Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
69. Ditolak


__ADS_3

Alya mengikuti perkataan suaminya. Alya masuk kamar, bergegas untuk mandi karena tubuhnya bau bawang dan berkeringat.


"Kalau begini, aku merasa kita berdua beneran seperti pasangan?" gumam Alya mengingat suaminya membantunya masak sambil berjalan ke kamar.


"Apa sebenarnya motif dia nikahin aku, tapi dia juga lecehin aku, waktu itu dia terlihat sangat kesal, tapi kenapa terkadang aku merasa dia beneran sayang sama aku? Kenapa juga aku selalu dheg-dhegan saat bersama dia?" Alya mengambil pakaianya sambil terus memikirkan Ardi.


Alya masuk ke kamar mandi, melepas pakaianya satu persatu, mulai dari jilbab kemeja hingga celana. Saat melihat pantulan dirinya di cermin, Alya kaget menyadari ada sesuatu yang ditinggalkan Ardi ditubuhnya tadi malam.


"Ya, Tuhan, padahal kejadian itu begitu cepat, tapi dia sudah meninggalkan jejak sebanyak ini. Kenapa tubuhku selalu terasa panas mengingatnya"


Alya memeluk dua benda berharganya di depan cermin kamar mandi. Alya mengguyur tubuhnya dengan air, membasuhnya dengan kencang. Berusaha meredam rasa yang berkecamuk di benaknya. Alya tidak tahu, dia bahagia, sedih atau malu.


"Dia memang tidak salah, dia memang berhak melakukanya, tapi kenapa rasanya aku malu, aku tidak siap" Alya terus mengguyur tubuhnya di bawah Air.


Hampir satu jam berlalu Alya mengguyur tubuhnya di kamar mandi. Setelah merasa dingin Alya menghentikan aktivitasnya.


Alya mengeringkan tubuhnya dan hendak memakai pakaian. Tapi ponsel Alya berdering dengan keras, Alya mengabaikanya, tapi ponsel tetap berbunyi. Alya meletakan pakaianya lagi dan bergegas mengangkat telpon hanya dengan menutup tubuhnya dengan handuk.


"Assalamu'alaikum Nyaa, gimana?" tanya Alya kepada temanya di telepon duduk di tepi kasur.


"Lama banget sih ditelp daritadi juga nggak diangkat"


"Maaf, aku di kamar mandi nyalain kran kenceng jadi nggak dhenger ada telpon, ada apa?"


"Kamu tinggal dimana sih?"


"Aku di apartemen su- maksudku di apartemen tantenku depan rumah sakit" jawab Alya akhirnya memberitahu tempat tinggalnya.


"What? Kenapa baru cerita? Ya udah gue main ya? Apertemen Megayu kan?" tanya Anya kegirangan.


"Iya, tapi Nya" jawab Alya ragu-ragu sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Bagaimana kalau Anya bertemu Ardi dan Anya tau Alya sudah nikah.


"Tapi kenapa sih? Gue mau curhat nih! Gue kesitu sekarang ya? Kasih tau di lantai berapa?" tanya Anya memelas ingin bertemu Alya.


"Hah? Kesini sekarang? Jangan!" jawab Alya cepet mencegah temanya datang.


"Kenapa?"


"Aku lagi belanja di luar, nanti kalau udah selesai aku kabari ya" jawab Alya berbohong. Tanpa Alya sadari ternyata Ardi masuk dan duduk di belakang Alya.

__ADS_1


"Ehm" Ardi berdehem di belakang Alya. Alya langsung kelabakan menutup speaker, menjauhkan ponsel dan meminta Ardi tutup mulut.


"Al" panggil Anya ditelepon


"Iya Nyaa, bateraiku lowbat, nanti kukabari lagi yaa. Daah" Alya langsung mematikan sambungan teleponya.


Alya gelapan menyadari dirinya hanya memakai handuk. Dan Ardi sudah tepat di belakang Alya berbaring di kasur dimana Alya duduk mengangkat telepon.


"Se-se-sejak kapan mas di sini?" tanya Alya segera bangun dari duduknya. Tapi langsung dicegah sama Ardi.


"Mau kemana?" tanya Ardi menarik handuk Alya. Alyapun langsung memegang agar tidak terlepas.


"Mau pakai baju" jawab Alya ketakutan.


"Bukanya kamu sengaja nungguin mas?" tanya Ardi bangun mendekati Alya.


"Imbalan mas bantuin cuci piring belum dikasih lho" bisik Ardi ke telinga Alya.


Alya menelan salivanya. Detak jantungnya berdebar sangat cepat mengalahkan syaraf di mulutnya untuk menjawab. Ardi melihat penampilan Alya dengan penuh hasrat. Ardi meraih bahu Alya, menyentuh tanganya dan mendorong Alya ke tempat tidur.


Sementara Alya ketakutan dan terus memegangi handuknya agar tidak terlepas. "Ya Tuhan apa yang akan dia lakukan? Aku belum siap" gumam Alya dalam hati.


"Kenapa Lian? Aku berhak melihatnya" jawab Ardi berhasil merebut handuk Alya. Dan melihat Alya tanpan sehelai benang pun.


Alya berusaha meringkuk dan membalikan tubuhnya. menahan malu menyadari Ardi berhasil melihat semua yang Alya punya. "Tolong pergi, jangan lakukan ini" pinta Alya gugup sambil menengkurapkan tubuhnya di kasur.


"Kenapa, kamu harus terbiasa sayang, tidak perlu malu" jawab Ardi berusaha membalikan pundak Alya.


"Aku belum siap mas" jawab Alya menutupi mukanya.


"Kapan kamu akan siap? Mas janji akan melakukanya dengan pelan. Oke?" Ardi mencoba memberikan penawaran dengan Alya. Lalu mendekat ke Alya dan memebelai Alya dari belakang.


"Nggak mas" jawab Alya masih tengkurap menghindari suaminya.


Melihat Alya masih tengkurap Ardi merasa hanya perlu sedikit merayunya. Ardi berniat bersiap-siap mendapatkan haknya, Ardi melepas pakaianya sehingga mereka sama-sama polos.


"Sayang" panggil Ardi merangkul pundak polos Alya dan mendekatkan tubuhnya. Alya tetap tengkurap menghindari Ardi.


"Dengerin mas, kita sudah bukan lagi remaja, kita juga sudah menikah, kita bisa memulainya dari sekarang?" bisik Ardi mencium rambut Alya.

__ADS_1


Alya masih tetap diam tidak merespon. Ardi melanjutkan niatnya Ardi memeluk Alya dari samping sehingga kulit mereka saling bersentuhan. Alya pun dapat merasakan tubuh Ardi memeluknya, Alya juga merasakan benda keras suaminya menyentuhnya.


Alya sangat ketakutan dan menangis lebih kencang.


"Kenapa menangis Lian? Apa kamu masih menganggap aku orang lain?" tanya Ardi frustasi karena Alya tetap tengkurap dan menangis.


"Apa kurangnya aku menjadi suamimu, tidak ada yang kurang dari pernikahan kita. Kedua orangtuaku sangat menyayangimu, ibumu juga merestui kita" ucap Ardi, memaksa Alya agar membalikan badan dan melihatnya. Ardi merengkuh pundak Alya dan membuat Alya terlentang.


Alya tidak berdaya melawan Ardi yang sedikit kasar, mereka saling berhadapan tanpa apapun. Alya menangis lebih keras dengan wajah ketakutan melihat suaminya dengan tatapan tidak bisa diartikan.


"Apa aku terlalu buruk untukmu?" tanya Ardi kecewa melihat Alya menangis.


Alya hanya menggelengkan kepalanya sambil terisak.


"Lalu kenapa kita tidak memulainya?"


"Pernikahan kita terlalu cepat mas, kamu membohongi orang tua kita mas, aku tidak mencintaimu" jawab Alya sesenggukan.


Ardi diam tidak berkutik lalu melepaskan cengkeramanya ke Alya, Ardi mengeratkan rahanganya. Menelan rasa sakit atas apa yang Alya katakan.


Sebenarnya Ardi bisa langsung eksekusi Alya dengan situasi yang sangat mendukung seperti sekarang. Tapi melihat Alya menangis dan ketakutan Ardi ikut merasakan kegetiran di hatinya. Ardi tidak ingin menjadi penjahat yang merebut kesucian seseorang dengan paksa. Apalagi istrinya sendiri.


"Terus apa maumu? Apa kamu menyesal menikahndenganku? Apa kamu ingin aku menceraikanmu?" tanya Ardi sakit hati mendengar pernyataan istrinya.


Mulut Alya semakin tercekat dan bingung, Alya memang tidak menginginkan pernikahan ini, tapi mendengar kata cerai juga begitu menyakitkan. Kenapa Ardi sampai berfikir seperti itu? Jadi benar Ardi memang tidak menginginkanya. Alya kembali meneteskan air mata.


"Kenapa? Apa maumu sekarang?" tanya Ardi semakin jengkel dan tidak tega melihat Alya menangis.


"Aku ingin melakukanya dengan orang yang mencintaiku dan aku cinta" jawab Alya masih dengan ketakutan.


Ardi menelan salivanya mendengar jawaban Alya. Ardi bangun, mengambil handuk Alya, dan melemparkanya ke Alya.


"Pakai pakaianmu dengan benar, jangan memancingku lagi!" tutur Ardi lalu masuk ke kamar mandi meninggalkan Alya.


Alya mengambil handuknya dan memakainya lagi, Alya melihat wajah Ardi merah padam. Entah karena marah dan sakit hati atas ucapan Alya. Atau marah karena menahan hasrat yang harus ditahan. Alya bersyukur karena masih selamat, tapi Alya juga merasakan sakit dengan sikap Ardi.


"Apa aku salah menolaknya? Aku butuh waktu untuk percaya"


"Apa setelah ini dia akan menceraikan aku?" gumam Alya dalam hati lalu datang ke tempat ganti pakaian.

__ADS_1


__ADS_2