Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
222. Guru Senior


__ADS_3

"Terima kasih Tuan Ardi, semoga kita bekerja sama dengan baik" ucap rekan bisnis Ardi menjabat tangan Ardi.


"Sama- sama Pak, semoga kerjasama kita sukses" jawab Ardi tersenyum memberikan hormat ke klienya itu.


Segimana manja dan bawelnya Ardi di rumah, tapi ketika bekerja Ardi selalu serius dan berwibawa. Ardi juga sangat lihai membuat klienya menyetujui bekerjasama dengan perusahaanya.


Setelah klienya pergi, Ardi melirik jam tanganya. Lalu melihat ponselnya, berharap istri cantiknya memberikan pesan cinta yang membuatnya semangat.


Sayangnya ponselnya sepi. Bahkan pemberitahuan Alya terakhir online beberapa jam lalu. Ada pesan justru dari Riko. Riko mengajak bertemu di sebuah kafe.


"Diin" panggil Ardi ke sekertarisnya.


"Ya Tuan"


"Agendaku setelah ini apa?"


"Ke kantor Tuan, ada beberapa pekerjaan yang belum anda periksa" jawab Dino.


"Urgent nggak?"


"Tidak Tuan"


"Oke, sekarang ke kafe 11:12!"


"Baik Tuan"


Mereka kemudian berangkat ke tempat dimana Riko memberi alamat. Kurang lebih 30 menit perjalanan mereka sampai di kafe 11:12.


Di ruang khusus Riko duduk dengan seorang laki-laki yang tampak duduk menunduk. Laki-laki itu seperti merasa bersalah dan takut.


Ardi ditemani Dino langsung menghampiri Riko. Tatapanya tidak luput dari laki-laki itu.


"Akhirnya kau datang" ucap Riko menyambut Ardi dan mempersilahkan duduk.


Ardi mengangguk, tatapanya ke aran rekan Riko dengan mengisyaratkan tanda tanya. Siapa dia.


"Kenalkan dia Fian" ucap Riko.


"Ya, siapa Anda? Apa kita pernah bertemu?" tanya Ardi.


"Katakan Fian" ucap Riko memepersilahkan Fian.


"Tuan Ardi yang terhormat, maafkan saya, maafkan saya" .


"Maaf? Katakan siapan kamu?"


"Saya Alfian, saya karyawan Non Lila"


"Oh ya" jawab Ardi menngangguk lalu melirik ke Dino.


"Terima kasih sudah bebaskan saya dari penjara, terima kasih sudah cabut tuntutan untuk saya, saya minta maaf" tutur Fian dengan membungkukan badan memberi hormat.


"Aku maafkan, kalau mau berterima kasih jangan padaku. Terima kasih lah pada istri tercintaku, dia yang mempunyai ide melepasmu" jawab Ardi membanggakan istrinya.


"Baik Tuan, saya akan sampaikan terima kasih saya ke istri Tuan"


"Eits nggak boleh ding, kamu nggak boleh liat istriku, enak saja" ucap Ardi posesifnya kumat.


"Hemmm" Riko dan Dino berdehem dan garuk-garuk alis yang tidak gatal sambil membatin.


"Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu melindungi Lila?" tanya Ardi lagi.


"Karena Lila mengancam saya dan anak saya Tuan, jika saya tidak membelanya anak saya akan dibunuh" tutur Fian menjelaskan.


"Ya Tuhan, kampungan sekali kelakuan mereka. Mereka akan segera berakhir, kau tau itu?"


"Ya Tuan"


"Tapi itu kalau kau mau membantuku. Apa sekarang kamu sudah bertemu kekuargamu?" tanya Ardi lagi.


"Sudah Tuan."


"Kau bahagia?"


"Bahagia Tuan"


"Baik sekarang waktunya. Kami minta imbalan padamu"


"Baik Tuan, katakan, saya akan lakukan yang anda minta"


"Katakan ini di pengadilan dan beritahu dimana Lila bersembunyi sekarang"


"Maaf Tuan, apa anda bisa membantu saya agar tidak berurusan dengan polisi lagi? Saya tidak ingin berurusan dengan polisi lagi"


"Pengakuanmu baru saja sudah kurekam, kau hanya datang saat dibutuhkan" jawab Ardi.


Riko dan Fian terhenyak mendengar penuturan Ardi. Tidak disangka oleh Fian dan Riko, Ardi ternyata merekamnya. Ardi berusaha bagaiamana caranya ingin segera mengirim Lila berkumpul dengan kakaknya.


"Nggak usah takut, sekarang beritahu, dimana Lila bersembunyi?" tanya Ardi lagi.


"Tuan Wira mempunyai 3 villa yang terletak di tempat berbeda Tuan"

__ADS_1


"Dimana?"


"2 di luar Jawa, 1 di Bali"


"Din"


"Ya Tuan"


"Bukankah kita sudah koordinasi pihak bandara untuk mencekal dia dan bapaknya?"


"Iya Tuan, laporan dari pihak bandara, Tuan Wira dan putrinya tidak pernah melakukan perjalanan ke luar" jawab Dino memberi laporan.


"Oke siip. Mereka tidak mungkin meninggalkan Jakarta tanpa menyerangku, apalagi Tito masih belum diputuskan hukumnya, cari ke kedua villa yang di sini, berikan alamatnya padaku!" ucap Ardi ke Fian


"Baik Tuan"


Lalu Fian memberikan alamat dua tempat tinggal keluarga Wira yang hanya diketahui orang terdekatnya. Ardi mengambil catatan dari Fian dan mengangguk tersenyum.


"Hiduplah dengan baik. Pandai- pandailah mencari Tuan untukmu bekerja. Yang benar saja kamu mengorbankan hidupmu untuk orang seperti mereka" tutur Ardi menasehati Fian.


"Baik Tuan, terima kasih, semoga kebahagian dan keselamatan selalu menghiasi hidup Tuan"


"Ya" jawab Ardi mengangguk.


"Rik, thanks ya. Ayo Din kita cabut" ajak Ardi berpamitan


"Oke Bro!"jawab Riko.


Lalu Ardi dan Dino pergi, Ardi harus segera menjemput istrinya untuk memeriksakan kehamilanya karena Alya sempat terjatuh.


Padahal Alya sudah katakan semua baik-baik aja dan belum lama priksa. Tapi tetap saja, keinginan Ardi harus dipenuhi.


****


Setelah kegiatan menyiram tanaman disudahi, dua sahabat yang kini menjadi besan itu berkunjung ke panti Gunawijaya.


Bu Mirna hanya menurut saja, mengikuti kemana Bu Rita mengajaknya pergi. Yang penting dia tidak bosan di rumah besanya. Karena Bu Mirna masih harus beberapa hari tinggal di situ.


Mobil yang dikemudikan Mang Diman sampai di komplek yayasan panti Gunawijaya. Bu Mirna terbengong melihat bangunan yang terlihat Asri dan menyenangkan di depanya itu.


Bu Mirna sendiri tidak menyangka besanya sehebat ini. Bahkan di dalam gedung tingkat di depanya itu ada puluhan anak yatim piatu yang di biayainya.


Apalagi konon Gunawijaya tidak menerima santunan. Uang yang digunakan untuk biaya hidup uang perputaran dari usaha Panti Gunawijaya sendiri. Entah berapa uang yang dikeluarkan jika dihitung, Bu Mirna tidak sanggup membayangkanya.


Setelah sampai di parkiran mereka turun. Bu Mirna menatap sekeliling, hatinya langsung jatuh cinta dengan tempat itu. Ada perasaan hangat dan ramah menyapa, apalgi saat melihat anak kecil berlarian.


Meski di pinggiran ibu kota, tapi suasananya seperti di desa. Bersih, Asri, masih banyak pepohonan, desain bangunanya juga banyak bernuansa alam. Tempat yang nyaman untuk tinggal, beribadah dan belajar.


"Ayo" jawab Bu Mirna mengangguk.


Lalu mereka ke area yang pengurus panti sulap menjadi kebun sayuran. Tidak luas memang, hanya sepetak tanah ukuran 216 meter persegi. Tapi karena menggunakan teknik modern seperti hidroponik, tanah petak itu menjadi sangat bermanfaat.


Asa sebaris tanaman cabai, strobery, di pinggirnya sebagai pagar tanaman anggur yang merambat membentuk atap. Ada gubug kecil dengan atap paranet yang di dalamnya hidroponik tanaman sayuran selada, sawi, bayam dan yang lain.


"Sejak kapan kamu membangun ini Jeng?" tanya Bu Mirna kagum.


"Kapan ya? Tepatnya kapan aku lupa. Dulu tidak sebesar sekarang, dulu hanya rumah kecil, aku hanya punya beberapa anak asuh. Karena Mas Aryo mendukungku jadi bisa seperti sekarang" tutur Bu Rita mencoba memgingat perjuanganya 30 tahun silam.


"1 saja menolong anak yatim, itu sudah mulia Jeng" puji Bu Mirna.


"Dulu, awalnya karena Mas Aryo larang aku kerja, aku kan juga lama nunggu Ardi ada. Jadi buat isi waktuku, aku buat kegiatan ini, dan Alhamdulillah Alloh kasih kemudahan dan jalan, menjadi seperti sekarang"


"Kamu hebat Jeng, semoga jadi amal jariahmu ya?" puji Bu Mirna lagi memberikan doa.


"Amal jariah buat Gunwijaya Jeng. Sebagai zakat perusahaan juga. Semoga rejeki yang Tuhan kasih menjadi penyelamat saat dihisab nanti. Anakku kan juga cuma satu, harus berbagi, kalau aku pensiun aku juga ingin Alya yang mengurusnya" tutur Bu Rita lagi.


"Alya?"


"Siapa lagi, menantuku kan hanya Alya, anakmu"


"Apa dia bisa?"


"Bisa, Alya sudah dekat dengan anak- anak panti, dia kan hanya tinggal melanjutkan dan berkreasi dengan terobosan- terobosanya. Usaha- usaha panti juga ada karena ide Ardi dan Farid, sebelumnya panti asuhan biasa masih disuplai Mas Aryo"


"Oh gitu?"


"Iya. Ardi yang selalu memberi gagasan untuk bisa mandiri. Meski belum terlihat, Alya juga cerdas dan kreatif, saya percaya pada menantuku"


"Terima kasih sudah mempercayai anakku Jeng"


"Aih kamu, tentu saja aku percaya. Dia menantuku, cinta dan hidupnya anakku, ibu dari cucuku, aku juga menyayangi Alya seperti sayangku ke Ardi"


"Terima kasih. Jadi itu alasanya Nak Ardi ingin Alya berhenti bekerja" gumam Bu Mirna mengangguk memikirkan sesuatu.


"Maksudmu? Emang Ardi berkata begitu?"


"Iya. Aku pernah tidak sengaja mendengarnya, Ardi menyuruh Alya keluar dari profesinya, tapi karena doktrinku dulu, aku selalu memotivasi harus selesaikan pendidikan, Alya jadi menolak meninggalkan profesinya"


"Ya nggak ada yang salah dari keduanya. Aku mengerti pikiran Alya. Tapi aku yakin meski mereka sering kekanakan, mereka bisa tentukan pilihanya sendiri dengan baik. Kalau aku berharap Alya jangan kerja di rumah sakit, kasian liatnya" jawab Bu Rita peduli.


"Kalau alasan Nak Ardi menyuruh Alya keluar untuk mengurus panti dan fokus ke keluarga, aku akan bantu bujuk dia Jeng" tutur Bu Rita.

__ADS_1


"Iya. Panti kan sudah banyak pengurusnya, kita hanya tinggal memantau, bawa anak sesuka hati, tidak terpatok waktu dan banyak tuntutan. Bujuklah dia, di rumah sakit pulang malam, berangkat malam, Ardi pasti tidak akan tahan lama-lama" jawab Bu Rita membela anaknya


"Iya nanti aku bantu sampaikan"


"Ya sudah ayok aku perkenalkan dengan pegawaiku" ajak Bu Rita masuk ke dalam kantor.


Pengurus panti terkejut dengan kedatangan Bu Rita tiba-tiba mereka kemudian bersalaman dan beramah tamah menyambutnya.


"Kenalkan ini besanku, ibunya Dokter Alya" tutur Bu Rita.


"Mirna" tutur Bu Mirna mengenalkan diri.


Bu Salma, Us Zahra, Pak Anton dan yang lain mengulurkan tangan balik memperkenalkan diri ke Bu Mirna.


"Ternyata Dokter Alya mirip ibunya, manis" puji Us Zahra.


"Terima kasih" jawab Bu Mirna santun.


Lalu mereka duduk dan bercengkerama.


Kepala yayasan kemudian menghadap ke Bu Rita dan meminta waktunya untuk menyampaikan sesuatu.


"Ada apa Pak?" tanya Bu Rita.


"Mohon maaf Nyonya saya menyampaikan ini. Non Sinta beberapa hari lalu mengundurkan diri" ucap ketua yayasan menyerahkan map berisi surat pengunduran diri Sinta.


"Sinta mengundurkan diri?" tanya Bu Rita sedikit kaget tidak menyangka.


"Iya Nyonya"


"Hmmm, kenapa ya?" jawab Bu Rita memegang dan membaca surat dari Sinta.


"Katanya meneruskan usaha restoran orang tuanya di Paris"


"Oh gitu, yaya. Nanti ku pikirkan lagi. Farid masih belum kesini ya?" tanya Bu Rita meletakan surat dari Sinta.


"Belum Nyonya"


"Baiklah terima kasih" ucap Bu Rita kemudian mengambil tasnya dan mengajak Bu Mirna berkeliling ke kantin panti.


Lalu Bu Rita menliti galeri masak tempat anak-anak belajar masak. Bu Rita menatapnya sendu. Dia sudah banyak mengeluarkan ung agar peralatan kelas memasak lengkap.


"Kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Bu Mirna melihat Bu Rita duduk termenung memikirkan sesuatu.


"Pengajar masak di sini mengundurkan diri. Aku harus segera cari gantinya. Antusias anak-anak memasak begitu tinggi, sayang kalau tidak ada yang ngajari" tutur Bu Rita mencurahkan kesedihanya.


"Berarti nyari chef chef?"


"Iya, hanya saja, mencari orang yang berjiwa sosial dan mengajari anak-anak kan tidak mudah Jeng, mereka pasti lebih suka berkarya di restoran atau di hotel" jawab Bu Rita.


"Memang memasak apa saja yang diajarkan di sini?"


"Terserah, intinya aku ingin mereka yang tinggal di sini ketika keluar dan lulus SMA bisa hidup mandiri dan punya keterampilan yang mereka sukai, mau masak menu tradisional, atau barat, kue kuean. Yang penting tangan mereka terampil" jawab Bu Rita lagi.


"Kalau gitu, apa aku boleh membantumu sampai kau menemukan guru masak yang tepat?" tawar Bu Mirna ragu-ragu.


"Maksudmu?" tanya Bu Rita memastikan. Sesungguhnya Bu Rita tidak menyangka Bu Mirna tertarik dengan kegiatan di panti.


"Pekerjaanku di rumah kan penjual sayur, aku memasak banyak jenis sayur rumahan dan gudeg, aku juga pernah kursus tata boga" jelas Bu Mirna sambil menunduk malu, mengajukan dirinya dan keterampilanya.


"Kalau itu aku tau dan tidak ragu, Jeng. Yang aku tanyakan, apa kau mau membantuku di sini?"


"Iya"


"Oh syukurlah, itu berarti kamu mau menetap di Jakarta?" jawab Bu Rita bahagia.


"Sampai kamu menemukan guru masak yang tepat" jawab Bu Mirna.


"Ah kenapa tidak seterusnya saja"


"Rumahku yang di Jogja bagaimana?"


Lalu mereka berdua sepakat. Bu Mirna akan tinggal lebih lama di Jogja, menjadi guru senior di panti.


****


Istana Tuan Aryo.


Setelah segerombolan pekerja rumah tangga selesai bergosip. Satu di antara mereka masuk duduk diam di kamarnya.


Tanganya menggenggam bungkusan bubuk yang diperoleh dari kakaknya. Gadis itu tampak limbung dan berkeringat.


"Jika benar aturan di sini harus selalu mencicipi semua sajian yang dibawakan untuk Non Alya, itu berarti aku juga nanti harus minum obat ini?"


"Bagaimana caraku memberikannya, bahkan di dalur dan setiap ruangan ada cctv nya"


"Itu berarti Tuan Aryo sudah curiga terhadap perbuatanku"


"Kakak, kenapa kamu benci sekali pada Den Ardi dan Non Alya. Aku tidak sanggup melakukan tugas ini Kak?"


"Tapi aku ingin berkumpul dengan Kaka, ayah dan mencari ibu" .

__ADS_1


"Apa aku kabur saja?"


__ADS_2