Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
125. Makan Siang.


__ADS_3

Adzan dzuhur terdengar. Jam dinding di tembok stasiun berdetak keras. Menunjukan waktu jam 11.55 WIB. Ardi berjalan di belakang membiarkan istri cerewetnnya di depan bersama sahabatnya. Seperti kakak yang sedang mengawasi kedua adik kecilnya.


"Yang" panggil Ardi tiba-tiba merasa dicueki.


"Iya Mas" jawab Alya berhenti dan menoleh ke suaminya.


"Mau makan apa?" tanya Ardi menoleh ke arah kedai KFC. Mereka sudah sampai di belakang KFC tapi Alya dan Anya tidak tampak ingin berhenti.


"Mmm apa ya Mas? Mas pengin apa?" jawab Alya berfikir.


"Mas ikut istri mas aja?" jawab Ardi lembut. Tapi sebenarnya Ardi ingin makan di KFC aja.


Alya menoleh ke Anya. Memberikan kesempatan ke sahabatnya ikut menentukan.


"Kamu pengen apa Nya?" tanya Alya.


"Aku mah bebas Al. Kaya nggak tau gue aja, nasi padang juga hayu weeh" jawab Anya selow.


"Ish kamu. Sholat dulu aja kali yak, tadi kan baru makan bakso kita!" jawab Alya menentukan.


Ardi mengangguk ingin menyenangkan istrinya. Meski sebenarnya Ardi yang paling lapar, karena setelah penutupan acara di danau, Ardi langsung pergi mencari istrinya.


Mereka bertiga sampai di mushola stasiun. Mushola tampak penuh. Mereka bertiga memilih menunggu antrian dan duduk di samping mushola.


"Sayang kamu capek nggak? Sini mas bawain tas nya" tanya Ardi lembut perhatian ke istrinya.


Alya dan Anya menatap ke Ardi kagum. Ternyata di balik tampang dingin Ardi, Ardi perhatian. Anya melihat tatapan Ardi ke Alya, merasa melihat sisi berbeda dari Ardi yang tidak bisa Anya tebak. Kadang terlihat sombong dingin tapi ternyata baik.


Alya menelan salivanya. Perhatian kecil Ardi membuat jantung Alya berdetak lebih kencang. Ada rasa bahagia diperlakukan seperti itu. Tapi juga ada rasa bersalah menghinggapi perasaan Alya. Tatapan dan sikap Ardi tulus.


"Lian nggak apa-apa kok Mas, Lian bisa bawa sendiri" jawab Alya lembut tidak ingin merepotkan suaminya. Alya membawa tas punggung yang tadi dia ambil dari kos Anya. Kemarin Alya sempat menitipkan beberapa pakaian dan tas. Tas punggungnya tas punggung perempuan.


"Udah sinih. Ini pasti berat. Banyak banget sih bawaanya" ucap Ardi mengambil paksa tas punggung Alya.


"Ish" desis Anya menatap suami tampannya.


Alya diam dan pasrah tasnya diambil. Alya benar-benar tidak menyangka suaminya begitu perhatian. Lalu Alya menatap suaminya bengong. Apa mungkin suaminya benar-benar tega menduakanya, atau mempermainkanya. Meski sering berbuat semaunya, Ardi benar-benar memperlakukan Alya dengan istimewa.


"Tempat wudhunya udah kosong tuh, sana kalian duluan. Tungguin mas ya, kita jamaah" tutur Ardi melihat ke tempat wudhu.


Alya pun mengajak Anya berwudu. Disusul Ardi, dan mereka bertiga berjamaah sendiri di luar rombongan.


Ardi mengakhiri salam. Lalu memimpin doa, Alya dan Anya yang amini. Anya menatap iri ke Alya. Meski sifat Ardi aneh, tapi Ardi tidak seperti Agung, laki-laki yang Anya gilai. Ardi perhatian, bisa jadi imam yang baik. Berbeda dengan Agung, harus diingetin kalau mau sholat.


Sementara Alya, Alya duduk termenung dan menunduk. Tidak ada perubahan dari sikap suaminya ke dia. Bahkan setelah Alya marah-marah dan berniat kabur. Alya juga pergi bersama orang paling Ardi cemburui. Tapi Ardi tidak memarahinya dan tetap memperlakukanya dengan baik. Hal itu membuat Alya merasa bersalah.


"Apa aku salah? Apa iya aku terlalu curigaan? Apa benar cemburunya aku keterlaluan?" gumam Alya mengingat perbuatanya. Alya juga mengingat perkataan pengurus panti tentang Intan.


"Ah, tapi rasanya benar-benar sakit. Mba Intan lebih cantik dari aku. Apa iya Mas Ardi nggak tertarik?" gumam Alya lagi.


Alya tidak tau suaminya menunggu dan memperhatikanya.


"Kok ngelamun sih Yang, ayo katanya mau makan? Mas laper nih" ajak Ardi ke istrinya yang melamun. Padahal Anya sudah bangun dan menyisir rambutnya.


"Ah iya" jawab Alya tersadar lalu melipat mukenanya dan memasukan ke tas.


"Mas" panggil Alya ke suaminya.


"Iya kenapa?"

__ADS_1


"Lian ikut Mas aja mau makan apa? Mas yang tentuin" tutur Alya lembut.


"Bener? Tapi kan selera kita biasanya beda, nanti kamu marah-marah lagi" jawab Ardi.


"Nggak. Kali ini Lian nggak marah"


"Janji?" tanya Ardi sabar.


"Janji!" jawab Alya menimpali. Mereka berdua melingkan tanganya seperti anak TK yang sedang membuat kesepakatan. Padahal sudah tua.


Mereka bertiga keluar dari mushola. Anya di samping Alya berjalan seperti obat nyamuk. Lalu Anya memilih memasang headset dan mendengarkan musik. Daripada melihat Ardi membuatnya iri.


"Makan ayam aja. Biar cepet" jawab Ardi memutuskan.


"Oke" jawab Alya tersenyum. Padahal sebenarnya Alya ingin nasi padang tapi tempatnya penuh.


Mereka bertiga pun makan di kedai ayam goreng. Ardi menikmati makanya dengan lahap. Anya makan di depan Alya sambil menikmati musik. Sementara Alya makan di samping Ardi sambil nunduk memikirkan sesuatu. Sesekali menatap suaminya.


Dengan sikap Ardi yang baik. Seharusnya Alya tidak menuduhnya yang tidak-tidak. Kalau di samping Ardi banyak perempuan cantik, berati Alya harus lebih cantik dan membuat Ardi nyaman. Bukan terus berdebat dan bertengkar.


"Ehm" Ardi berdehem sambil menyeruput minum.


Ardi menoleh ke istrinya yang tampak menunduk dan melamun. Ardi melihat ayam Alya masih utuh begitu juga nasinya. Ardi memandang ke istrinya dengan perhatian. Lalu mengambil nasi dan ayam dari piringnya dan menyuapi Alya.


"Aak" tawar Ardi menyodorkan tanganya ke Alya. Alya kaget dan menoleh ke kanan kiri merasa risih. Anya di depanya juga ikut risih melihatnya.


"Malu Mas" jawab Alya lirih


"Udah aak" ucap Ardi memaksa Alya menelan makanya. Alya pun membuka mulutnya, mengikuti suaminya menelan makanan dari tangan suaminya.


"Lian bisa makan sendiri Mas" ucap Lian malu dan menundukan kepalanya eetelah mengunya makanan.


"Mas" panggil Alya tidak kunjung makan malah menatap Ardi sendu.


"Hemm" jawab Ardi sambil mengunyah makanan.


"Lian mau minta maaf" tutur Alya pelan.


"Uhuk uhukk" Ardi yang sedang mengunyah tersedak. Lalu Alya mengambilkan minum untuk suaminya.


"Ish, hati-hati kalau makan" desis Alya kesal.


Anyapun ikut kaget melihat Ardi tersedak.


"Coba ulangi lagi" ucap Ardi tersenyum melihat ke istrinya setelah minum. Alya menunduk ragu-ragu mengulangi kata-katanya.


"Lian minta maaf"ucap Lian singkat dan lirih.


Ardi tersenyum, lalu meraih kepala Alya mendekat dan mencium kepala Alya.


"Cup. Makasih sayang" ucap Ardi lirih. Alya pun merasa kaget dicium suaminya di tempat umum. Alya juga semakin merasa bersalah diperlakukan istimewa seperti itu.


"Haish, dasar kalian! Drama terus, tempat umum woy" tegur Anya di depan Ardi dan Alya.


"Nggak apa-apa biar kamu cepet nikah. Nanti bilang ke pacarmu suruh cepet halalin" jawab Ardi tertawa melihat Anya.


"Iiih" jawab Anya melengos, melanjutkan makan.


"Lian minta maaf karena tadi langsung pergi tanpa kasih tau mas dulu. Lian juga nggak dengerin sambutanya Mas, Lian juga pergi bareng Kak Farid" lanjut Lian meminta maaf.

__ADS_1


"Mas juga minta maaf, mas telat kasih tau Farid" jawab Ardi bijak.


"Mas nggak marah?" tanya Alya heran.


"Marahlah, tapi gimana lagi. Mas juga salah. Mas telat baca pesan kamu. Mas nggak mau kamu kabur lagi dan kita bertengkar terus. Tapi kok Mas nggak lihat kamu sih?" jawab Ardi selesai makan.


Alya diam mengingat kejadian Sinta menjambak jilbabnya. Dan juga pengurus panti yang pada bergosip.


"Lian di beskem pengurus Mas. Kak Farid nyuruh Lian ke situ. Dan di sana, semua pengurus panti muji-muji Mba Intan. Mereka bilang, kalian pasangan yang sangat cocok, emang mas datang bareng Mba Intan?" jawab Alya mengadu.


"Ooooh begitu?" jawab Ardi tersenyum senang.


"Kok malah senyum gitu sih?"


"Ternyata istri mas ini cemburu. Mas kan udah pesen ke kamu. Jangan dengerin orang lain sebelum tanya ke Mas" jawab Ardi sambil menyentil kening Alya.


"Sakit Ih" jawab Alya mengelus keningnya.


"Percaya Mas. Kejadianya bukan begitu. Mas nggak mungkin bareng Intan. Mas kan sama Pak Rudi. Intan minta tolong dibawain barang-barangnya. Liat aja. Besok para pengurus bakal minta maaf ke kamu! Mas udah kasih tau ke semuanya. Istri mas itu kamu" jawab Ardi tersenyum. Lalu melihat makanan Alya tetap utuh.


"Makanan Alya dibungkus aja! Alya masih kenyang tadi makan bakso" jawab Alya tau tatapan suaminya.


"Oke ! Oh ya. Farid telpon Mas. Dia udah tau status kita. Kamu yang kasih tau yah? Mas minta maaf juga. Mas salah udah nunda kasih tau. Gimana respon dia?" jawab Ardi mengingat sahabatnya.


Lalu Alya memandang Anya dan menginjak kaki Ardi. Anya yang masih mendengar meski sedang memakai headset paham tatapan Alya.


"Biasa aja kali. Nggak usah liatin gue gitu. A' Farid bukan tipe gue. Gue nggak cemburu!" jawab Anya tanggap tatapan Alya.


Mendengar jawaban Anya dan merespon sikap Alya, Ardi tercengang dan menatap Alya penuh tanda tanya.


"Perempuan yang dipilih orang tua Kak Farid itu. Nih" jawab Alya menunjuk ke Anya.


"Really?" tanya Ardi meyakinkan.


"Emem" jawab Alya mengangguk dan tersenyum. Ardipun ikut tersenyum sangat bahagia.


"Wuaah. Amazing. Dunia sempit banget sih. Terus ngapain ikut ke Jogja?" tanya Ardi terus terang dengan wajah kegirangan.


"Ck. Apaan sih kalian? Serah gue dong mau ngapain!" jawab Anya sambil berdecak. Lalu berdiri tidak menanggapi Alya dan Ardi. Anya membersihkan tanganya ke wastafel.


Ardipun ikut bangun cuci tangan dan meminta pelayan membungkus makanan Alya yang masih utuh. Ardi juga memesan makanan dan minuman buat bekal di kereta. Setelah membayar, tidak lama kereta datang. Mereka bertiga pun berjalan ke kereta mencari tempat duduk mereka.


"Pelan-pelan sayang. Santai, ingat kamu lagi hamil. Kalau jatuh gimana?" tutur Ardi meraih tangan Alya dan menggandengnya.


"Iya ya" jawab Alya manyun.


****


Hehehe.


Author suka banget bacain komentar semuanya. Pokoknya makasih banget ya, udah hargai tulisan author yang masih amatir dan belajar ini.


Semua masukan author terima dengan senang hati. Semua sudah dipikirkan sampai ending. Baca terus sampai ending ya.


Author berharap Ibu dan kakak semua terhibur dan mengambil pelajaran


Oh iya. Karena author juga nguli di rumah sakit. Jam up nya ngacak di sela-sela author ya!


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2