
"Mas Lian minta maaf" ucap Lian melihat suaminya bangun dari duduknya.
Lian meraih tangan Ardi. Ardi menatap istri cantiknya. Meskipun kesal, tetap saja bibir manis Alya, tatapanya yang lembut membuat Ardi klepek-klepek. Ardi tetap tidak bisa marah ke istrinya.
"Mas mau ke Bogor. Kasian Anya dan Farid" ucap Ardi membetulkan tongkat kruknya. Masih berusaha dingin agar istrinya tahu dia benar-benar kesal.
Alya tersenyum mengeluarkan jurusnya. Pelet Alya ada di lesung pipitnya.
"Hati-hati ya!" bisik Alya ikut bangun. Sementara Farid dan Anya sudah lebih dulu bangun.
"Kalian nggak pamit sama mamah?" tanya Bu Rita tersinggung.
"Farid berangkat dulu Tante" ucap Farid mencium tangan Bu Rita diikuti Anya.
"Pamit sama mamah dulu" ucap Alya ke Ardi. Lalu Ardi pamit ke Mamahnya.
"Mah, Lian antar mas Ardi dulu ya!"
"Dia bisa jalan sendiri kok Al" jawab Bu Rita. Masih menatap kesal ke Ardi.
Sementara Ardi juga masih pasang muka ngambek.
"Bentar doang Mah" jawab Lian mendahulukan suami manjanya.
"Hmmm" jawab Bu Rita memilih tetap duduk menunggu Tuan Aryo yang sedang berbincang-bincang dengan rekan orang penting di negaranya.
"Lian bantu jalan ya suamiku sayang" bisik Lian merayu suaminya.
"Hemm" jawab Ardi semakin senang memasang wajah ngambek agar bisa mengerjai Alya.
Lalu Alya menggandeng tangan Ardi. Mengambik tongkat kruknya.
"Kamu seneng Mas tidur di Bogor?" bisik Ardi lagi.
"Nggak lah Mas. Masa ditinggal suami seneng, semalem aja kita udah nggak tidur bareng" jawab Alya menyenangkan hati Ardi.
Hehe. Padahal dalam hati Alya. Alya rindu Bu Mirna. Semalam saja, Alya ingin tidur bersama ibunya. Dan malam kesempatan itu, setelah kemarin malam tidur bersama mertuanya.
"Mas pulang dari Bogor harus setor hukuman kamu" ucap Ardi berbisik masih sempat berfikir minta jatah hukuman enak-enak.
Mendengar penuturan Ardi, Alya tersenyum, dia berhasil membuat suaminya tidak marah lagi.
"Iya. Tapi jangan banyak-banyak hukumnya ya?" bisik Lian menggoda. Sudah paham kiasan yang Ardi ucapkan.
"Terserah Maslah" jawab Ardi nakal, lalu mereka sampai ke parkiran.
"Issh" Alya hanya mendesis.
Farid dan Anya sudah menunggu.
"Pakai mobilku saja" ucap Ardi. Mobil Farid memang ada di rumah sakit Gery.
"Oke" jawab Farid.
Pak Arlan pun sudah siap menunggu dan mengantar. Anya masuk duluan duduk di depan sebagai penunjuk jalan Pak Arlan. Farid dan Ardi di belakang.
"Hati-hati ya Mas" ucap Alya menggandeng tangan Ardi dan mengusap tangan Ardi pelan.
Ardi menatap istri cantiknya.
"Cup" tanpa malu Ardi mencium bibir Lian meski hanya kecupan singkat, setelah itu dilepas sebentar, ditatapnya lagi istrinya, rasanya sangat berat meninggalkan istri bawelnya itu.
Padahal seharusnya malam ini, Ardi bisa minta pijit istrinya, memeluknya hangat. Tapi demi sahabat rasa kakaknya itu, Ardi harus menahan. Kemudian Ardi kembali mendaratkan bibirnya, mengecup kening Alya yang tertutup jilbab. Alya hanya menurut patuh.
"Ehm" Farid berdehem memberi kode. "Buruan udah malam, malah mesra-mesraan"
__ADS_1
"Ya!"
Lalu Alya membantu Ardi masuk ke mobil. Dan bergantian menyapa Anya.
"Hati-hati ya Any. Maaf nggak bisa ikut, lancar yaa" ucap Alya.
"Iyah, gue ngerti kok" jawab Anya.
"Besok Dinda ikut kok" jawab Alya.
"Iyah" jawab Anya lagi.
"Ya udah hati-hati. Baca do'a dulu ya" ucap Alya memberi pesan.
"Siap"
Arlan pun menyalakan mesin siap melajukan mobilnya. Alya berdiri melambaikan tangan melihat mobil suaminya sampai tidak terlihat lagi.
Sesaat pandangan mata Alya terhenti pada sesosok perempuan memakai hoody berdiri di dekat tiang lampu, perempuan itu seperti sedang memperhatikan laju mobil Ardi.
Alya menelan salivanya. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang entah ada firasat apa.
"Siapa dia? Sedang apa? Tapi dia tidak seperti Mba Intan" gumam Alya memperhatikan perempuan itu.
Dan saat Alya memperhatikan, perempuan itu merapatkan penutup kepalanya. Dia tahu Aya curiga. Lalu perempuan itu mengambil motor laki-laki dan berlaju pergi.
"Astaghfirulloh, kenapa aku jadi dheg-dhegan gini, siapa dia?" batin Alya lagi.
"Aku harus beritahu Mas Ardi dan yang lain"
Alya kemudian merogoh sakunya mengambil ponsel, mengabari suaminya dan rombongan untuk berhati-hati.
Alya lalu masuk kembali ke tempat resepsi menemui mertuanya.
"Udah Mah" ucap Alya.
"Papah kebiasaan, kalau udah ketemu temenya lupa sama anak istrinya. Mamah udah ngantuk padahal" keluh Bu Rita suaminya masih terlihat mengobrol asik.
"Di wa aja Mah!" ucap Alya memberi saran.
"Oke" jawab Bu Rita.
Lalu mengirimkan pesan suaminya agar segera pulang. Tuan Aryo dengan cepat merespon istri tercintanya. Tuan Aryo berpamitan pada rekanya, kemudian menghampiri Bu Rita dan Alya.
"Maaf Mah. Nunggu lama ya?" tutur Tuan Aryo mesra.
"Ayo cepat pulang!" jawab Bu Rita bangun dari duduknya
"Papa kira Mamah sama temen-temen Mah" bisik Tuan Aryo masih ingin minta maaf ke istrinya.
"Nggak, mamah malas bosa basi jawab mereka muji-muji Ardi terus Pah. Ayok Al pulang" ajak Bu Rita ke Alya.
Lalu, Alya, Bu Rita dan Tuan Aryo pulang dengan di sopiri Pak Rudi.
"Cerita ke Papah Mamah nggak ya? Tapi kan itu hanya prasangkaku aja"
"Tapi kenapa perasaanku nggak enak ya? Orang itu seperti mengintai Mas Ardi"
Sepanjang jalan Alya memikirkan perempuan berhoody warna hitam itu.
"Apa dia Lila? Tapi Lila tinggi kecil. Perempuan tadi itu tampak sehat seperti tomboy, semoga hanya prasangkaku saja"
"Sayang, kok ngelamun?" tanya Bu Rita tiba-tiba melihat Alya melamun menatap jendela terus.
"Ah iya Mah. Gimana?" tanya Alya kaget.
__ADS_1
"Ngelamunin apa sih?" tanya Bu Rita.
"Nggak Mah" jawab Alya.
"Besok Ardi pulang kok, ditinggal sehari aja nggak apa-apa. Mamah dulu juga sering ditinggal, malah seminggu, iya kan Pah?" tutur Bu Rita mengira Alya melamun karena kangen Ardi.
"Hmmm" Tuan Aryo hanya berdehem.
"He.. iya Mah" jawab Alya tersenyum.
Alya juga pernah ditinggal seminggu pas Ardi ke Jogja. Tapi waktu itu gawang Alya belum dijebol. Alya belum kecanduan dekapan suaminya.
"Besok berangkat jam berapa kita?" tanya Tuan Aryo membuka mulut.
"Abis subuh Pah" jawab Bu Rita.
"Pagi amat?" tanya Tuan Aryo.
"Acaranya pagi Pah" jawab Bu Rita.
"Pah. Temen Lian besok ada yang ikut ya Pah. Namanya Dinda"
"Ketemuan dimana sayang?" tanya Bu Rita.
"Lian suruh datang ke rumah Mah"
"Oke" jawab Bu Rita.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan. Mereka sampai ke istana Tuan Aryo. Alya, Bu Rita dan Tuan Aryo segera turun.
"Ibu dimana Mah?" tanya Alya.
"Di kamar biasa, kamar kamu dulu" tutur Bu Rita memberitahu.
Alya mengangguk mengerti, kemudian berpamitan ke mertuanya untuk segera ke kamar ibunya. Bu Rita pun mengangguk mempersilahkan.
"Ibu" sapa Alya bahagia melihat perempuan paruh baya sedang membaca Al-Qur'an di atas ranjang.
"Udah pulang?" tanya Bu Mirna menghentikan ngajinya.
"Alya kangen ibu. Ibu sehat?" tanya Alya langsung mencium Bu Mirna dan memeluknya.
"Ganti baju dulu Nduk. Udah sholat belum?" tutur Bu Mirna memperingati Alya.
"Enggih Bu"
"Ya udah sana"
"Alya tidur sama ibu ya malam ini?" ucap Alya meminta.
"Si Sontoloyo nggak pulang? Dia udah bener sehat?" tanya Bu Mirna mengkhawatirkan menantunya.
"Insya Alloh sehat Bu. Anya dan Kak Farid besok pagi lamaran. Ibu juga dateng besok ya!"
"Cah bagus itu? Sama Nduk ayu?" tanya Bu Mirna menyebut Farid cah bagus, sementara Ardi sontoloyo. Karena Farid memang lebih sopan dari Ardi.
"Enggih. Mereka pengen ibu ikut dateng juga"
"Oh, yo yo, besok ibu dateng" jawab Bu Mirna.
"Besok berangkat abis subuh ya Bu!" jawab Alya lagi
"Oh. Gasik? Yowes. cepetan kamu ganti bersih-bersih, sholat!"
"Ya Bu!"
__ADS_1