
Kantor Gunawijaya.
Seorang perempuan berambut hitam panjang memarkirkan mobil Aston Martin di parkiran kantor. Perempuan itu keluar dari mobil dan berjalan dengan anggun masuk ke kantor. Kulitnya yang putih bersih mulus tampak nyata karena dirinya memakai celana pendek di atas lutut, dengan korean style.
Perempuan itu berjalan dengan percaya diri tanpa menyapa resepsionist. Dia merasa kantor itu masih seperti dua tahun lalu. Tempat dimana dirinya selalu mengantar makanan ke ruang wakil ceo di jam makan siang.
Beberapa karyawan Ardi yang baru bekerja dua tahun tampak takjup melihat kecantikan perempuan yang menenteng tas gucci itu. Sementara recepsionist yang bekerja lebih dari 5 tahun menatap heran akan kedatanganya, mereka kenal siapa perempuan itu. Lalu berbisik ke temanya untuk meminta satpam menghentikan perempuan itu.
"Kok nggak boleh masuk? Emang dia siapa?" tanya resepsionist baru.
"Dia mantanya Tuan Muda. Ingat kan kemarin perempuan berjilbab yang datang dengan Tuan, itu istrinya?" jawab petugas resepsionist senior.
"Ooh, beda banget ya?" bisik resepsionist junior. Intan dan Alya memang seperti bumi dan langit.
Satpam pun mengejar Intan dan mencegahnya masuk ke lift.
"Selamat siang Nona" sapa satpam menghentikan Intan.
"Siang, kenapa?" jawab Intan sinis.
"Nyonya dilarang masuk ke kantor ini!"
"What? Lo ngusir gue?" tanya Intan sewot.
"Mohon maaf Nona, saya hanya menjalankan perintah, silahkan keluar" tutur satpam dengan tangan mengarahkan agar Intan keluar.
"Eh lo, satpam kurang ajar. Lo tau nggak siapa gue? Gue catet nama lo, dan siap-siap aja lo gue pecat" jawab Intan mengancam dengan percaya diri dan tidak tahu malu.
Sementara sang satpam tidak bergeming saat Intan bicara dan tetap menjalankan tugas.
"Silahkan keluar atau saya akan memaksa anda keluar dengan paksa Nona" jawab satpam lagi
Intan pun semakin geram dan mengepalkan tanganya. Saat Intan hendak menjawab, lift terbuka. Dan Dino keluar dari dalam lift.
"Dino" panggil Intan sumringah menemui orang yang dikenalnya.
"Nyonya Intan?" panggil Dino kaget mengetahui perempuan beranak satu tanpa ayah itu di kantor.
"Dengar kan? Sekertaris presdir mengenalku, beraninya kamu mengusirku. Belum tahu siapa aku?" cibir Intan sombong ke satpam.
"Maaf Tuan" satpam menyapa Dino merasa tidak enak.
"Lanjutkan kerjamu, biar dia saya yang urus" jawab Dino menyuruh satpam kembali.
"Baik Tuan" jawab satpam lalu pergi.
"Ada perlu apa, anda kemari Nyonya Intan?" tanya Dino sopan ke mantan tunangan bosnya itu.
"Gue mau ketemu calon suami gue" jawab Intan percaya diri.
"Ehm! Apa saya tidak salah dengar Nyonya?" Dino mendehem sambil tersenyum mengejek.
"Ngimpi kali Tuan Ardi mau balikan sama bekas orang, Ardinya udah nempel dan tergila-gila dengan gadis desa oleh-oleh ibunya dari Jogja, yang jelas-jelas tersegel rapat luar dan dalam" Dino membatin dalam hati mengingat betapa posesif dan gilanya Ardi jika menyangkut Berlian.
"Kenapa kamu senyum begitu? Gue mau ketemu Ardi" tanya Intan tersinggug.
"Tuan Ardi tidak ada di tempat Nyonya" jawab Dino sopan menahan tawa.
"Dimana dia sekarang?"
"Mohon maaf Nyonya, saya tidak bisa memberitahu"
Intan menelan salivanya geram tidak percaya Ardi tidak di kantor.
"Gue nggak percaya, gue mau masuk ke atas"
"Silahkan ke atas kalau tidak percaya, Tuan Ardi tidak ada di tempat untuk beberapa hari ke depan" jawab Dino santai sambil melihat jam tangan mahalnya.
"Kapan dia balik kerja?"
"Mohon maaf Nyonya, saya ada meeting. Permisi" tutur Dino sopan meninggalkan Intan, tanpa menjawab peryanyaan Intan. Sikap Dino sopan tapi cukup membuat Intan kesal dan merasa terabaikan.
Melihat ekspresi Dino, Intan percaya kalau Ardi tidak ada di kantor. Dengan menahan kesal dan malu, Intan berbalik arah meninggalkan kantot. Dari tempat duduknya resepsionist dan satpam melihat adegan Intan dan Dino, mereka saling bergosip menertawai Intan.
"Hihihi malunya ya?"
"Iyah, nggak tau kali kalau udah ada Nyonya Berlian di hati Tuan Ardi"
__ADS_1
"Emang sih cantikan Non Intan. Tapi gue tim Nyonya Berlian"
"Iyalah kalau jadi istri, Nyonya Berlian kemana-mana"
"Meski nggak cantik-cantik amat, tapi manis nggak ngebosenin, ramah lagi. Tatapanya teduh banget. Apalagi lesung pipitnya pas senyum gemes banget"
"Iya"
Tanpa sengaja saat Intan lewat Intan mendengar percakapan karyawan yang bergosip. Intan membanting pintu mobilnya menahan kesal. Dia tidak menyangka tentang apa yang dibicarakan resepsionist itu.
Intan mengeraskan rahangnya dan mencengkeram stir mobilnya.
"Jadi dia udah punya pasangan? Berlian? Siapa dia? Kenapa gue baru denger" batin Intan sambil berfikir.
Anak buahnya tidak pernah memberitahu kalau Ardi pernah jalan berdua dengan wanita. Kenyataanya, Ardi belum pernah kencan keluar bersama Alya. Berbeda saat bersama Intan, tiap weekend Intan mengajak Ardi shopping dan makan.
Intan mengambil ponselnya dan menelfon Sinta memastikan siapa Berlian yang disebut resepsionis.
"Ya Sis, hello, gimana? Ketemu?" tanya Sinta menjawab telepon Intan.
"Siapa nama gadis panti yang lo ceritain satu mobil bareng Ardi?" tanya Intan langsung pada intinya.
"Alya" jawab Sinta tidak tahu nama panjang Alya.
"Oke" jawab Intan lalu mematikan telepon. "Berarti emang bukan gadis itu. Siapa Berlian?" batin Intan penuh tanda tanya, lalu melajukan mobilnya pergi.
****
Rumah Sakit.
Setelah bertanya ke perawat. Karena perdarahan Alya sudah membaik. Alya diperbolehkan mandi di kamar mandi dengan syarat duduk. Dengan sigap dan bersemangat Ardi menyiapkan kursi di kamar mandi dan menggendong Alya untuk mandi.
"Hati-hati dong mas. Nanti infusnya lepas lagi" ucap Alya memperingati suaminya, saat suaminya membantu melepaskan piyama atasnya. "Sakit tau diinfus berkali-kali".
"Iya sayang, cerewet banget sih! Mas udah hati-hati banget"
"Bantuin cuci rambut dulu ya" pinta Alya merasa paling susah mencuci rambut saat tanganya diinfus. Padahal rambutnya berasa sangat lepek karena tertutup jilbab terus.
"Iya, jangankan rambut, semuanya juga mas mau"
"Mulai deh. Nggak jadi mandi ajalah!" jawab Alya sewot.
"Besok ke salon yah? Apa kita undang ke rumah. Rambutmu udah kepanjangan. Mas pengin liat kamu rambut pendek" ucap Ardi sambil membilas sampo dirambut Alya.
"Iyah" jawab Alya pelan menahan kantuk, menikmati pijatan Ardi di kepala Alya.
"Rambut udah bersih, dibuka semua ya" tutur Ardi meminta Alya melepas semuanya, karena Alya masih memakai pakaian dalam. Alya yang sedang bergantung dan tidak berdaya, mengikutinya dengan patuh.
Ardi dengan teliti memandikan istrinya, mengguyur dengan pelan. Lalu menggosok sabun dengan lembut ke tubuh Alya menggunakan washlap. Sampai akhirnya kenormalan Ardi sebagai laki-laki datang saat tanganya sampai di tempat yang dia suka.
"Mas ih! Geli tau, mau ngapain" bentak Alya spontan merasa geli. Tanganya reflek melindungi kedua aset berharganya dari tangan suaminya.
"Biasanya kamu paling suka kalau mas main di situ" jawab Ardi nakal.
"Mas ini rumah sakit, bukan apartemen atau rumah" tegur Alya marah
"Iya mas tau"
"Udahan ajalah. Sana keluar!" ucap Alya ngambek.
"Kenapa? Mas kan mau bantu kamu, belum selesai"
"Kalau mau bantu yang bener nggak usah aneh-aneh!" jawab Alya semakin kesal. Suaminya tidak bisa mengerti suasana, padahal nyawa anaknya sedang dalam bahaya. Alya hampir saja keguguran.
"Mas udah bener sayang. Biar bersih semuanya, mas kasih sabun lagi ya?" jawab Ardi santai membela diri masih tidak merasa bersalah.
"Stop! Mas mau apa lagi?" bentak Alya lagi tangan suaminya berulah lagi.
"Bersihin kamu lah sayang"
"Udah stop. Lian bisa sendiri" bentak Alya semakin geram.
"Nggak mas aja yang bersihin" jawab Ardi bersikukuh.
"Mas!" bentak Alya serius "Jangan buat Lian kontraksi ini bahaya!" tegur Alya lagi memperingatkan lebih keras.
"Mas kangen sayang, kita dua hari nggak ketemu, nen dikit yah!" pinta Ardi semakin terbawa hasrat kelelakianya, melihat keindahan benda kesukaanya.
__ADS_1
"Nggak! Bahaya Mas! Keluar nggak? Lian bisa mandi sendiri. Nanti kalau Lian udah selesai. Lian panggil"
"Dikit doang, masa nggak boleh? Nen doang, nggak masuk? Nggak kasian sama junior?" tanya Ardi lagi merayu terbawa hasratnya.
"Astaghfirulloh. Mas! Mas lebih sayang junior Mas, apa anak Mas?" tanya Alya penuh penekanan.
"Ya kan dia ada dari junior Mas!" jawab Ardi ngeles berjuang mendapatkan keinginanya.
"Keluar nggak! Mas tuh disuruh puasa sebentar doang ngegerutu. Lian tuh masih 8 bulan lagi harus berjuang, ini tuh anak Mas! Ngerti nggak sih" tutur Alya menahan emosi hampir menangis.
Melihat perubahan ekspresi istrinya Ardi terdiam, menelan salivanya dan mengalah.
"Iya ya, mas keluar. Maafin mas ya! Cup" ucap Ardi mengalah, mencium rambut istrinya, meletakan washlap hendak keluar.
"Awas kalau macem-macem!" tutur Alya lirih, tidak membentak lagi, lalu tiba-tiba terisak dan meneteskan air mata.
Mendengar dan melihat Alya menangis, Ardi kaget dan bingung.
"Kok kamu nangis sayang?" tanya Ardi panik. Alya tidak menjawab masih tetap menangis dan menunduk.
"Mas minta maaf. Mas salah ya? Jangan nangis dong, iya ini mas keluar" jawab Ardi berusaha menenangkan istrinya
"Hu.... hu... " Alya justru menangis lebih keras, dan semakin membuat Ardi bingung.
"Sayang kamu kenapa? Ada yang sakit? Sebelah mana?" tanya Ardi lagi tapi Alya tetap menangis.
Ardi kemudian berfikir sendiri, Alya masih sangat emosional. Ardi harus ambil tindakan.
"Ya udah mas bantu bilas bekas sabunya ya. Mas janji nggak pegang-pegang yang lain" ucap Ardi mencoba lembut. Ardi tidak mau membiarkan Alya menangis dan kelamaan di kamar mandi. Alya bisa tambah sakit karena kedinginan.
Masih dengan rasa bersalah dan bingung. Ardi tidak bicara. melanjutkan mengguyur Alya dengan hati-hati. Setelah busa sabun bersih, Ardi segera membantu Alya ke tempat tidur.
Ardi mengganti pakaian Alya dengan hati-hati. Lalu mengeringkan dan menyisir rambut Alya dengan telaten. Alya sudah tidak menangis tapi masih diam entah memikirkan apa.
"Jangan nangis lagi, jangan marah. Mas minta maaf, kamu kenapa, jangan diam, ngomong dong?" tanya Ardi lembut menyisir rambut Alya.
"Di instagram di akun gosip, banyak laki-laki pada selingkuh di saat istrinya hamil. Apa mas juga gitu?" tanya Alya sambil menangis lagi.
"Aish. Nggaklah, mas setia"
"Nyatanya mas lebih peduli sama junior mas, timbang anak Mas" jawab Alya lagi sambil terisak.
"Nggak Sayang, mas bercanda"
"Bohong, Lian juga ngrasa dan liat punya mas mengeras dan menonjol. Mana Lian tahu mas di luar gimana di saat Lian sakit begini, mas pasti pingin salurin kan?"
"Nggak sayang, ya ampun. Kok bisa kamu berfikir begitu? Sekarang aja udah tidur lagi"
"Lian kan nggak bisa penuhi mau Mas, belum lagi nanti Lian jadi gendut jelek. Sementara di luar banyak perempuan cantik atau laki-laki seperti Riko. Uang mas juga banyak dan.. "
"Ssssttt! Kamu ngomong apa sih? Kamu yang paling cantik dan menarik buat mas" jawab Ardi lembut meyakinkan istrinya.
"Bohong" jawab Alya lagi masih menangis dan curiga berlebihan.
"Mas, Lian bukan nggak mau jadi istri yang nyenengin mas, Lian bukan mau durhaka, tapi Lian takut kenapa-kenapa sama anak kita, Lian takut mas kecewa. Lian takut Mas" ucap Lian lagi mengungkapkan keminderan dan kekhawatiranya, Alya meneteskan airmatanya lagi.
"Sstt udah nggak usah dilanjutin" jawab Ardi lembut.
Mendengar penuturan istrinya sambil menangis Ardi menjadi ternyuh dan merasa bersalah. Ternyata pikiran dan perasaan istrinya sejauh itu. Kenakalan dan keusilanya ternyata membuat istrinya berpikir dalam dan khawatir. Lalu Ardi segera memeluk istrinya, mendekapnya dengan hangat dan mencium kepalanya.
"Mas tau kamu istri yang baik. Mas minta maaf. Mas janji setia dan bisa menahan, mas sungguh tidak berniat begitu"
"Janji? Mas nggak kaya orang kaya-orang kaya yang lain? Tapi Lian kan nggak pernah tau kalau mas pulang malam kemana? Sama siapa? Lian nggak tahu, ketika mas keinginan mas nggak terpenuhi di rumah mas gimana di luar?" tanya Anya lagi. hatinya masih sensitif dan takut berlebihan.
"Janji sayang. Nih mas kasih tau, junior mas itu hanya hidup kalau di dekat kamu! Sungguh!" tutur Ardi meyakinkan Alya.
"Kamu nggak perlu khawatir. Mas miliknya Alya Berlian Sari. Mas janji mas bisa tahan. Udah nggak usah mikir macem-macem. Mas pulang malem mas kerja, ketemu sama klien yang kadang minta ketemu di luar. Itu juga mas selalu sama Dino, kadang sama Arlan juga" tutur Ardi menjelaskan dan menenangkan istrinya.
"Bener? Mas malam ini nggak keluar kan?"
"Iya Bener. Mas nggak keluar, temenin kamu. Udah istirahat. Masih pusing sama mual nggak?" tanya Ardi lembut.
Alya menggeleng dan menyeka airmatanya.
"Udah jangan nangis. Maafin mas egois, sini tidur lagi" ucap Ardi lagi menata bantal dan membantu Alya istirahat.
"Mas ikut tidur di sini nggak apa-apa kan?" tanya Ardi masih di atas bed.
__ADS_1
Alya mengangguk dan setuju jika suaminya menemani dia tidur. Lalu Ardi ikut berbaring dan memeluk istrinya hangat.
"Percaya sama mas ya, nggak usah mikir macem-macem, mas minta maaf" bisik Ardi lagi ke Alya sambil mengelus rambutnya. Lalu mereka berdua terlelap.