
"Hubungi Dokter Nando secepatnya!" perintah Dokter UGD rumah sakit keluarga Gery. Ternyata pasien yang mereka tangani calon pewaris rumah sakit tempat mereka bekerja.
Perawat langsung menelpon Dokter Nando ayah Gery. Mengabarkan bahwa pasien kecelakaan yang diberitahukan Tuan Aryo adalah Dokter Gery, anakny sendiri.
Seperti dihujani meteor, Tuan Nando sempat syok dan limbung terjatuh ke sofa. Putra tampanya dalam keadaan kritis. Bagaimana bisa terjadi? Setelah mengatus nafas dan kembali berdiri tegak, Dokter Nando langsung tancap gas ke rumah sakit miliknya.
****
Rumah Sakit Healthiest.
"Ada memar di bagian perut, nadi Dokter Gery melemah 50 x/m, saturasi oksigenya juga menurun hanya 80%" lapor Dokter Umum memeriksa Dokter Gery.
"Pasang oksigen, ambil sampling darah dan segera ke radiologi, sepertinya ada perdarahan di sistem gastroentastinal dan fraktur pada ekstremitas" perintah dokter spesialis bedah umum di UGD.
Lalu para perawat rumah sakit langsung mengambil darah untuk diperiksa di laboratorium. Setelah itu memeriksa Gery ke ruang radiologi.
Sambil menunggu hasil pemeriksaan, perawat memasang beberapa alat bantu. Dokter dan perawat berupaya memperbaiki dan mempertahankan keadaan umum Gery agar bertahan.
Memastikan cairan infus yang masuk tepat dan benar. Lalu memberikan obat-obatan. Gery juga dipasang bed set monitor agar perkembangannya tubuhnya terpantau.
Setelah beberapa saat hasil laboratorium keluar. Disusul bacaan usg dan rontgen serta CT scan.
Hemoglobin, trombosit dan lainya mengalami penurunan. Itu semua memperkuat Gery mengalami perdarahan. Dari hasil pemeriksaan radiologi, Dokter Gery mengalami perdarahan saluran cerna akibat dipukuli. Beberapa dua jari tanganya retak dan satu jari kakinya patah.
"Harus segera operasi Dok, gumpalan darahnya harus dikeluarkan, luka traumanya juga harus segera ditangani" ucap Dokter Bedah Umum.
"Siap Dok" jawab Dokter Umum.
"Siapkan transfusi darah juga!" perintah Dokter Bedah lagi.
"Baik Dok!"
"Tapi kita harus mendapatka informerd consent dulu dari keluarga"
"Dokter Nando sudah dalam perjalanan"
"Oke. Kita tunggu beliau, sambil perbaikan KU!" jawab Dokter Bedah.
"Oh Dok, untuk frakturnya bagaiamana, Dokter Rio kita hubungi juga atau via konsul" tanya perawat memikirkan penanganan jari Gery yang patah dan retak. Mereka butuh Dokter Spesialis Ortopedhi juga.
"Hubungi segera" jawab Dokter Bedah.
Malam itu pegawai rumah sakit keluarga Gery menjadi heboh. Semua bekerja keras. Meski Dokter Nando belum tiba, perawat ruang operasi sudah bersiap begitu juga dokternya.
__ADS_1
Saat Dokter Gery di dorong dengan brankar. Keluarga Tuan Aryo tiba lebih dulu. Bu Rita dan Alya sangat histeris melihat Gery terkulai tidak berdaya.
"Dokter Gery?" gumam Alya lirih menutup mulut dan tidak menyangka. Gery sangat memprihatinkan
"Dimana Mas Ardi? Bagaiamana keadaanya?" ucap Alya mencari-cari suaminya.
"Dimana anak saya Sus? Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Bu Rita histeris menghentikan perawat.
"Tuan Ardi sedang dalam perjalanan Nyonya" jawab perawat sopan.
"Kenapa belum sampai? Kenapa tidak dibawa bersama Gery? Kenapa Gery duluan yang tiba. Bagaiamana anak saya? Apa karena Gery bos kalian? Nyawa anak saya juga berharga"
Bu Rita lepas kendali marah-marah, meracau dan menuduh perawat. Perawat menelan ludahnya dan berusaha sabar.
"Maaf Nyonya, keadaan Dokter Gery lebih paraj dari Tuan Ardi. Tuan Ardi sudah ditangani tapi masih dalam perjalanan" tutur Perawat menjelaskan. Dokternya sedang sibuk menangani Rey dan Gery yang tiba lebih dulu.
"Tapi bagaimana keadaan anak saya?"
"Sudah stabil tanda-tanda vitalnya, tapi masih belum sadar. Kita tunggu saja Nyonya".
"Hoh, Anakku" tutur Bu Rita lemas lalu duduk. Alya memapah Bu Rita, Tuan Aryo tampak tenang duduk bersedekap menunggu anaknya dan mengawal istri dan menantunya.
Kemudian dari luar, dengan berjalan tergopoh-gopoh Dokter Nando ayah Gery datang. Wajahnya sangat panik dan menatap keluarga Tuan Aryo sinis.
"Saya juga tidak tahu. Kita tanyakan pada putra kita besok" jawab Tuan Aryo.
"Saya bisa ceritakan Pah" celetuk Alya menudukan kepala.
Tuan Aryo dan Dokter Nando melirik ke Alya. Tapi Dokter Nando tampak ingin segera pergi melihat anaknya.
"Ceritakan nanti, saya akan tangani Gery dulu" tutur Dokter Nando.
"Baik Dok!" jawab Alya mengangguk.
Dokter Nando berjalan setengah berlari keruangan tempat putranya dirawat. Malam itu Dokter Nando turun tangan sendiri mengobati putranya.
Tiga puluh menit berlalu. Tuan Ardi, Nyonya Rita dan menantunya Alya duduk di depan IGD harap-harap cemas. Dari arah luar terdengar suara sirine ambulance. Mereka bertiga berdiri menyambut ambulance itu.
Ambulanc berhenti. Driver dan perawat membuka pintu mobil belakang. Lalu menurunkan pasien yang terbaring di brankar.
Tampak Ardi terbaring tak sadarkan diri. Muka Ardi dipenuhi lebam-lebam bahkan ada yang bengkak. Selang infus tampak terpasang di tanganya. Beberapa perban terpasang di bagian tubuh Ardi.
"Hoh Ardi sayangku, apa yang terjadi denganmu" ucap Bu Rita berlari hendak mengikuti perawat mendorong brankar.
__ADS_1
Tapi segera ditahan Tuan Aryo.
"Mas Ardi.. hiks hisk" Alya hanya bisa menangis berjalan mengekori perawat masuk ke ruang UGD.
"Pah anak kita Pah!" tutur Bu Rita sambil menangis.
"Ardi akan baik-baik saja Mah!" jawab Tuan Aryo menenangkan Bu Rita.
Tapi tetap saja, Bu Rita kemudian ikut pingsan tidak kuasa melihat putra semata wayanhnya sakit.
Seberapa sering Bu Rita dan Ardi saling adu pendapat. Tapi ibu tetaplah ibu. Buat Bu Rita Ardi adalah dunianya.
Yang utama dari Bu Rita adalah kebahagiaan Ardi. Meski Ardi sudah menikah dan akan menjadi ayah, kasih sayang Bu Rita tetap sama seperti saat Ardi masih kecil.
Bu Rita tidak kuasa melihat keaadan Ardi. Sekalipun Bu Rita tidak pernah memukul Ardi. Semua permintaan Ardi hampir selalu dipenuhi. Ardi kecil seperti raja di rumahnya.
"Mah mamah jangan pingsan Mah" ucap Alya ikut memapah Bu Rita.
"Biar papa yang urus Mamahmu ini. Kamu temani suamimu" jawab Tuan Aryo tetap cool dan tenang.
"Baik Pah" jawab Alya mengangguk.
Tuan Aryo memanggil perawat. Bu Rita ikut menjasi pasien malam itu, membuat perawat jaga malam lebih bekerja keras.
Alya kemudian menemui perawat yang menangani Ardi. Meski sempat menangis, karena Alya dokter, Alya lebih bersikap tenang menghadapi Ardi.
Alya melihat layar bed set monitor. Tensi Ardi 100/70, nadinya 80 x/m, saturasi oksigenya 99%.
Alya lega, suaminya berada dalam keadaan stabil.
"Bagaiamana hasil pemeriksaan suami saya Sus?" tanya Alya ke perawat yang baru saja memberi suntikan.
"Dari hasil pemeriksaan Tuan Ardi hanya mengalami luka luar Nyonya, dan itu sudah dijahit. Hasil laboratorium juga semuanya bagus. Sebentar lagi akan sadar"
"Alhamdulillah, terima kasih Sus"
"Baik, Nyonya kami permisi"
"Oh ya, kapan suami saya dipindah ke ruang rawat?"
"Kita akan pindahkan Tuan Ardi setelah beliau sadar, kamar sudah siap Nyonya."
"Baiklah terimakasih Sus" jawab Alya lembut dan tersenyum.
__ADS_1