Cium dulu nanti aku bangun" jawab Ardi membuka selimut dan menunjukan pipinya.


"Ish, amit-amit" tolak Alya kesal. "Aku mau keluar, tolong bukakan pintu kamar" pinta Alya cemberut karena semalaman dikurung suaminya.


"Tuh ngegantung, aku nggak nyimpen kok" jawab Ardi tersenyum menang sambil membuka selimut dan turun dari kasur.


Alya menuju ke pintu ternyata kuncinya memang sudah dibiarkan menggantung lagi.

__ADS_1


"Benar-benar ya, serigala gila. Kapan dia menaruh kunci disni?" umpat Alya meninggalkan Ardi di kamar.


__ADS_2