Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
6. Apartemen


__ADS_3

Matahari bersinar terik, membuat rona panas di siang itu. Ditambah dengan kemacetan jalan Jakarta. Panasnya sempurna. Untung saja, mobil yang dinaiki Alya adalah mobil mewah, dengan tempat duduk yang nyaman dan udara yang dingin. Sehingga Bu Rita bisa melanjutkan tidur di mobil, mengistirahatkan tubuhnya yang sudah mulai menua.


Sementara Alya yang baru pertama datang ke Jakarta asyik menikmati pemandangan. Melihat gedung-gedung tinggi.


Mobil Alphard Bu Rita mulai memasuki wilayah pinggiran Jakarta kota tujuan Alya. Ya, Rumah Sakit tempat magang memang Rumah Sakit Daerah di pinggiran Jakarta, bukan rumah sakit pusat. Apartemen Ardi terletak tidak jauh dari rumah sakit itu.


"Ini rumah sakitnya ya Non" Pak Rudi menunjukan Rumah Sakit Daerah yang hendak di jadikan tempat mengabdi Alya.


"Oh, di sini ya Pak?" tanya Alya mengintip dari kaca mobil.


"Iya, itu apartemen Den Ardi sudah keliatan" tunjuk Pak Rudi ke gedung tinggi di sebrang rumah sakit. Lalu mereka sampai di parkiran.


"Tante, bangun, udah sampai" Alya membangunkan Bu Rita hati - hati.


"Ah. Iya, Alhamdulillah sampai. Yuk masuk!" jawab Bu Rita turun dari mobil dan mereka masuk ke apartemen. Pak Rudi membawakan koper Alya.


****


Alya masuk ke apartemen, melihat berkeliling, lalu membuat teh untuk Bu Rita dan Pak Rudi. Menyegarkan badan setelah menempuh perjalanan.


"Sayang, panggil tante mamah ya! Kamu di sini jadi anak mamah. Mamah pengen punya anak perempuan" pinta Tante Rita sambil menyeruput teh.


"Iya Tan. Eh Mah"


"Ini pasword apartemen dan kuncinya, ini memang apartemen milik Ardi. Tapi selama kamu di sini dan dia belum pulang, mamah serahkan ke kamu"


"Tapi Mah, kalau Mas Ardi pulang dan dia pengen di sini gimana?"


"Nggak, Ardi sudah terlalu lama ngambek dan main-mainya, dia harus pulang ke rumah dan belajar menggantikan papanya"


"Maaf Mah. Boleh Alya tanya sesuatu?" tanya Alya ragu.


"Silahkan Sayang"


"Sebenernya ada masalah apa antara Mas Ardi, Om Aryo dan Mama Rita?"


"Hhh" Bu Rita menghela nafas.


"Kalau itu rahasia dan berat untuk diceritakan, nggak usah aja Mah, maaf Alya lancang"


"Nggak Nak, mama akan cerita. Suami mamah, sangat ingin Ardi menjadi penerus di perusahaan, dari SMA Ardi sudah dikenalkan dengan tugas-tugasnya, tapi Ardi nggak suka itu. Dia pengen bebas, dia bilang benci dengan perusahaan, dia pengen cari dunianya di luar perusahaan"


"Dia kerja, ngamen sebagai anak band, di kafe-kafe di luar sampai kebeli apartemen ini, nggak mau tinggal di rumah, atau minta uang ke orang tuanya sendiri"


"Yang terakhir, pas Ardi sudah mulai pulang ke rumah dan kembali perusahaan. Mamah, iseng kenalin dia ke anak temen mamah, Ardi nggak suka, makanya dia pergi ke luar negeri sekalian lanjutin S2nya, dia menghindari mamah"

__ADS_1


"Maksudnya mamah berniat jodohin Mas Ardi?" tanya Alya menyimpulkan.


Bu Rita mengangguk "Mamah menyesal, Ardi jadi hindari mamah. Tapi meskipun mamah tau dia marah, dia tetep anak mamah yang baik dan nggak tegaan kalau mamah dan papahnya kenapa-kenapa."


"Hemm kekanakan sekali ya Mah? Mas Ardi itu" jawab Alya spontan.


"Seharusnya dia tinggal sampaikan tidak setuju, masa kabur-kabur gitu! Emang nggak kangen sama orang tuanya?" tanya Alya polos.


"Dengan kamu di sini, mamah berharap Ardi mau tinggal di rumah. Nggak ada tempat dia kabur lagi. Pokoknya kalau Ardi tiba-tiba kesini kamu harus bilang ke mamah, kalau perlu ubah aja sandi masuknya".


"Nggak Mah, Alya nggak mau lakuin itu, tapi akan Alya usir pake sapu. Hehehe"


"Kamu itu. Pokoknya mamah bersyukur ada kamu, sering-sering main ke panti ya!" pinta Mama Rita tulus.


"Iya Mah. Alya juga udah janji ke Kak Farid, pulang dari rumah sakit, Alya akan main kesana"


"Oh iyaa Nak. Farid sepertinya tertarik lho sama kamu?"


"Ihh. Mamah kok bisa simpulin gitu, kan baru pertama ketemu" jawab Alya manyun.


"Farid anak yang ramah dan baik, nggak seperti Ardi, Farid dosen lho Nak"


"He. Alya belum pingin mikirin laki-laki Mah. Alya pengen fokus kejar cita-cita".


"Oh ya? Emang umur berapa kamu sekarang?"


"Hemm untuk perempuan sudah saatnya nikah sayang, dulu mama udah nikah umur sekamu"


"Tapi Alya masih pengen jadi dokter beneran, terus lanjut spesialis" jawab Alya semangat bermimpi. Padahal untuk menyelesaikan dokter umum saja jual rumah dibantu beasiswa.


"Kan nikah nggak menghalangi kuliah, Sayang" sambung Bu Rita yang sedikit tertarik dengan Alya.


"Tapi kan nyatanya belum ada jodoh Mah. Hee" jawab Alya tersenyum.


"Kalau ada berarti mau?" tanya Bu Rita menggoda.


"Entahlah? Haha" lalu mereka tertawa bersama.


Alya dan Bu Rita tampak serasi dan dekat meski tidak ada hubungan darah. Karena kedua perempuan itu sama-sama mempunyai hati yang lembut dan tulus, mereka seperti terikat dalam hubungan yang tidak bisa dijelaskan. Yang pasti Bu Rita sangat menyayangi Alya, dan Alya sangat nyaman dengan kasih sayang Bu Rita.


"Mamah pulang dulu ya, mau nyusul om ke kantor. Kalau mau main ke rumah, telpon mamah biar ada supir yang jemput!" pamit Bu Rita memberi pesan ke Alya.


"Baik Mah. Mamah hati-hati di jalan"


"Iya kalau ada apa telpon satpam depan yaa. Nomernya di buku telepon".

__ADS_1


"Baik Mah" mereka berpelukan. Bu Rita keluar menuju ke lift dan meninggalkan Alya.


Alya masuk kembali ke apartemen, mengatur barang-barang, membersihkan dan mendekornya.


"Sepertinya aku akan nyaman, ini tidak terlalu besar" gumam Alya dalam hati.


Apartemen Ardi memang tergolong sederhana untuk level pewaris Gunawijaya Grup. Hanya ada satu kamar, sofa bed di ruang tengah, dapur yang tidak terlalu besar dan ruang tamu. Setelah bebersih Alya beristirahat. Besok hari pertamanya mengabdi di rumah sakit yang baru.


******


"Thuuuuut Thuuuut" suara sambungan seluler terhubung.


Farid memasang Earphone di kupingnya.


"Apa lu telp telp gue?" jawab teman Farid di seberang sana.


"Gue tau lu dah wisuda S2, napa lu nggak balik -balik?" tanya Farid


"Serah gue lah, brisik"


"Eh lu punya adek cantik napa lu nggak bilang-bilang?"


"Maksud lu apa?"


"Kemarin nyokap lu bawa cewek cantik banget, katanya anak gadisnya, berarti adek lu dong"


"Ahhh lu, kaya nggak tau emak gua, anak jalanan aja semua dijadikan anak"


"Iya itu beda dong"


"Iyaa tau, abis ini lu mau nyeramahin gua kan? Pak Dosen"


"Bosan gua ngomong sama elu! "


"Ya udah matiin, gua matiin telponya niih!"


"Ehh bentar-bentar, lu beneran nggak tau gadis yang bareng sama Tante Rita? Dia terlihat sekilas mirip lhoh, mereka juga deket banget, dia bukan sepupu lo? Atau saudara mungkin?"


"Ah elaaah, lu kan kenal gua udah lama, gue anak tunggal, bapak gua juga, dan emak gua itu ponakanya cwo semua, anak jalanan kali"


"Hemmmm, gua mau deketin dia, abis dia cantik" sambung Farid.


"Serah lu dah, pusing gua liat lu dah tua nggak nikah-nikah!" jawab Ardi mengejek.


"Eh kita seumuran Bro, bentar lagi udah kepala 3 kenapa juga lo nggak nikah?".

__ADS_1


"Udah pusing gua," tut. Ardi mematikan sambungan telponya. Farid tersenyum dengan tingkah sahabatnya. Farid juga menyadari kalau memang sudah waktunya mereka memikirkan hidupnya untuk mencari jodoh.


__ADS_2