
Selepas sholat subuh seperti biasanya Bu Rita, Tuan Aryo dan Bu Mirna berolahraga. Tapi karena hari ini mendung, mereka memilih olah raga di rumah.
Padahal di taman kota tempat mereka jogging sseorang sudah berlari kecil dan berputar 3 kali. Menunggu kedatangan mereka.
“Hhhh, kenapa aku belum melihat Nurma? Sebenarnya dia tinggal dimana? Siapa menantunya?” gumam dokter Nando sambil berlari.
Tapi matanya celingak- celinguk mencari kawan lamanya. Mirna Nurmala Sari.
Flash back hari kemarin.
Setelah pulang dari kosan Anya. Mira dan Gery yang tadinya berniat menginap di apartemen, batal.
Mereka tetap pulang ke rumah papanya. Karena Gery mau merapihkan kado- kado dari kawan rumah sakit.
Dokter Nando awalnya bingung ada laporan dari orang rumah kalau ada tamu mobil bak membawa barang banyak. Ternyata dari anak dan menantunya. Dan karena itu pula, Dokter Nando mendelegasikan jatah operasi ke karyawanya. Dokter Nando memutuskan untuk libur saja.
Toh dia sudah tua, sudah waktunya memberi peluang ke dokter muda. Siapapun yang praktek pun, uang sama saja mengalir untuk dia. Kan yang punya rumah sakit Dokter Nando.
Dan sebelum pulang ke rumah, Dokter Nando menyempatkan membeli makanan kesukaanya di salah satu gerai makanan di mall. Dan tanpa Dokter Nando rencana dia bertemu kawan lamanya lagi yang semakin hari justru semakin cantik.
“Kalian nggak jadi ke apartemen?” tanya Dokter Nando ke Gery dan Mira saat mereka sampai di rumah.
“Besok Pah, mau rapihin kado, nitip ya Pah! He” jawab Gery, nyengir sangat suka ngrepotin dan ngeledekin bapaknya.
“Hmmm, ya udah maka dulu” dokter Nando hanya berdehem mengajak mereka makan.
"Siap Pah!" jawab Gery semangat.
Lalu mereka bertiga berkumpul untuk makan siang, karena Gery hanya baru makan siomay sisa, dia makan sangat lahap. Setelah makan siang selesai mereka bertiga kualiti time di depan ruang TV.
“Pah!” panggil Mira berani.
“Hemm, ada apa?” tanya Dokter Nando.
“Mira mau tanya?” ucap Mira.
“Ya!” jawab Dokter Nando mempersilahkan.
“Papah kencan sama Bu Mirna ya?” tanya Mira to the point dan tanpa saringan.
“Hah!” Gery dan Dokter Nando langsung kaget.
Terutama Gery darimana istrinya bisa tanya papanya kencan dengan perempuan bernama Mirna.
Sementara Dokter Nando yang mengenal Bu Mirna dengan nama Nurma menganggap menantunya gesrek kaya anak dan besanya, pantas sih gesrek, anakny Bayu sih. Bayu kan nyebelin, makanya dipanggil Bandot. Begitu fikir Dokter Nando.
“Sayang kamu tanya apaan sih? Bu Mirna siapa?” tanya Gery.
“Papa nggak berkencan dengan siapapun. Kamu ini bisa- bisanya tanya begitu?” tanya Dokter Nando menyangkal. Dokter Nando dan Bu Mirna kan meman belum jadian.
“Papah tadi jadi operasi nggak?” tanya Mira lagi.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Dokter Nando semakin merasa terintimidasi. Ngapain tanya-tanya pekerjaanya.
“Papah tadi ke mall ini kan? Pakai kemeja ini kan? Ngaku deh Pah. Papah abis kencan kan?” tanya Mira lagi dengan tatapan menyelidik dan sangat penasaran.
“Baby kamu apa- apaan sih?” omel Gery lagi baru tahu kalau Mira sangat berani ke mertuanya. Gery aja nggak pernah sekepo itu ke bapaknya.
“Diam dulu!” jawab Mira menyuruh Gery diam dan menunggu jawaban Dokter Nando dengan wajah tengilnya.
Sementara Dokter Nando mendadak pucat. Benar- benar menantunya rese sekali seperti bapaknya.
“Papah emang ke mall, tapi nggak ada kencan- kencanan. Ngarang kamu! Papah ke mall beli camilan. Sudahlah papah mau istirahat!” jawab Dokter Nando ngambek lalu pergi.
"Tapi Papah bertemu dengan perempuan kan Pah?" tanya Mira berteriak karena Dokter Nando berlalu dan tidak menoleh.
“Hummm” Mira berdehem dan mengekrucutkan bibirnya, dia benar-benar dicueki mertuanya. Tapi Mira tidak takut.
Sementara Gery masih geleng- geleng kepala. Lalu mencubit tangan Mira.
“Jelasin, kenapa kamu tanya- tanya papah gitu?” tanya Gery.
“Diam – diam papa pacaran sama ibunya Alya!” bisik Mira ke Gery.
“What?” tanya Gery kaget langsung melotot matanya.
“Ehm. Ehm!” Gerry mendadak serak. Lalu menelan salivanya, membayangkan jadi saudara Alya kok geli sendiri. Lalu Gery menyentuh kening Mira.
“Kamu waras kan Baby?” tanya Gery.
“Tadi Alya nunjukin foto ke gue. Si Dinda sama Anya ngegepin ibunya Alya berduaan sama laki- laki di mall, dan lo tau siapa laki- laki itu, itu Papah. Gue yakin banget itu Papah Ger!” tutur Mira bercerita dengan semangat 45.
“Ya tapi gimana ceritanya kenal sama ibunya Alya?” tanya Gery merasa tidak masuk akal.
“Ya itu PR kita buat cari tau!” jawab Mira lagi sangat semangat membuat mertuanya menikah lagi.
“Ibunya Alya kan di Jogja Beb!” jawab Gery lagi masih mau menyangkal.
“Ibunya Alya pas denger Ardi masuk rumah sakit langsung datang ke sini, dan sampai sekarang belum balik!” jawab Mira lagi.
“Ooh, nggak kencan beraarti kalau gitu mah, paling mereka temenan” jawab Gery spontan seakan menebak dan membenarkan kalau yang difoto itu memang ayah dan ibu sahabatnya.
Saat Gery menyadari perkataanya mungkin orang tua mereka temenan mereka berdua terdiam.
“Nah kan? Siapa tau mereka emang temenan di masalalu, sekarang mereka sama-sama sendiri ketemu, dan ternyata mereka berjodoh, cocok nggak?” tanya Mira dengan ekspresi nakalnya dan mengerlingkan matanya mengajak Gery bersengkokol untuk mengetahui lebih dalam.
Gery menelan salivanya lagi.
“Heh yang bener aja? Papah sama ibunya Alya?” gumam Gery membayangkan mereka jadi kakak adik.
“Terlepas dari mereeka kencan atau enggak. Tapi dari foto ini lampu hijau honeey, lo nggak pengen kan papah punya sugar baby yang cuma mau harta papah doang? Ingat misi kita. Jangan biarin papa sendirian!"
"Ya!"
__ADS_1
"Lo kan nyarinya permpuan paruh baya yang berhati baik dan cocok buat papah? Nah. Cek, ibunya Alya, itu jawabanya!” tutur Mira cerdas dan menunjukan foto yang dibagikan Alya.
“Ya tapi jangan ibunya Alya juga Baby, nggak ada yang lain gitu?”
“Why honey, why?” tanya Mira dengan menyibakan rambutnya ke samping dengan tatapan menantang Gery. Yang justru tatapan Mira dan leher Mira yang terpampang membuat Gery hilang fokus.
“Kalau benar begitu, kita jadi kakak adek gitu sama si pewaris somplak itu?” tanya Gery mendekat ke Mira sambil memperkuat signal antenanya.
“Ya kan emang udah dari dulu kalian temenan dan sahabatan kan? Jadi nggak usah adaptasi lagi, ya kan? Iya dong!” jawab Mira dengan gaya bicaranya yang centil dan menggoda.
“Yaya, betul juga ya? Kaya kita ya?” tanya Gery intonasi suaranya berubah.
“Iya dong Honey! Berarti deal ya! Kamu setuju kan? Setelah ini kita bantu papah sama ibunya Alya? Oke Honey!” jawab Mira agresif dan malah maju mendekat ke Gery, menggerakan tanganya dan meraih pipi Gery gemas.
“Iya setuju Baby” jawab Gery sangat senang istrinya begitu agresif.
Tentu saja diperlakukan seperti itu antena Gery semakin berdiri tegak. Dan reflek Geri langsung mendaratkan bibirnnya ke bibir Mira. Dan Mira menyambutnya dengan suka cita.
Gery melepaskan bibirnya karena niat Gery hanya mengecup ringan. Tapi setelahnya justru Mira yang berbalik mencium Gery duluan. Mengalungkan tanganya ke leher Gery, Gery tak kuasa menolak. Gery mengikuti permainan Mira, mereka bertukar nafas dan bermain rasa dengan liar.
Gery pun dibuat melayang dengan kelihaian istrinya yang tidak pernah Gery kira entah belajar dari mana? Padahal kan Mira tidak pernah pacaran dan hanya selalu menatap Gery seorang.
“Ehm..ehmm” Dokter Nando yang hendak mengambil kacamatanya untuk yang kesekian kalinya memergoki anak dan menantunya melakukan ibadah yang salah tempat.
Reflek Gery dan Mira saling menjauhkan wajahnya. Kedua bibir mereka masih basah. Bahkan sudut bibir Gery sedikit merah, Mira memang seagresif itu.
“Kalian punya kamar kan?” tanya Dokter Nando kesal ke menantunya. Dasar anaknya Bandot, begitu umpatnya.
"Iya Pah" jawab Gery malu.
"Jangan lupa kunci pintunya" tutur Dokter Nando lagi mengambil kacamata.
“Papah beneran nggak kenal Bu Mirna? Bu Mirna ibunya Alya lho Pah, besanya Tuan Aryo” tanya Mira lagi, masih berani mencecar mertuanya meski sudah kepalang basah ketangkap bermesraan dan memalukan.
"Hemmm"
Karena kesal Dokter Nando pergi begitu saja tidak menjawab.
Mira pun mengkerucutkan bibirnya. Ternyata bapak mertuanya lucu kaya anak kecil. Mira jadi ingin mengerjainya.
Meski Dokter Nando cuek. Tapi perkataan Mira terus mengusiknya.
Dokter Nando jadi penasran, apa menantu Nurma yang diceritakan, sungguh Ardi Gunawijaya. Kalau iya, dunia sangat sempit dan itu hal yang membahagiakan Dokter Nando.
*****
Dan setelah memendam rasa penasaran yang begitu besar. Dokter Nando bertekad dan sangat berharap bertemu Bu Nurma lagi.
Kalau mau tanya ke Tuan Aryo malu, lalu Dokter Nando berangkat ke tempat jogging pagi- pagi sekali. Berharap bisa bertemu Bu Nurma lagi.
Dokter Nando harus tanya langsung ke Bu Nurma, cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan karena ditikung temannya sendiri dulu. Apa benar dia besan dari sahabatnya.
__ADS_1
Tapi sayangya harapan Dokter Nando pagi itu pupus. Bu Mirna dan Bu Rita tidak jogging ke taman kota. Mereka hanya senam di rumah.