
"Ehm. ada apa ini? Kenapa ribut?" tanya Dokter Nando.
Mira dan Ayah langsung menoleh ke belakang mereka. Lelaki yang berjalan tegap dengan sedikit kerutan di wajahnya itu tercengang melihat ayah Mira.
"Lo? Si Bandot?" tanya Dokter Nando menurunkan kacamatanya.
Sementara Mira kaget dibuat ingin tertawa mendengar kata yang diucapkan lelaki tua yang hidungnya seperti hidung Gery.
"Hoh, Bandot? Ups" gumam Mira menahan ketawa kemudian menjaga sikap anggunya takut-takutnya benar dia calon mertuanya.
"Lo masih cungkring aja!" balas ayah Mira.
"Lebih baik dari pada lo gendut berlemak kaya bandot. Ngapain lo bikin ribut di rumah sakit gue?" tanya Dokter Nando sambil mengejek.
"Ehm" Mira berdehem sambil menahan gemash.
"Fiks. Dia bokapnya Gery. Iyuuuh, kenapa hawanya mau ribut sama Papa. Kapan ketemu Gerynya?" gumam Mira sambil merapihkan poninya ke belakang.
"Gue nemenin anak gue balikin mobil" jawab Ayah Mira gengsi.
Ayah Mira tidak mau terlihat kalau Mira mengkhawatirkan Gery apalagi ketahuan Mira ngejar-ngejar Gery. Bakalan dibully sama musuh bebuyutannya itu.
Jadi Ayah Mira memakai alasan balikin mobil, biar Dokter Nando tahu seberapa cinta anaknya ke Dokter Nando ke anaknya.
"Papah" sahut Mira ke Papahnya sambil mengerlingkan matanya untuk jangan berdebat.
"Kenapa bahas mobil dan ngobrol nggak jelas gini sih? Mira mau ketemu Gery Paah" gumam Mira kesal di dalam sambil mengigit bibir bawahnya. Mau melerai tapi itu calon mertuanya, Mira harus menampilkan sisi terbaiknya.
"Mobil? Kenapa ke rumah sakit? Sini bukan rental mobil! Lo salah alamat" jawab Dokter Nando tidak ada sopan-sopanya ke Ayah Mira yang notabenya seorang Menteri.
"Kata anak gue yang punya mobil itu di sini" jawab Ayah Mira masih menjaga Gengsii.
"Siapa?" tanya Dokter Nando.
Tapi belum Ayah Mira menjawab percakapan mereka terhenti oleh sang dewi penyelamat buat Mira.
"Kak Miraa" teriak seseorang dari arah dalam rumah sakit mendorong laki-laki tampan yang tampak terluka.
"Alya" balas Mira kegirangan akhirnya terbebas dari jebakan mendengarkan perdebatan yang tidak berguna itu.
"Permisi Om, Pah. Itu temen Mira datang" pamit Mira ke Papa dan Camernya.
Dokter Nando semakin membulatkan matanya saat melihat perempuan cantik yang katanya anaknya si Bandot itu berjalan menghampiri anak dan menantu Gunawijaya.
"Mira? Jadi dia Mira?" tanya Dokter setengah kecewa.
"Iya. Dia putri semata wayangku, kenapa? Cantikan?" jawab Ayah Mira sombong.
"Hemm" jawab Dokter Nando cemberut gengsi. "Anak gue juga ganteng" batinya sangat kesal dengan kesombongan musuhnya itu.
__ADS_1
Mira mendekati Ardi dan Alya.
"Lo apa kabar Ar? Ko bisa sampai begini?" tanya Mira peduli melihat Ardi lebam-lebam.
"Gue nggak apa-apa kok! Tuh urusin tuh Si Gery" jawab Ardi dengan nada ketusnya.
"Emang gimana keadaan Gery? Dia baik-baik aja kaan?" tanya Mira panik.
Alya tersenyum lembut menatap Mira.
"Dokter Mira lihat sendiri aja. Tapi alahmdulillah udah membaik" tutur Alya lembut
"Dimana dia?"
"Icu"
"Hoh? Icu? Apa dia parah? Dia kenapa?" tanya Mira semakin panik. Mira tau pasti klasifikasi pasien di ruang ICU tidaklah baik.
"Parah banget! Makanya cepetan diobatin!" jawab Ardi masih sempet meledek Mira. Padahal Mira beneran panik.
"Hhhh" Alya menghela nafas ingin mencubit suaminya yang sukanya iseng.
"Dimana ruang ICU?" tanya Mira.
"Lewat jalan samping lurus nanti ada tulisanya kok" jawab Alya.
Langkah Mira begitu menggebu. Cara Gery membuktikanya begitu hebat buat Mira. Lebih dari cukup bahkan melimpah. Jika ada laki-laki lain yang datang membawakan langit dan bumi seisinya, Mira tetap memilih Gery.
Teman remajanya, teman seprofesinya yang memperjuangkanya dengan mempertaruhkan nyawanya. Hanya Gery tidak tergantikan sampai kapanpun.
Sementara Dokter Nando dan Ayah Mira saling tatapan.
"Ehm, Gue mau nyusul anak gue" ucap Ayah Mira.
"Pagi Om" sapa Ardi tiba-tiba memecah ketegangan Nando dan Pak Menteri.
"Pagi Nak Ardi" balas Nando dan Pak Menteri kompak.
"Jadi kalian berteman?" tanya Pak Menteri.
"Kan memang kami dari SMA berteman Om. Om Bayu apa kabar?" tanya Ardi yang kenal dengan ayah Mira di berbagai pertemuan bisnis.
"Sehat, Nak. Om terima kasih kamu sudah selamatkan keluarga Om dari Wira" ucap Pak Menteri.
"Ehm. Ehm" Dokter Nando berdehem menyindir Pak Menteri anaknya juga yang menolongnya. Pura-pura balikin mobil segala.
"Anak gue juga pergi bareng Nak Ardi, dan dia yang paling parah" tutur Dokter Nando.
"Iya Om. Dokter Gery sangat semangat, demi cintanya ke anak Om Bayu" tutur Ardi tidak tahu kalau kedua Om di depannya itu lagi saling gengsi- gengsian.
__ADS_1
Pak Menteri hanya melirik masih gengsi mau mengucakan terima kasih. Walaupun dalam hati sangat bangga dengan Gery.
"Ya udah Om Bayu, Om Nando, kami permisi dulu, ayo Sayang. Arlan sudah menunggu" pamit Ardi mengajak Alya keluar rumah sakit menemui sopirnya sambil jalan-jalan.
Alya mendorong kursi roda suaminya sambil mengangguk sopan ke kedua laki-laki yang akan jadi besan tapi gengsi-gengsian.
"Mau kemana lo?" tanya Dokter Nando melihat Pak Menteri ingin segera beranjak.
"Gue mau nyusul anak guelah, gue takut di apa-apain"
"Lo nggak liat. Anak lo yang berinisiatif nemuin anak gue, yang dia cari itu anak gue, anak gue anak baik-baik enak aja"
"Mana gue tau, kalau itu anak lo. Makanya gue mau pastiin anak gue aman, laki-laki seperti apa yang sudah sembrono mengambil hati putriku"
"Masih belagu lo. Lo masih belum sadar. Anak lo yang buat anak gue jadi terbaring gitu!"
"Ya anak lo juga yang buat anak gue jadi nangis-nangis gitu"
"Tapi kan anak gue yang selametin keluarga lo. Dia yang udah selametin anak lo"
"Ya iyalah anak gue cantik. Pantes anak lo tergila-gila sama anak gue dan berkorban gitu"
"Anak gue juga ganteng, lo nggak liat anak lo yang panik ngejar anak gue, itu tandanya anak lo yang cinta sama anak gue"
"Catet ya. Untuk nikahin anak gue ada syaratnya"
"Dasar bandot udah bau tanah masih aja lo. Lo nggak liat anak gue mau mati buat nyelametin anak lo. Harusnya terima kasih, anak gue itu berharga!"
"Anak gue lebih berharga dari anak lo. Aakh sudahlah tidak habisnya ngobrol sama lo"
"Awas lo ya. Lo harus bayar mahal pengorbanan anak gue"
"Urusan kita belum selesai! Cungkring, gue harus temani anak gue"
"Eeesh jangan ganggu mereka"
"Kenapa memangnya?"
"Gue juga bapaknya. Kaya lo nggak pernah muda aja"
"Gue cuma mau mastiin anak gue aman".
"Oalah. udah bau tanah masih sama aja" umpat Dokter Nando ke Ayah Mira.
Entah masa kecil kurang bahagia atau bagaimana. Kedua laki-laki yang mulai beruban itu saling beradu pendapat seperti anak kecil.
****
Terima kasih buat yg setia baca.
__ADS_1