Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
102. Jahat


__ADS_3

****


Kantor Gunawijaya


Dengan tergesa-gesa Ardi berjalan masuk ke ruanganya. Dino sudah menunggu di ruangan sekertaris.


"Masuk Din" perintah Ardi ke Dino. Dino mengikuti bosnya masuk ke ruangan Ardi.


"Kenapa bisa begini Din?" tanya Ardi dengan wajah memerah.


"Tuan Wira membantu putrinya Tuan"


"Sial. Bagaiamana Riko? Gue percaya Riko bisa beresin masalah ini. Kenapa jadi melebar begini sih?" tanya Ardi kesal lalu memeriksa laporan dari Dino.


Setelah rencana Lila tidak berhasil, ternyata dendamnya tidak berhenti. Lila mengadu pada ayahnya dan berniat membuat Ardi rugi. Tuan Lila memfitnah perusahaan Ardi kalau pekerjaanya banyak yang tidak sesuai rencana. Bahkan Tuan Wira juga mempengaruhi perusahaan-perusahaan lain. Untuk membatalkan kerja sama dengan Gunawijaya.


Sebagai calon pemilik yang belum genap 3 bulan bekerja. Ardi tidak ingin mengecewakan orang tuanya dan merugikan perusahaan. Ardi harus bekerja keras mengembalikan kepercayaan klienya. Ardi harus membuktikan dirinya layak menjadi pewaris Gunawijaya.


"Tuan Riko menunggu di kafe serenity Tuan. 30 menit lagi kita kesana" jawab Dino melihat jam tanganya sudah jam 8 malam.


"Atur jadwalku untuk menemui perusahaan-perusahaan yang sudah dihasut Tuan Wira. Gue harus yakinin mereka dan selesein ini!" perintah Ardi ingin segera menyelesaikan permasalahanya.


"Baik Tuan" jawab Dino.


"Tuan Wira! Gue harus beri pelajaran ke mereka. Bahkan dia sudah membuat Berlianku menangis" ujar Ardi geram mengepalkan tanganya.


"Mohon maaf Tuan" ucap Dino ragu-ragu ingin memberitahu kalau tadi siang Intan juga datang ke Kantor.


"Kenapa?"


"Tadi siang Nyonya Intan ke kantor, Tuan?"


"Ngapain lagi jalang itu kesini?" tanya Ardi semakin pusing.


"Saya kurang tahu Tuan" jawab Dino menunduk. Ardi memijat keningnya.


"Huft semoga tidak bikin masalah" ucap Ardi berharap dan tidak tahu mau membuat keributan apalagi si Intan.


Ardi tidak mengira permasalahan perempuan dan pribadinya akan merembet selebar ini. Bahkan mengancam perusahaan dan keluarga barunya. Ardi juga tidak menyangka kalau Tuan Wira dan Lila benar-benar sejahat itu. Padahal Ardi tidak melukai dan merugikanya. Ardi hanya tidak menanggapi perhatian dan permintaan Lila, untuk mengenal dirinya lebih dekat.


Ardi juga sekarang harus mempertimbangkan bagaimana efek segala hal yang dia temui terhadap istri dan calon buah hatinya. Hal ini benar-benar berbeda denganya dulu saat sendiri, bisa mengambil keputusan dengan cepat tanpa memikirkan orang lain.


Ardi menghela nafasnya, dia harus berbicara baik-baik dengan Tuan Wira dan Lila. Ardi merasa, sudah waktunya memberitahu statusnya ke rekan bisnisnya kalau Ardi sudah beristri. Bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Tapi Ardi juga harus memberi peringatan dan pelajaran ke orang yang berani mengusiknya agar mereka tidak macam-macam dan mengibarkan bendera perang.


"Din" panggil Ardi


"Ya Tuan" jawab Dino.

__ADS_1


"Apa sebaiknya, secepatnya gue adain resepsi yah? Gue merasa, gue salah kalau sembunyiin Lian terus" ucap Ardi bertanya pada Dino.


"Jika Tuan yakin, itu yang terbaik, saya akan siapkan segala sesuatunya, Tuan" jawab Dino siap mengadakan resepsi.


"Tapi gue khawatir, apa Berlian bisa jaga diri setelah semua orang tau dia wanitaku, apalagi kalau gue tinggal pergi? Dipanggil Nyonya saja dia tidak mau, pakai sopir saja dia mengeluh" tutur Ardi lagi kembali mempertimbangkan dan ragu akan keputusanya.


"Sebaiknya, Tuan komunikasikan dengan baik bersama Nyonya, Tuan, agar Nyonya Berlian mengerti" jawab Dino berusaha memberi solusi.


Apa yang dikatakan Dino benar. Tidak seharusnya Ardi merasa segala sesuatu bisa dia atasi sendiri dan dia simpan sendiri. Seharusnya dari awal Ardi terbuka dan menceritakan masalahnya ke istrinya. Hubungan pernikahan tidak hanya sekedar hubungan di atas ranjang. Ardi dan Lian harus bisa berjalan beriringan menghadapi semua permasalahan.


"Sekarang perasaanya sedang sangat sensitif dan cemburunya tinggi sekali. Dia bisa menangis tiba-tiba. Padahal sebelumnya dia sangat cerewet dan galak. Bahkan dia pergi dari apartemen, bagaimana aku menjelaskan tentang Intan dan Lila?" tanya Ardi ragu dan menceritakan istrinya.


Dino mengelus tengkuknya mendengarkan curhatan bosnya. Dino membayangkan pacarnya Risa. Risa tidak pernah menangis atau cemburu. Dia perempuan mandiri, dewasa dan lebih sering mendominasi dalam berbagai hal. Bagaimana Dino bisa memberi solusi dia sendiri tidak menemuinya.


"Apa semua wanita hamil begitu? Padahal satu bulan terakhir dia sangat manis dan mulai menurut" tanya Ardi lagi.


Dino semakin tidak bisa menjawab dia kan belum menikah. Apalagi menghadapi ibu hamil.


"Saya juga kurang tahu Tuan. Mungkin sebaiknya Tuan bisa tanyakan ke Arlan?" jawab Dino memberitahu karena Arlan sudah mempunyai dua anak dan berpengalaman dalam rumah tangga.


Ardi mengangguk dan tersenyum. "Iya ya, kenapa nggak gue tanya Arlan"


"Sebentar lagi waktunya bertemu dengan Tuan Riko, Tuan" sambung Dino memberitahu.


"Baiklah. Ayo kita pergi"


Dino dan Ardi meninggalkan kantor menuju ke kafenya. Ardi dan Riko memilih janjian ke kafe milik Ardi, karena itu lebih menjamin keprivasianya dan menghindar dari media. Ardi dan Riko hendak membicarakan sisi gelap Lila yang bisa dijadikan pukulan untuk bisa memenjarakanya. Ardi sudah sangat geram mengingat apa akibat yang ditimbulkan karena ulah Lila.


****


Alya masih berbaring di tempat tidur memegang ponsel bututnya yang dia beli tempo hari. Karena dia baru berbaikan tadi pagi, Alya belum mencatat nomer suaminya lagi. Sehingga Alya tidak bisa menelfon suaminya.


Alya memandangi pintu dengan perasaan kecewa dan sedih.


"Perasaan tadi pagi Dino dan Risha udah ke sini, udah kerja dari sini. Malam kan bukan waktunya bekerja untuk pekerja kantor, kenapa masih saja kerja" gerutu Alya dalam hati merasa kesal dan terabaikan. Perasaan sensitifnya pun datang lagi, air mata Alya sudah terkumpul tapi belum menetes.


Lalu Alya teringat, dulu pernah mengobrol dengan Farid. Kalau Alya bilang, dia tidak ingin menikah dengan pengusaha seperti Tuan Aryo. Karena pasti ditinggal pergi-pergi terus. Tapi takdir justru membuatnya menikah dengan fotokopianya Tuan Aryo.


"Ya Tuhan. Aku termakan omonganku sendiri? Maafkan aku ya Alloh aku bukan kufur nikmat dan menyesali takdirku. Aku berusaha menerima pernikahan ini. Tapi ini benar-benar menyebalkan? Aku tuh beneran istrinya bukan sih? Dia tau kan aku lagi sakit? Jam segini belum juga balik. Ish. Aku butuh dia" gerutu Alya menahan kesal.


Alya pun terpaksa turun dari bed karena ada dorongan untuk BAB. Dengan hati- hati Alya turun ke kamar mandi dengan alat-alat ditubuhnya. Malam itu Alya benar- benar sendirian tidak ada yang menemani.


"Alhamdulillah udah berhenti" ucap Alya bersyukur karena ancaman untuk bayinya sementara aman. Meski tadi pagi sempat berdarah banyak. Siang sudah tinggal Flek. Dan malam ini tidak keluar lagi.


Pelan-pelan Alya kembali ke tempat tidurnya. Alya melihat jam dinding sudah jam 10 malam. Tidak lama terdengar langkah seseorang berjalan ke arah ruangan Alya.


Alya tersenyum senang menatap pintu, bersiap menyambut kedatangan suaminya. Rasanya seperti hendak bertemu dengan suaminya setelah ditinggal lama. Hati Alya berdebar, air matanya seperti tersedot masuk lagi. Entah kenapa semenjak hamil Alya selalu ingin di dekat suaminya, didekapnya dan mencium keringat suaminya.

__ADS_1


"Selamat malam Dokter Alya" sapa perawat hendak mengantarkan obat malam.


Senyum Alya pun hilang. Air matanya kembali terkumpul. Alya seperti hendak menangis karena rasa kecewanya. Tapi Alya tahan karena malu jika ketahuan perawat.


"Malem Kak" jawab Alya mencoba tersenyum ramah.


"Masuk injeksi malam ya Dok, sekarang keluhanya apa?" tanya perawat sambil memberikan injeksi dan memeriksa Alya.


"Nggak ada Kak" jawab Alya merasa sudah baikan dan ingin segera pulang.


"Dokter sendirian?" tanya perawat bersimpati.


"Suamiku lagi keluar sebentar" jawab Alya menahan tangis, karena perawat justru mengingatkan Alya pada suaminya.


"Oh, keren lho Dokter Alya lagi sakit sendirian. Sabar ya Dok. Kalau butuh apa-apa pencet bel panggil kita Dok, selamat istirahat ya Dok. Selamat malam" tutur perawat mencoba perhatian ke Alya.


"Makasih" jawab Alya mengangguk.


Setelah selesai, perawat pergi meninggalkan ruangan Alya. Tanggul pertahanan di kelopak Alya pun jebol. Alya kembali menangis merutuki nasibnya. Suaminya tidak kunjung datang dan menemaninya. Entah kenapa Alya sangat ingin ditemani suaminya di saat berbaring di rumah sakit seperti ini.


"Hiks Hiks" Alya menangis sendirian memegang selimut.


"Sebenernya kemana sih? Dengan siapa dia pergi? Kenapa nggak balik-balik. Sebenernya aku dan pekerjaanya lebih penting mana?" Batin Alya lagi menerka-nerka sendiri. Pikiranya pun kembali berkelana kemana-mana. Dan semuanya tentang hal buruk dilakukan suaminya.


"Kali ini, nggak akan aku maafin. Dasar suami jahat" ucap Alya sambil menangis, merasa suaminya keterlaluan meninggalkan istrinya yang sedang sakit sendirian.


Malam itu pun Alya menangis sendirian, karena lelah menangis. Akhirnya Alya tertidur. Dan tidak menyadari saat suaminya datang.


****


Kafe Estela.


Gery yang berhasil membuntuti Mira ikut masuk ke sebuah kafe yang dulu dia datangi. Mira dan rekanya mengambil kursi dan meja di tengah dekat dengan tempat musik. Gery ikut masuk mengambil tempat dipojokan.


"Kenapa rasanya sangat tidak nyaman melihat Mira pergi bersama laki-laki lain" batin Gery melihat Mira duduk berhadapan dengan laki-laki berpenampilan rapi. Sepertinya dia anggota dewan atau pejabat kenalan orang tua Mira.


Sementara Mira tampak canggung menghadapi laki-laki di depanya. Laki-laki itu sedikit lebih sombong bagi Mira. Dia juga tidak setampan Gery.


Hanya saja Mira merasa umurnya sudah tua, dia harus memikirkan nasibnya, sampai kapan menunggu Gery yang tidak mencintainya. Mira pun mencoba mengenal laki-laki lain.


Setelah Mira berbosa basi dan kenalan. Saling menceritakan pekerjaan masing-masing. Pesanan makanan datang. Mira dan laki-laki yang bernama Tito itu segera menyantap makanan.


Saat Mira hendak memasukan makanan, mata Mira terbelalak. Dilihatnya Gery dipojokan ruangan menatapnya. Mira pun kaget dan tidak mengira.


"Gery? Ngapain dia disini? Apa dia mengikutiku? Buat apa?" batin Mira menelan salivanya dan melanjutkan makanya.


Mira bingung hendak menghampiri Gery, menanyakanya atau tidak. Mira juga tidak mau merasa GR untuk kesekian kalinya. Mira juga tidak nyaman terhadap Tito. Tapi Mira juga penasaran kenapa Gery ada di kafe itu juga.

__ADS_1


Sementara Gery karena ketahuan Mira dia malu ke gep mengikutinya. Gery bangun dari duduknya dan segera pergi meninggalkan kafe. Entah apa namanya, tapi Gery pergi dengan perasaan tidak nyaman. Gery ingin menarik tangan Mira dan mengajaknya pulang. Tapi Mira bukan siapa-siapanya. Bahkan Gery yang selalu menolak Mira.


"Kenapa gue sebodoh ini?" ujar Gery berbicara sambil berjalan ke mobilnya.


__ADS_2