
****
Apartemen Megayu
Setelah mendapat alamat Alya, Gery tampak sumringah berlari ke parkiran masuk ke mobilnya. Meski sudah ditolak terang-terangan, tapi Gery masih terobsesi dengan Alya. Karena berdasarkan informasi dan penuturan Alya dan teman-temanya Alya belum punya pacar. Alya tetaplah gadis desa yang cantik, lugu, dan menantang.
Gery berniat mendatangi apartemen Alya dan mengajaknya jalan-jalan. Karena apartemen megayu hanya di depan rumah sakit tidak ada 5 menit Gery sampai.
"Kenapa nggak dari dulu gue samperin dia kesini" gumam Gery turun dari mobil melihat gedung di atasnya.
Apartemen Megayu bukan apartemen mewah bahkan hanya ada 8 lantai. Hanya saja letaknya di depan rumah sakit, dekat universitas dan cenderung di pinggiran, sehingga menjadi alternatif tempat tinggal yang nyaman, bagi pekerja dan pelajar yang berekonomi menengah ke bawah.
Gery membuka catatan alamat yang diberikan Dinda. Dengan semangat 45 dia berjalan memasuki apartemen.
"Bro" sapa seseorang yang berjalan dari dalam lift hendak keluar membawa kardus.
"Woy, Pak Bos, apa kabar? Berapa hari ini Lo ngilang? Kemana aja? " jawab Gery akrab lalu menghampiri pria yang berdasi itu.
"Sory gue sibuk, kapan nih mau kumpul lagi?" jawab teman Gery yang tidak lain adalah Ardi.
"Ya terserah Lo, kan Lo yang sibuk terus, ngomong-ngomong ngapain Lo kesini?" tanya Gery melihat Ardi masih berdasi tapi membawa kardus.
"Gue ambil barang gue mau pindahan. Harusnya gue yang tanya, ngapain Lo disini?" jawab Ardi balik.
"Oh iya ya? Waktu kuliah Lo kan di sini? Kalau gue? Ya gue kan kerja di depan"
"Ya iya sih, tapi kan gue tau lo nggak tinggal di sini" jawab Ardi lagi.
"Gue lagi mau ngapel" jawab Gery percaya diri.
"Heh? Ngapel? Siapa? Dokter baru yang Lo ceritain itu?"
"Iya".
"Bukanya lo bilang udah ditolak? Masih ngejar juga? Keren Lo Ger, Lo emang sahabat gue".
"Ya kan gue ngikutin nasehat Lo, sebelum janur kuning melengkung, nggak boleh nyerah"
"Oke deh. Sukses bro, kalau mau ngumpul kabar-kabar aja" jawab Ardi, lalu buru-buru pergi meninggalkan sahabatnya.
Gery langsung masuk ke lift mencari alamat yang diberikan Dinda. Gery mengusap-usap kedua telapak tanganya gerogi setelah sampai di depan pintu apartemen yang ditunjukan Dinda.
"Thing Thong" Gery memencet bel lalu menunggu sejenak.
"Thing Thong" Gery memencet bel lagi menunggunya lagi.
"Thing Thong" Gery memencet bel ketiga kalinya. Gery sedikit frustasi karena tidak dibukakan pintu. Lalu membuka catatan dari Dinda lagi.
"Benar kok alamatnya ini" gumam Gery lalu memencet bel lagi. "Thing Thong" tidak juga dibukakan pintu
"Apa gue telpon aja ya?" gumam Gery lalu menelpon Alya. Tapi sayang telpon Gery tidak diangkat.
Untuk yang kelima kali, Gery memencet bel lagi. "Thing thong" Gery menunggu beberapa saat tetap tidak buka. Karena frustasi akhirnya Gery menyerah, menuju ke lift turun ke bawah dan berniat tanya ke satpam.
"Permisi Pak" sapa Gery ke satpam.
"Iya Den, ada yang bisa saya bantu" jawab Pak Yon.
"Penghuni apartemen sini apa ada yang kerja di rumah sakit depan namanya Dokter Alya?"
"Wahh, kalau yang kerja di rumah sakit depan banyak, tapi saya nggak hafal dokter atau bukan soalnya kalau berangkat kerja nggak pake seragam" jawab Pak Yon jujur.
"Kalau mau tanya daftar penghuninya?" tanya Gery lagi.
__ADS_1
"Sepertinya untuk keamanan pihak apartemen merahasiakan masing-masing pemilik secara rinci. Tapi kalau keperluanya jelas bisa tanya ke managemen Den"
"Oh gitu? Makasih Pak" jawab Gery pergi pamit.
Gery tidak berniat mencari tahu lebih jauh karena dia pikir dia masih bisa ketemu Alya lagi di rumah sakit. Gery masuk ke mobilnya dan membanting setirnya. Karena selalu gagal mengajak Alya kencan. Gery bergegas pulang ke apartemen GreenGold
****
Apartemen Aerim Residence
"Ini kartunya Nyonya" tutur Arlan memberikan kartu kunci apartemen. Alya menoleh ke Arlan kesal. Alya pun membuka pintunya.
Alya sedikit terkejut dan kagum, apartemen suaminya yang baru tampak mewah dan lebih luas dengan nuansa gold. Alya berjalan melihat-lihat, kamar tidurnya ternyata ada 3.
"Ida? Mia?" panggil Alya saat berjalan ke dapur dengan riang.
"Non Alya?" balas kedua pelayan di rumah besar Tuan Aryo. Alya setengah berlari mendekat ke kedua temannya. Lalu mereka berpelukan.
"Kok kalian bisa di sini?" tanya Alya heran.
"Aih. Non Alya niih, segala ditanya? Nggak tau apa pura-pura nggak tau?" jawab Mia mengajak bercanda.
"Iya, sekarang saya jadi susah percaya sama Non" sambung Ida.
"Beneran, aku bener-bener nggak nyangka kalian di sini." jawab Alya girang.
"Non belum cerita lho. Tiba-tiba non udah jadi Nyonya Ardi, katanya nggak kenal" timpal Mia penasaran. Alya manyun mendengar ucapan temanya itu. Bingung juga jelasin gimana tiba-tiba nikah sama orang yang baru dikenal.
"Ehm" tiba-tiba Arlan datang. Ida dan Mia langsung diam. "Maaf Nyonya, pelayan spa sudah menunggu" tutur Arlan sopan. Alya dan kedua temanya terbengong mendengar perkataan Arlan.
"Spa?" tanya Alya heran.
"Iya Nyonya, mari Nyonya" jawab Arlan tegas mempersilahkan Alya masuk ke kamar.
"Mari Nyonya, silahkan dilepas pakaianya dan berbaringlah di sini" tutur pelayan spa memberikan kain penutup tubuh.
"Sebentar, saya masih bingung, saya mau diapain? Kalian siapa?"
"Kami dari beauty klinik Nyonya. Ini salah satu layanan bagi pelanggan VIP kami, Tuan Ardi salah satunya. Kami hanya menjalankan tugas dari Tuan Ardi" jawab salah satu pelayan.
"Oh" jawab Alya mengangguk.
"Buat apa Mas Ardi nyiapin semua ini? Baiklah lumayan juga dimassage badanku capek" gumam Alya dalam hati masih belum hafal sifat suaminya. Alya tidak tahu setelah ini ada harga yang harus dia bayar ke suaminya. Alya mengikuti permintaan pegawai spa, melepas jilbab dan pakaianya, berganti dengan kain dan siap melakukan spa, lulur dan perawatan.
Alya tampak sangat menikmati perawatan yang disediakan suaminya sampai Alya tertidur.
"Nyonya, sudah selesai" ucap pelayan memberitahu dan membangunkan Alya.
"Ah iya, maaf aku ketiduran" jawab Alya malu.
"Sekarang tinggal mandi susu, silahkan Nyonya" imbuh pelayan mempersilahkan ke kamar mandi sudah disediakaan susu di bathup.
"Ah iya, baik, kalian boleh pulang, aku sendiri saja"
"Apa selama menjalani pelayanan, ada komplain Nyonya?"
"Tidak, kalian sangat..." jawab Alya memberikan tanda jempol 2.
"Benar Nyonya, kami boleh pulang?" tanya pelayan.
"Saya tinggal mandi kaan?" tanya Alya polos karena belum hafal langkah-langkah perawatan badan.
"Iya Nyonya, langkah terakhir mandi susu, kalau Nyonya menghendaki bantuan kami, kami bisa membantunya"
__ADS_1
"Ah tidak, aku sendiri saja" jawab Alya jujur, karena Alya merasa risih jika mandi ditemani orang lain.
Pelayan spa pun membereskan peralatan dan berpamitan. Sementara Alya masuk ke kamar mandi, di bathup sudah disediakan susu. Alya langsung masuk dan memanjakan tubuhnya, amarah Alya terhadap keputusan Ardi sepihak musn.ah, saking nyamanya Alya tertidur lagi di bathub.
****
Setelah dari apartemen Megayu menngambil beberapa benda penting, Ardi mampir ke kantor menyelesaikan pekerjaanya tadi pagi yang tertunda. Pukul 16.00 Ardi selesai mengerjakanya. Ardi segera pulang ke apartemen barunya yang lebih dekat dari kantornya.
"Sudah beres kan Din?" tanya Ardi menutup laptopnya.
"Sudah Tuan, semua pakaian dan perlengkapan Nyonya Berlian sudah Risa sediakan, terakhir Pak Arlan menyampaikan pelayan spa sudah selesai dan pergi" jawab Dino menyampaikan laporan pekerjaanya.
"Bagus" jawab Ardi tersenyum tidak sabar menemui istrinya. Ardi pun segera bersiap-siap pulang.
"Saya antar Tuan" tawar Dino.
"Nggak usah, aku labih suka nyetir sendiri, sekarang giliranmu, ajak Risa kencan!" jawab Ardi tersenyum ke bawahanya lalu segera pergi. Sekitar 15 menit Ardi sampai di apartemenya.
"Selamat sore Tuan" sapa Arlan menundukan kepala.
"Sore, kalian boleh pulang" jawab Ardi melihat suasana apartemen sudah rapih, Ardi tahu pekerjaan Mia, Ida dan Arlan sudah selesai.
"Baik Tuan" jawab Arlan bersiap mengajak Ida dan Mia kembali ke kediaman Tuan Aryo.
Ardi meletakan tas di meja kerjanya. Lalu segera masuk ke kamar. Tidak sabar melihat ekspresi istrinya terhadap tempat tinggal barunya. Bahagia atau marah?
"Sayang" panggil Ardi saat membuka pintu kamar, ternyata sepi.
"Sayang" panggil Ardi lagi membuka balkon ternyata sepi juga. Lalu Ardi ke kamar mandi.
Ardi tersenyum senang melihat istrinya tertidur di bathub. Ardi merasa seperti mendapat durian runtuh dan ingin segera melahapnya tanpa tersisa.
"Sayang, kamu sengaja ya nungguin mas pulang?" bisik Ardi membangunkan Alya ikut masuk di bathub setelah melepas pakaianya.
"Mas" Alya bangun sedikit menggeliat merasakan sesuatu akibat ulah tangan suaminya.
"Katanya mandi bareng suami istri pahalanya banyak lho" bisik Ardi memulai permainan serunya.
"Tauan banget ilmu yang begitu?" tanya Alya manyun menahan sesuatu.
"Udah nggak sakit lagi kan?" tanya Ardi melihat ekspresi Alya saat tangan Ardi beraksi di dalam air.
Karena Ardi sudah mencuri start, Alya tidak menolak lagi, Alya pasrah mengikuti permainan yang diminta suaminya, bahkan ikut menikmatinya. Akhirnya pasangan pengantin baru itu, memulai permainnya di bathub.
"Ganti posisi yah" ucap Alya pelan memberi ide. Ardi tersenyum puas, tidak menyangka istri polosnya punya ide semacam itu.
"Kok kamu tau sayang" tanya Ardi heran.
"Aku kan dokter mas, sakit tau di tempat sempit begini, kalau aku di bawah" jawab Alya lagi melanjutkan permainan setelah bertukar posisi.
Ardi benar-benar merasakan surga dunia, berkat istrinya. Ardi juga tidak mengira Berlian bisa begitu hebat memimpin permainan. Padahal Ardi tahu betul dari yang kemarin kalau Alya masih bersegel.
"Lian belum sholat Ashar mas" ucap Alya ngos-ngosan meminta Ardi mengakhiri permainannya. Ardi pun paham dan segera mengakhirinya.
"Terima kasih sayang, kamu luar biasa" bisik Ardi ke Alya. Alya hanya bisa diam mengatur nafasnya dan meninggalkan suaminya terkapar di bathub.
"Mas udah sholat?" tanya Alya menyalakan shower.
"Belum"
"Buru bangun, udah mau maghrib, waktu ashar mau abis"
"Iya sayang"
__ADS_1
"Ada banyak yang harus mas jelaskan" ucap Alya berubah mode on, teringat keputusan sepihak Ardi, berpindah tempat tinggal tanpa konfirmasi.