
Setelah mengambil gaun seragam bridesmaid. Alya masuk ke dalam mobil alphard Bu Rita. Fitri kemudian membantu.
“Untuk seragam anak- aak rumah, antar ke rumah ya!” perintah Bu Rita ke Dara.
“Baik Nyonya!” jawab Dara patuh.
Lalu Bu Rita dan Alya bergegas pulang karena sebentar lagi Alya akan bekerja. Sepanjang jalan Alya banyak diam. Fokus ke ponselnya.
“Ck siapa laki- laki yang bareng ibu ya?"
Pertanyaan itu terus memenuhi kepala Alya tapi tidak terjawab. Karena setelah Alya berhasil menjawab pesan Anya, Anya dan Dinda sudah pergi.
"Pasti sahabatnya yang katanya cunkring sekarang jadi gagah itu. Fiks ibu puber lagi, kok geli ya bayangin ibu puber lagi” batin Alya membayangkan punya bapak tiri.
Alya tidak habis pikir bagaimana kalau ibunya menikah lagi. Apa ibunya masih akan bereproduksi seperti dirinya? Usia 50an kan belum menopause. Bu Mirna sekarang jauh lebih sehat. Alya kemudian geleng-geleng kepala sendiri berfikir jauh.
“Maafin Mamah ya Nak!” tutur Bu Rita mengingat kejadian tadi, Bu Rita mengira Alya diam karena perdebatan tadi di butik.
“Iya Mah, nggak apa- apa kok!” jawab Alya ramah menyembunyikan apa yang dia khawatirkan.
“Mamah soalnya udah cerita ke temen- temen Mamah, Mamah nggak mau dikatain temen- temen Mamah, kalau pesta anak semata wayang Mamah terlalu sederhana, nanti mamah dibilang pelit, dibilang nggak mampu adain pesta. Mamah sakit dan nggak terima kalau dikatain begitu!” tutur Bu Rita mencurahkan isi hatinya kenapa bersikap seperti itu.
“Iya Mah iya, Lian mau kok ganti 4 kali, dan semoga besok acaranya lancar dan meriah ya Mah” jawab Alya memeperhatikan Bu Rita penuh dengan perhatian.
“Makasih Nak!” jawab Bu Rita menggenggam tangan Alya.
Dari sisi perempuan, Alya bisa mengerti dan memahami perasaan Bu Rita meski Alya tidak menyukainya. Itu sebabnya Alya malas masuk ke pergaulan kumpulan istri- istri pengusaha.
“Bekerjasamalah dengan baik ya sayangnya ibu, semoga kamu besok nggak rewel saat resepsi!” gumam Alya dalam hati mengusap perutnya yang mulai melar.
"Oh iya Mah. Lian boleh tanya" tanya Alya tiba-tiba.
"Iya Nak, tanyakan saja. Ada apa?"
"He.. " Alya nyengir karena ragu.
"Apa?"
"Apa mamah sama papah masih aktif berhubungan?" tanya Alya malu-malu.
Mendapat pertanyaan itu Bu Rita kemudian tersipu. Tapi karena sama-sama sudah menikah Bu Rita menjawab.
"Masihlah Sayang"
"Oh iya? Mamah masih rutin mens?" tanya Alya lagi.
"Masih"
"Mamah KB?"
"Mamah kan emang nggak terlalu subur. Jadi Mamah Kb alami"
"Oh gitu"
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"He.. penasaran aja Mah, sampai kapan kita akan bertugas sebagai istri" tanyq Alya berbohong padahal sebenarnya bukan itu yang membuat Alya bertanya. Melainkan membayangkan Bu Mirna menikah lagi.
"Kenapa Mamah jaga pola hidup Mamah. Ya biar kita sebagai istri tetap bisa menyenangkan suami Al. Papahmu semakin tua, semakis mesra. Tidak ada yang berubah. Meski kekuatan dan durasinya berbeda dengan waktu muda. Kadang Mamah juga takut dan berfikir yang tidak-tidak" tutur Bu Rita lagi malah curhat.
"Oh gitu Mah? Apa mamah masih menikmati?" tanya Alya lagi.
"Ya masih dong Sayang, tapi tidak seperti dulu. Lebih banyak menggenapi kewajiban. Mamah mau papahmu tetap cinta dan setia ke Mamah. Setelah lahiran kamu juga harus jaga tubuh kamu ya!" tutur Bu Rita menasehati.
"Iya Mah" jawab Alya mengangguk.
"Kalau mamah masih aktif, berarti ibu juga masih punya hasrat itu? Kasian juga ibu sebenarnya menyendiri selama ini?" batin Alya lagi.
Setelah beberapa saat mereka sampai ke rumah besar Tuan Aryo. Alya dan Bu Rita turun dan masuk ke kamar mereka masing- masing.
Sejak kejadian hari lalu, pelayan menjadi jaga jarak ke Alya. Alya sendiri hampir selalu menghabiskan waktunya di kamar jika tidak ada suaminya.
****
Karyawan Bu Rita yang ditugaskan dari panti datang, lalu mereka membagikan baju seragam kondangan resepsi ke semua asisten rumah tangganya. Semua berbahagia dan segera mencoba setelan kebaya modern.
“Akhirnya ya, kita nanti bisa ngrasain yang namanya datang ke pesta!” ucap Ati berbahagia.
__ADS_1
“Iya.. aku seneng banget, cocok nggak aku pake?” tanya Tina memutar badan melihat kebaya modern yang dia kenakan. Meski ART jika memakai baju bagus mereka semua tampak cantik dan mempesona.
“Pas, cantik, aku nggak sabar buat dateng ke acaranya besok! Pestanya orang kaya pasti seru. Katanya mau ada artis yang datang. Iih siapa ya kira-kira? ” seru Yuyun.
Sementara Ida yang biasanya berpasangan dengan Mia, kini diam terduduk memegangi seragam dari majikanya itu. Sejak kejadian kemarin, Mia pergi dan tak kembali.
Meski tidak ada yang memberi tahu dan cerita, tapi di kalangan asisten rumah tangga pada menebak kalau Mia orang dibalik huru hara di rumah besar itu.
Sebagai rekan kerja, rekan tidur dan teman seperjuangan, tentu saja Ida merasakan sakit. Sakit kecewa, sakit kehilangan dan sakit karena kasian.
Seandainya Mia tidak melakukan itu semua, dan Mia tidak tertangkap. Pastilah sekarang dia ada bersama Ida dan yang lain, menjadi yang paling heboh, membuat rencana dandanan mereka nanti.
Mia akan membantu Ida dan yang lain memakai make up, menyusun rencana ke pesta nanti. Lalu mereka mengambil foto selfie bersama meski belum sampai di acara. Ahh, tawa dan kecentilan Mia selalu terbayang di mata Ida. Rasanya tidak ikhlas untuk dilupakan.
Tapi semua kini tidak ada. Tawa dan kecentilan Mia hilang, rasanya hambar. Ida kemudian meneteskan air matanya.
“Lo kenapa Da?” tanya Yuyun melihat ke Ida nangis.
“Dimana Mia sekarang ya?” tanya Ida ke temanya sambil menyeka air matanya. Ida tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir dan kengen ke sahabatnya.
“Kayaknya tebakan Ati bener, gue nggk sengaja denger percakapan Den Ardi. Den Ardi telpon ke seseorang untuk tidak menyiksa Mia dan serahkan Mia ke polisi saja!” tutur Yuyun.
Ida tambah menangis.
"Jadi sekarang Mia di kantor polisi?" tanya Ida.
"Masih beruntung Tuan Besar tidak memberi perintah untuk membunuhnya" jawab Yuyun.
"Kapan-kapan kita jenguk dia ya!" tutur Ida.
"Aku nggak berani, itu terlalu beresiko buat kita. Aku nggak nyangka kenapa Mia begitu?" jawab Ati.
"Aku juga penasaran. Makanya aku ingin bertemu. Padahal kita janji akan terus bersama" tutur Ida lagi masih menangis.
Melihat temanya menangis lalu mereka berpelukan, sebagai sesama karyawan senasib sepenanggunagan merek saling mendukung dan menguatkan.
Pokoknya mereka harus bekerja dengan baik. Tidak boleh ada yang seperti Mia.
****
Pov Bu Mirna.
Tapi Bu Mirna lupa , kalau anak- anak kelas memasak, saat pagi ikut sekolah reguler di luar panti. Jadi, saat Bu Mirna sampai suasana panti sepi. Hanya ada beberapa anak paud dan Tk beserta para pengasuhnya.
“Eh Bu Mirna sudah di sini?” tanya Bu Salma melihat Bu Mirna duduk membaca buku di gazebo dekat kebun dengan kacamata tuanya.
“Iya Bu Salma , nunggu di kantor bosen, anak- anak belum pada pulang sekolah!” jawab Bu Mirna.
“Apa mau ikut saya saja!” tanya Bu Salma.
“Kemana?”
“Jalan- jalan!” jawab Bu Salma bercanda.
“Jalan- jalan kemana?”
“Udah yuk ikut saya saja!” ajak Bu Salma.
Daripada nganggur dan gabut, Bu Mirna ikut Bu Salma. Ternyata Bu Salma diamanahi teman- teman pengurus panti untuk belanja beberapa kebutuhan rumah tangga panti, dan juga kado untuk Alya dan Ardi.
Mereka kemudian mencari dan melihat- melihat ke mall besar di daerah situ.
Bu Mirna yang baru kemarin diajak Bu Rita belanja pun masih ingat tempat- tempat barang yang mereka cari. Karena Bu Mirna tidak hoby belanja, Bu Mirna memilih membiarkan Bu Salma mencari- cari barang pilihanya sendri.
“Bu Salma, saya capek jalan terus, saya tunggu di sini ya!” tutur Bu Mirna menunjuk bangku bersantai dekat eskalator dan menghadap ke tangga banyak lantai di mall itu.
“Oh iya Bu, Bu Mirna nggak mau belanja?” tanya Bu Salma mengira Bu Mirna seperti Bu Rita yang belanja kapan saja dan selalu gatal membeli sesuatu.
“Saya sudah banyak belanja kemarin, silahkan Bu Salma puas- puasin belanjanya! Saya tak menikmati pemandangan mall di sini” tutur Bu Mirna menunjuk bangku.
Bu Mirna mengira Bu Salma belanja untuk dirinya sendiri, sehingga butuh privasi dan waktu yang lama. Padahal belanja untuk kado Alya dan Ardi.
“Oh, ya” jawab Bu Salma mengangguk. Dan mulai mencari kriteria kado seperti kesepakatan orang-orang panti.
Bu Mirna kemudian duduk, menikmti suasana mall yang gemerlap. Memandangi orang lalu lalang yang tampak beraneka ragam.
Seketika bayanga masa lalu Bu Mirna datang. Bu Mirna juga pernah ada di posisi orang- orang yang mereka lihat. Bergandengan tangan dengan penuh cinta dan bahagia. Padahal tidak beli apa-apa, hanya berputar-putar di mall bersama orang terkasih.
__ADS_1
Dulu saat masih magang, akhir pekan, Bu Mirna diajak jalan oleh bapaknya Alya. Makan eskrim berdua. Lalu nonton film bersama. Terkadang Bu Mirna dan bapaknya Alya juga pergi bersama teman- temanya.
“Nurma” panggil seseorang yang berjalan melewati Bu Mirna tiba-tiba.
Bu Mirna menoleh dan balas menyapa.
“Eh kamu?” tanya Bu Mirna tersenyum.
“Kok bisa ya kita ketemu lagi di sini?"
"Ah iya" Bu Mirna hanya tersenyum. Senyum manis yang tak lekang oleh waktu.
"Kamu lagi apa? Duduk di sini sendirian?” tanya teman Bu Mirna lagi.
“Iya, aku sedang menunggu temanku, daripada cepek muter- muter tidak ada tujuan, aku duduk di sini saja, kamu sendiri kenapa ada di sini? Nggak kerja? Sama siapa?” tanya Bu Mirna menggeser duduknya seakan memberi ruang ke temanya untuk ikut duduk.
“Dari dulu nggak pernah berubah ya kamu, kalau orang lain belanja bukanya ikut malah menyendiri. Aku sendirian. Aku baru pulang kerja ada yang harus aku beli” jawab teman Bu Mirna menunjukan paper bag isi belanjaan. Entah apa hanya teman Bu Mirna yang tau.
“Oh begitu? Umur panjang ya kamu”
“Apa maksudmu? Boleh aku temani duduk di sini?” tanya teman Bu Mirna.
“Ya silahkan" jawab Mirna. Lalu mereka berdua duduk bersebelahan.
"Apa kau ingat? Dulu kan kita sering menghabiskan waktu di sini, bersama suamiku juga? Aku sedang mengingatnya, sekarang semua tampak berbeda” tutur Bu Mirna bernostalgia
“Ah iya, nonton film nggak jelas” jawab teman Bu Mirna ternyata masih ingat juga.
“Kamu bisa saja, ternyata waktu berjalan begitu cepat ya?”
“Iya, tau-tau kita sudah tua. Itulah sebabnya kita harus selalu hargai waktu kita. Oh iya, kamu sendiri?”
“Kan tadi sudah kujelaskan aku bersama temanku, teman kerjaku, dia sedang berbelanja di situ” jawab Bu Mirna.
“Kamu bekerja?” tanya teman Bu Mirna kaget.
“Hanya sementara sebagai pengajar pengganti”
“Oh kamu sekarang jadi guru? Bukanya dulu kuliahmu akuntan?”
“Ya nggak apa- apa to, bukan guru sih lebih tepatnya nenek yang ingin mewariskan ilmunya ke anak cucu” jawab Bu Mirna merendah.
“Ah kamu ini, sukanya merendah! Memang kamu ngajar dimana? Mana anakmu?”
“Aku ngajar di yayasan milik sahabatku, anakku sibuk, makanya aku pergi sendiri”
“Kalau begitu, waktumu di sini masih lama?” tanya teman Bu Mirna bahagia.
“Iya, sepertinya begitu”
“Apa suamimu nggak marah, omong-omong gimana kabarnya?”
“Apa maksudmu, kamu pikun atau gimana? Kan tau suamiku sudah meninggal belasan tahun lalu” jawab Bu Mirna.
“Aku tau itu. Aku kira kamu sudah menikah lagi”
“Aku fokus membesarkan anakku, kamu sendiri kenapa selalu pergi sendiri? Mana istrimu, dudak kaya sepertimu pasti banyak perempuan yang mau” tanya Bu Mirna akrab ke temanya.
“Aku selalu pergi sendiri, karena aku memang masih sendiri ” jawab teman Bu Mirna.
"Oh iya? Kamu tidak menikah lagi?" tanya Bu Mirna heran.
"Tidak"
"Oh"
Di saat mereka sedang ngobrol Bu Salma datang. Mereka berdua kemudian terdiam.
“Sudah selesai Bu Salma?” tanya Bu Mirna menyadari Bu Salma mendekat ke arahnya.
Bu Salma kemudian menganggukan kepala menyapa teman Bu Mirna.
"Sudah Nyonya!" jawab Bu Salma.
“Ya sudah aku duluan ya” pamit Bu Mirna ke temanya.
“Oh ya hati- hati” jawab teman Bu Mirna. Membiarkan Bu Mirna pergi. Bu Mirna dan Bu Salma kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
Laki- laki itu menatap punggung Bu Mirna sampai menghilang.
“Kenapa aku tidak mintaa nomer ponselnya dan bertanya dimana dia mengajar ya?” gumam teman Bu Mirna.