Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
60. First Kiss


__ADS_3

"Bangun, katanya haus" ucap Ardi menarik selimut Alya.


"Ish jangan ditarik" Alya mempertahankan memegang selimut agar tidak dibuka Ardi. Alya merasa tidak nyaman memakai baju dengan bahu dan dada terbuka.


"Katanya haus?" ledek Ardi ingin istrinya keluar dari balutan selimut.


"Nggak, udah ilang hausnya, aku mau tidur!" jawab Alya semakin mengencangkan selimut menutupi wajahnya.


"Mana ada obat haus selain minum?"


"Ada, nyatanya aku udah nggak haus lagi"


"Emang apa?"


"Dibentak suami" jawab Alya terkekeh di balik selimut.


"Huh dasar!" Ardi mendengus sambil mengacak-acak rambut Alya yang menyembul di atas selimut.


"Apa siih? Jangan sentuh-sentuh" jawab Alya manja dari dalam selimut.


"Kriiiing - kriiing" ponsel Ardi berbunyi. Ardi mengambil ponselnya dan berjalan ke balkon kamar mengangkat telepon dari seseorang.


Alya juga mendengar bunyi telepon, dia membuka selimutnya sampai bawah dagu, dilihatnya suaminya menjauh sembari mengobrol akrab dengan seseorang.


"Akrab sekali? Apa mungkin pacarnya? Ah masa bodo. Aku mau tidur saja" gumam Alya berusaha menguping pembicaraan Ardi tapi tidak bisa karena jauh.


Tidak berapa lama Ardi menutup teleponya dan duduk di samping Alya. Melihat Ardi duduk di sampingnya Alya langsung gerogi dan menutup selimutnya kembali.


"Kenapa ditutup? Aku ingin melihat wajah istriku" tutur Ardi mendekat ke Alya lagi.


"Apa sih, Istri istri, istri apaan?" jawab Alya malu-malu selalu dipanggil istri.

__ADS_1


"Apa kamu juga selalu bersikap seperti ini saat bersama Farid?" tanya Ardi tiba-tiba.


"Hah? Apa?" Alya membuka selimutnya lagi mendengar kata Farid.


"Apa kamu juga sebawel ini saat bersama Farid?" tanya Ardi lagi mengulangi.


"Farid? Kak Farid maksudnya? Enggaklah" jawab Alya cepat. Lalu Alya bangun dan duduk bersandar masih tetap menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Kak Farid itu baik, sopan, lembut, nggak kaya kamu, tentu saja aku juga sangat menghormatinya" jawab Alya semangat menceritakan Farid.


"Semangat banget ngebahas Farid, sampe bangun gitu. Buka selimutnya" sahut Ardi berusaha meraih selimut, ingin melihat Alya terbuka lagi.


"Nggak! Apa sih!" jawab Alya mode on memegang erat selimutnya.


"Apa Farid pernah melihatmu?" tanya Ardi lagi.


"Apa maksudnya? Tentu saja dia pernah melihatku. Bahkan kita pernah makan bersama, ngajar bersama juga" jawab Alya terus terang dan semangat menceritakan Farid.


"Apa Farid pernah melihat rambutmu, kakimu? Lehermu? Daan itu mu?" tanya Ardi lagi menunjuk ke dada Alya.


"Apa sih? Nggak jelas" jawab Alya kesal ditunjuk arah sensitifnya.


"Jawab pertanyaanku!" tanya Ardi sedikit meradang.


"Tentu saja tidak! Aneh banget sih pertanyaanya, kita kan ketemu saat di panti bersama anak-anak, mana ada hal-hal seperti itu, dia itu Alim, nggak cabul kaya kamu!" jawab Alya kesal semakin mengeraskan rahang Ardi.


"Maksudmu? Apa jadi dimatamu dia sangat baik? Aku tidak? Terus apa kamu bilang? Aku cabul? Memang apa yang aku lakukan terhadapmu?" jawab Ardi mendekatkan wajahnya ke Alya dengan tatapan tidak bisa diartikan.


Alya menelan salivanya berhadapan sedekat itu dengan suaminya.


"Ma-ma-maksudku, dia selalu menjaga jarak dariku? Tidak sep"

__ADS_1


"Cup" Ardi menghentikan omongan Alya dengan bibirnya. Mata Alya membulat merasakan sesuatu yang kenyal, hangat dan basah dibibirnya. Ini adalah pertama kalinya di hidup Alya. Ya, ciuman pertama kali dari suami dadakanya. Alya diam pasrah karena kaget.


Ardi menyadari tidak ada balasan dari istrinya, dia segera melepaskan bibirnya. Ardi tahu kalau ini ciuman pertama Alya, jadi Ardi memahami kalau Alya hanya diam dan tidak membalasnya. Bahkan keringat Alya bermunculan di keningnya.


"Jangan bandingin aku sama dia, tidurlah! Aku mau pergi, mungkin aku pulang malam, tetap tidur di sini. Aku kunci dari luar. Jangan coba-coba kabur!" ucap Ardi dingin lalu mengambil jaket dan pergi.


Alya yang masih kaget hanya bisa diam terpaku melihat suaminya pergi entah kemana. Alya melihat jam dinding, sudah jam 9 malam lebih.


"Mau kemana dia? Pulang malam? Sekarang juga kan sudah malam" gumam Alya dalam hati melihat ke arah pintu. "Ya Tuhan dia menciumku? Puk Puk" Alya menepuk pipinya berharap semuanya mimpi tapi ternyata semua memang nyata. Alya memegangi dadanya yang berdegup kencang.


"Dia memang tampan Ya Alloh, sangat tampan malah, dia juga kaya, tapi suami idamanku bukan seperti dia, kenapa ciuman impianku berakhir seperti ini? Haish" Alya menutup mukanya dengan bantal.


Selama ini Alya selalu bermimpi mendapat suami, sesama dokter atau dosen di kampusnya yang sama-sama berasal dari pesantren. Bukan sepert Gery, Ardi ataupun Farid, Farid nyerempet-nyerempet. Tapi belum memenuhi kriteria Alya. Bahkan beberapa kali bersama Ardi, Ardi meninggalkan sholat Fardlu.Dan entah seperti apa pergaulanya selama ini.


Alya membayangkan mempersembahkan ciumanya di tempat yang romantis dan syahdu dengan orang yang dicintainya. Alya juga selalu membayangkan pernikahan yang sakral, berkesan dan membuat ibunya bangga. Tapi apa yang didapat Alya sekarang, menikah karena tertuduh, sama orang yang baru dikenal, dan sekarang Alya bahkan merahasiakan dari teman-temanya.


"Ish ish ish dasarrr laki-laki nyebelin!" Alya memukul-mukul selimutnya sendiri. Lalu Alya bangun mengambil air putih di atas meja. Setelah itu Alya berjalan ke meja rias. Alya memandangi dirinya di kaca, Alya memang sangat seksi.


"Ck...malunya aku, bahkan aku bersamanya dengan seperti ini? Ya Tuhan, jadi dia benar-benar suamiku? Apa ini sungguh takdirku?" Alya duduk sejenak di depan cermin.


Alya baru ingat kalau dari tertidur di perjalanan sampai sekarang belum memegang ponselnya. Dan entah dimana ponselnya. Karena Alya sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa tiba-tiba bangun bersama suaminya di kamar.


Alya berjalan mengelilingi kamar Ardi, dibukanya setiap laci. "Alhamdulillah ketemu" Alya tersenyum bahagia mendapati tas dan ponsel pemberian Gery di laci ruang ganti. Alya membuka ponselnya. Banyak sekali pesan dari ibunya, Gery dan teman-teman Alya.


"Astaghfirulloh, bahkan aku belum ngabarin ibu, tapi kalau telfon jam segini pasti ibu sudah tidur, maafin Alya Bu. Aku kirim pesan saja" gumam Alya membaca pesan ibunya, lalu membalas dengan beralasan ponselnya lowbat.


Selanjutnya Alya membaca pesan dari Gery. Meski sepakat menjadi sahabat, Gery masih gencar mendekati Alya. Gery selalu menanyakan jadwal Alya hari itu jaga apa? Bagaimana keadanya, Alya tinggal di apartemen Megayu lantai berapa?


"Ck, dia tidak berubah, kasian Dokter Mira. Apa aku bilang saja ya, kalau aku sudah menikah? Ah tapi sangat memalukan"


Terakhir Alya membaca pesan dari teman-temanya dan membaca jadwal jaga rumah sakit Alya, untuk hari besok. Rupanya Alya jaga pagi dan sorenya lembur menggantikan jadwal Anya. Itu artinya besok Alya harus bersiap bangun pagi-pagi. Apalagi baju-baju kerja Alya ada di apartemen. Bisa dari subuh Alya harus berangkat dari Rumah mertuanya ini.

__ADS_1


Alya menutup ponselnya. Menuju ke kamar mandi, cuci muka sikat gigi dan berwudzu. Selesai sholat dan memakai skincare Alya segera merebahkan tubuhnya ke selimut. Beruntungnya Ardi pergi jadi Alya bisa tidur dengan leluasa.


__ADS_2