Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
109. Jemput


__ADS_3

***


Malam itu, di warung tenda pinggir jalan. Ketiga perempuan dengan penampilan simple tapi cantik tampak bahagia. Bahkan Alya sampai tidak merasa kalau dirinya sedang hamil. Mereka merasa lesehan di pinggir jalan itu menjadi tempat nyaman mereka bertukar cerita. Bukan mall atau kafe mewah, tapi lesehan lamongan pinggir jalan.


Mereka tertawa heboh tidak memperdulikan pelanggan yang lain. Meski mereka hanya menghabiskan satu porsi. Tapi meja sampingnya sudah ganti pembeli lain dan sudah berganti tiga pelanggan. Tukang lamongan yang sudah hafal membiarkan mereka meramaikan warung tendanya.


"Gila, kita udah hampir sejam di sini. Bisa dimarahin Dokter Andin gue" ucap Dinda menyadari sudah keluar dari tempat kerja melebihi batas. Padahal pamitnya cuma makan sebentar.


"Lu maah, kebiasaan suka lupa waktu. Ya udah sana balik" jawab Anya.


"Pasien banyak nggak di IGD? Dosa lho ninggalin pasien" tegur Alya menasehati.


"Ya kali banyak pasien gue bisa keluar. Nggak mungkinlah. Gue nggak separah itu kali! Santuy sih tadi pas gue keluar lagi sepi. Tadi abis riweh. Istrinya Dokter Stefan lahiran" jawab Dinda sambil cerita.


"Oh iya? Istrinya Dokter Stefan lahir di sini? Waah" jawab Anya tidak menyangka direkturnya lebih memilih fasilitas RS Daerah Pinggiran bukan rumah sakit swasta yang elite.


"Emang kenapa lahir di sini? Sini bagus kok" sahut Alya merasa percaya diri dengan kualitas RS yang dia tempati sebagai tempat magang.


"Ya kan itu bayi mahal. 10 tahun lho nunggunya" jawab Anya.


"Oh gitu? 10 tahun? Baru denger aku" jawab Alya lagi


"Masuk NICU tau. Semoga selamat, nggak kebayang gue gimana perasaan Dokter Stefan" sambung Dinda lagi.


"Oh ya? Ya ampun kasian banget, semoga bertahan" ucap Alya.


"Untung Dokter Mira mau balik ke rumah sakit dia tadinya udah pulang, dan untungnya juga Dokter Gery belum pulang jadi ketolong" jawab Dinda.


"Dokter Mira dan Dokter Gery bareng?" tanya Alya gembira karena jarang-jarang mereka berdua berpartner bersama.


"Iyah" jawab Dinda. Alya pun mengangguk senang berharap kedua seniornya itu semakin dekat.


"Dengerin tuh Al. Bersyukur lo, baru main satu bulan langsung tek dung" ucap Anya ke Alya.


"Ishhh" jawab Alya malu.


"Iyah, sampai- sampai nggak kasih tau temen kapan bikinya, diem-diem, tau-tau udah isi aja. Ngebut ya?" sahut Dinda meledek Alya masih enggan bangun dari duduknya.


"Kalian apaan sih? Kenapa jadi mojokin aku gitu? Kan aku udah minta maaf! Udah sana balik kerja" jawab Alya tidak ingin diledek temenya lagi.


"Iya lo balik lo sana enak banget kerja malah nongkrong" timpal Anya.


"Yang ajak gue makan siapa? Kan gue keluar makan, salah kalian ajak gue ngobrol" jawab Dinda ngebanyol karena Alya dan Anya yang video call ajak Dinda makan bareng.


"Iya ya gue yang ajak, he.. Udah sana balik!" jawab Anya nyengir. Lalu Dinda bangkit dan bergegas pergi. Saat Dinda berdiri Dinda melihat mobil suami sahabatnya.


"Al itu mobil suami lo bukan sih?" ucap Dinda saat hendak meninggalkan tenda.


Alya dan Anya yang masih berada di dalam tenda mendongakan kepalanya. Mereka melihat ke arah pintu masuk rumah sakit. Memperhatikan mobil yang dimaksud Dinda.


"Iyah" jawab Alya biasa aja melihat mobil suaminya.


Anya yang tau Alya menangis saking kangenya sama suaminya, menatap heran ke Alya. Eskpresi Alya sangat berbeda. Tadi sore tampak sangat menyedihkan, sekarang mukanya sangat datar melihat mobil suaminya. Tidak ada raut bahagia seperti layaknya orang yang menunggu jemputan.

__ADS_1


"Kok dia malah ke rumah sakit lagi? Kan lo udah pulang" tanya Dinda tidak tau apa-apa.


"Udah sana kamu kerja lagi. Nggak usah ngurusin orang itu. Dimarahin Dokter Andin nanti kamu lho" jawab Alya bete dan tidak ingin membahas suaminya.


"Ish tanya doang juga. Iya ya. Gue balik kerja. Thanks ya!" jawab Dinda lalu pergi. Meninggalkan dua sahabatnya di warung tenda.


"Kok lo gitu sih Al?" tanya Anya heran.


"Gitu gimana?"


"Lo nggak nyusulin suami lo masuk. Atau samperin gitu, kok lo nggak seneng sih?"


"Buat apa?"


"Bukanya daritadi lo nungguin dia, sampai nangis bombay gitu"


"Bete aku tuh!" jawab Alya datar.


"Ya elah, lo udah kasih tau dia kan? Kalau lo di kosan gue dan lo udah dibolehin pulang?"


"Udah. Makanya aku tuh bete. Pasti dia nggak baca pesenku. Kebiasaan dia. Biarin tau rasa dia celingukan sendiri. Kesel" jawab Alya curhat.


"Hishhh kalian ini? Kaya abg aja. Udah mau jadi nyak babe juga. Coba lo telp dia. Gue nggak mau nampung lo lagi? Ntar dosa gue" tutur Anya menasehati Alya.


"Ih kamu, katanya aku boleh nginep" jawab Alya lagi.


"Nggak! Janjinya lo di kosan gue sampai suami lo datang. Buru telpon suami lo, kata ibuku nggak baik perempuan bersuami tidur di tempat orang" tutur Anya lagi.


"Iya aku telpon, aku balik ke suami kok" jawab Alya meraba sakunya.


"Ya udah balik yuk!" ajak Anya


"Ayuk"


"Tapi suami lo gimana?" tanya Anya


"Kan tadi perawat tau kamu yang jemput aku. Biar aja dia bingung dulu" jawab Alya tersenyum senang membayangkan suaminya kebingungan.


"Dasar lo. Lo emang udah nggak kangen sama suami lo?" jawab Anya heran


"Nggak!" jawab Alya singkat karena memang sekarang mut nya sudah berubah.


"Awas aja kalau lo tetiba nangis-nangis datang ke gue!" ancam Anya ke Alya.


"Udah ah. Ayuk bayar terus pulang" ajak Alya ke Anya tidak mau membahas kesalahan Alya lagi. Lalu mereka berdua membayar.


"Makasih Pak" jawab Alya menerima uang kembalian.


"Saya yang terima kasih Dok. Makasih udah dilarisi" jawab mamang lamongan.


"Maaf udah berisikin ya Pak" ucap Anya menimpali.


"Iya nggak apa, seneng saya mah Dok, jadi rame" jawab Mamang lagi sambil tertawa.

__ADS_1


Alya dan Anyapun berpamitan dan segera pulang ke kosan Anya dengan naik motor.


****


Ardi berjalan setengah berlari menuju ruang rawat istrinya. Otaknya dipenuhi berbagai prasangka dan kekhawatiran. Terbayang wajah imut istrinya manyun, atau menangis dan mulutnya akan terkunci mendiamkanya entah sampai kapan.


Lebih dari itu pikiran Ardi berkecamuk, apa istrinya baik-baik saja, atau kembali perdarahan. Jika itu yang terjadi Ardi tidak akan memaafkan dirinya sendiri, kenapa meninggalkan ponselnya. Alya sampai menelpon 50 kali itu berarti Alya membutuhkanya. Bodohnya Ardi mengabaikan istri tercintanya itu.


Perawat yang tahu Ardi suami Alya agak heran saat Ardi berjalan melewati nurse station. Tapi perawat ragu menyapa Ardi karena Ardi berjalan cepat dengan wajah fokus ke depan. Sebenarnya perawat mau memberitahu kalau Alya sudah pulang siang tadi, tapi perawat membiarkan Ardi mengecek sendiri ke kamar.


"Ceklek" Ardi membuka pintu ruang rawat Alya. Matanya terbelalak. Kamarnya kosong, sosok yang dia rindukan tidak ada. Sprei dan perlak di atas bed pun sudah tidak ada. Bahkan kursinya dalam posisi terbalik. Barang-barang istrinya juga tidak ada.


"Sayang" panggil Ardi semakin panik dan gusar. Keringatnya pun mulai keluar. Ardi keluar sebentar dan memastikan nomor kamar nya, nomornya benar itu kamar tempat Alya dirawat. Pikiran Ardi kembali dipenuhi prasangka, detak jantungnya berdebar keras.


"Apa Alya dipindahkan ke ruang lain? Apa terjadi sesuatu? Atau sudah pulang? Alya pulang kemana? Dengan siapa? Alya tidak punya keluarga, gue suaminya, gue satu-satunya keluarganya di sini. Gue juga yang bertanggung jawab" batin Ardi mengusap rambutnya kasar.


Ardi gelagapan, Ardi menelan salivanya. Ardi mengatur nafasnya dan menenangkan pikirannya. Ardipun berlari keluar dan menanyakan ke perawat.


"Sus, istri saya kemana? Kok nggak ada?" tanya Ardi panik.


"Dokter Alya sudah pulang, Tuan!" jawab perawat sopan.


Mendengar sudah pulang, detak jantung Ardi sedikir lebih pelan. Berarti istri dan anaknya sehat. Tapi kemana istrinya pulang? Dengan siapa Alya membawa barang-barangnya? Jangan-jangan kabur lagi.


"Pulang?" tanya Ardi menanyakan ulang.


"Iya Tuan"


"Dengan siapa dia pulang. Maksud saya, kapan? Terus barang-barangnya kan banyak?" tanya Ardi menerka-menerka.


Mendengar pertanyaan Ardi, perawat menanyakan ke ke teman lain. Karena dirinya tidak melihat Alya pulang. Setelah bertanya-tanya ada satu perawat yang melakukan edukasi ke Dokter Anya.


"Dokter Alya dijemput Dokter Anya Tuan" jawab perawat.


"Oh. Oke makasih" jawab Ardi tersenyum.


Ardi menghela nafasnya lega. Yang penting bukan Gery atau laki-laki lain yang menjemputnya. Ardi menganggukan kepala dan berpamitan ke perawat. Kini semangatnya kembali membara.


"Suami Dokter Alya ganteng banget ya?" bisik perawat ke perawat lain yang masih di dengar Ardi.


Ardi pun tersenyum. Karena kenyataanya Ardi memang ganteng. Tuan Aryo merupakan blasteran Jawa-Belanda. Sementara Bu Rita Jawa-Cina, dan Ardi gabungan dari mereka. Ardi merasa percaya diri, dan berfikir seharusnya Alya bersyukur dipilih sebagai istrinya. Ardi yakin istrinya tidak akan marah pada Ardi yang ganteng itu.


Ardi berjalana mencari Arlan. Karena Ardi tadi sudah berpesan Arlan jangan dulu pergi. Benar saja Arlan masih menunggu di parkiran.


"Ada yang harus saya beli Tuan?" tawar Arlan karena Arlan mengira dia disuruh stand by karena bersiap menyediakan apa yang Ardi minta.


"Tidak, kita jemput istriku" jawab Ardi.


"Jemput?" tanya Arlan heran. Bukanya Nyonya mudanya ada di dalam rumah sakit sana.


"Iya, kita jemput ke kosan teman istriku, tidak jauh kok dari sini" ucap Ardi masuk ke mobil.


"Maksudnya Nyonya sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Arlan lagi.

__ADS_1


"Sudah cepat jalan, ke kanan rumah sakit, arah perumahan griya asri masuk, rumah kelima dari pintu masuk" jawab Ardi ingin segera menjemput istrinya.


__ADS_2