Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
163. Semangat Gery


__ADS_3

****


Dengan didampingi Arlan dan Dino, Ardi turun dari mobil mewahnya. Ardi menggunakan setelan kemeja hitam dan menggunakan kacamata hitam. Aura ketampanan Ardi sangat menonjol, membuat pusat perhatian para pelayat.


Di belakang Ardi, Riko dan asistenya juga turun dari mobilnya. Riko menggunakan kacamata dan masker wajah. Sebagai publik figur, Riko tidak ingin membuat kegaduhan, jadi menyembunyikan wajah tampanya dengan masker.


Mereka berlima berjalan membelah kerumunan. Berjalan mendekati keranda mayat yang ditutup dengan kain hijau. Tangisan pilu terdengar menyayat hati Ardi dan rombonganya.


Terlihat seorang remaja perempuan usia 16 tahun menangis tersedu-sedu. Di sampingnya terlihat seorang ibu merangkul dua putranya yang masih usia sekolah dasar. Mereka anak dan istri Jack.


Ardi membuka kacamatanya. Menyeka air matanya yang hampir jatuh. Ardi mengepalkan tanganya. Sungguh bi**ap orang yang tega menghabisi Jack.


Jack seorang ayah yang menjadi tulang punggung di keluarganya. Jack berasal dari keluarga miskin. Sehingga Jack hanya tamat SMP. Itu sebabnya Jack terpaksa menjadi pelayan di tempat perjudian.


Jack bekerja keras untuk menghidupi ketiga anaknya. Jack tidak ada pilihan lain bekerja di tempat kotor itu. Tapi dari situ Jack jadi banyak menyimpan rahasia dari orang-orang jahat di negaranya.


Sebenarnya Jack ingin segera keluar dari tempat itu. Tapi Jack bingung mau kerja dimana. Rencananya, karena dia sudah membantu Ardi memata-matai Lila dan John. Uang dari Ardi akan dia gunakan untuk membuka usaha. Jack ingin keluar dari tempat perjudian itu.


Malam itu Jack sangat bahagia menceritakan sesosok Ardi pada istri dan anaknya. Jack juga menceritakan rencana Ardi.


Tapi naas, paginya saat Jack hendak pergi bekerja, Jack dihadang beberapa preman. Jack dipukuli habis-habisan sampai meninggal.


Dan kini mimpi Jack dan keluarganya hancur lebur. Bayangan membuka usaha, mendapatkan rejeki dengan cara halal dan berkah hilang. Berganti dengan tangis kepedihan. Jack terpaksa pergi meninggalkan ketiga anak dan istrinya.


Ternyata saat Jack bertemu Ardi dan Riko ada yang melihatnya. Awalnya orang itu hanya curiga. Orang itu mengikuti Jack. Saat Jack bercerita dengan istrinya, penguntit itu mendengar semua rencana Ardi.


Penguntit itu laporan ke atasanya. Dan atasanya langsung menyuruh ke penguntit itu menghabisi Jack. Dan mereka berhasil mengubah rencana menghindari polisi dan Tim Ardi.


"Ehm. Selamat siang Bu Reni" sapa Dino sekertaris Ardi menyapa istri Jack.


Anak dan istrinya kaget saat menoleh ke belakang. Mereka kedatangan tamu tak dikenal. 5 pria tampan bertubuh tinggi, kulitnya bersih semua, berpenampilan rapih dan berbau wangi.


Bu Reni mengingat-ingat tidak ada teman atau saudara mereka bertubuh seperti tamunya sekarang. Bu Reni dan anaknya menelan ludah sedikit ketakutan.


"S-s-siapa kalian?" tanya Bu Reni terbata.


"Perkenalkan, saya Ardi, teman suami ibu. Kami ikut berbela sungkawa ibu, atas berpulangnya Tuan Jack" ucap Ardi dengan mulut tercekat menahan pilu.


"Tuan Ardi?" gumam Bu Reni dan Bintang anak tertua Jack. Anak dan ibu itu kemudian mengingat cerita bapaknya.


"Ngapain kamu kesini? Pergi kalian! Pergiii! Huaaa huaaa" teriak Bintang spontan dengan menangis. Bintang mendorong tubuh Ardi secara kasar.


Bu Reni dan rombongan Ardi ikut terhenyak dan kaget. Untung Ardi menutupi matanya dengan kaca mata hitam, sehingga menutupi matanya yang memerah.


Ardi tidak melawan perlakuan bintang. Ardi justru ingin menangis melihat Bintang menangis tersedu-sedu.


Ardi tau kepedihan keluarga Jack. Ardi juga merasa bersalah karena Jack berakhir seperti karena menolongnya. Anak-anak Jack masih sangat membutuhkan kehadiranya. Apalagi dari mereka bertiga masih sekolah semua.


Ardi mengeraskan rahangnya menahan geram dan sakit yang menyayat hati. Penjahat itu bukan hanya merenggut nyawa Jack. Dia sudah melakukan kejahatan menjual barang haram, masih membuat tiga orang anak terancam putus sekolah dan kehilangan harapanya.


"Nak, tenangkan dirimu, kamu tidak boleh begitu" tutur Bu Reni lembut mencegah Bintang.


Para pelayat ikut menyaksikan adegan itu.


"Mereka yang menyebabkan bapak dibunuh Bu. Bintang nggak mau ketemu mereka. Bintang benci mereka. Kenapa bapak harus berurusan dengan mereka. Huaaa huaaaa" Bintang meracau sambil menngis.


Bu Reni pun ikut menangis tidak kuasa menahan Bintang dan melihat jasad suaminya.


"Pergi kalian pergii, kembalikan bapakku" teriak Bintang lagi hendak memukul dan mendorong Ardi tapi langsung dicegah Bu Reni.


"Sabar Nak. Tuan Ardi bukan orang jahat. Tuan Ardi ingin menolong bapak untuk keluar dari tempat itu" bisik Bu Reni pelan.


"Dia yang membuat bapak dibunuh Bu. Kenapa Bapak harus kenal dia?" jawab Bintang masih menangis.


"Ini semua bukan salah Tuan Ardi Nak. Kamu harus sabar, bapak meninggal bukan karena itu. Kamu nggak boleh begitu" tutur Bu Reni lagi menahan tangis.


Bu Reni harus lebih tegar agar bisa membimbinh anak-anaknya. Bintang mendengarkan ibunya meski masih sesenggukan.


Lalu Bu Reni memapah Bintang untuk masuk. Saudara Bu Reni dengan sigap menuntun Bintang dan menenangkanya. Bu Reni kembali menemui tamunya.


"Maafkan anak saya Tuan, mari silahkan duduk, sebentar lagi jenazah suami saya akan diberangkatkan" tutur Bu Reni sambil menyeka air matanya.


"Baik Bu" jawab Ardi dan rombongan.

__ADS_1


Pemuka agama dan perangkat desa di komplek kumuh itu maju ke depan. Mereka memimpin upacara penghormatan terakhir untuk Jack dan doa pelepasan.


Lalu keluarga dan kerabat mengantarkan Jack ke tempat istirahat terakhirnya. Putri dan putra Jack mengiringinya dengan tangisan yang masih sama. Beberapa pelayat saling berbisik dan membuat cerita sendiri melihat rombongan Ardi.


Beberapa polisi juga tampak berjaga di depan rumah sempit milik Jack itu. Riko dan lain pun menyapa polisi. Awalnya para polisi sedikit enggan, tapi setelah Ardi memperkenalkan diri dan Riko membuka masker, polisi menyambut mereka dengan baik.


"Jadi kejadianya tadi pagi Pak? Bukan tadi malam?" Tanya Ardi meluruskan informasi. Ardi menceritakan ke Alya, Jack dibunuh sore kemarin.


"Betul Tuan" jawab Polisi.


Ardi dan Riko menghela nafas dan bersedekap. Ardi merasa harus bisa membantu polisi mencari pembunuh Jack.


Karena pelaku pembunuh Jack dan teman Lila pastilah berhubungan. Menemukan pembunuh Jack juga bisa membongkar kejahatan penjualan barang terlarang.


"Kami sedang menyelidiki pelakunya. Dan kami juga mengumpulkan bukti-bukti Tuan"


"Bagus Pak. Saya akan membantu. Nanti saya akan ke kantor" ucap Ardi berniat kerja sama dengan polisi yang bertugas menangani pembunuhan Jack.


Lalu Ardi dan rombongan menyusul ke tempat pemakaman. Setelah pelayat sepi, Ardi kembali menemui keluarga Bu Reni.


"Terima kasih sudah berkunjung kemari Tuan" ucap Bu Reni menunduk menyapa rombongan Ardi di bawah pohon tidak jauh dari makam Jack.


"Sekali lagi, kami ikut berbela sungkawa Bu" ucap Ardi singkat.


"Terima kasih Tuan"


"Saya berjanji akan menemukan pelakunya agar mempertanggung jawabkan perbuatanya" sambung Ardi lagi.


"Terima kasih, hiks hiks" ucap Bu Reni kembali menangis mengingat betapa jahatnya pelaku itu.


"Untuk masa depan anak-anak ibu jangan khawatir. Lusa saya ke sini lagi bersama istri saya" ucap Ardi lembut melirik ke anak-anak Jack, dua diantara nya terlihat masih berumur 7 dan 8 tahun.


Ardi berniat membantu menanggung pendidikan anak-anak Jack. Tapi tentu saja, Ardi akan berdiskusi dulu dengan istrinya. Dan Ardi yakin Alya pasti akan langsung setuju.


"Terima kasih Tuan" ucap Bu Reni lagi.


"Baiklah Bu, kami mohon pamit" ucap Ardi berpamitan.


Lalu Ardi dan rombongan pergi. Ardi dan Riko berniat mampir ke kantor polisi.


"Gue balik dulu Bro. Istri gue nungguin di rumah" ucap Ardi pamitan


"Ok. Gue yakin kali ini Lila akan kalah" ucap Riko membahas tentang kasusnya yang menyerang Lila dengan kasus pencemaran nama baik.


"Gue harap kali ini lo berhasil Bro. Tapi Lila bukan orang yang bisa diremehin, saran gue lo siapin pengacara terbaik" tutur Ardi menasehati.


"Siap"


"Sebenarnya gue lebih puas ungkap dia dengan masalah narkoba, bukan kasus receh kita" ucap Ardi menepuk Riko.


"Receh buat lo. Buat gue, ini sangat merugikan" ucap Riko merasa fitnahan Lila juga termasuk kejahatan.


"Ok. kalau ada apa-apa kabari gue"


"Sip" jawab Riko memberikan jempol.


Lalu mereka berpisah.


****


Hari-hari berlalu. Semua berjalan sebagaimana mestinya sesuai rencana masing-masing. Alya tetap menunaikan tugas magangnya dengan pengawalan Fitri. Alya kini menjadi istri yang sangat patuh dan mengikuti suaminya.


Proses penyelidikan kasus Jack terus berlalu. Polisi sudah menemukan beberapa bukti di tkp dan petunjuk dari Ardi. Tapi kepingan puzzle itu belum tersusun rapi dan polisi masih harus bekerja keras lagi.


****


Kediaman Tuan Wira


"Brak!!" tuan Wira membanting beberapa kertas di mejanya.


Di depan nya putra dan putrinys berdiri menunduk.


"Apa ini!" bentak Tuan Wira ke Lila.

__ADS_1


"Pah" panggil Lila memelas.


Sementara Tito diam mematung.


"Selesaikan masalah ini!" ucap Tuan Wira memerintah ke Lila.


Masalah yang dimaksud adalah Lila dipanggil ke kantor polisi atas pelaporan Riko.


"Pah, Lila minta maaf Pah" jawab Lila manja ke Tuan Wira.


"Bendera perang akan tetap berkibar. Kamu selesaikan sendiri masalahmu. Kita nggak boleh kalah dengan baji**an tengik itu" ucap Tuan Wira, orang yang dimaksud adalah Ardi dan Riko.


"Baik Pah" ucap Tito dan Lila.


"Pernikahanmu harus segera dilaksanakan. Tuan Adnan bisa memuluskan jalan kita" ucap Tuan Wira menatap Tito.


Tuan Wira mengincar proyek pembangunan dari pemerintah di sebuah daerah. Jika mereka bisa berbesan dengan ayah Mira yang notabenya Mentri. Itu bisa melancarkan rencana dan kesempatan Tuan Wira mengerjakan proyek itu.


Bahkan akan ada proyek-proyek lain yang bisa Tuan Wira kuasai. Tuan Wira juga bisa menaikan status sosialnya di hadapan rekan-rekan pengusaha. Apalagi ayah Mira termasuk menteri yang dekat dengan pemimpin negara.


Selain itu Tuan Wira juga haus akan kekuasaan. Tuan Wira dan Tito aktif di partai yang sama dengan ayah Mira. Tuan Wira ingin, kelak Tito juga menjadi pejabat dan meniti karir politiknya.


"Baik Pah" jawab Tito mantap ingin segera menikahi Mira.


"Jangan sampai berulah atau membuat kesalahan. Jangan bodoh seperti adikmu" umpat Tuan Wira.


"Terus apa solusi Lila Pah?" tanya Lila mencari solusi.


"Bodoh! Pikir sendiri!" jawab Tuan Wira kasar.


Lila diam tidak bisa berfikir. Rekam jejak yang ditangkap polisi, alamat akun penyebar foto Ardi dan Riko dalam satu kamar adalah komputer hotel Wiralila. Yang melaporkan ke salah satu stasiun televisi juga dirinya.


Hal itu sudah salah satu bukti yang memberatkan Lila. Apalagi jika orang suruhanya dan media yang dia bayar, membuka mulut, memberi tahu kalau Lila yang menyuruhnya. Lila habis dan tamat riwayatnya.


"Buat karyawanmu mengakui. Kamu bisa selamat. Alasan dia menyebarkan, karena ngefans sama Riko. Tutup mulutnya, selesai urusanmu" ucap Tito memberi solusi.


Tito dan Lila berniat mengorbankan salah satu karyawanya. Lila mengangguk sambil berfikir. Ide Tito bener juga.


Selama ini di setiap kejahatan Lila, Tito selalu membantunya. Lila anak kesayangan di keluarganya.


Sebenarnya hidup Lila tidak kurang apapun, tapi watak Tuan Wira haus akan harta dan kekuasaan. Hal itu membuat Lila dan Tito sering tertekan.


Sehingga jika Lila tidak berhasil mencapai target yang diperintahkan Tuan Wira, Lila stress. Dan Lila melarikan diri ke obat-obatan. Termasuk saat cintanya ke Ardi ditolak.


Awalnya, Tuan Wira yang memberitahu Lila, jika Lila berhasil menikahi Ardi akan sangat menguntungkan untuk perusahaan mereka. Dan ketika melihat Ardi secara langsung, Lila benar-benar jatuh hati. Tapi niat kotor mereka gagal. Ardi tidak melirik Lila sedikitpun.


Sementara Tito sendiri, dia mewarisi sifat ayahnya. Tito penuh dengan tipu daya. Haus akan kedudukan dan kekuasaan.


Tito juga mempunyai lingkaran pergaulan dengan bisnis kotor. Meskipun Tito bukan pengguna, tapi Tito berteman dengan John dan membantunya.


Tito memberi modal ke John. John seorang bandar, Tito juga yang melancarakan bisnis John dan memberi pelanggan untuk John dari kalangan orang-orang atas.


Sebenarnya Tito tidak ingin Lila terjebak dengan obat-obatan. Tapi beberapa waktu bertemu, John akrab dengan Lila. John yang membuat Lila mengenal obat-obatan itu. Dan sekarang Lila kecanduan tanpa sepengetahuan Tito.


"Baik Kak" jawab Lila semangat. Kakaknya memang cerdas.


Lalu Lila dan Tito keluar dari ruang kerja ayahnya.


"Selesaikan urusanmu secepat mungkin, jangan kacaukan pernikahan kakak" ucap Tito memperingati Lila.


"Siap, hari ini kalian mau fitting baju kan?" tanya Lila ke Tito.


"Iya. Dia minta gaun didesain sama temanya. Kalau nggak salah bekerja di yayasan Gunawijaya, temanya kerja di sana"


"Kakak mau pakai produk dari Gunawijaya. Ingat dia musuh kita"


"Yang penting Kakak segera menikahi Mira" ucap Tito.


"Yaya"


Lila dan Tito kemudian keluar rumah. Lila berniat mengurusi masalahnya dengan Riko. Dan Tito berniat menjemput Mira hendak fitting baju ke tempat Intan.


Tidak diketahui keduanya, Gery yang masih penasaran memperhatikan mereka berdua dari dalam mobil. Gery memperhatikan foto Lila di ponselnya dari akun gosip berita artis. Gery memastikan, calon ipar Mira memang musuh Ardi.

__ADS_1


"Ck. Benar, dia orang yang sama. Gue harus cerita ke Ardi. Gue harus pastiin, lo nggak pantes buat Mira To" ucap Gery mencengkeram setir.


__ADS_2