
"Ibu, sehat-sehat di rumah ya" tutur Alya memeluk Bu Mirna.
"Iya Nak, ibu selalu sehat Insya Alloh, sering-sering telfon ibu, kalau libur pulang kesini"
"Baik Bu" jawab Alya sedih masih belum sembuh melepas rindu dengan ibu dan kampungnya.
"Ardi pamit Bu" Ardi berpamitan pada ibu mertuanya dan mencium tanganya dengan sopan. Kini Ardi sudah tidak lagi memandang Bu Mirna rendah. Ardi sekarang sangat menghormati Bu Mirna.
"Jaga Alya baik-baik, Ibu percaya padamu, bocah Sontoloyo"
"Siap laksanakan Bu" jawab Ardi tersenyum akrab ke mertuanya.
"Ish" Lian memandang aneh ke ibu dan suaminya. "Kenapa mereka cepat sekali akrab? Bukanya ibu masih kesal ke dia? Dia benar-benar pandai berpura-pura"
"Hati-hati di jalan, Nak" jawab Bu Mirna melepaskan anak dan menantunya meninggalkan Jogja.
Waktu yang sangat singkat buat Alya dan Bu Mirna melepas rindu, bahkan belum genap satu hari Alya tinggal, dia harus ke Jakarta. Ardi yang sudah aktif di kantor harus segera bekerja.
Begitu juga Alya. Waktu libur Alya juga sudah habis malah Alya berhutang jaga dua hari kepada sahabatnya. Karena jatah libur hanya dua hari dan dua hari sisanya minta tolong ke teman untuk menggantikan jadwal jaga Alya.
*****
"Ke Apartemen atau ke rumah Tuan Besar, Tuan?" tanya Arlan setelah sampai Jakarta.
"Ke rumah dulu Pak" jawab Ardi sambil membetulkan kepala Lian.
Kebiasaan Lian jika bepergian jarak jauh adalah tidur di kendaraan, baik naik pesawat kereta ataupun mobil. Ardi yang pertama kali bepergian bersama Lian sangat bahagia mendapatinya.
Hal itu merupakan kesempatan emas untuk Ardi bisa dekat-dekat dan menyentuh istrinya. Meski Lian dalam keadaan tidur, tetap saja bisa menyentuh Lian menurut Ardi adalah kemajuan untuk hubunganya.
Sekitar jam 7 malam mereka sampai di kediaman Tuan Aryo. Arlan langsung turun membukakan pintu mobil majikanya.
"Ssssttt, jangan keras-keras, nanti dia bangun" bisik Ardi menyuruh Pak Arlan untuk berhati-hati.
"Baik Tuan" jawab Pak Arlan mengangguk.
Ardi masih duduk dibangku mobilnya, Ardi diam sejenak menikmati wajah Lian yang terlelap di bahunya.
"Kamu cantik sekali Lian, pantas saja Farid tergila-gila padamu, beruntungnya aku memilikimu" ucap Ardi dalam hati.
Ardi membelai lembut kepala Alya yang masih tertutup jilbab. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan Ardi mencium kening Lian. Rasanya Ardi ingin mencium ke bagian yang lain. Toh Alya sudah halal baginya. Tapi Ardi takut Alya bangun dan justru marah-marah mengacaukan semuanya. Ardipun memilih menggendong Lian dan membawa ke kamarnya.
Saat masuk, rumah tampak sepi, rupanya Tuan Aryo belum pulang dari bekerja. Dan Bu Rita sedang berada di kamarnya. Sementara para pelayan berada di kamar belakang. Ardi langsung menuju ke kamarnya.
"Kamu istriku, mulai sekarang aku harus buat kamu patuh" gumam Ardi membaringkan Alya di kamarnya.
Alya memang sangat mudah tertidur. Apalagi jika kondisi badan lelah. Jadi digendong Ardi pun Alya masih belum terbangun. Entah Alya "ngebo" atau nyaman hanya Alya yang tahu.
Ardi menelpon pelayan untuk mengantarkan makan malam ke kamarnya. Ardi tidak ingin semenitpun melewatkan waktu berharganya bersama Berlian istrinya. Ardi membersihkan dirinya ke kamar mandi, setelah itu Ardi ikut berbaring di samping Alya.
Tidak berharap ke arah yang lebih dalam, yang penting tidurnya malam ini tidak sememprihatinkan malam kemarin. Setidaknya malam ini Ardi bisa tidur di ranjang yang empuk, sangat empuk malah. Di kamar yang luas, wangi dan ber Ac. Terlebih di sampingnya ada istri cantiknya, syukur-syukur bisa memeluknya.
"Selagi tidur dia kan tidak akan marah dan tidak tahu" gumam Ardi dalam hati ingin menyentuh Alya.
"Tahan Ardi, harus sabar. Pelan-pelan gue bakal jadi suami seutuhnya" Ardi senyum-senyum membayangkan hari indah nanti jika Alya sudah sepenuhnya menerimanya sebagai suami.
Ardi tidur menyamping memandangi Berlian. Dengan ragu dan hati-hati Ardi meraih tangan Berlian, mengelusnya dan menciumnya. Ardi melihat jilbab Berlian yang terlihat miring.
"Kenapa nggak dilepas aja sayang?" gumam Ardi ingin melepas jilbab Lian karena kasihan.
__ADS_1
Pelan-pelan Ardi membuka peniti jilbab Lian, lalu melepasnya pelan. Leher Lian sudah terlihat jelas di mata Ardi. Rambut Lian yang sedikit berantakan di balik jilbab juga terlihat menambah keseksian wajah Berlian.
Ardi menelan salivanya, menahan gelora yang membara. Sebenernya hak Ardi melampiaskan keinginanya melahap sesuatu yang manis di depanya. Memberikan tanda cinta di leher Lian. Toh Lian sudah sah menjadi ladang halalnya. Tapi kemudian Ardi sadar, Ardi ingin melakukanya dengan kesadaran dan keikhlasan kedua belah pihak. Tidak adil rasanya jika Ardi melampiaskanya saat Lian tidur.
Kini jilbab Lian sudah terbuka, tinggal mengambil dari bawah kepalanya. Ardi berniat mengangkat kepala Alya. Tiba-tiba.
"Thok thok" suara seseorang mengetuk pintu.
"****" umpat Ardi lirih, meletakan kembali kepala Lian yang sedikir bergerak.
"Thok thok" pelayan mengetuk pintu lagi agak keras.
Mendengar ketukan pintu, Lian terbangun dan membuka matanya. Sesaat Alya bingung, melihat interior ruangan yang asing di mata Alya.
"Aku dimana? Ini bukan apartemen? Ini juga bukan kamar di rumah Mama Rita yang disediakan untukku, warna catnya berbeda" gumam Berlian saat membuka mata. Matanya berkeliling melihat ke samping mendapati Ardi di sampingnya.
"Mas!" pekik Alya ke Ardi. Ardi tersenyum menjawab pekikan Lian. Lalu melihat ke arah pintu.
"Thok thok" untuk ketiga kalinya pelayan mengetok pintu. Menghindari kemarahan Alya, Ardi memilih bangkit dari tidurnya.
"Masuk" jawab Ardi mempersilahkan masuk pelayan.
"Pesanan makan malamnya saya antar Tuan" ucap pelayan tanpa menoleh.
"Mba Ida?" panggil Berlian melihat Ida menaruh makanan di meja.
Mendengar namanya dipanggil Ida menoleh, Ida terperanjak melihat nonanya terbaring di kasur Tuan mudanya.
"Praang" gelas yang dipegang Ida jatuh "Non Alya?" pekik Ida.
"Haishh! Bisa kerja nggak sih?" Bentak Ardi geram ke Ida menjatuhkan gelas di depanya.
"Mas, jangan galak-galak kenapa? Mba Ida kan nggak sengaja?" tegur Lian, lalu bangun dari tidurnya tanpa memakai jilbab dengan rambut sedikir berantakan.
Selain sopir, belum ada yang tahu kalau Tuan Mudanya ke Jogja untuk menikah. Para pembantu hanya tau kalau majikanya berlibur 3 hari ke Jogja. Ida sangat kaget, Alya teman barunya yang belum lama datang, hari ini tidur satu ranjang dengan yang Tuan Mudanya.
"Bersihkan dan cepat keluar!" Bentak Ardi lagi.
"Mas" panggil Lian tidak suka melihat suaminya marah. Ardi pun diam tidak berkutik ditatap tajam sama istrinya.
"Sini aku bantuin Mba" jawab Lian mendekat ke Mba Ida.
"Ja-ja-jangan Non, ini pekerjaan saya" jawab Ida.
"Ish nggak apa-apa, udah sana balik, biar aku yang beresin, Mba Ida balik ke dapur aja, makasih ya udah dianterin makananya" tutur Alya ramah ke Ida sambil melirik ke suaminya.
"Lian, itu bukan pekerjaanmu" sambung Ardi meraih tangan Alya, dia tidak memperbolehkan istrinya memunguti pecahan gelas.
"Biar saya saja Non" jawab Ida tidak mau disalahkan Tuanya. Lalu Ida mengambil mengumpulkan pecahan gelas dinampan dan segera pergi.
"Ish" Berlian melepaskan tangan dari cengkeraman suaminya dan menatap suaminya, siap menerjang seperti macan yang mau marah.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Ardi menelan salivanya melihat istrinya mode mengomel.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Berlian tidak terima dan berfikir macam-macam.
"Mulai sekarang ini kamarmu" jawab Ardi pelan.
"Kenapa begitu, lalu?" Alya menyadari rambutnya terurai. "Mas apa yang kamu lakukan terhadapku? Kenapa kamu melepas jilbabku?" tanya Alya melihat jilbabnya di atas bantal.
__ADS_1
"Astaga? Mulai lagi perangnya" Ardi mengusap kepalanya gemas, macan cantiknya sedang mode on.
"Kurang ajar kamu ya mas. Ambil kesempatan di saat aku tidur, berani-beraninya" ucap Alya kesal ke suaminya karena sudah membuka jilbabnya dan entah apa yang dilakukan selain itu. Lalu Alya mengambil jilbabnya lagi.
"Apa kamu bilang? Kurang ajar? Aku suamimu?" jawab Ardi membela diri kalau yang dilakukan tidak salah.
Alya menelan salivanya. Mengingat Ardi memang sudah menjadi suaminya.
"Nggak, enak aja, aku masih belum terima. Kamu nggak boleh dong mas, buka-buka jilbabku tanpa persetujuanku"
"Alya Berlian Sari istriku, aku suamimu, aku hanya membantumu, aku bahkan sudah pernah melihat rambutmu sebelumnya. Dimana letak kesalahanku?"
"Kita menikah karena kamu membohongi ibuku. Ingat itu, jadi jangan berharap lebih dariku" ucap Alya berjalan menuju ke pintu.
"Kamu mau kemana?" tanya Ardi gusar sedikit berlari mencegah Lian.
"Tentu saja ke kamar samping. Bu Rita menyuruhku tidur di situ" jawab Alya berhenti karen Ardi berhasil mendahului langkangnya.
"Nggak! Nggak boleh!" Ardi lebih dulu meraih gagang pintu dan menghalangi Lian keluar.
"Kenapa? Minggir, jangan halangi aku" tanya Alya kesal.
"Kamu harus tidur di sini" jawab Ardi lalu mengunci pintu dan mengambil kuncinya.
"Aku nggak mau!" jawab Alya semakin kesal melihat pintunya dikunci.
"Kenapa?"
"Ya pokoknya nggak mau" jawab Alya ngotot.
"Apa aku harus sakit lagi dan menyuruh pegawai PLN untuk selalu memadamkan listrik, baru istriku patuh terhadapku?" tanya Ardi putus asa dan mencondongkan wajahnya ke Lian.
Lian menelan salivanya melihat Ardi mendekatinya. "Aku tidak mau sesuatu terjadi padaku jika aku tidur di sini"
"Oke, Mas janji tidak akan terjadi apapun di antara kita!"
Lian diam, tingkah tidak bisa beralasan lagi.
"Kita sudah suami istri, mengertilah Lian, apa kata orang, jika kita tidur terpisah! Sekarang mandilah, setelah itu kita makan" tutur Ardi melunak mencoba menenangkan macan galaknya.
"Aku mau ambil baju di kamarku" jawab Alya mencari alasan keluar kamar.
"Mama dan Pak Rudi sudah menyiapkan segala keperluanmu. Buka lemariku, cari sendiri yang kamu suka" jawab Ardi yang melihat baju-baju perempuan saat berganti tadi.
Alya menarik nafasnya panjang. Alya melirik Ardi suami tampanya yang duduk di sofa memegang remot hendak menyalakan televisi. Alya pun mengikuti kata Ardi untuk mandi, karena memang badanya kotor.
"Kenapa di hidupku menemukan hal-hal seperti ini? Suami apaan? Ngunciin istri di dalam kamar. Maksa! Aku harus cari cara biar bisa kabur, apa yang akan terjadi kalau aku tetap di sini? Bahkan dia menikahiku dengan cara yang licik. Tidak ada yang jamin dia memenuhi ucapanya?"
*****
Kakak semua...
Ibu- ibu muslimah dan istri solekhah semoga di rahmati Alloh.
Setelah episode ini, akan Author kasih konflik.
Please pahami ini cerita, rangkaian cerita.
yang bisa ambil jeleknya buang dijadikan contoh buruk yang baik diambil baiknya....
__ADS_1
Ini cerita ya. Bukan pelajaran Akidah Akhlak. Jadi bisa dibuat pelajaran, tak semua orang berilmu langsung bisa mengaplikasikam ilmunya secara isntan, hanya saja waktu akan menjadi kesemlatan kita berubah lebih baik.
Fiks kesalahan dari author. Kebaikan dari Alloh.