
"Woy"
Teriak rekan kerja Alya, mengagetkan Alya yang sedang memegang kertas hendak menelpon wali pasien.
"Astaghfirulloh" Alya mengelus dadanya kaget.
Lalu Alya menoleh ke rekan yang menepuknya. Di telisik dari bawah sampai atas. Rekanya itu tersenyum lebar, menunjukan penampilan terbarunya.
"Dinda ini kamu?" tanya Alya kegirangan.
"Yes. Its me. Dinda Ajeng Rahayu. Gimana cantik nggak?" tanya Dinda memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri sok cantik.
"Alhamdulillah, temanku sekarang sudah menutup auratnya, tapi apa nih motifnya?" tanya Alya meledek.
"Hehe. Sini aku mau cerita" ucap Dinda menarik tangan Alya menjauhi rekan yang lain.
"Bentar ya, aku mau telpon keluarga pasien dulu" jawab Alya memegang rekam medis Pak Didi.
"Jam kerjamu udah mau abis Sayang. Udah biar perawat aja yang telpon. Mba telponkan keluarga pasien Dokter Alya" jawab Dinda lalu memanggil perawat.
"Iiish kamu ini" jawab Alya melarang Dinda asal suruh.
Lalu Alya sendiri yang menyampaikan pesan ke perawat.
"Mba Ratna, minta tolong telponkan wali pasien ini ya. Kalau keluarga pasien ke sini, bilang ya! Udah ada yang bayar biayanya, gitu ya! Nanti ditagihkan ke saya" tutur Alya memberi pesan.
"Baik Dok. Kalau butuh tindakan operasi gimana Dok?" tanya perawat.
"Nggak apa-apa telpon aku aja, yang penting pasien bersedia, lakukan saja" tutur Alya ramah ke perawat.
"Baik Dok"
"Shif sore sama Dokter Dinda dan Dokter Anggi ya" ucap Alya lagi.
"Ya Dok!"
Lalu Dinda menarik Alya ke kamarnya.
"Apa sih? Belum operan juga" tegur Alya ke Dinda agar operan jaga dulu.
"Bentar doang, Dokter Anggi belum dateng juga" jawab Dinda.
"Hmmm" Alya hanya berdehem mengikuti temanya.
"Gimana mana nomernya? Lo kenapa sih susah banget ditelpon?" tanya Dinda menagih janji Alya. Karena Alya tidak pernah membalas pesanya.
"Maaf, kamu tau kan kalau suamiku nggak suka aku mainan hp, nih. Ibuku baik banget kaan sampai mintain no hp buat kamu" jawab Alya memberikan nomer Dika.
"Hehe makasih" jawab Dinda memeluk Alya kencang.
"Aku seneng kamu pakai hijab Din. Tapi yang istiqomah ya. Kalau Dika bukan jodohmu jangan lantas kecewa dan lepas lagi yaa" tutur Alya melepaskan pelukan Dinda.
"Iya Alya. Insya Alloh sejak awal aku liat kamu, aku pengen kaya kamu" jawab Dinda mengutarakan ketertarikanya memakai hijab.
"Ya udah operan yuuk!" ajak Alya.
"Ayuk"
Dan di saat bersamaan ponsel Alya berbunyi, suaminya sudah menunggu di parkiran depan.
"Din, operan sama Dokter Ana ya. Sumiku udah jemput"
"Cieee yang dijemput"
"Heee... mau jengukin dhebay"
"Oke hati-hati"
****
Sesuai dengan rencana Alya dan Ardi, hari ini ke rumah sakit Gery, periksa kandungan dan menjenguk anak buah Ardi beserta Gery.
"Mas, Lian mandi dan ganti dulu yaa" jawab Alya di telepon.
"Iya Sayang, tapi jangan wangi-wangi!"
"Kok gitu?"
"Nggak suka mas, istri mas kan mau jengukin orang nanti wanginya kalau di kamar aja" jawab Ardi mulai posesif.
"Isssh, Mas lhoo sukanya gitu, udah ya Lian mandi dulu"
Lalu Alya masuk ke kamar mandi khusus dokter. Membersihkan dirinya dan mengganti pakaian dinasnya.
Alya berdandan natural dan rapih. Seperti biasa, Alya menggunakan sepatu flat warna coklat dan gamis ala prinsces warna coklat muda dengan jibab voal motif.
Sampai di parkiran Ardi sudah berdiri bersandar di mobil ferrari merahnya.
"Maaf ya udah nunggu" ucap Alya meraih tangan suaminya dan menciumnya lembut.
Ardi hanya mengangguk tersenyum menggenggam tangan istrinya dan mencium keningnya. Lalu mereka masuk ke mobil, duduk di belakang Arlan menuju ke rumah sakit Gery.
Alya meraih tangan suaminya dan bersandar dengan nyaman. Tempat terindah buatnya melepaskan lelah seharian bergelut dengan semua kerempongan IGD.
Dari kulit suaminya yang menempel seperti ada aliran energi yang mengisi raganya. Membuat Alya semangat lagi.
"Apa pasien hari ini banyak?" tanya Ardi membelai kepala istrinya.
"Emem" jawab Alya mengangguk dan membenamkan wajahnya ke bahu suaminya.
"Sini tidur di paha Mas" tutur Ardi menepuk pahanya.
__ADS_1
"Lian nggak pengen tidur, Lian cuma pengen peluk Mas" tutur Lian manja.
Ardi kemudian melebarlan senyumanya merentangkan kedua tanganya, memiringkan badan menghadap ke Alya, membiarkan istrinya menghamburkan tubuhnya, ke dadannya yang kekar.
"Aku cerita nggak ya ke Mas Ardi tentang Pak Didi? Tapi kan aku membantunya dengan gajiku. Uang dari Mas Ardi masih aku simpan dengan rapih" batin Alya sambil memeluk suaminya.
Setelah berfikir panjang akhirnya Alya memilih cerita tapi sekenanya.
"Mas" panggil Alya mendongakkan kepala dan melepaskan pelukanya dan duduk sendiri.
"Apa Sayang?"
"Ada bapak- bapak pembersih jalan pingsan. Lian tolongin, kalau Lian bantu dia berobat pake uang Lian boleh?"
"Kenapa pake uang kamu? Pakai aja dari kartu yang mas kasih. Emang berapa ratus juta biaya operasinya? " jawab Ardi di luar dugaan Alya.
Ternyata suaminya sangat mendukung niat baik Alya.
Mendengar kesombongan Ardi, Alya langsung mencubit pinggang suaminya.
"Auw sakit Sayangku"
"Ck. Nggak sampai ratusan juga kali Mas, sepuluh juta juga nggak sampai. Itu juga kalau diagnosa Lian bener"
"Ooh, ya udah terserah kamu aja" jawab Ardi singkat tidak menanyai siapa nama pasien itu.
Alyapun tersenyum senang dan bangga ke suaiminya, selain tampan Ardi juga penyayang dan tidak pelit.
Sekarang gantian Ardi yang menguap dan ingin bersandar pada Alya. Kemudian Alya berpindah ke ujung jok, membiarkan suaminya meletakan kepalanya di kedua pahanya dan tidur. Alya membelai lembut rambut Ardi dengan penuh cinta.
"Bayinya sehat, tuh udah mulai kebentuk wajahnya" tutur Dokter Kandungan saat melalukan USG.
"Terima kasih Dok"
"Untuk jenis kelaminya,-"
"Dok, No" bisik Alya memberi kode jangan memberitahu dulu.
Dokter pun diam dan paham maksud Alya.
"Apa jenis kelaminya Dok?" jawab Ardi bersemangat.
"Karena dia aktif bergerak, belum terlihat jelas, tertutup tali pusat juga" jawab Dokter mengikuti mau Alya untuk tidak memberitahu dulu.
Lalu pemeriksaan selesai. Dokter memberikan beberapa nasehat dan resep vitamin ke Alya.
"Mas udah nggak sabar pengen tahu jenis kelaminya Sayang" gerutu Ardi berjalan ke ruang rawat hendak menjenguk Gery dan dua anak buahnya.
"Sabar Mas, biar jadi kejutan, emang Mas pengennya apa?"
"Apa aja mas seneng Sayang, tapi kalau boleh milih Mas pengen cewek" .
"Heh?" Alya kaget dan mendelik ke suaminya. Kok pengen cewek biasanya kan ingin cowok sebagai penerus perusahaan.
"Iya biar Mas nggak ada saingan. Biar kamu dan dia semuanya sayang sama Mas"
"Isssh, emang kalau anak kita cowok tuh nggak sayang gitu sama ayahnya?"
"Nanti dia menyaingi ketampanan Mas, biar Mas yang paling ganteng" jawab Ardi ngebanyol.
"Ck. Dasarr" cibir Alya berdecak, suaminya aneh sekali.
Mereka terlebih dulu menjenguk anak buah Ardi, alhamdulillah semua sudah membaik. Lusa sudah boleh pulang. Keluarga anak buah Ardi berterima kasih pada mereka.
Kemudian mereka menuju ke kamar Gery. Dan apesnya mereka sudah pulang.
"Dokter Gery sudah pulang? Apa dia sudah sembuh? Cepat sekali?" gumam Alya menggandeng tangan suaminya.
"Ck. Kaya nggak tau Gery aja" jawab Ardi.
"Maksudnya?"
"Ya mereka kan penganten baru Sayang, mana betah Gery di rumah sakit, kaya nggak ingat kita aja"
"Tapi kan lagi sakit Mas, kita aja yang sehat nunggu seminggu lebih lho"
"Ya itu kan karena kamu yang sok jual mahal, nggak tau kan kamu gimana rasanya Mas nahan? Dosa lho kamu"
"Hmm, udah sih nggak usah dibahas" jawab Alya malu.
"Iya nggak mas bahas. Tapi nanti malam lagi yaa?" bisik Ardi genit.
"Ishh" Alya hanya mendesis dan memanyunkan bibir, entah artinya setuju atau tidak. Lalu mereka ke rumah Gery.
****
Seperti dugaan Ardi.
Selain karena tidak betah, Mira dan Gery ternyata mengurusi pernikahan secara sahnya ke KUA agar mereka punya buku nikah. Lalu Gery buru- buru ingin mengakhiri kelajangan sesungguhnya.
Karena mereka sama- sama saling cinta dan sama dewasa, Gery dan Mira langsung tancap gas tanpa malu- malu. Bahkan Mira lebih agresif dari pada Gery.
Siang itu pun Gery sudah berhasil membuka segel Mira. Meski dengan posisi yang tidak lazim, karena Gery masih sakit. Mereka memilih dengan posisi duduk di sofa dan Mira yang memimpin pertandiangan.
"Kamu hebat Sayang" bisik Gery sambil duduk merasakan kenikmatan surgawi.
"I love you" jawab Mira dengan suara tertahan merasakan kehebatan adik kecil Gery.
Mira mengibaskan rambutnya ke samping sehingga menambah keseksian Mira. Mira melanjutkan menggoyangkan pinggulnya memanjakan adik kecil Gery.
Karena saking bersemangatnya mereka lupa mengunci pintu. Ardi dan Alya tiba di rumah Gery, lalu Dokter Nando tanpa sengaja masuk ke kamar Gery dan memergoki mereka sedang berada di puncak kenikmatan.
__ADS_1
"Glek"
Dokter Nando yang sudah lebih dari 10 tahun menduda langsung menelan ludahnya. Tanpa sengaja dia melihat aktivitas panas anaknya.
Untung posisi Mira membelakangi pintu. Jadi Dokter Nando tidak melihat melon Mira. Tapi tetap saja melihat adegan panas secara live membuat Dokter Nando mengingat masa mudanya.
Meski tidak sesuai keinginannya, karena pola hidup sehat Dokter Nando, organ- organ penting Dokter Nando masih terawat dan terjaga. Senjata Dokter Nando reflek menjadi bangun setelah sekian lama tertidur.
"Astaghfirullohal'adim" gumam Dokter Nando langsung menutup pintu kembali.
"Gery kenapa ceroboh sekali, kenapa aku jadi ikutan panas begini?" batin Dokter Nando lalu membiarkan Gery dan Mira melanjutkan ibadahnya.
Kemudian Dokter Nando menemui Alya dan Ardi. Dokter Nando berbohong kalau pintu kamar mereka dikunci dan tidak mendengar ketukan pintu.
"Coba Nak Ardi telepon ke nomer ponsel Gsry saja" tutur Dokter Nando.
"Nggak usah Om. Kalau mereka sedang istirahat biar saja. Kami hanya ingin mengantarkan Undangan. Akhir pekan kami akan adakan resepsi. Om Nando datang ya Om" jawab Ardi mengutarakan niat kedatanganyam
"Oh ya? Syukurlah akhirnya resepsi kalian diadakan. Saya ikut senang mendengarnya. Pasti-pasti, saya akan datang" jawab Dokter Nando bahagia.
"Oh ya Om, om datang aja. Nggak usah repot- repot bawa kado, kami hanya ingin syukuran kecil- kecilan mengumpulkan sanak saudara Om" pesan Ardi tidak ingin menerima kado apapun.
"Oh iya iya, siap. Memang di hotel mana acaranya?"
"Di Restokafe kami yang baru Om. Di danau tenang"
"Oke, sepertinya menarik. Insya Alloh saya pastikan akan datang"
"Baiklah Om, saya pamit dulu, sampaikan salam buat Gery dan Mira" pamit Ardi.
"Ya.. " jawab Dokter Nando, lalu mengantarkan Ardi dan Alya sampai ke depan pintu rumah.
Selepas Ardi pergi tiba bayangan anak dan menantunya datang lagi. Membangunkan jiwa muda Dokter Nando.
Kemudian Dokter Nando duduk melihat foto mendiang istrinya dan tersenyum.
"Anak kita sudah menikah sayang, semoga kamu bahagia di sana. Besok jika Gery sudah sembuh akan kukenalkan kau dengan menantu kita" batin Dokter Nando.
"Apa aku menikah lagi saja ya? Tapi apa pantas?"
****
Di ruang kecil sebuah rumah.
"Ehhkkh, lep lepaskan Kak" pinta seorang gadis yang membawa bajunya hendak kabur dari rumah majikanya, dia tersudut ditembok menahan serangan kakaknya.
"Kembali ke rumah itu atau kau kubunuh sekarang?" ucap kakak berjiwa setan itu.
"Bab_babaik Kak" jawab gadis malang itu. Lalu kakaknya melepaskan cengekaraman tanganya.
"Kenapa kau bodoh sekali. Kenapa kau justru berniat kabut Hah?"
"Tuan Aryo sudah mulai curiga Kakak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa" jawab gadis itu menangis.
"Kau hanya tinggal campurkan racun itu ke minumanya atau makananya" suruh Kakaknya enteng.
"Aku takut ketahuan Kak, Tuan Aryo sudah tau, dia memasang cctv di setiap ruang. Bahkan makanan yang disajikan mereka ada petugas khususnya dan harus dicicipi dulu" terang adik kecil itu ke kakanya.
"Haiishh menyebalkan sekali tua bangka itu"
"Sudahlah Kak, ayo kita pergi dari kota ini, kita bisa hidup lebih baik"
"Kau tau siapa Tuan Tito untuk Kaka dan ayah? Dia yang sudah membuat Kaka masih hidup sampai sekarang. Kakak berjanji akan setia terhadapnya"
"Tapi Tuan Aryo dan keluarganya juga yang sudah rawat aku di saat nggak ada kakak dan ayah, aku tidak bisa kasih racun ini"
"Baiklah kalau kau tidak bisa. aku tidak akan memaksamu. Tapi kembalilah ke rumah itu dan jangan pergi"
"Maksud Kaka? Aku boleh kerja di sana lagi tanpa diberi perintah?"
"Bodoh, aku masih butuh kamu di rumah itu"
"Tapi Kak"
"Kembalilah dan tunggu kabar kakak"
Lalu gadis itu kembali naik angkot memasuki rumah besar itu lagi.
****
Istana Tuan Aryo.
"Fitri. kamu kenapa?" tanya Mia melihat Fitri diam di pinggir kolam termenung.
"Lagi istirahat aja Kak, abis bersihin kolam" jawab Fitri mengelap keringat di dahinya.
"Kok kamu bersihin kolam, nggak antar Non Alya kerja?" tanya Mia lagi.
"Nggak! Non Alya pergi bersama Tuan Ardi"
"Oh gitu, apa aku boleh tanya?"
"Tanya apa?"
"Apa menjadi sopir dan asisten Non Alya itu menyenangkan?"
"Kak Mia kan lebih dulu di sini, pasti tau Non Alya, sangat menyenangkan, dia sangat baik"
"Ah iya. Sayangnya aku jarang bersamanya, tapi aku mengidolakanya, Non Alya memang sangat baik"
"Aku juga"
__ADS_1
"Apa kau tau makanan kesukaanya?"
"Apa ya? Dia sangat suka jus mangga"