
****
Rumah Sakit.
Alya duduk melipat mukenanya dan memasukan ke dalam loker kecilnya di kamar dokter. Kemudian Alya duduk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan jaga siangnya.
"Drrrt drrrrt" ponsel Alya menyala.
"Halo Anya" jawab Alya mengangkat telpon Anya.
"Al. Kamu udah di Jakarta lagi?"
"Iya udah, ni aku mau jagain kamu, makasih ya kemarin udah dijagain"
"Iyah, kamu beneran mau jaga lembur, Pagisore? Nggak capek abis perjalanan jauh?"
"Nggak, Anya! Makasih banget ya, udah dijagain"
"Iyah, kangen nih?"
"Sama.... peluk siniih" jawab Alya hangat
"Peluk jauh juga buat kamu. **P**asien banyak nggak? Semangat ya, jangan lupa makan, biar strong"
"Iyah beres, aku kan kerja sama perawat, ada dokter senior juga, amanlah" jawab Alya santai.
"Oke siip. Daah"
"Daah"
Alya menutup ponsel dan mengakhiri percakapan dengan sahabatnya, setelah itu menuju ke kantin untuk makan siang. Alya memesan nasi ayam kremes dan air mineral. Seperti biasa Alya memilih bangku dipojokan kantin. Sekitar tiga suap Alya makan, datang teman dokter menyapanya.
"Hai Dokter Alya? Apa kabar?" tanya seseorang mengambil kursi duduk di depan Alya
"Baik Dok, alhamdulillah" jawab Alya menghentikan suapan makanya sebentar.
"Gimana kabar ibumu? Sehat? Kata temanmu ibumu sakit" tanya rekan Alya yang tidak lain si Gery.
Alya tidak masuk kerja beberapa hari beralasan menjenguk ibunya di Jogja. Alasan yang sedikit jahat mengingat Bu Mirna baik - baik saja. Tapi itu semua ulah si asisten Ardi, Arlan yang mengurus ijin Alya.
"Alhamdulillah sehat Dok" jawab Alya tersenyum.
"Kenapa telepon dan wa ku nggak direspon sih, nggak mau temenan sama aku ya?" tanya Gery kecewa karena beberapa hari ini dicueki Alya.
"Maaf Dok! Saya jarang pegang ponsel"
"Sebagai teman, gue kan juga pengen kenal ibu lo Al, lo ke Jogja lagi, kenalin ya sama ibumu"
__ADS_1
Alya kaget mendengar penuturan Gery. Lalu meneguk air mineral di depanya untuk mengalihkan ekspresinya. "Apa-apaan Dokter Gery mau kenalan sama ibu, bisa digantung aku, apalagi kalau sifat gesrek Dokter ini keluar terus sksd. Terus apa kata si serigala gila itu, statusku yang sudah jadi istri bakal terbongkar. No. No!" gumam Alya dalam hati.
"Kenapa ko diam?" tanya Gery melihat Alya gelagapan.
"Nggak apa-apa Dok. He... "
"Nggak boleh ya aku kenal ibumu?" tanya Gery melihat ekspresi Alya.
"Bukan gitu Dok, Alya nggak tahu kapan pulang lagi"
"Oh gitu, oh iya siang ini boleh main ke apartemen nggak?" tanya Gery lagi.
"Hah? Ke apartemen Dok, maaf sepertinya nggak bisa?"
"Kenapa? Waktu itu kan udah ditolak, bilangnya lain waktu, sekarang boleh dong?" tanya Gery membuat penawaran.
"Saya hari ini lembur Dok, gantiin jadwalnya Anya"
"Oh gitu?" jawab Gery kecewa gagal ngapel lagi.
Alya sangat canggung menghadapi Dokter Gery. Bagaimana menjelaskanya bahkan setelah jelas-jelas Alya menolak dan membuat kesepakatan Gery masih tetap bersikap sama. Kalaupun Alya menjelaskan Alya sudah menikah. Apa mungkin Gery akan percaya. Alya menghabiskan makanya, berharap segera menjauh dari seniornya ini.
"Drrrrt.. drrttt" ponsel Alya bergetar. Gery merasa lega karena Alya memakai ponsel pemberianya.
"Dok, maaf ya, saya pergi dulu, makanku sudah selesai juga" pamit Alya gelagapan, masih membiarkan ponselnya berbunyi. Alya tidak mau mengangkat ponselnya di depan Gery.
"Iya nggak apa-apa. Tapi itu nggak diangkat dulu telponya" tanya Gery curiga.
"Halo, Assalamu'alaikum Mas" jawab Alya terhadap seseorang dibalik telepon.
"Dimana?"
"Di rumah sakit lah Mas, kan Lian jaga"
"Mas tunggu di apartemen sekarang"
"Ih nggak boleh gitu dong Mas, Lian kan kerja, masa pulang sebelum waktunya"
"Ngebantah suami, hukumanya cium. Utang satu"
"Ish, apa sih Mas, nggak jelas banget. Udah Lian mau kerja" jawab Lian ingin mengakhiri telepon.
"Tunggu, nanti pulang jam berapa?"
"Jam 9 malam, ada apa memangnya?"
"Kenapa lama sekali? Nggak boleh! Harus pulang sebelum jam 8"
__ADS_1
"Ya Tuhan, Mas, Alya magang di RS Pemerintah, mana bisa pulang seenaknya begitu?" jawab Alya lagi pusing menghadapi suami posesifnya.
"Hutang dua ciuman" jawab Ardi terkekeh.
"Nggak, enak aja. Udah ya aku mau kerja!" Alya langsung menutup ponselnya. Alya bergidik membayangkan ciuman yang akan terjadi setelah pulang jaga nanti.
"Aish. Gila mana ada perjanjian begitu" Alya berjalan menuju ruang kerja. Sambil memijat pelipisnya entah bagaimana nanti menghadapi suaminya.
"Dasar suami gila, bisa-bisanya aku menikah dengan laki-laki seperti itu,"
Pekerjaan Alya di bangsal sudah selesai. Sore ini Alya jaga di IGD, unit bagian dari rumah sakit yang dipastikan ramai dan banyak pekerjaan, itu berarti ponsel Alya akan dianggurkan. Alyapun mematikan ponselnya dan menaruhnya di tas.
"Dengan begini dia nggak akan telfon-telfon lagi!" gumam Alya menutup resleting tasnya. Setelah itu bergabung bersama tim jaga sore IGD.
****
Apartemen Megayu
Ardi senyum-senyum sendiri memegangi ponselnya. Aura orang kasmaran nampak jelas di wajahnya. Ardi masih mengingat apa yang Ardi dapat semalam bersama istrinya. Hanya Ardi yang tau apa yang telah dia lakukan terhadap Berlian.
Siang itu Ardi ada kunjungan kerja ke proyek di dekat apartemen. Ardi meminta Arlan mampir, berharap bisa melihat wajah cantik istrinya, sebagai penyemangatnya bekerja. Sayang istrinya tidak ada di apartemen.
"Jalan Pak" ucap Ardi setelah masuk ke mobil.
"Cepet banget Tuan" tanya Arlan,
Ardi ke atas apartemen tidak ada 15 menit. Bahkan satu batang rokok Arlan belum habis. Padahal Arlan kira Ardi akan menghabiskan waktu paling tidak 1 jam. Bercumbu dengan istrinya seperti pasangan muda pada umumnya.
"Iya, Berlian belum pulang" jawab Ardi lesu.
"Pantes lemes" goda Arlan ke Ardi.
"Sialan Lu, dah jalan" jawab Ardi menoyor jok mobil yang diduduki Arlan.
Lalu mereka menuju ke tempat proyek pembangungan hotel Tuan Wira, Tuan Wira diwakilkan oleh putrinya Lila. Sehingga siang itu Ardi bekerja bersama Lila.
Dari pertama kali ikut meeting, Lila jatuh hati melihat ketampanan dan kecakapan Ardi. Bahkan Lila mengutarakan perasaanya pada Tuan Wira. Lila seorang gadis muda yang baru lulus kuliah. Usianya masih 23 tahun, dia seorang gadis yang pintar dan cantik. Mempunyai tubuh tinggi ramping, berbeda dengan Alya yang tidak terlalu tinggi dan sedikit berisi.
Beberapa kali Tuan Wira mengajak Ardi mengundang Ardi makan malam, tapi selalu gagal. Tuan Wira ingin Ardi mengenal Lila lebih dekat, tapi Ardi selalu dingin dan hanya berkomunikasi membahas pekerjaan. Siang ini adalah kesempatan buat Lila mendekati Ardi.
Tapi seperti biasa. Ardi tetap dingin saat berhadapan dengan orang luar. Bahkan sejak Ardi turun dari mobil Ardi langsung menuju ke lokasi. Tidak menatap apalagi menyapa Lila. Ardi ke lokasi juga hanya sebentar dan bicara seperlunya. Setelah semua dirasa selesai, Ardi segera berpamitan tanpa menyentuh hidangan yang disediakan Lila.
Tentu saja Lila yang sudah lama menantikan kedatangan Ardi sangat geram. Lila mengepalkan tangan saat melihat Ardi masuk ke mobil dan meninggalkan area proyek. Padahal Lila sudah menyediakan tenda untuk istirahat dan beberapa jamuan. Berharap ada sedikit waktu mengobrol bersama Ardi. Tapi Ardi tetaplah Ardi pria dengan sifat yang tidak bisa ditebak.
"Ke apartemen atau kantor Tuan?" tanya Arlan menstater mobilnya.
"Apartemen" jawab Ardi.
__ADS_1
"Baik Tuan"
Siang itu Ardi mengerjakan pekerjaanya dengan laptop. Ardi menyelesaikanya di apartemen dan mengirimnya lewat email. Ardi ingin istrinya pulang kerja Ardi sudah di apartemen dan menyambutnya.