Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
229. Ida kessel


__ADS_3

Dengan sigap dan tanggung jawab, saat mobil yang dikendarai Fitri tiba di depan pintu UGD,  petugas porter langsung mengeluarkan brankar menjemput Mang Adi. 


Karena Alya memilih rumah sakit swasta, meski Alya Dokter, Alya diam dan membiarkan petugas yang berwenang yang menyelesaikan tugasnya.  Alya, Ida dan Pak Itong memilih menunggu di ruang tunggu setelah mendaftarkan Pak Itong. 


"Semoga Mang Adi selamat ya Alloh" tutur Ida berdoa


"Aamiin,  apa sebelumnya Mang Adi, pernah sakit begini?" tanya Alya. 


"Nggak pernah Non,  Mang Adi selalu sehat dan bersemangat saat bekerja.  beliau juga terkenal hati-hati dalam hal makanan. Mang Adi juga udah lama ngabdi di rumah Non" jawab Ida.


"Hemm, kenapa ya?" 


"Saya cuma denger Mang Adi muntah-muntah aja Non tadi" sahut Pak Itong. 


"Oy iya, kabari keluarganya, ada yang punya kontaknya?" ucap Alya. 


"Hehehe.  Anak Mang Adi kan pacar Mia Non" jawab Ida. 


"Oh iya, jadi Mia beneran punya pacar? Anaknya Mang Adi?  Waah, tau gitu tadi harusnya dia yang ikut yaak?" tutur Alya. 


"He.." Ida hanya nyengir. 


"Ya udah telpon Mia sekarang, anaknya Mang Adi suruh kesini" ucap Alya lagi. 


"Baik Non" jawab Ida. 


Ida melakukan apa yang Alya katakan.  Meminta Mia memberi kabar ke keluarga Mang Adi agar datang ke rumah sakit. Di saat yang bersamaan Dokter yang menolong mang Adi memanggil dan memberitahu Alya. 


"Sepertinya bapak ini salah makan Nona" terang Dokter 


"Salah makan?" tanya Alya. 


"Lebih tepatnya keracunan" 


"Oh iya?" tanya Alya kaget. 


"Iya.  Beberapa jam lagi pasien akan sadar.  Sekarang biarkan obat bekerja dulu" 


"Terima kasih Dok" jawab Alya sebagai penanggung jawab saat itu.  


Dengan berbagai macam spekulasi,  rangkaian cerita yang Alya karang sendiri Alya mencari mengira-ira keracunan apa ya?


"Bagaimana keadaan Mang Adi Non?" tanya Ida dan Pak Itong. 


"Alhamdulillah Mang Adi tertolong,  tapi katanya dka keracunan makanan.  Kira-kira keracunan apa ya?" tanya Alya. 


"Waah kurang tahu saya Non. Setau saya Mang Adi jarang makan dan sering puasa.  makan hati-hati sekali" jawab Pak Itong. 

__ADS_1


"Ya udah nunggu beliau sadar. Oh iya, gimana Ida? Anak Mang Adi kapan kesini?" 


"Sedang dalam perjalanan Non" jawab Ida. 


"Oh. Ya udah yuuk ke Mang Adi" ajak Alya masuk. 


"Emang boleh Non?" tanya Ida. 


"Boleh tapi Ida aja.  Pak Itong kalau mau pulang,  pulang aja.  Minta antar Fitri" tutur Alya. 


"Baik Non,  saya pamit" jawab Pak Itong kembali ke rumah Tuan Aryo. 


Ida dan Alya kemudian masuk ke tempat Mang Adi berbaring. Mereka memang bukan keluarga Mang Adi,  tapi karena kebaikan Mang Adi selama ini membuat Ida dan Alya menganggap Mang Adi seperti keluarga. 


Bahkan terkadang buat Ida, Mang Adi seperti seorang bapak. Sering menasehati Ida,  bercerita dan berkeluh kesah tentang kehidupan rumah tangganya.  Ah Mang Adi memang sebaik itu. 


Alya juga, Mang Adi yang sudah meminjami motot bututnya.  Menyelamatkan Alya dari serangan musuh dan telat. Tapi Mang Adi yang kena omelan suami Alya. Mang Adi juga salah satu abdi setia Tuan Aryo. 


"Mang Adi,  ayo bangun dan sehat" tutur Ida tulus memengang tangan Mang Adi yang terpasang oximetri tanpa ragu. 


"Dia akan bangun, Mang Adi kuat ya Mang" ucap Alya menimpali. 


Mereka berdua duduk sebagai penunggu dengan sabar. Bahkan Alya lupa kalau dirinya sedang hamil,beberapa jam lagi harus bekerja. Seharusnya Alya sekarang istirahat mengumpulkan energi agar nanti fit bekerja. 


"Aku kabari Papah dan Mas Ardi nggak ya?" gumam Alya ke Ida. 


"Apa nanti aja ya setelah Mang Adi sadar" tanya Alya lagi meminta pendapat. 


"Ya nggak apa-apa Non. Takutnya kalau dikabari sekarang malah ganggu" jawab Ida. 


"Oke" 


Tidak lama dari arah luar datang pria muda dengan raut panik. Dia Faisal, anak Mang Adi sekaligus pacar Mia. 


Ternyata sebelum melihat Mang Adi,  karena kepanikannya, Faisal lebih dulu tanya ke dokter jaga. Menyampaikan kalau dia anaknya dan ingin tahu keadaan ayahnya. 


Saat dokter memberitahu kemungkinan Mang Adi keracunan,  Faisal emosinya tersulut. Seingat Faisal tadi pagi Mang Adi berangkat buru-buru tanpa sarapan. Jadi keracunan dari mana?


"Mas Faisal?" panggil Ida menyadari kedatangan Faisal. 


Alya bangun dari duduknya, Alya menyapa Faisal dengan senyum dan ramah. Kebetulan Alya juga baru bertemu dengan Faisal. 


"Siapa yang racunin bapak saya?" tanya Faisal tiba-tiba emosi tidak membalas sapaan Ida ataupun Alya yang notabenya Bos bapaknya. 


"Dheg" 


Alya memicingkan matanya dan tidak mengira, kenapa anak Mang Adi yang terkenal baik tidak sopan begini.  Alya menelan ludahnya menahan sabar.  Mungkin karena panik. Alya kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Duduklah Mas Faisal" tutur Alya lembut memberikan kursi. 


"Tidak perlu,  kenapa bapak saya seperti ini?  Siapa kamu?" 


"Mas Faisal dia Non Alya" jawab Ida menegur Faisal agar sopan. Tapi Alya tetap mencoba tenang. 


"Duduklah dulu,  akan saya jelaskan" tutur Alya memberikan kursi yang tadi dia duduki agar Faisal duduk. Faisal mengikuti, Faisal duduk dan Alya berdiri. 


"Katakan kenapa bapak saya begini? Dari rumah bapak nggak makan apapun.  Berarti bapak keracunan di rumah besar itu" tutur Faisal lagi. 


"Mas Faisal. Tenang ya.  Insya Alloh bapak selamat, kalau benar di rumah bapak tidak makan apapun mungkin memang bapak salah makan.  Tapi Insya Alloh nggak ada yang berniat meracuni kok.  Kita tunggu bapak sadar ya agar bisa kita tanyai" tutur Alya pelan. 


"Bapak saya mau mati.  Anda bilang tenang.  Pokoknya saya nggak terima saya akan lapor ke polisi akan kasus ini" ucap Faisal kasar. 


"Lhoh!" Ida dan Alya kaget mendengar kata-kata Faisal. Kenapa sampai ke polisi segala.


"Mas Faisal kamu apa-apaan sih?  Bukanya doain bapak cepet sembuh.  Nggak ada yang racunin Mang Adi" omel Ida. 


"Iya.  Kita tunggu Mang Adi sadar ya" tutur Alya. 


Tapi Faisal tetap dengan muka kesalnya sehingga membuat suasana tidak nyaman. Karena berdiri terlalu lama, Alya merasa perutnya sedikit menegang.  Alya kemudian mengajak Ida keluar agar menunggu di kantin rumah sakit sambil cari minum. 


"Pacar Mia galak banget ya Non. Ih iti kalau berantem apa nggak serem" ucap Ida ngedumel. 


"Jangan ngatain orang dulu. Mungkin dia panik, kita hargai itu,  tandanya dia sayang bapaknya" jawab Alya mengajak Ida positif thingking. 


"Tetep aja harusnya nggak begitu bicaranya. Sebbel Ida mah Non kedia" jawab Ida lagi masih kesel. 


"Sudah-sudah nggak usah kesel-kesel nanti cantikmu ilang.  Kita tunggu cerita Mang Adi. Udah kamu mau pesen apa?" tanya Alya hendak mentraktir Ida. 


Lalu mereka memesan minuman dan makanan sambil Alya merilekan badan. 


****


Di atas bed observasi pasien,  Mang Adi menggerakan tanganya dan membuka matanya. Faisal tersenyum lega,  bapaknya siuman. Mang Adi juga bahagia karena putranya di sampingnya. Mang Adi merasa disayangi anaknya dan bangga ke anaknya


Lalu Faisal menanyai bapaknya kronologi bisa sakit.


"Bapak ngrasa mual,  pusing,  perut bapak sakit sekali" ucap Mang Adi. 


"Kata dokter bapak keracunan, bapak makan apa saja pagi ini?" 


"Bapak cuma makan nasi sama sambel tempe di dapur rumah Tuan Aryo Nak" 


 


Mendengar cerita bapaknya emosi Faisal datang lagi. Bahkan pikiran lebih buruk, kanapa bapaknya bekerja di rumah orang kaya itu jatah makanya hanya sambel tempe,  dan keracunan lagi. 

__ADS_1


Faisal kemudian benar-benar melaporkan kejadian bapaknya ke polisi.  Faisal merasa bapaknya diracun. 


__ADS_2