
”Mas” panggil Alya lembut saat mereka turun dari mobil.
“Hmm” jawab Ardi tersenyum menggenggam tangan halus istrinya.
“I love you” bisik Alya mesra.
Mendengar Alya tiba- tiba mengatakan kata cinta, senyum Ardi mengembang. Meski sederhana itu sangat berarti, kata- kata Alya mampu meredam semua emosi dan ikatan benang runyam di otaknya.
Apalagi melihat Alya tersenyum dan berinisiatif mengatakan sendiri. Itu berarti Alya sudah sembuh dari sedih dan katakutanya. Ardi sangat lega dan tenang.
“I love you more, Honey. Kamu tau kan? Kamu hidupnya mas” jawab Ardi.
“Terima kasih suamiku sayang” jawab Alya.
Alya tahu meski sudah menikah dan jelas menyadari perasaan satu sama lain. Ungkapan cinta adalah penting, karena Alya sendiri butuh itu.
Dan kini Alya sadar, saat hendak menemui Faisal, Alya harus meredam emosi Ardi, salah satunya caranya ya itu. Buat Ardi tenang dengan ungkapan cintanya.
Kata orang cinta itu kuat dan dasyat, tapi cinta juga bisa menjadi malapetaka dan bahaya. Jika salah tempat cinta juga bisa membutakan segalanya. Tapi cinta yang di tempatkan pada porsinya akan sangat indah. Menghadirkan kebahagiaan untuk diri dan lingkunganya.
Yang pasti cinta itu seperti daya, menjadi apa? Tergantung kita menempatkanya. Dan cinta yang paling tinggi adalah cinta selalu melibatkan cinta Tuhan.
Karena Tuhanlah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Alya pun ingin begitu, Alya ingin kepada siapapun, menghadapinya dengan penuh kasih. Bukan emosi atau balas dendam.
Dengan saling menggenggam, mereka berjalan masuk. Menyusuri lorong rumah sakit, mencari tempat Mang Adi dirawat.
“Di sini Mas” tutur Alya lembut menunjukan nama gedung seperti yang diberitahu perawat. Setelah Mang Adi sadar dan bisa berkomunikasi, Mang Adi dipindah dari ruang igd ke belakang.
“Oke” jawab Ardi. Mereka kemudian masuk. Memeriksa nomer kamar satu persatu.
“11 A, ini ruanganya!” ucap Alya menatap Ardi, tatapan Alya tersirat keraguan.
Jika Faisal bersikap sekasar tadi pagi apa Ardi bisa mengatasinya dengan tenang seperti Alya? Bagaimana kalau nanti malah terjadi adu jotos. Bisa ramai nih.
“Kenapa diam Sayang, ayo masuk!” ajak Ardi.
“Mas janji ya sama Lian, harus tenang” bisik Alya melepas tanganya dari genggaman Ardi. Gapi mengangkatnya menberikan kelingkingnya.
“Iya Sayang, Mang Adi itu kerja di rumah , sama usia Mas lebih tua usia kerja Mang Adi, Mas mau lihat keadaanya. Ini tanggung jawab Mas” jawab Ardi. Lalu melingkarkan jari kelingkingnya, dan menggenggam tangan Alya lagi.
Dengan posisi tangan berpegangan tangan, Alya menengok kanan kiri sepi. Lalu Alya berjinjit mencium pipi suaminya. “cup”
Lalu Alya tersenyum tersipu. Entah ada angin apa, hari ini Alya benar- benar sangat manja. Tapi Ardi senang.
“Ayo masuk!”
Lalu mereka membuka pintu, tapi belum mereka melangkah, mereka terhenti. Di balik tirai warna hijau itu terdengar suara bapak tua menasehati anaknya.
__ADS_1
“Bapak kecewa sama kamu Faisal. Kenapa kamu sekurang ajar itu pada Non Alya. Dia orang yang sangat baik, yang seharusnya kamu hormati, berani-beraninya menuduhnya!”
“Pak, tapi bapak jadi kaya gini karena siapa? Coba kalau bapak dibawa kesininya terlambat? Bapak meninggal, mereka bunuh bapak!”
“Bapak mati juga karena usia bapak sudah tua. Itu takdir. Tapi kamu lihat kenyataanya siapa yang bawa bapak kesini? Hah?”
“Tetap saja bapak sakit. Bapak kok bisa bekerja di rumah konglongmerat seperti itu hanya diberi makan sambel tempe?”
“Faisal anakku, itu bukan jatah makan bapak. Apa kamu lupa? Dulu bapak juga sering bawa pulang daging dan ayam? Bapak ingat ibumu makanan kesukaanya tempe digeprek. Jadi pas bapak lihat ada menu itu di meja, bapak langsung ingin makan, bapak tidak tahu itu siapa yang masak, karena itu juga tinggal separo, bapak kira itu sudah sisa. Bapak yang makan tanpa ijin” tutur Mang Adi.
“Tapi Faisal tetap tidak suka dengan keluarga itu, Faisal ingin cepat menikah dengan Mia, kenapa Mia selalu beralasan tidak bisa keluar dari sana. Bapak ju_” jawab Faisal terpotong.
Karena Ardi tetap tidak tahan mendengarnya dan langsung membuka tirai.
Gleg.
Faisal langsung terdiam menunduk. Mang Adi pun merasa sangat malu. Sementara Alya tanganya mengenggam kencang tangan Ardi. Berusaha selalu menahan agar jangan sampai tangan Ardi melayang dan berbuat kasar.
“Tuan Muda?” sapa Mang Adi tidak nyaman dan berusaha bangun dari tidurnya. Mang Adi ingin duduk sebagai tanda homat ke Tuanya.
“Tidurlah Pak, tidak apa-apa” tutur Ardi lembut menghormati Mang Adi.
Lalu Ardi melirik ke Faisal yang seketika memucat. Mimik songong dan sok jago Faisal tadi pagi hilang ditelan bumi. Faisal mlempem seperti kerupuk kena air.
“Maaf mengganggu, boleh saya jenguk Pak Adi?” ucap Ardi.
“Bagaimana kabar Pak Adi, sekarang apa yang dirasakan Pak?” tanya Ardi sopan.
Alyapun bernafas sangat lega. Ardi benar- benar menahan emosinya.
“Maafkan saya Tuan, maafkan anak saya, ampuni anak saya” tutur Mang Adi malah minta maaf.
“Pak saya kesini mau jenguk bapak, kenapa bapak malah minta maaf?”
“Terima kasih, suatu kehormatan buat saya, Tuan Ardi mau datang kesini”
“Maafkan saya terlambat mengetahuinya” ucap Ardi lagi dengan ramah.
Ardi benar-benar bersikap dewasa. Memposisikan sebagai bos yang mengkhawatirkan karyawanya. Mang Adi yang memang pelayan setia dan menghormati Ardi juga sangat terharu akan sikap Ardi. Entah kenapa Faisal bisa melupakan semua kebaikanya.
Melihat kebaikan Ardi dan penjelasan bapaknya, Faisal jadi mengerti. Dia salah persepsi. Mang Adi pun menceritakan keluhanya mulai dari awal sampai sekarang.
“Saya akan cabut laporan saya ke polisi, saya minta maaf” celetuk Faisal tiba- tiba di tengah kehangatan percakapan Ardi.
Ardi, Alya dan Mang Adi terhenyak mendengar perkataan Faisal tiba-tiba. Mang Adi tersenyum bahagia karena anaknya menyadari kesalahanya.
Alya menatap heran, Faisal tadi pagi dan sore ini tampak seperti orang berbeda. Ardi justru tersenyum mengulum lidahnya. Lalu Ardi menoleh ke Faisal .
__ADS_1
“Hai, sepertinya kita belum kenalan, siapa namamu?” tanya Ardi mengulurkan tangan.
Dengan gemetaran dan ragu- ragu. Faisal menyambut tangan Ardi dan menjaabatnya.
“Fa-fa-faisal” tutur Faisal gelagapan.
Ardi tersenyum menjabat tangan Faisal. Sepertinya Faisal anak usia 23 tahun yang mulai dewasa tapi masih labil, batin Ardi melihat perangai Faisal.
“Saya berterima kasih pada kalian, terutama Mang Adi dan juga kamu. Kalian tidak perlu minta maaf. Di sini sayalah yang harus minta maaf. Aku berhutang besar pada kalian” ucap Ardi tenang di luar dugaan Alya.
“Tapi anak saya sudah tidak sopan terhadap Nyonya Muda, Tuan” jawab Mang Adi merasa bersalah.
“Tidak begitu Pak. Jika tidak ada Mang Adi yang mencuri sambal tempe istri saya, entah apa yang terjadi pada saya, istri saya dan anak saya. Sambal itu kesukaan istri saya, dia yang membuatnya karena anak saya yang meenginginkanya. Tapi ada yang sengaja memberinya obat. Terima kasih, berkat Mang Adi, istri dan anak saya masih berdiri tegak dan sehat. Terima kasih karena Pak Adi menanggung semua ini, katakan apa yang harus saya lakukan agar bisa membayar terima kasih saya” tutur Ardi panjang kali lebar kali tinggi.
“Astaga. Anda sangat mulia Tuan, Tuhan akan senantiasa menjaga kalian. Saya tidak kenapa-kenapa. Maafkan anak saya, anak saya melaporkan nyonya muda ke polisi? Jadi sambel itu punya Nyonya Muda?” tanya Mang Adi.
“Iya Pak. Saya juga berterima lasih, berkat laporan anak Pak Adi, Faisal, masalah ini diangkat, jadi kami lebih teliti, dan sekarang sudah ketahuan siapa pelakunya. Jadi biarkan laporanmu tetap berjalan ya kawan. Aku akan memberimu hadiah kawan” ucap Ardi menepuk lengan Faisal sebagai tanda persahabatan agar santai.
Faisal pun menunduk tersipu. Sementara Alya menatap getir ke Faisal. Apa respon Faisal jika melihat Mia pelakunya. Apakah akan marah pada Ardi? Atau kecewa ke Mia? Pasti hatinya juga hancur.
“Siapa pelakunya Tuan?” tanya Mang Adi.
“Mang Adi tidak usah pikirin siapa dia. Yang penting Pak Adi sehat dulu ya!” jawab Ardi.
“Iya, Mang, jangan merasa bersalah, istirahat ya Mang, cepet sembuh, kami berterima kasih dan memohon maaf” imbuh Alya menimpali.
Lalu Alya mengambil sebotol madu dari tasnya yang tadi dia beli dadakan saat di jalan.
“Ini diminum ya Mang, biar cepet pulih” tutur Lian lagi.
“Terima kasih Nyonya, terima kasih Tuan” jawab Mang Adi.
“Sama- sama Pak, kalau begitu saya pamit, istriku harus istirahat. Pak Adi juga, istirahatlah dan segera pulih” pamit Ardi ramah.
“Ya Tuan”
“Jika Faisal saya pinjam boleh kan Pak?” tanya Ardi
“Silahkan Tuan, anak kedua saya sebentar lagi datang”
“Baiklah salam untuk anak bapak. Faisal, ikut kami, ada hadiah sebagai tanda terima kasih kami kepadamu”
“Sa-saya Tuan?”
“Iya, ayo ikut kami” ajak Ardi
“Baik Tuan”
__ADS_1
Ardi dan Alya pun keluar dari ruang rawat Mang Adi. Dan Faisal mengikutinya. Entah hadiah apa yang Ardi maksud.