Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
276. Oteweee Pesta


__ADS_3

Detik berganti menit, dan menit berjalan berganti jam. Begitu seterusnya jam bertambah menjadi hari. Sampai akhirnya kini waktu bahagia yang ditunggu tiba.


Setelah menemui Yogi kemarin, Alya menemui Intan. Memberitahu kalau ibunya mau kembali menyambung tali persaudaraan lagi.


"Benarkah Bu Dhe mau menerimaku sebagai keponakanya?" tanya Intan saat itu.


Alya mengangguk tersenyum manis.


"Terima kasih Dokter Alya" jawab Intan haru.


"Mba Intan, meski kamu lebih tua. Aku kakak untukmu. Mulai sekarang kita saudara," tutur Alya ramah dan merentangkan tangan memeluk Intan. Lalu mereka berdua berpelukan hangat.


"Ehm.. ehm.. " Ardi yang mengantar Alya berdehem memberi kode.


Siapapun, siapaapun titik. Tidak boleh ada yang bersentuhan dengan istrinya itu, apalagi lama-lama. Terlebih mantan tunanganya. Ardi menjadi sangat risih dan keluar tanduknya.


"Suamiku tidak suka aku kontak fisik terhadap orang lain. Maaf ya" bisik Alya melepaskan pelukanya dengan sepupunya.


Intan pun tersenyum getir. Ada rasa iri atas cinta Ardi yang kelewat batas ke Alya. Apalagi Intan juga pernah merasakanya, meski tak sebesar Alya. Tapi meski begitu Intan mengerti dan berlapang dada.


"Iyah" jawab Intan.


"Besok datang ya ke resepsiku. Dan Mbak Intan jadi desaignerku, bantu aku menata pakaianku bersama MUA pilihan mamah ya" tutur Alya meminta keterlibatan Intan di acaranya.


"Benarkah aku boleh datang?" tanya Intan lirih dan melirik ke Ardi sungkan.


Ardi masih di posisi dinginya tak menatap Intan sedikitpun.


"Iya. Tanya saja Mas Ardi. Boleh kan Mas?" tanya Alya.


"Hemmm" jawab Ardi hmm aja tapi artinya iya.


Intan yang lebih dulu mengenal Ardi pun paham.


"Baiklah aku akan datang dan membantumu" jawab Intan.


"Satu lagi. Mulai besok, mba Intan kembalilah bekerja di butik kami" tutur Alya lagi.


"Benarkah? Aku boleh bekerja di sana lagi?" tanya Intan dengan mata berbinar.


"Emem" Alya mengangguk bahagia.


Intan spontan meraih tangan Alya.


"Terima kasih atas segala kebaikanmu. Terima kasih mau mamaafkan aku, menerimaku, menolong papa dan menjadi saudaraku. Aku janji Dokter Alya. Aku akan lakukan apapun untuk bisa menebus kesalahanku dan papaku" ucap Intan mendadak melow.


"Ah Mba Intan jangan begitu, oh iya Om Didik mana? Baby El mana?" tanya Alya celingak celinguk mencairakan suasana melow.


"Papah kerja, dia sekarang berganti jadi petugas penarik uang parkir di loket pintu masuk mall. Kalau baby El tidur" jawab Intan tidak malu menjelaskan pekerjaan baru papanya kini.

__ADS_1


"Oh gt. Salam ya buat mereka. Ingat besok datang dan bantu aku. Ini oleh-oleh buat Om dan Baby El ya. Mas Ardi masih banyak urusan. Kita pamit ya!" ucap Alya pamitan dan memberikan bungkusan makanan.


"Makasih Dokter Alya" ucap Intan.


Lalu Ardi dan Alya pergi.


*****


Dan kini, di ruang khusus di restoran apik dekat danau kepunyaan keluarga Gunawijaya. Setelah Alya di make up oleh perias legenda langganan artis Alya berubah menjadi barbie hidup. Dan Intan mendampingi Alya memakaikan gaunnya.


"Cantik banget?" bisik Intan tersenyum.


"Iya. Makasih ya Mba"


"Pangling banget ihh" bisik Intan


"Tinggal finishingnyaa. Sini bunda pakaiakan hijabnya" tutur perias artis ternama kenalan Mama Rita.


Alya diriias dengan gaya ala barbie. Karena memang Alya sudah imut dan manis ditambah sentuhan riasan mata dan bibir yang ajaib Alya benar-benar tampak seperti princess di negeri dongeng yang menjelma ke dunia nyata.


Sambil menunggu undangan dan acara dimulai. Bu Rita, Bu Mirna pun dirias. Sementara Ardi di ruang lain tampak berkumpul biasa. Ardi merasa sudah tampan, dengan memakai pakaian senada dengan Alya itu sudah cukup.


Dan kini Ardi malah tampak ngopi santai dengan Farid dan Dika. Dia hanya menggunakan kaos oblong dan celana boxer, duduk dengan kaki diangkat bersilah menikmati pagi yang sejuk di tepi danau.


Benar-benar tidak ada yang menyangka kalau Ardilah pengantin pria yang akan melangsungkan pesta resepsi.


****


"Ihh lo kelamaan dandan sih! Buruu!" ucap Dinda marah-marah.


"Iyaa ukhtii sabar! Udah jadi ukhti itu jangan ngomel wae, sabarrr" jawab Anya menata rambut dan kebaya modernyaa.


Anya sekarang memanggil Dinda menjadi ukhti mendadak. Karena Dinda sekarang benar-benar menjadi ukhtiee. Bahkan cerewetnya melebihi Alya dulu.


Kalau Alya dulu menasehati Anya dengan tetap membebaskan pilihan Anya. Beda dengan Dinda yang terus memprovokasi Anya untuk ikut jejaknya memakai hijab. Tapi tetap aja jawaban Anya. Iya gampang nanti. Entah kapan nantinya.


Mereka pun memakai pakaian couple_an. Dinda memaki dress, sementara Anya request berbentuk tunik kebaya modern dipadu dengan rok batik. Setelah memastikan sanggul modern Anya jadi dan rapih, Anya berbalik tersenyum ke Dinda.


"Udah cantik belum gue?" tanya Anya.


"Hemm udah, ayok berangkat!" ajak Dinda.


"Yok!" jawab Anya berjalan menenteng tas tangan bling blingnya.


Mereka pun berangkat dengan mobil Dinda. Meski Dinda dan Anya sama-sama sudah bertunangan dengan teman Ardi, mereka berdua memilih jalan berdua.


Apalagi berdasarkan penuturan Farid saat video call dengan Anya semalam. Farid menginap di tempat resepsi bersama Dika. Selain menjadi sahabat Ardi, Farid dan Dika turut andil menyiapkan kesuksesan acara Ardi.


"Selfi dulu yuk pumpung masih on lisptik gue" ucap Anya mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


Seperti layaknya perempuan jaman sekarang. Mereka berduapun berselvi ria. Menampilkan senyum imut ala-ala perempuan jaman akhir.


"Gue buat story ah" ucap Anya.


"Ih jangan malu" lerai Dinda. Anya pun menoleh ke Dinda heran


"Huh? Tumben kalau bilang gitu?" tanya Anya.


"Kata Mas Dika, cantikku buat dia seorang nanti. Kalau mau dipost wajahku kasih sriker ya" ucap Dinda kemudian


"Hooh" Anya semakin terbengong dengan perubahan Dinda. "Oke" jawab Anya mengangguk saja.


"Udah yuk berangkat!" ajak Dinda.


Lalu mereka berangkat menuju ke tempat resepsi Alya dan Ardi sekaligus pengumuman syukuran 4 bulanan kehamilan Alya. Ah entah apa konsepnya yang pasti makan-makan dan happy happy.


*****


Di tempat lain, di sebuah kamar lega dan luas dari sebuah rumah bak istana. Seorang pria yang sudah berkepala lima tampak berdiri di depan kaca. Dia berdiri berputar menyaksikan penampilanya. Memastikan dia sudah berdandan prima.


"Hhhhh" Pria itu menghela nafasnya menatap mukanya sendiri.


"Sepertinya aku masih tampan dan tidak terlalu tua" batinya sambil menata rambutnya yang sudah mulai tumbuh uban


"Nurma, kali ini aku tidak akan kehilangan kesempatan. Entah kamu menerimaku atau tidak. Aku harus mengatakanya padamu, aku berharap kamu mau menghabiskan sisa umur hidupmu bersamaku" batin Dokter Nando tersenyum sendiri.


Di kamar yang tidak jauh dari kamar Dokter Nando, sepasang suami istri juga sedang bersiap.


"Ih geli Geer, yang bener dong ahh!" ucap Mira dengan sedikit mende*ah.


"Iya ya"


Mira meminta tolong Gery menutup resleting belakangnya justru mengambil kesempatan mencium dan menggigit kecil leher dan bahu Mira. Kalau momenya pas mungkin Mira akan menyambutnya dengan bahagia. Tapi sekarang mereka harus pergi ke suatu tempat.


Gery kemudian mengikuti istrinya. Membantu membetulkan tunik kebaya panjang yang mirip dress dari Alya. Lalu membantu memakaikan kalung juga.


Setelah cantik dan merasa siap Gery dan Mira pun bergandengan tangan keluar kamar. Dan ternyata Dokter Nando yang sudah siap lebih dulu sudah menunggu.


"Papa ganteng banget, wangi banget lagi" ledek Mira ke mertuanya.


"Emang yang boleh wangi cuma kalian" jawab Dokter Nando sekarang mulai berani ngeles menantunya.


"Eciee Papah. Yang mau ketemu gebetan" goda Mira lagi.


Dokter Nando tersipu lucu sekali. Diapun tidak lagi membalas godaan Mira.


Setelah membaca undangan Dokter Nando pun cerita ke anak dan menantunya. Tapi Domter Nando meminta Mira dan Gery diam saja. Biar Dokter Nando sendiri yang akan katakan pada Ardi dan keluarganya.


"Sudah-sudah ayo berangkat" ajak Gery melerai.

__ADS_1


Ketiga dokter spesialis itu sengaja. Hari ini mengosongkan jadwalnya untuk menghadiri pesta Ardi dan Alya. Geru bukan mengosongkan tapi memundurkan. Karen jika ada operasi, sepulang dari acara Ardi Gery siap.


Meskipun begitu ponsel mereka bertiga selalu on. Siap menerima whatsap konsulan dari para dokter umum dan perawat mereka.


__ADS_2