
Rumah Tuan Aryo.
"Tuan, Pak Rudi memberi kabar Nyonya Intan beserta putranya ada di rumah besar" tutur Dino saat Ardi bersiap-siap untuk pulang ke apartemen.
"Sial, berani dia datang?" tanya Ardi menghela nafasnya.
"Pak Rudi dan Bu Siti sudah berusaha mengusirnya tapi Nyonya Intan bersikukuh menunggu Tuan"
"Oke, pastikan dia nggak tahu klo gue tinggal di Aerim. Kita ke rumah Papah sekarang!" jawab Ardi mengajak Dino mengantarnya ke rumah Tuan Aryo. Mereka berdua pun pergi ke rumah Tuan Aryo.
"Tuan" panggil Dino ke Ardi.
"Ya, kenapa?"
"Sepertinya Tuan Wira bukan orang yang mudah melupakan rasa kecewa, Tuan"
"Saya tau!"
"Sekarang Nona Intan juga berani muncul, apa rencana Tuan?"
"Saya mau bulan madu dengan istriku" jawab Ardi santai membuat Dino mengernyitkan dahi.
"Ehm!" Dino hanya berdehem tidak berani melanjutkan pertanyaanya.
"Nggak usah dipikir Din, santai saja! Pastikan tidak ada yang tahu tentang Berlian"
"Baik Tuan"
Sekitar 20 menit mereka sampai di kediaman Tuan Aryo. Benar saja di depan rumah terparkir mobil Aston martin berwarna silver. Di bangku kolam ikan tampak perempuan cantik berambut hitam legam terurai memakai dress warna krem, sangat anggun seperti model. Ya dia Intan mantan Tunangan Ardi. Perempuan itu tampak sedang menyuapi bayi laki-laki yang sedang duduk di stroller.
Dino dan Ardi berjalan menghampiri perempuan dan bayinya itu.
"Apa aku harus menyediakan tempat bermain di rumahmu sampai kamu harus datang ke sini?" ujar Ardi tiba-tiba.
Mendengar orang yang ditunggunya datang. Intan menyunggingkan senyum sinisnya dan meletakan makanan balita itu di kursi.
"Hai Sayang, sudah pulang rupanya? Lihat bayi kita, dia sangat merindukanmu!" ucap Intan manja menatap mantan tunanganya itu.
"Cih. Dasar tidak tahu malu, kemasi barangmu dan tinggalkan tempat ini!" jawab Ardi tegas.
"Ardi.... Ardi..." ucap Intan sebelum Ardi pergi, "Kamu mengakui atau tidak mengakui, dia adalah anakmu, jadi pelankan suaramu, berbicara kasar di depan anak tidak baik untuk psikologisnya, 1 tahun dia merindukan mu, apa kamu tidak ingin melihatnya?"
"Dengar ya Intan, sejak perbuatan hinamu itu, hubungan kita sudah berakhir. Saya tidak pernah menyentuhmu, dan jangan pernah bawa hasil kotormu ini ke hadapanku!"
"Tega sekali kamu bilang anakmu dengan perkataan seperti itu, dia anakmu, dan sampai kapanpun dia anakmu. Akan ada nama Gunawijaya melekat di namanya" jawab Intan ngotot.
__ADS_1
Ardi mengeratkan rahangnya karena geram. Dino hnya memperhatikan Tuan dan mantan tunanganya itu dari kejauhan.
"Sudahi kegilaanmu sebelum aku menghancurkanmu!" ucap Ardi geram.
"Kamu mengancamku?" tanya Intan dengan wajah berani.
"Aku hanya berusaha bersikap baik terhadapmu, bawa anakmu pada ayahnya jangan salah alamat ke rumahku!"
"Ingat malam itu Ardi, kita bermalam bersama, dan kita melakukan itu dia anakmu!"
"Cukup Intan!" bentak Ardi geram. "Aku bisa buktikan, dia bukan anakku, jangan sampai aku menggunakan cara kasar untuk memperingatimu. Kemasi barangmu dan pergi dari rumahku!"
"Baiklah kalau itu mau kamu. Jangan salahkan aku kalau aku harus menempuh jalanku agar kamu mengakuinya! Semua orang tahu kalau kita pernah bertunangan" jawab Intan mengancam.
"Haha, Intan Intan, bangun dari mimpimu, kamu lihat wajah anakmu, dari kulit, rambut dan hidungnya seluruh dunia tahu kalau dia bukan anakku!" jawab Ardi mengejek, belum memberitahu Intan bahkan dia sudah cek DNA.
Intan menalan salivanya mendengar penuturan Ardi.
"Aku yakin kamu masih mencintaiku, tidak bisakah kita kembali baik-baik, aku minta maaf atas salahku, dia anakmu, kenapa kamu tidak mengakuinya dan kamu masih menyangkalnya. Dia masih kecil tentu saja wajahnya berubah-ubah" jawab Intan lagi tidak menyerah.
"Terserah kamu mau bilang apa Intan, aku lelah menghadapi kegilaanmu. Satu lagi sedikitpun tidak ada sisa perasaanku terhadapmu dan jangan berharap aku bisa kembali ke kamu! Pergi sekarang juga!" ucap Ardi tegas lalu meninggalkan Intan dan menutup pintu dengan kasar.
Bukan Intan namanya kalau mudah menyerah. Dia justru tersenyum sinis dan menyibakkan rambutnya. Didorongnya stroller anaknya dan masuk ke mobil. Pergi meninggalkan rumah mantan tunanganya itu.
Dino tinggal bersama Ardi sampai maghrib. Setelah menunaikan sholat maghrib dan makan malam. Dino meninggalkan Rumah Tuan Aryo. Sementara Ardi melanjutkan pekerjaanya di ruang kerja.
****
Apartemen Aerim.
Seharian itu Alya libur. Ternyata suaminya hari kemarin sudah membawa pakaian panjangnya di kardus. Sehingga Alya merasa tidak perlu membeli baju seperti yang diperintahkan suaminya. Alya justru membelikan baju untuk kedua pelayanya. Alya juga, membelikan baju untuk anak-anak panti.
Menepati janjinya, Alya ke panti sebelum dzuhur. Sehingga dia tidak bertemu dengan Farid. Alya hanya bertemu dengan anak-anak TK dan SD. Alya bermain sebentar dan memberikan baju sebagai hadiah untuk anak-anak. Alya juga menyempatkan diri bermain di kebun dan ruang jahit. Setelah dzuhur tiba, Alya bersiap-siap pulang.
Sesampainya di apartemen Alya menghabiskan waktunya bersama Mia dan Ida. Bercerita dan menonton film. Ida dan Mia sangat bersyukur mempunyai majikan seperti Alya. Karena Alya tidak menganggap mereka pelayan melainkan teman. Mereka diajak nonton drama bareng makan bareng bahkan saling curhat.
"Mia, Ida" panggil Alya sambil nonton drama korea.
"Iya Non"
"Kalian kerja sama Mama Rita berapa lama sih?"
"Saya dari kecil Non, saya disekolahkan Nyonya Rita, kemudian saya memutuskan untuk melayani Nyonya" jawab Ida jujur.
"Oh gitu, apa dulu tinggal di panti juga?"
__ADS_1
"Nggak Non. Pas Bu Rita tolongin saya, Bu Rita belum punya panti sebesar sekarang" jawab Mia menimpali.
"Kalian punya keluarga?" tanya Alya lagi
"Tidak!" jawab Mia dan Ida berbarengan. Alya kemudian melotot memandangi kedua sahabatnya.
"Maaf"
"Keluarga kita ya Bu Rita dan seisi rumah. Kita dulu pengamen jalanan Non. Orang tua saya pergi nggak tau kemana" jawab Mia yang masalalunya anak preman.
"Saya dulu tinggal di kolong jembatan Non, ibu dan bapak saya meninggal. Saya buruh kuli angkut di pasar, saya bertemu Bu Rita pas umur 13 tahun" sahut Ida menimpali.
Alyapun tersenyum, memeluk kedua sahabatnya.
"Sabar yah. Kalian pasti rindu dengan orang tua kalian"
"Nggak Non!" jawab Ida dan Mia bersama. "Kami sudah mengikhlaskan mereka, kami hanya berdoa mereka hidup dengan baik. Kalaupun sudah meninggal itu lebih baik" lanjut Mia mengungkapkan isi hatinya
"Kok gitu? Nggak boleh gitu"
"Orang tua saya preman Non. Kalau masih hidup hanya ngebuat onar, saya aja takut kalau ketemu"
"Kan siapa tahu udah berubah, kamu tidak ingin mencari mereka?" tanya Alya lagi.
"Nggak Non. Kalaupun Alloh temuin saya senang tapi berharap orang tua saya berubah. Kalau tidak ya sudah saya hanya berdoa yang terbaik" jawab Mia lagi.
"Udah sih Non, daritadi bahas kita terus. Kita juga udah cerita tentang keluarga Bu Rita detail. Gantian Non yang cerita" jawab Ida tidak sopan memotong percakapan Mia dan Alya.
"Eh? Aku? Kalian ingin dengar apa dari aku?" tanya Alya manyun.
"Hehehe, tapi janji Non mau ceritain semuanya?" tanya Mia nyengir.
"Ehm" Alya berdehem merasakan hawa-hawa tidak enak dari pembantunya yang nglunjak ini.
"Sedikit aja Non" imbuh Mia, merayu Alya.
"Ya tergantung, emang kalian mau aku cerita apa? Tentang pernikahanku? Kan tadi udah aku ceritain, kalau aku dijodohin karena Bu Rita dan Ibuku berteman. Kita nikah di Jogja" jawab Alya jujur tapi Alya hanya menceritakan sekilas tentang pernikahanya.
"Bukan. Bukan itu" jawab Mia.
"Terus?"
"Mia pengen tau. Gimana sih rasanya ma-lam pertama?" tanya Mia lirih. Membuat Ida dan Alya melotot lalu melempar bantal ke Mia.
"Ishhh dasar kamu yaa! Nggak! Itu rahasia"
__ADS_1