Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
37. Balada Air pel-pelan.


__ADS_3

Dengan kesadaran yang belum terkumpul Ida dan Mia bangun. Hatinya penuh dengan pertanyaan. Kesalahan apa yang mereka buat, sehingga membuat mereka dibangunkan tengah malam disuruh ke ruang kerja.


"Apa ini akhir dari pekerjaan kita Mia?" tanya Ida sambil berjalan dari rumah belakang.


"Aku tidak tahu, bahkan aku tidak habis pikir sebesar apa kesalahan kita sampai malam-malam begini kita dipanggil" Mia berjalan pasrah.


"Sepertinya kita tidak melakukan kesalahan apapun!" jawab Ida


"Kepalaku pusing sekali, aku baru terlelap, kenapa Den Ardi memanggil kita tengah malam begini?" keluh Mia.


"Sudahlah kita hanya bisa berdoa vampir itu tidak menghabisi kita" jawab Ida.


Mereka berdua tiba ke ruangan kerja Ardi.


"Thok thok" Ida mengetuk pintu kerja Ardi.


"Masuk" jawab Ardi tegas.


Dengan langkah berat dan gemeteran Ida dan Mia masuk ke ruang kerja Ardi. Tampak Ardi duduk dengan satu kaki diangkat ke atas dan menyandarkan kepala di kursi kerja. Sejenak Ida dan Mia menatap ke Ardi, mendapati wajah tampan, bersih dan dingin sedang memejamkan mata. Pemandangan yang indah untuk dinikmati kedua ART itu.


"Selamat malam Tuan Muda" sapa Ida dan Mia gemeteran.


Ardi membuka matanya yang mulai mengantuk.


"Hoaam" Ardi menguap menahan kantuk lalu menatap ke arah Ida dan Mia. Ida dan Mia berdiri menunduk bersiap-siap dengan segala kemungkinan terburuk.


"Kalian yang membersihkan kamarku dan pakaianku?" tanya Ardi.


"I-iya Tuan"


"Apa kalian menemukan dompetku?" tanya Ardi tajam.


"Ti-tidak Den" jawab Ida dan Mia bersama.


"Sungguh?"


"Iya Tuan"


"Hemmmm"


Ardi diam mengingat sesuatu. "Ya, Tuhan, aku kan menginap di apartemen, apa dompetku tertinggal di sana?"


"Ya sudah, kembali ke kamar kalian" ucap Ardi datar.


Mia dan Ida pun bernafas lega meninggalkan ruang kerja.


"Kirain ada apa? Ternyata hanya tanya dompet, dasar vampir" Ida mengumpat sambil berjalan menuruni tangga.


"Iya, mengganggu tidurku saja" imbuh Mia. Mereka menuju ke rumah belakang untuk istirahat kembali.


Ardi kembali ke kamarnya membersihkan badan dan mengganti pakaianya. Ardi menseting alarm pagi- pagi. Sebelum ke kantor Ardi berniat mampir ke apartemen.


****


"Pah... " panggil Bu Rita.


"Iya Mah"


"Ardi nggak sarapan lagi?"


"Mungkin belum bangun"

__ADS_1


"Apa dia menginap di luar lagi?" tanya Bu Rita lagi.


Tuan Aryo diam tidak menjawab.


"Mamah ke atas dulu Pah. Mama mau cek sendiri" jawab Bu Rita.


Bu Rita berdiri, dan bergegas ke kamar anaknya. Dibukanya pintu kamar putranya itu, ternyata tidak ada siapapun. Bu Rita juga mencari ke kamar mandi ternyata nihil. Lalu bu Rita berjalan dengan menahan kesal ke dapur.


"Pagi Nyonya ?" sapa Bu Siti.


"Pagi" jawab Bu Rita sedikit kesal. "Apa kalian melihat Ardi putraku?"


"Tuan Muda pergi pagi-pagi sekali Nyonya?" jawab Bu Siti.


"Jadi Ardi sudah pergi? Kemana dia?"


"Iya Nyonya, Den Ardi pagi-pagi sudah rapih dengan pakaian kerjanya"


"Ya sudah, terima kasih Bi"


"Iya Nyonya"


Bu Rita kembali kembali ke meja makan menemani suaminya sarapan.


"Kenapa Mah?" tanya Tuan Aryo.


"Kenapa Papah tenang-tenang saja?"


"Lha memangnya kenapa Papah harus tidak tenang Mah?"


"Papah!" Bu Rita merajuk.


"Tapi Pah, tidak bisakah dia pulang tepat waktu, dia bahkan sudah dua hari ini nggak sarapan bareng, pulang selalu malam, bawa teman mabuk lagi. Mama pusing Pah"


"Mamah yang membuat mamah pusing sendiri"


"Mamah nggak ngerti sama papah, bahkan teman-teman mamah udah punya cucu lho pah. Lihat anak kita!" jawab Bu Rita cemberut.


"Mamah tenang aja, itu urusan anak buah papah" jawab Tuan Aryo.


"Maksud Papah?"


"Mah, percaya sama papah!"


"Papa juga udah siapin perjodohan Ardi?" tanya Bu Rita tidak mengerti.


"Nanti Mamah tau sendiri, ya sudah papah berangkat ya" pamit Tuan Aryo mencium kening istrinya. Bu Rita pun hanya diam pasrah menahan kebingungan reaksi suaminya.


****


Hari itu jadwal kerja Alya siang. Selesai sholat subuh Alya mengaji. Selesai mengaji dia berhenti sejenak duduk di sofa kamar, membaca pesan di grup whatsapnya dengan Hp baru pemberian Gery. Alya melihat dompet Ardi lagi.


"Haiisshh... kenapa juga semalam aku tidur di sofa depan? Dia bahkan tidak datang"


"Tapi kenapa dia tidak mencari dompetnya ya? Kalau aku sudah pusing tujuh keliling mencarinya, orang kaya memang beda"


Lalu Alya merapihkan mukenahnya. Dia menuju ke kamar tengah untuk olahraga pagi, setelah itu Alya membuat makanan.


Pulang kerja kemarin Alya sempatkan membeli sayur dan lauk, jadi hari ini Alya masak makanan lengkap. Alya membuat udang crispy, tumis kangkung dan membuat salad buah.


Selesai masak Alya menyalakan musik DJ, untuk menemani Alya bebersih apartemen. Alya melepas jilbabnya karena gerah. Alya menggulung rambutnya dan mengikat ke atas. Alya mengenakan kaos ketat lengan pendek dan celana kerut selutut. Alya menyapu dan mengepel seluruh ruangan apartemen.

__ADS_1


*****


"Pagi Pak Yon" sapa Ardi dari dalam mobil menyapa Pak Yon yang hendak pulang jaga malam.


"Pagi Den, tumben pagi-pagi kesini?" tanya Pak Yon.


"Iya Pak, ada perlu sebentar" jawab Ardi. Lalu Ardi memarkirkan mobilnya. Setelah itu bergegas masuk ke lift naik ke lantai 7.


Tanpa memencet bel dan memberi salam, Ardi langsung menekan tombol sandi apartemen dan masuk.


"Ya Tuhan, apa yang perempuan gila itu lakukan, memutar musik sekeras ini" gumam Ardi sambil melepas sepatu di ruang tamu.


Setelah selesai melepas sepatu Ardi berdiri dan berjalan menuju ke kamar berniat mencari dompet. Ardipun berjalan cepat, belum menemui lantai yang basah, karena Alya memulai pel dari dapur dulu.


Alya yang sedang ngepel di kamar, berjalan mundur menggerakan kain pel keluar kamar dengan semangat. Karena suara musik DJ yang keras Alya tidak menyadari kedatangan Ardi.


Saat di ruang tengah mendekati kamar barulah Ardi memelankan jalanya menyadari lantainya basah dan bau aroma parfum lantai. Baru saja Ardi hendak memelankan langkah, Alya dari keluar dari dalam kamar, Alya yang menggerakan pel dengan langkah mundur dan menabrak Ardi.


Ardi yang tidak siap ditabrak karena merasa lantainya licin kehilangan keseimbangan, lalu menarik tubuh Alya.


"Brug"


Mereka jatuh, dengan posisi Ardi di bawah menarik tubuh Alya berniat pegangan. Alya Yang berjalan mundur memegan alat pel ketarik Ardi. Tongkat pel Alya jatuh mengenai ember sehingga ember tumpah.


"Sial" gerutu Ardi yang tertindih badan Alya dan mencium keringat Alya.


Kali ini aroma Alya berbeda dengan malam itu yang wangi. Badan Alya kini bau bawang dan keringat. Ardipun langsung mendorong Alya menjauh darinya. "Iuwww bau sekali rambutmu". Ejek Ardi ke Alya.


"Auw sakit tau" pekik Alya karena tubuhnya tergelincir mengenai kain pel.


"Lo pikir gue nggak sakit. Lo liat baju gue basah!"


"Sial sial. Kamu yang salah, niih sakit lenganku" balas Alya galak, dengan rambut berantakan dan kaos Alya basah kena aliran cairan pel. Buah Alya yang ranum pun tampak menantang karena Kaos Alya basah.


"Makanya kalau kerja jangan sambil musikan, jadi ngelamun kan? Punya mata nggak dipake!" umpat Ardi sambil menelan saliva melihat ke Alya.


"Hah! Apa kamu bilang?" tanya Alya sinis melotot ke Ardi. "Kamu yang punya mata nggak dipakek. Main tabrak aja. Tuh liat! Jadi kotor lagi kan!" bentak Alya menunjukan air dari ember mengalir kemana- mana.


"Enak aja! Kamu yang nabrak aku!" jawab Ardi tidak terima.


"Emang kamu nggak lihat aku lagi ngepel?"


"Nggak!"


"Makanya kalau masuk itu pencet bel dulu. Sopan! Ngerti nggak!"


"Apa? Sopan?" tanya Ardi menatap Alya.


"Ya, kamu tuh kaya jaelangkung datang tiba-tiba. Nggak sopan! "


"Hei! Kamu lupa siapa yang punya tempat ini?" bentak Ardi.


"Tapi kan kamu juga tau ada siapa di sini" jawab Alya melotot.


"Terserah aku lah"


"Ya harusnya tau, ada orang lain di dalam, pencet bel dulu, jadi yang di dalam tuh bisa siap-siap"


"Maksud kamu bersiap-siap?"


"Ya siap-siap nerima tamulah nggak kaya gini! Bodoh banget sih!" umpat Alya.

__ADS_1


__ADS_2