
Disaksikan bunga-bunga cantik, angin sepoi-sepoi dan suana air danau yang tenang dan mendamaikan. Insan yang rambutnya mulai dihiasia dengan paduan warna yang berbeda secara alami, mengungkapkan perasaan dan niat baiknya.
Dan mendengar penuturan Dokter Nando yang terdengar konyol mendadak, dan tidak disangkanya, Bu Mirna tercekat. Wajah yang tadinya terlihat merah karena sapuan blash on yang rapih, tiba-tiba berkeringat dan membuat bedaknya sedikit berantakan.
"Bagaiamana? Mau ya!" tanya Dokter Nando tanpa tau malu dan tidak peduli. Buatnya memasuki usia senja malu itu tidak penting. Yang penting tujuanya berhasil dan tidak melanggar hukum.
"Nando, cungkring. Kamu sadar kan dengan perkataanmu?" tanya Bu Mirna.
"Sadar Nurma. Sebelum Budi mengutarakan niat dan melamarmu. Aku lebih dulu menyukaimu, menurutku pertemuan kita ini. Adalah takdir Nurma. Kita sama-sama sendiri. Kita berpisah belasan tahun. Tapi Tuhan pertemukan dengan jalan yang baik. Anakku dan anakmu berteman baik. Kita cocok menjadi pasangan" tutur Dokter Nando lagi.
"Apa tujuan dan maksud keinginanmu menikah lagi Nando? Bahkan kita sudah tua dan mau punya cucu" tanya Bu Mirna.
"Tentu saja karena aku tertarik padamu"
"Ehm, jawablah dengan jawaban seusia kita"
"Lah. Memang apa salah dengan usia kita? Aku memang tertarik padamu Nurma, dan itu sudah sejak dari dulu, belasan tahun" jawab Dokter Nando lagi.
"Hanya itu?"
"Nando..., maksudku bukan begitu. Kenapa kamu tiba-tiba ingin menikah. Padahal selama ini kamu menduda. Bukankah kita sudah nyaman dengan hidup kita yang sekarang? Tinggal menikmati hari tua bersama cucu kita?"
"Dan akan lebih bahagia lagi jika kita menikmati hari tua bersama Nurma. Aku kamu dan cucu-cucu kita. Kamu tidak perlu sendirian ke bolak balik Jakarta Jogja. Aku juga butuh teman dalam keaeharianku. Bagaimana?"
Bu Mirna kemudian terdiam.
"Tidak harus kamu jawab sekarang. Tanyakan pada anak dan menantumu dulu" ucap Dokter Nando lagi.
"Bagaimana dengan anak dan menantumu?" jawab Bu Mirna balas bertanya.
"Hahaha, justru mereka yang menyuruhku menikah dan berharap aku bisa bersamamu"
"Ooh" jawab Bu Mirna tersipu.
Lalu mereka melanjutkan makan. Dan di saat yang bersamaan rombongan Gery, Mira, Farud, Anya, Dika dan Dinda datang menyapa. Mereka pun bisik-bisik ibunya Alya dan papanya Dokter Gery terlihat serasi. Bu Mirna dan Dokter Nando pun masih mendengarnya dan menbuat mereka salah tingkah.
__ADS_1
Dan di waktu yang bersamaan, datanglah seorang tamu yang mencuri perhatian. Tamu-tamu Tuan Aryo rata-rata berjas rapi atau berkemeja batik mahal. Tiba-tiba datang seorang laki-laki nyentrik dengan rambut panjang dan ada tatonya.
Pria itu dengan wajah cool berjalan ke arah pelaminan. Sebenarnya dia manis dan tampan, tapi terlihat beda dari yang lain.
Hal itu membuat orang salah fokus dan memhuat seorang perempuan yang sedang membantu merapihkan gaun Alya di pelaminan tertegun.
"Yogi?" gumam Intan yang sedang membetulkan peniti di jilbab Alya. Lalu Intan mengedarkan pandangan mencari Baby El.
"Alhamdulillah kau datang juga" ucap Ardi. Tentu saja hal itu didengar Intan dan membuat Intan heran.
"Apa kalian yang mengundangnya?" tanya Intan kemudian.
"Maaf Mba, Mas Ardi yang mengundangnya" jawan Alya.
Dan Yogi pun sampai di pelaminan. Intan dan Yogi kemudian saling tatap.
"Apa kabar Intan? Lama tidak berjumpa?" tanya Yogi
"Baik" jawab Intan tapi Intan langsung turun dan berlalu.
Lalu Ardi dan Yogi saling sapa dan bersalaman. Intan turun langsung mencari Baby El. Setelah menemukan Baby El digendong Papanya Intan labgsung meraih anaknya dan membawanya pergi.
Alya di atas pelaminan memperhatikanya dengan baik. Sementara Ardi tampak mengobrol dan memberitahu, kalau anak mereka ada di sini, sambil menunjuk Intan dan anaknya.
Yogi pun menoleh ke arah Intan.
"Mas, dan Pak Yogi. Sepertinya Mba Intan Salah paham. Aku harus bicara denganya dulu" ucap Alya.
"Iya, Nyonya" jawab Yogi.
"Aku ke Mba Intan ya Mas. Sepertinya tamunya sudah sepi" ucap Alya pamit
"Bajumu gimana sayang?" tanya Ardi khawatir.
"Aku bisa menanganinya" jawab Alya buru-buru.
__ADS_1
Alya melihat Intan berjalan dengan wajah marah menjauhi tempat pesta. Tidak peduli oandangan orang Alya berjalan cepat menyusul Intan.
"Mba Intan, Om Didik tunggu!" panggil Alya..
Tapi Intan terus keluar
"Om tunggu!" panggil Alya.
Mereka masih belum mendengar karena suara musik yang keras. Dan setelah di parkiran baru mereka mendengar.
"Nak Alya" ucap Om Didik melihat Alya.
"Mba Intan Om Didik" ucap Alya dengan jalan terengah-engah. Lalu mereka saling berhenti.
"Maafkan Mas Ardi mba Intan" ucap Alya.
"Aku tidak mau dia mengambil El. Alya" ucap Intan.
"Tidak ada yang akan ambil El Mba. Tapi menurut kita. Mba Intan harus kenalkan El dengan ayahnya, El butuh ayah Mba"
"Apa yang dijatakan Nak Alya benar Nak" sambung Pak Didik.
Intan kemudian diam berfikir sambil memeluk El. Mereka berempat berdiri di parkiran di luar acara.
"Ayo temui Yogi Mba" tutur Alya meminta.
Dan di tempat yang lain, seorang peremluan cantik tampak tersenyum puas melihat Alya di luar acara pesta tanpa pengawalan apalagi suaminya. Dia pun langsung mengeluarkan benda hitam berlubang pada ujungnya.
"Sekaranglah waktunya kamu berakhir Dokter Alya. Dan aku ingin suamimu menangis darah karena kehilangan anak dan istri tercintanya" gumam perempuan itu dengan tatapan bengisnya.
****
Terima kasih masih mau baca.
Sekali lagi mohon maaf sudah buat menunggu karena author lama Up date. Semoga masih setia. Sebentar lagi tamat kok. Hehe
__ADS_1