Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
90. Pindah Kos


__ADS_3

"Becak Neng?" tawar tukang becak melihat perempuan cantik berjalan membawa tas besar.


"Terima kasih Pak, saya mau ke Masjid di depan kok!" jawab Alya menunjuk masjid di depanya. Tukang becak pun pergi lagi. Alya melanjutkan langkahnya memasuki masjid.


Sambil mengelap keringat di keningnya Alya duduk di serambi masjid dekat tempat berwudzu. Alya menghela nafasnya dan mengelus perutnya yang rata. Entah kenapa sejak menyadari dirinya hamil Alya selalu ingin mengelus perutnya.


Alya segera mengambil wudzu dan menunaikan sholat ashar. Alya berdzikir sejenak, berdo'a dan menenangkan hatinya dengan tadarus beberapa lembar. Air mata Alya kembali menetes mengingat suaminya.


Alya ingat betul, meski pernikahanya di luar keinginanya. Alya dengan sadar menandatangani berkas dari KUA, Alya dengan sadar menerima pernikahanya. Itu berarti Alya dengan sadar siap menerima dan menjalankan kodrat sebagai istri. Termasuk di dalamnya menghadapi segala ujian rumah tangga.


Alya berfikir lagi apa keputusanya sekarang benar. Meninggalkan rumah dan suaminya tanpa ijin. Sebagai istri yang mengenal agama tidak seharusnya Alya mengambil keputusan sendiri, meninggalkan rumah tanpa ijin suami jelas sebuah kesalahan. Apalagi sekarang dia tidak sendiri, ada bayi di perutnya.


Tapi kenapa bayangan suaminya meneguk alkohol, duduk bersama laki-laki yang menyandang cap penyuka sesama terasa begitu berat. Hanya membayangkan saja rasanya membuat mual. Entah apa yang dilakukan suaminya di hotel malam itu. Padahal Alya menunggu kabarnya seharian.


Alya menutup Al-Qur'an di tanganya, dimasukan lagi ke tas besarnya. Alya melipat mukenahnya. Alya berfikir lagi, apa yang akan Alya lakukan. Tapi tetap saja, Alya merasakan sakit, Alya merasa dibohongi dan dipermainkan suaminya. Kenapa Ardi tidak segera jujur ke Farid dan Gery kalau mereka sudah menikah. Alya jadi harus ikut-ikutan berbohong pada Anya.


"Entahlah aku berdosa atau tidak, entah ini kekanakan atau tidak, rasanya sakit ya Alloh, pokoknya aku mau ke kos aja! Ampuni aku ya Alloh" ucap Alya dalam hati lebih menuruti emosinya daripada akal sehatnya.


"Maafin ibu ya Nak, ibu janji akan jaga kamu dengan baik" batin Alya mengelus perutnya lagi.


Alya duduk di serambi masjid, mengambil ponsel butut yang baru dia beli. Alya memasukan simcardnya dan menyalakan ponsel itu. Alya menghubungi Anya, kalau dirinya sudah siap pindah kos dan menanyakan alamat lengkap kos Anya.


"Us Alya?" panggil seseorang dari arah tempat berwudzu.


Mendengar seseorang memanggil namanya Alya langsung menoleh dan meletakan ponselnya.


"Kak Farid?" tanya Alya kaget saat melihat laki-laki dengan lengan kemeja digulung ke siku, terdapat percikan air di wajahnya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Farid menelisik melihat tas Alya.


"Emm" Alya gelagapan mau jawab apa ke Farid. "Kak Farid sendiri ngapain di sini?" jawab Alya ngasal.


"Aku? Aku tiap hari lewat sini, mau ke danau, abis ngajar mau sholat dulu. Kamu udah sholat?"


"Udah Kak"


"Oke. Omong-omong, kok bawa tas gede, mau kemana?"


"Emm. Alya mau pindahan kos"


"Sendiri?


"Iya. Alya pindah ke kos temen"


"Oh gitu, aku anter yah! Nggak ada alasan buat nolak lagi. Tunggu aku sholat dulu" jawab Farid setengah memaksa, lalu segera sholat di serambi. Alya hanya diam tidak bisa menolak.


"Mau pindah kosnya kemana?" tanya Farid duduk di tangga serambi masjid setelah selesai sholat. Alya menyerahkan catatan yang diberikan Anya.


"Tapi temen Alya masih jaga sore di rumah sakit Kak" ucap Alya melihat Farid membaca alamat Anya.


"Berarti masih kosong kosanya?"


"Dia pulang jam 9 malam, tapi di kosan katanya ada yang nunggu"


"Oh gitu? Gimana kalau kamu temani aku dulu" tawar Farid mengajak Alya pergi.


"Kemana?"


"Jalan-jalan. Yuk!" jawab Farid tersenyum mengajak Alya jalan.


Alya menatap Farid bingung. Sebenarnya Alya juga ingin jalan-jalan. Tapi menyadari dirinya masih berstatus istri orang, Alya ragu untuk mengiyakan.


"Jalan-jalan kemana? Alya pingin ke kosan langsung aja Kak, mau istirahat" jawab Alya menolak.

__ADS_1


"Bentar doang, ke kafe panti yang di dekat danau, bentar lagi kan mau diresmikan!"


"Tapi ini mau maghrib Kak"


"Masih satu jam lagi Kok. Ke kosanya abis sholat maghrib aja. Ayok!" lalu Farid mengambil tas pakaian Alya dan memasukanya ke bagasi tanpa persetujuan Alya. Alya bangun dan mengikuti Farid.


"Kamu, emang selama ini tinggal dimana?" tanya Farid membuka obrolan ketika menyetir.


"Numpang di apartemen anak Tante Rita" jawab Alya jujur.


"Apartemen Ardi?" tanya Farid menegaskan.


"Iya" jawab Alya tidak nyaman merasa sudah membohongi Farid tentang pernikahanya.


"Kak Farid apa kabar?" tanya Alya memberanikan diri mengulik tentang perjodohan Farid.


"Seperti yang kamu lihat, aku sangat sehat dan bahagia" jawab Farid santai.


"Bagaimana perjodohan Kak Farid?"


"Oh itu?" jawab Farid tersenyum. "Orang tuaku jodohin aku sama cewek yang punya pacar Al" jawab Farid tersenyum getir.


"Terus?" tanya Alya khawatir.


"Ya nggak tahulah, Kak Farid lagi mau urus S3 Al".


"Kak Farid mau lanjut kuliah?"


"Iya"


"Berarti nikahnya ditunda?"


"Kalau kamu mau, sekarang nikah juga Kak Farid siap Al" jawab Farid bercanda membuat Alya langsung terdiam merasa bersalah.


"Nggak, bercanda Al, nggak usah dipikir. Perjodohan Kak Farid masih tetap jalan. Tapi dari pihak perempuan minta waktu, kasian ya aku?" ucap Farid bercerita ramah merutuki nasibnya padahal tidak ada yang kurang dari diri Farid.


"Kamu sendiri gimana? Kapan rencana nikah? Udah punya calon belum?"


"Ehm" Alya gelagapan lalu menundukan mukanya. Mau jujur atau terus berbohong. Alya sudah menikah, bahkan sedang hamil. Alya merasa sudah tidak sanggup lagi membuat narasi berbohong apalagi terhadap orang sebaik Farid. Alya hanya diam memikirkan jawaban yang tepat. Tapi kalau jujur, seharusnya Ardi yang menjelaskan bukan Alya.


"Kok nggak dijawab?" tanya Farid lagi melihat Alya diam.


"Boleh nggak kalau Alya memilih tidak menjawab pertanyaan Kak Farid" jawab Alya bijak tidak ingin salah menjawab.


"Ya, aku nggak maksa kalau kamu nggak mau cerita" Farid mengangguk tidak mau memaksa Alya.


"Maafin Alya ya Kak, suatu saat pasti Alya bisa cerita ke Kak Farid"


"Iya nggak apa-apa santai aja" jawab Farid bijak meneruskan menyetir memasuki area pegunungan.


Sekitar 15 menit mereka sampai di sebuah danau yang tampak asri. Danau itu tidak begitu besar tapi terlihat nyaman. Di atas tebing tampak bangunan dengan lampu berkilauan dengan anak tangga di bawah terhubung ke kafe apung.


"Udah sampai" jawab Farid mengajak Alya turun.


Mata Alya berbinar mengagumi kecantikan kafe yang belum buka ini. Sudah hampir jadi, tempatnya asri, bernuansa alam. Di dalam masih terlihat beberapa tukang merapihkan alat kerjanya karena waktu maghrib waktu istirahat. Rupanya pengerjaanya finishingnya belum 100%, tapi akan dikejar dalam waktu dekat.


Farid berbincang sedikit dengan tukang memastikan kapan waktu kafe siap beroperasi. Farid memang rutin kontrol ke pembangunan kafe panti ini seminggu dua kali. Setelah mengobrol dengan tukang, Farid mengajak Alya ke halaman kafe, mengajak Alya duduk di bangku dekat tebing melihat ke danau.


"Duduklah, kita nikmati waktu sore di sini, bagus kan liat sunsetnya?" ujar Farid memberikan bangku.


"Iyah, cantik banget Kak, Masya Alloh"


"2 minggu sekali Kak Farid kesini" ujar Farid bercerita ke Alya.

__ADS_1


"Kak Farid hebat ya, punya ide seindah ini" ucap Alya memuji dan mengagumi Farid. Kemudian Farid tertawa kecil.


"Kak Farid hanya tinggal menjalankan Al, Kak Farid cuma bantu, yang punya ide bukan Kak Farid" jawab Farid jujur dan merendah membuat Alya terhenyak.


"Emang ide siapa?" tanya Alya ingin tahu.


"Ardi, anak Bu Rita" jawab Farid datar menceritakan sahabat rasa adiknya itu. Alya menelan ludahnya mendengar nama suaminya disebut.


"Ardi? Mas Ardi?" gumam Alya lirih tidak percaya suaminya orang yang berada di balik pembuatan kafe indah ini. Bahkan sertifikat kepemilikanya juga punya Ardi tapi Alya tidak tahu. Lalu Alya mengelus perutnya lembut mengingat anak yang dikandungnya anak Ardi.


"Iya, dulu awalnya Bu Rita hanya punya panti kecil, fokus menghidupi anak-anak dan sekolah reguler. Yang punya ide buat adain guru masak, buka usaha dan yang lain itu Ardi, tapi dia nggak pernah mau ke panti lagi gara-gara Intan, jadilah gue yang harus ambil alih tugasnya, gue yang urusin, tapi tetap konsultasi" lanjut Farid bercerita siapa dia dan Ardi sebenarnya.


"Intan?" tanya Alya merasa terusik dengan nama permpuan yang Farid sebutkan.


"Iya, dia tunangan Ardi"


"Tunangan?" tanya Alya dengan mata terbelalak semakin penasaran. Alya menelan salivanya semakin gundah. Suaminya pernah mempunyai tunangan, tapi Alya tidak pernah tahu.


"Iya, kenapa ekspresimu kaget gitu? Udahlah nggak usah bahas mereka, nggak ada hubunganya sama kita" jawab Farid mengalihkan pembicaraan merasa tidak seharusnya membicarakan sahabatnya.


Berbeda dengan Alya, nafasnya semakin memburu. Rasa ingin tahunya semakin besar, ini pertama kalinya Alya mendengar kalau suaminya pernah bertunangan. Bahkan Bu Rita, Ida dan Mia tidak pernah menceritakanya. Tapi kalau Alya menanyakan lebih jauh ke Farid, apa alasan Alya ingin tahu banyak tentang Ardi.


"Penasaran aja Kak, kenapa tunangannya justru ngebuat Mas Ardi nggak mau urus panti lagi?" ceplos Alya berharap bisa mengulik masalalu Ardi.


"Kamu tanya langsung aja ke orangnya. Kemarin kan udah kenalan. Oh iya, aku malah belum tahu, kok kamu bisa kenal dekat sama Bu Rita, gimana ceritanya?"


"Aku? Bu Rita itu teman ibuku, aku baru selesai koass Kak, Alya ke Jakarta karena intership (magang). Bu Rita nawarin Alya buat tinggal di apartemen Mas Ardi. Bu Rita juga ajakin Alya ke panti, makanya kita jadi kenal"


"Ooh, pantes Ardi nggak tahu menau tentang kamu, kamu kuliahnya di Jogja?"


"Iyah" jawab Alya lirih.


"Kenapa kamu sekarang malah mau ngekos?" tanya Farid heran.


"Alya nggak enak bergantung sama Bu Rita terus Kak" jawab Alya berbohong lagi.


"Oh, sebenarnya kamu nggak perlu merasa begitu. Bu Rita itu orang kaya. Bisa dibilang crazy rich malah. Anak cuma satu lagi, Bu Rita pasti senang bantu kamu, oh iya kamu udah bilang ke Bu Rita kalau mau pindah kos?" tanya Farid tidak ingin Alya salah ambil keputusan.


Alya menelan salivanya mendengar pertanyaan Farid. Mana mungkin Alya pamit ke Bu Rita kalau Alya mau kabur dari suaminya. Jelas akan ditentang sama Bu Rita. Bagaimana juga Alya menjelaskan ke Farid kalau sebenarnya Alya sedang melakukan aksi kabur.


"Alya pengen ada temen Kak" jawab Alya mencari alasan agar tidak ditanyai lagi sama Farid.


"Ooh, semoga betah ya di kos barunya. Eh udah maghrib tuh" ucap Farid mendengar adzan. Lalu mereka meninggalkan kafe dan segera sholat di mushola kecil. Lalu mereka bersiap ke kosan Anya.


"Sebelum ke kosan makan dulu ya!" ucap Farid sambil menyetir.


"Terserah Kak Farid" jawab Alya ramah.


Farid pun mengajak Alya makan di restoran dekat kosan Anya. Setelah makan Farid mengantar Alya ke kosan Anya.


"Al" panggil Farid sambil menurunkan tas pakaian Alya di depan kos.


"Iya Kak"


"3 hari lagi peresmian kafe panti. Datang ya!"


"Iya Kak, jam berapa?" jawab Alya mengangguk.


"Jam 9 pagi, minta nomer hp kamu dong!"


Alyapun memberikan ponselnya ke Farid. Farid mencatat nomer Alya. Lalu berpamitan untuk pulang.


"Makasih Kak" ucap Alya ramah.

__ADS_1


"Moga betah ya, kalau ada apa-apa telpon aja!"


"Iya, Kak Farid hati-hati, daah" ucap Alya melambaikan tangan membiarkan Farid pergi.


__ADS_2