Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
72. Aneh


__ADS_3

"Tumben udah bangun" tutur Alya bertemu Ardi di depan kamar mandi dapur.


"Hemmm" Ardi tidak menjawab pertanyaan Alya hanya berlalu.


"Hah dia nyuekin aku lagi? Tapi kenapa dia mindahin aku ke kamar coba?" Alya melihat suaminya pergi ke kamar dengan kesal karena pertanyaanya tidak dijawab.


Ardi ke kamar menunaikan sholat subuh dan bersiap-siap pergi. Meskipun sudah menikah Ardi menyiapkan barang-barang dan bajunya sendiri, entah kapan Alya bisa membuka diri dan berkomunikasi dengan baik seperti pasangan yang lain.


40 menit Ardi selesai bersiap-siap. Alya juga sudah selesai menyiapkan sarapan. Pagi itu Alya hanya membuat nasi goreng dan telur dadar, karena nasi yang dia masak kemarin sore tidak habis.


Secara tidak langsung Alya menyiapkan nasi sisa untuk suaminya. Padahal di rumah Ardi nasi saja lebih sering nasi hitam dan harus dengan4 kualitas bagus. Sebagai seorang dokter, Alya tau menunya itu tidak sehat, tapi pertimbangan ekonomis Alya lebih diutamakan selama tidak sering-sering. Apalagi selama menikah, Ardi dan Alya belum pernah duduk bersama membicarakan arah pernikahan mereka. Ardi juga belum menafkahi Alya.


Alya kaget melihat Ardi sudah rapih dengan pakaian casualnya dan membawa tas punggung. Ardi terlihat lebih muda dan fresh, tidak galak tapi tetap saja masih dingin.


"Kenapa lo liat-liat gue?" tanya Ardi ketus merasa diperhatikan Alya.


"Nggak" jawab Alya cuek tidak mau Ardi GR.


"Gue nggak pulang untuk beberapa hari, lo nggak perlu nungguin gue tidur malem" ucap Ardi menatap Alya.


"Siapa yang nungguin kamu" jawab Alya ngeles tidak mau terlihat memalukan karena semalaman Alya nangis nungguin Ardi.


Ardi menatap Alya tajam sambil tersenyum, Ardi tau istrinya berbohong. Alya menjadi salah tingkah dan membetulkan rambut depanya yang terlepas dari ikatan.


"Bantal sofa bau parfum orang, gue nggak suka! Apa kemarin ada tamu?" tanya Ardi sambil berjalan duduk meraih bantal sofa.


Alya kaget mendengar suaminya bertanya, bahkan Ardi bisa tau kalau Anya main. Bisa-bisanya suaminya tau hanya dengan mencium bau bantal bekas Anya.


"Kemarin temenku yang dateng, lagian ngapain tidur di sofa?" ucap Alya ketus.


"Gue kan cuma ngikutin mau lo"


"Mauku?" tanya Alya heran.


"Iya kan lo bilang, gue tidur di sini, artinya sini kamar gue, atau lo udah mau berbagi sama gue?"


"Nggak, bukan itu maksudku" jawab Alya gelagapan mengingay kejadian hari kemarin.


"Karena ini kamar gue, gue nggak suka bau parfum orang. Apalagi kalau cowok"


"Maksudnya apa?"


"Temanmu yang ke sini cwo apa cwe?"

__ADS_1


"Katanya bisa mengenali bau parfumnya tebak aja sendiri" jawab Alya ketus kesal dikira membawa tamu laki-laki.


"Syukurlah kalau lo punya temen" jawab Ardi datar melirik ke istrinya yang berdiri di dekat pintu. Ardi tau yang kesini teman perempuan melihat ekspresi Alya.


"Maksudnya apa?" tanya Alya tersinggung. "Kamu pikir aku nggak punya teman?"


"Ehm....., aku pergi beberapa hari, kamu boleh bawa temanmu ke sini" jawab Ardi memberi tahu Alya mengalihkan pembicaraan.


"Benarkah? Kalau temenku nginep boleh?" tanya Alya sedikit bahagia.


"Nggak!" jawab Ardi ketus.


"Ish" Alya mendesis kecewa.


"Nggak boleh kalau teman laki-laki" lanjut Ardi menjawab pertanyaan Alya. Alya tersenyum, itu artinya dia bisa ajak Anya nginep di apartemen.


"Memang mau berapa hari perginya?" tanya Alya mulai penasaran. Ardi tersenyum mendengarnya berharap Alya benar-benar peduli.


"Nggak tahu. Seselesainya urusanku, bisa seminggu, dua minggu atau sebulan" jawab Ardi memancing Alya untuk bertanya lebih kemana dan untuk apa Ardi pergi.


"Ehm" Alya berdehem menunduk. "Sebenarnya dia mau pergi kemana sih? Apa dia benar-benar akan pergi karena aku menolak tidur denganya. Kenapa aku takut kalau dia pergi beneran, apa aku terima saja ajakanya, toh aku udah jadi istrinya. Ah tidak- tidak, sadar Alya, kamu belum mengenalnya, kita menikah karena akal bulusnya dia, jangan sampai aku menyesal"


Alya menelan salivanya, menyadari sebagai istri sudah melakukan kesalahan karena menolak suaminya berhubungan suami istri, padahal itu kewajibanya. Alyapun membatasi dirinya sendiri untuk tidak bertanya lagi dan sudah siap dengan semua sakit hatinya Ardi.


"Sial, kenapa kamu nggak tanya sayang, mas mau pergi kemana?" gumam Ardi merasa Alya cuek.


"Bener kamu nggak apa-apa?" tanya Ardi gemas karena Alya nggak peduli. "Lo sendirian, gue pergi lama"


"Emang kenapa? Aku kan terbiasa sendiri" jawab Alya datar.


"Oke, Baguslah kalau begitu" jawab Ardi kesal, Ardi gemas sendiri, menahan hasrat ingin berpamitan, memeluk istrinya, menciumnya dan menceritakan kemana dia akan pergi. Sayangnya Alya justru semakin dingin. Ardi menghela nafasnya kembali menatap istrinya. Membuang hasratnya, dia harus bersabar membuat Alya sadar kalau suaminya benar-benar sayang.


Sementara Alya canggung sendiri, melihat Ardi bersikap aneh. Ardi terlihat ragu-ragu mau berangkat tapi seperti ada yang mau disampaikan.


"Aku udah masak, sarapan dulu" ucap Alya membuang rasa canggung.


"Nggak usah, aku sarapan di luar" jawab Ardi jengkel, melawan hasratnya sendiri. Lalu Ardi bangun dari duduknya dan keluar dari apartemen.


"Ish, tau gitu aku nggak nawarin dia sarapan" umpat Alya kesal melihat suaminya pergi begitu saja.


Alya duduk di meja makan melihat masakanya di atas meja masih utuh. "Sebenarnya dia pergi kemana sih? Seperti apa pekerjaanya, kemarin dia bilang ingin membahas tentang panti, apa yang mau dia sampaikan? Eh dia malah pergi" Alya melamun sambil memangku tangan di meja makan.


"Ehm" Ardi berdehem, tiba-tiba duduk di samping Alya mengambil piring. Alya yang melamun kaget melihat suaminya yang baru saja berpamitan tiba-tiba sudah di sampingnya lagi.

__ADS_1


Ardi mengambil sarapan nasi goreng dan telur tanpa rasa malu dan bersalah. Ardi memakanya dengan lahap.


"Katanya makan di luar?" sindir Alya menatap suaminya makan.


Ardi tidak memperdulikan Alya dan meneruskan makanya. "Kenapa masakanya selalu enak sih?" gumam Ardi sambil mengunyah nasi goreng Alya.


"Dasar laki-laki aneh" cibir Alya ke suaminya. Baru aja pamit tau-tau udah balik lagi. Alya bangun dan mengambilkan minum untuk suaminya. Mereka berdua makan bersama saling diam, 5 menit berlalu nasi di piring Ardi habis. Ardi melanjutkan meneguk minuman yang disediakan Alya.


"Jangan ke panti" ucap Ardi tiba-tiba menatap Alya. Alya yang masih mengunyah nasi hampir tersedak mendengar perkataan Ardi, Alya langsung minum air di depanya.


"Jangan tanya kenapa, kamu tinggal patuhi kata-kataku" imbuh Ardi lagi.


"Nggak bisa gitu dong mas" jawab Alya melawan setelah meneguk air putih. "Mas harus jelasin alasanya, di sana ada banyak anak-anak yang aku sayangi"


"Tidak untuk selamanya, pokoknya jangan ke panti dulu" jawab Ardi kekeh.


"Ya jelasin alasanya" Alya tidak mau mengalah.


"Apa susahnya sih patuh?"


"Aku nggak bisa mematuhi sesuatu yang aku nggak tahu sebabnya"


"Segitu sukanya kamu sama Farid?" tanya Ardi mengalihkan pembicaraan, membuat Alya meradang.


"Lhoh kok ngebahas Kak Farid sih. Alya udah janji sama anak- anak, akhir pekan Alya kesana, nggak ada hubunganya sama Kak Farid, aneh"


"Baiklah, kamu boleh kesana, tapi jaga rahasia pernikahan kita, jangan bilang-bilang kalau kamu istriku?"


"Hah apa? Siapa juga yang mau bahas-bahas nikah dan mengaku-ngaku istrimu, GR. Aku juga malu mengakuinya" jawab Alya kesal.


"Kamu bilang apa? Kamu malu menikah denganku?" tanya Ardi kesal mendengar perkataan Alya.


"Kenapa marah? Mas sendiri kenapa melarangku cerita dan memintaku merahasiakanya?"


Ardi menelan salivanya. Maksud Ardi bukan karena malu mengakui Alya. Ardi justru sudah tidak sabar memberitahu ke kedua sahabatnya kalau dia sudaj menikah lebih dulu dari mereka. Tapi Ardi menjaga perasaan Farid, Ardi juga ingin menjaga Alya dari Sinta dan Intan.


"Rahasiakan pernikahan kita sampai Farid bertunangan" imbuh Ardi mengalah tidak ingin bertengkar.


"Maksudnya" tanya Alya masih ngeyel.


"Sekali-kali bilang Ya! Tidak usah membantah" jawab Ardi bangun lalu mengambil tas dan pergi.


Alya hanya bisa menatap kepergian Ardi dengan otak penasaran. "Apa dia akan balik lagi seperti tadi? Huh mau kemana sebenarnya dia? Dasar aneh"

__ADS_1


__ADS_2