Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
218. Super Pel


__ADS_3

Untuk pertama kalinya meja makan keluarga Tuan Aryo dipenuhi lengkap penghuni keluarganya. Ada Tuan Aryo, Bu Rita, Ardi, Alya dan Bu Mirna.


Malam itu mereka menyantap hidangan makan malam dengan lezat. Tanpa tahu malu terhadap ketiga orang tuanya, Ardi dan Alya suap-suapan dengan tanganya.


Buat Ardi rasanya menyenangkan. Sementara Alya malu sendiri. Malu sama umur malu mertua dan ibunya.


"Lian bisa makan sendiri Mas" bisik Lian dengan tatapan kesalnya.


"Ini enak lho cobain" ucap Ardi memberikan potongan ikan bakar tidak peduli.


"Iya tau, Lian juga bisa ambil sendiri kok" jawab Alya udah nggak tahan sama keribetan suaminya.


"Kalian ini, udah tua, makan ribut aja!" lerai Bu Rita.


"Ardi kan pengen anak Ardi sehat Mah, Lian makanya dikit gitu, jadi Ardi suapin" jawab Ardi membela diri.


"Selesaikan makan kalian! Kita bahas rencana resepsi ya! Mama mau akhir pekan ini kalian resepsi"


"Minggu ini Mah?" tanya Ardi kaget.


"Iya" jawab Bu Rita mantap.


"Iya kan Pah?" sambung Bu Rita meminta pendapat ke Tuan Aryo.


Bu Mirna dan Alya yang sudah lebih dulu tau diam tanpa ekspresi. Sementara Tuan Aryo sambil mengelap bibirnya dengan tissu mengangguk setuju.


"Katanya 1 bulan lagi Mah?" tanya Ardi menawar agar bisa mengulur waktu.


"Usia kehamilan istrimu sudah masuk 4 bulan, perutnya mulai membesar. Kasian dia kelamaan" jawab Bu Rita.


"Saya juga mau balik ke Jogja, Nak. Nggak apa-apa kalau dipercepat" sambung Bu Mirna.


"Ke Jogja?" tanya Bu Rita dan Ardi.


"Ibu mau balik ke Jogja?" tanya Ardi


"Lhah terus mau apa di sini? Ibu kan mau jengukin kamu, kamu udah sembuh, yo ibu udah selesai urusanya, yo pulang noo" jawab Bu Mirna.


"Udah sih Jeng, daripada di Jogja sendirian, mending di sini aja. Temani aku!" tutur Bu Rita.


"Terima kasih Jeng, bukan aku nggak betah di sini? Tapi aku di sini nggak ngapa-ngapain. Aku pengin beraktivitas, bingung juga kalau berdiam diri" jawab Bu Mirna lagi.


"Pokoknya bahas resepsi dulu, abis itu 4 bulanan, baru boleh pulang ke Jogja"


"Kelamaan Jeng, setelah resepsi aja. Kasian Lastri urus rumah sendiri"


"Nggak pokoknya, setelah 4 bulanan. Kalau kamu bosen nanti aku ajak jalan-jalan dan ke yayasanku, bebas mau apa? Mau masak? Bertani, semua ada" jawab Bu Rita memaksa Bu Mirna untuk tetap tinggal di Jakarta.


"Baiklah kalau begitu" jawab Bu Mirna.


"Ya sudah, Nak Alya, Ardi. Habiskan makan kalian, Papa tunggu di ruang tengah" ucap Tuan Aryo bangun dari tempat duduknya dan bergegas ke ruang tengah tempat keluarga bisa mengobrol dengan nyaman dan santai.


Kini tinggal dua anak tunggal yang dipersatukan takdir itu. Karena sibuk menyuapi Alya, Ardi jadi belum selesai.


"Kan, gara-gara Mas, yang lain udah selesai kita belum. Malu kaan?" omel Alya ke Ardi.


"Sayang, apa yang harus dimaluin, mereka orang tua kita. ******** kita aja dulu dirawat sama Mamah Papah, masa gini doang malu"


"Maaas, beda urusanya lah"


"Ya terus? Salah ya Mas perhatian ke kamu? Ya udah nih makan sendiri!" jawab Ardi ngambek.


Alya mengernyitkan dahi melihat suaminya konyol dan aneh.


"Kok mas sensi sih? Gitu aja ngambek!"


"Ya ngambeklah, Mas tersinggung ditolak terus sama kamu"


"Bukan itu maksudnya"


"Apa?"


"Lian tuh seneng kok manja-manjaan gitu, tapi liat tempat dan waktu. Kita kan udah tua. Jangan ngambekan juga" tutur Alya menasehati.


"Bodo lah! Iya mas tau nggak bisa so sweet kaya orang-orang. Mas kan cuma pengen perhatian ke kamu" jawab Ardi masih tersinggung.


Semenjak melihat resepsi Gery dan lamaran Farid, sesungguhnya ada rasa iri di hati Ardi. Ardi jadi ingin terus kasih perhatian Alya. Sayangnya perhatian yang overdosis justru salah.


"Ih iya ya, nggak usah cemberut gitu? Mas so sweet banget kok. Makasih ya? Udah nggak marah lagi kan?" tanya Alya


"Marah"


"Ya ampun, serba salah terus Lian mah"


"Ya kamu mas mau nyuapi doang salah"


"Ya udah mana makanya, sini suapi Lian!" ucap Lian akhirnya tidak sabar.


"Nggak, kamu terpaksa, dah makan sendiri aja"


"Nggak suamiku sayang, Lian mau disuapi, Aak" jawab Alya akhirnya terpaksa menyenangkan hati Ardi.


"Senyum dulu!"


"He..." Alya nyengir kepaksa daripada ribut nggak selesai makanya. Padahal dalam hati,


"Ya ampun, Tuhan, kasih aku kesabaran, suamiku lebaynya kebangetan"


"Nah gini dong" ucap Ardi bahagia Alya nurut. Lalu Ardi menyuapi Alya dengan banyak lauk dan sayuran.


Setelah makan Alya habis, Ardi memakan nasi sisa yang ada di piring Alya.


****


Di ruang besar dan cerah, yang di sisi tembok tengah terpasang televisi besar. Lalu beberapa Vas indah berdiri menghiasi. Tuan Aryo, Bu Mirna dan Bu Rita berkumpul menunggu anak dan menantunya.

__ADS_1


Tehampar karpet bulu yang bersih dan tebal di tengah ruangan. Di atas karpet berdiri sofa panjang dan empuk, mereka bertiga menyandarkan kepalanya di situ.


Ardi dan Alya kemudian menyusul. Ikut duduk lesehan di atas karpet sambil memeluk bantal sofa. Kemudian mereka memulai rapat keluarga.


"Mua, katering, foto, undangan udah beres mamah yang urus" ucap Bu Rita.


"Mamah undang berapa orang?" tanya Ardi.


"Nggak banyak sayang, 500 aja"


"Mah 500 itu banyak" jawab Ardi lagi.


"Ardi tadinya itu beribu-beribu. Mamah cuma undang yang terdekat dan saudara aja karena waktunya mepet"


"Mah"


"Ya udah kalau 500 masih protes Mamah undang 5000"


"Ya udah iya. Ardi ikut mamah, 500 aja. Emang mau dimana tempatnya?"


"Ya ini Mamah mau tanya ke kalian"


"Lhoh, udah tinggal seminggu, tempat belum ditentuin Mah?" tanya Ardi merasa persiapan Mamahnya kurang tepat.


"Nggak usah protes itu urusan gampang, tentuin aja, nanti ada yang urus" jawab Bu Rita.


"Yang deket dan simple aja Mah"


"Hotel luxury"


"Kebesaran Mah, kita kan 500 undangan, nggak!"


"Di hotel Eksklusif aja"


"Nggak Mah, kejauhan"


"Lha terus mau dimana? Tadi di hotel luxury kebesaran, sekarang ke gedean, Ck" Bu Rita berdecak kesal.


"Mah, waktu kan tinggal beberapa hari lagi, nggak usah yang mewah-mewah, kita kan punya kafe danau, ball roomnya juga muat kalau cuma 500 orang, di kafe kita aja. Sekalian syukuran dan ngenalin kafe kita" usul Ardi menyarankan di kafe danau.


"Papa setuju" ucap Tuan Aryo memutuskan setelah dari tadi diskusi di kuasai Ardi dan Bu Rita.


"Ya sudah kalau mau di kafe danau, nggak buruk sih" tutur Bu Rita setuju.


"Udah ini aja yang dibahas?" tanya Ardi.


"Ntar dulu! Alya gimana? Ada saran sayang?" tanya Bu Rita.


"Nggak ada Mah" jawab Alya.


"Terus untuk gaun gimana Al? Mau pasrahin ke MUA? Ambil di butik atau gimana?" tanya Bu Rita lagi.


Membahas gaun Alya diam. Alya kan sedang menunggu balasan dari Intan. Alya menatap suaminya, peringatan saat di kamar tadi masih dia ingat jelas. Tidak boleh sebut-sebut nama Intan.


"Oke, berarti udah setuju semua ya. Papah rasa cukup ya?" tanya Tuan Aryo.


"Iya Pah" jawab semua keluarga.


"Ardi ikut Papah ke ruang kerja, ada yang mau Papah diskusikan" tutur Tuan Aryo bangun.


"Ya Pah" jawab Ardi manut.


Entah apa yang dibahas anak dan ayah itu. Di Ruang tengah kini tinggal para perempuan. Mereka kemudian menyalakan televisi menikmati sajian sineteron.


Alya yang tidak begitu suka melihat televisi, diam menyimak demi menghormati kedua perempuan yang dia sayangi. Daripada gatal, tanganya dianggurkan, Alya berniat mengambil ponselnya di kamar.


"Bu, Mah, Lian ambil hp dulu ya" pamit Alya.


"Mau telpon siapa sih Nduk?" tanya Bu Mirna


"Hee.. nggak ada pengen liat hp aja Bu"


"Wong lagi ngumpul mbok nggak usah hape terus" tegur Bu Mirna


"Takut ada yang penting Bu" jawab Alya beralasan.


"Ya udah sana ambil, nggak apa-apa!" jawab Bu Rita menengahi, dan membela Alya.


"Ya Mah" jawab Alya tersenyum.


Lalu Alya berjalan ke kamar, melewati tangga.


"Aaak...." tiba-tiba Alya teriak memegangi pagar di pinggir tangga.


Bu Rita dan Bu Mirna kaget mendengarnya, mereka bergegas melihat Alya. Alya terlihat terjatuh, tapi masih menggantung, berusaha agar tidak jatuh semakin melorot ke bawah.


"Alya... ya Tuhan kamu kenapa?" teriak Bu Rita dan Bu Mirna lalu mendekat ke Alya.


"Kamu nggak apa- apa sayang?" tanya Bu Rita memegangi Alya, dan membantunya bangun.


Dilihatnya tangan Alya lecet kegores sisi tangga, dan ujung dahinya memar karena membentur tangga. Entah bagaimana dengan perutnya.


"Nggak apa-apa Mah, Alya kaget aja. Alya kurang hati-hati jalanya" jawab Alya berusha duduk di tangga dan mengelus perurnya.


"Untung kamu pegangan Nak. Kalau ndak kamu udh ngguling ke bawah lho, gimana bisa jatuh begini?" tanya Bu Rita khawatir dan memperhatikan seluruh tubuh Alya.


"Nggak apa-apa Mah. Lian jalanya ngalamun" jawab Alya merasa dirinya kesleo aja.


"Tanganmu berdarah lho sayang? Perutmu gimana? Mules nggak? Sakit nggak?"


"Nggak Mah, Alhamdulillah Alya berhasil menahan perut, jadi nggak kebentur. Dhedhek aman insya Alloh, cuma gemeteran aja"


"Coba mamah liat kakimu, kita ke Dokter ya. Mamah panggil Ardi dulu" tutur Bu Rita khawatir.


"Ini minyak apa air apa sabun pel ya?" celetuk Bu Mirna menggerakan ibu jari dan jari telunjuknya, mengambil sampel suatu cairan di tangga Alya terpeleset.

__ADS_1


Ternyata dari tadi Bu Mirna melihat ke bawah dan meneliti. Bu Rita dan Alya ikut melihat lantai tangga. Memang ada cairan kuning tercecer.


"Ck. Ini sabun super pel. Gimana sih, udah tau penghuninya ibu hamil dan orang tua pada nggak hati-hati" gerutu Bu Rita kesal.


"Mungkin nggak sengaja tumpah Mah. Alya yang nggak hati-hati. Maafin Alya ya Mah" tutur Alya berusaha tidak memperbesar masalah dan Bu Rita tidak memarahi pembantu.


"Nggak sayang, ini sepele tapi penting! Mereka harus dikasih tau!" jawab Bu Rita.


"Lain kali kalau jalan hati-hati Nduk. Ayo istirahat" sambung Bu Mirna.


"Bentar ya Bu, Mah, kaki dan tangan Lian gemeteran, biar Lian istirahat dulu"


"Mamah panggil Ardi biar gendong kamu kalau gitu"


"Jangan Mah. Nanti Mas Ardi lebay lagi. Lian nggak apa-apa sungguhan"


"Tangan kamu lecet lho, harus dibersihkan, bisa infeksi nanti. Kakimu juga buat jalan pasti ngilu. Udah Mamah panggil Ardi aja"


"Ini udah mulai ilang kok, Alya bisa jalan sendiri" ucap Alya menggerakan kaki dan tanganya. Dan berusaha berdiri.


"Ada apa ini?" tanya Ardi tiba-tiba.


Tuan Aryo dan Ardi ternyata sudah selesai dengan urusanya. Alya menelan salivanya menunduk takut dimarahi Ardi.


"Bantu istrimu, dia terkilir hampir saja ngegelundung" ucap Bu Rita.


Dengan wajah panik Ardi langsung turun menghampiri istrinya.


"Kamu nggak apa-apa Sayang? Mana yang sakit? Mana yang terluka? Kita ke dokter sekarang ya" tanya Ardi mengecek keadaan istrinya.


"Lian nggak apa-apa Mas" jawab Alya tersenyum.


Lalu Ardi segera menggendong Alya ala bridal, menuju ke kamarnya.


"Mas panggil Dokter ya" ucap Ardi.


"Nggak usah, Lian bisa obati sendiri"


"Tapi kamu sakit sayang"


"Ambilkan kotak obat di situ. Lian obatin sendiri, terus kardus dopler di lemari bawah juga"ucap Alya menunjuk lemarinya.


Beberapa waktu lalu Alya memang belanja alat kesehatan untuk memantau kesehatan dirinya. Alya membeli dopler untuk mengecek denyut jantung bayinya. Kertas lakmus buat jaga-jaga air ketubanya pecah dan obat-obatan lain.


"Bantu Lian ya Mas" ucap Lian membuka kotak P3K. Lian hendak mengajari suaminya membersihkan lukanya yang lecet.


Ardi mengangguk mengikuti. Mereka berdua jadi teringat awal mereka bertemu di apartemen megayu. Sekarang tangan dan dahi Alya sudah dibersihkan dan diolesi salep.


"Mau dengerin baby kita ngak?" tanya Alya tesenyum.


"Iya sayang gimana caranya?" tanya Ardi


"Ini namanya dopler. Pasang baterainya dulu" ucap Alya memberi tahu.


"Begini?"


"Iya. Nah ujung sini kasih jelly"


"Segini?"


"Iya cukup" lalu Alya berbaring dan membuka perutnya.


"Sini stiknya" ucap Alya mengambil stik dopler dan berusaha mencari detak jantung janinnya sendiri.


Setelah beberapa saat memutar-mutar di atas perutnya. Irama teratur dan kuat dari jantung janin mereka terdengar. Alya tersenyum ke suaminya


"Pegang dan tekan Mas" ucap Alya menyerahkan doplernya.


"Iya sayang, begini ya?"


"Jangan sampai geser, ini detak jantungnga dia Mas" ucap Alya terharu.


"Iya sayang, keras sekali, dia pasti akan jadi anak hebat" jawab Ardi terharu.


"Coba liat angka di monitornya?"


"144 sayang"


"Alhamdulillah, semua baik- baik aja, udah lega kan? Nggak usah panggil dokter ya"


"Tapi Mas tetep khawatir. Besok usg ya"


"Iya, tapi besok ya, nggak sekarang"


"Huum, sini Mas beresin" Lalu Ardi membereskan dopler dan alat P3K mereka.


Ardi kemudian menyusul berbaring memeluk istrinya dari samping.


"Sungguh udah nggak sakit lagi?" tanya Ardi.


"Sungguh?"


"Tadi kan jengukin lewat perut, kalau Mas jengukin lewat dalem boleh nggak?"


"Hemm boleh nggak ya?"


"Udah absen banyak lho Yang"


"Kita belum sholat isya lho"


"Ya udah sholat, abis sholat boleh ya?"


"Tapi kaki Lian masih ngilu"


"Bisa diatur"

__ADS_1


__ADS_2