Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
230. Bungkus obat


__ADS_3

Setelah ayahnya selesai  mandi dan sarapan, Intan berniat pulang mengurusi anaknya. Intan pun mengambil tas dan berpamitan.


"Gue harus temuin dokter Alya dulu" batin Intan saat berjalan di lorong rumah sakit. 


Intan pun mampir ke ruang IGD. Perawat dan petugas yang lain tampak sibuk berlalu lalang. Intan melihat sekeliling.  Batang hidung Alya tidak kelihatan. Kemudian Intan membalikan tubuhnya dan mengurungkan niatnya. 


Tapi belum Intan melangkah seseorang meraih pundaknya. 


"Mba Intan" panggil Anya merasa mengenal Intan dan penasaran karena Intan mencurigakan.


Intan kemudian, menoleh. 


"Dokter Anya, pacar Farid kan?" tanya Intan canggung dan menunduk.


Sifat sombong dan jahat seperti yang diceritakan Farid tidak nampak sedikitpun pada Intan. Entah hilang kemana. 


Anya tersenyum mengangguk kebetulan Anya juga hendak pulang setelah jaga malam.


"Iyah, benar. Dari kemarin aku lihat mba Intan. Siapa yang dirawat,  kenapa Mba Intan seperti mencari seseorang?" tanya Anya ramah.


"Saya cari Dokter Alya, Dok" jawab Intan.


"Oh,  dia hari ini jaga sore. Hubungi saja teleponya"


"Dari kemarin pesan saya belum dibales, ehm, mungkin… dia tidak akan membalas pesanku" tutur Intan mengungkapkan perasaan rendahnya.  


"Oh gt? Tapi kurasa Alya bukan orang yang seperti itu" jawab Anya merasa tidak enak melihat ekspresi Intan.


Anya yang mendengar cerita kalau Intan mantan tunangan Ardi, kemudian menebak kalau Alya dilarang Ardi berkomunikasi dengan Intan.


"Ah,  iya, Alya memang bukan seperti itu.  Sudahlah mungkin dia sibuk. Oh iya. Apa, apa saya boleh minta tolong?" tanya Intan ragu. 


"Iya katakan saja!" jawab Anya tersenyum. 


"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, tolong sampaikan ke dia" tutur Intan lembut. 


"Hanya itu?" tanya Anya merasa kasihan dan Intan sangat aneh. Terimakasih saja harus lewat Anya.


"Sebenarnya aku ingin juga ingin mengatakan banyak hal dan menitipkan sesuatu.  Tapi belum kubawa, saya juga tidak ingin membuat suami Dokter Alya marah karena menemuiku" jawan Intan tulus.


"Kalau gitu.  Kau datang ke sini lagi aja nanti sore. Dia jaga sore, suaminya kan tidak tahu. Alya cerdas menangani suaminya kok" jawab Anya memberi saran.


"Baiklah terima kasih,  saya permisi" jawab Intan mengangguk dan berpamitan pergi. 


"Tunggu, kau belum jawab,  siapa yg dirawat disini? Kau bukan hanya mau menemui Alya kan?"


"Oh itu.  Ehm" 


"Siapa yang sakit? Bahkan kau memegang kartu tunggu pasien?"


"Ayah saya, Didi Satria itu ayah saya" 


"Oh itu, yaya, bapak yang ditolong Alya, ayahnya Mba Intan?"


"Iya" jawab Intan mengangguk dengan tatapan minder.

__ADS_1


"Nanti kusampaikan ke Alya.  Bagaimana keadaanya, sudah membaik kan? Semoga cepet sembuh ya!" 


"Iya terima kasih banyak.  Alhamdulillah sudah membaik. Permisi" jawab Intan


"Ya" jawab Anya tersenyum melihat Intan segera pergi mencari bus. Sekarang Anya mengerti kenapa Intan mencari Alya. Anya sendiri tidak mengira kalau bapak tukang sapu ayah Intan.


"Kata Aa mantan tunangan Kak Ardi orang kaya, desainer,  menyebalkan, angkuh dan sombong,  tapi dia terlihat menyedihkan dan sangat lembut, sepertinya Aa Farid dan Kak Farid salah" gumam Anya sambil berjalan. 


"Apa kutelpon Alya saja ya?  Kalau dia mencarinya? Alya pasti tidak mengira bapak itu mantan calon mertua Kak Ardi"


"Ah nanti saja, aku akan bertanya banyak hal ke Alya tentang pernikahan. He.. Ahh ngantuknya,  aku ingin mandi dan sarapan,  sarapan apa ya?" Anya senyum-senyum sendiri sambil berjalan. Anya ingin banyak mengobrol dengan Alya.


Anya kemudian mencari sarapan di depan rumah sakit dengan motornya. Lalu pulang ke kontrakan dan berniat menghubungi Alya. 


****


Setelah mengbiskan satu cup es krim rasa coklat, sebotol air mineral, semangkuk mie ayam dan sosis bakar. Alya melirik jam di ponselnya.


Waktu yang dijanjikan dokter, Mang Adi sadar sudah berlalu beberapa puluh menit. Rupanya mereka lama menghabiskan waktu di kantin.


"Seharusnya sekarang Mang Adi sudah sadar. Kita ke Mang Adi yuk!" ajak Alya ke Mia. 


"Ayo Non! Tapi kalau masih ada Mas Faisal.  Kita pulang ya Non, saya kesel liatnya" jawab Ida dengan cemberut.


"Iya ya, nggak usah cemberut gitu. Aku hanya ingin memastikan,  apa yang terjadi sebenarnya. Setelah itu kita pulang" jawab Alya tersenyum melihat Ida cemberut lucu.


Lalu mereka berdua menuju ke tempat obeservasi Mang Adi sampai stabil. Tapi belum mereka bertemu Mang Adi mereka mendengar Faisal telpon polisi sambil memegang surat keterangan dari Dokter. 


"Ayah saya dinyatakan keracunan setelah memakan nasi dan sambel tempe…" tutur Faisal melaporkan dan meminta polisi memeriksanya. 


Setelah selesai menelpon, Faisal menoleh ke Alya dan Ida. 


"Kalian belum pulang.  Ngapain kalian di sini?" tanya Faisal ketus ke Alya dan Ida.


"Ya ampun Mas Faisal. Lihatlah apa yang kau lakukan dan bagaimana sikapmu.  Kau tau Non Alya ini istri Tuan Ardi" jawab Ida nyerobot tidak terima dikasari Faisal


"Oh jadi dia yang membuat motor ayahku di buang. Sombong sekali. Lihat saja. Sebentar lagi polisi akan jawab semuanya" jawab Faisal menantang.


"Maaf Mas Faisal, tolong jelaskan ada apa ini?" tanya Alya lembut mencoba bersabar menghadapi Faisal yang marah-marah terus.


"Ayahku hampir mati karena sambel tempe dari rumah kalian. Bisa-bisanya ayahku yang mengabdi bertahun-tahun hanya diberi makan sambal tempe dan ternyata beracun. Selain sombong kalian ternyata juga sangat pelit dan kriminal"


"Plak!" Ida langsung menampar Faisal keras merasa Faisal keterlaluan.


Sementara Alya terkejut mendengar Mang Adi yang memakan sambel yang dia cari.


"Bisa-bisanya kau mengatai orang yang memberi ladang rizki ke ayahmu, untuk membesrkan kamu, sampai kamu bisa seperti sekarang" ucap Ida galak.


"Aku sudah lama menyuruh ayahku keluar. Aku benci ayahku kerja di tempat kalian. Ayahku lebih mengutamakan kalian daripada kami keluarganya. Dan suamimu itu sangat sombong.  Apa salah motor ayahku?" ucap Faisal panjng kali lebar kali tinggi mengungkapkan perasaanya ke Alya.


Alya diam tidak menjawab. Alya menunduk sambil mengatur nafas, menahan sabar agar tidak membuat gaduh.


Ternyata tidak semua orang bisa menerima sifat Ardi yang suka berlebihan dan aneh. Hukuman Ardi ke Mang Adi waktu itu ternyata menyakiti hati anak Mang Adi. 


"Saya minta maaf atas nama suamiku.  Tapi bukankah suamiku sudah mengganti uangnya?" tanya Alya lembut. Ardi memang memarahi Mang Adi dan menyita motor butut yang dipakai Alya. Tapi mengganti dengan uang.

__ADS_1


"Kalian pikir semua dinilai pakai uang. Motor itu sudah kumodif untukku tour bareng club saya" ucap Faisal lagi kesal tidak terima. Ternyata motor butut itu motor kesayangan Faisal.


"Maaf, motornya masih ada kok.  Nanti saya sampaikan ke suami saya untuk mengembalikanya. Oh iya benarkah Mang Adi makan sambel tempe yang kubuat? Boleh aku menemuinya?" tanya Alya lagi dengan lembut dan berusaha menenangkan Faisal.


"Wuaah Jadi kamu yang buat.  Jangan temui ayah saya.  Tunggu polisi menjemputmu" jawab Faisal tetap emosi dan justru semakin kesal saat tau sambal yang dimakan bapaknya dibuat oleh Alya.


"Ini apa-apaan sih?" tanya Ida lagi tidak tahan melihat Faisal sangat kekanakan dan marah-marah terus.


"Kamu tunggu jemputan polisi. Saya sudah laporkan ke polisi, ada upaya pembunuhan ke ayah saya" ancam Faisal.


"Sepertinya kamu kena mental ya.  Kamu perlu ke psikiater deh. Apa buktinya ayahmu mau dibunuh?  Hah! Bahkan makanan yang ayahmu makan juga dimakan orang lain. Dan hanya ayahmu yang sakit" jawab Ida emosi.


"Ini buktinya" ucap Faisal menunjukan keterangan dari dokter. 


Alya dan Ida saling tatap bingung. Merasa Faisal sangat temperamen dan aneh. Alya sendiri tidak menyangka Mang Adi yang makan sambelnya. Apalagi berfikir sambalnya beracun sangat tidak mungkin, karena Ardi dan Alya dan Bu Siti juga memakanya. 


"Sinting kamu ya Mas.  Non ayo kita pulang saja!" ajak Ida.


Alya pun mengangguk,  tidak mau berdebat dan bertengkar dengan anak Mang Adi. 


"Ya pergi kalian dan jangan temui ayah saya!" ucap Faisal kasar lalu mereka berdua pergi. 


Alya dan Ida pun tidak menghiraukan Faisal lagi. Mereka menghampiri Fitri di mobil dan mengajaknya pulang. 


"Mas Faisal setauku dulu nggak segalak dan sepicik itu.  Aku benar-benar kessal" gerutu Ida di mobil. 


"Faisal kesal karena suamiku Ida, biar aku bahas sama Mas Ardi nanti" jawab Alya masih berpositif thingking.  


Hukuman Ardi tempo hari memang keterlaluan tidak memikirkan Mang Adi dan kekuarganya. Mang Adi juga memang sudah tua dan waktunya pensiun,  jadi wajar anaknya kesal karena Tuan Aryo masih mempekerjakanya.  Meskipun itu semua kemauan Mang Adi sendiri. 


"Non dengar kan?  Dia telpon polisi Non. Kan aneh banget" ucap Ida lagi. 


"Kalau memang kita nggak salah dan nggak ada bukti nggak usah takut.  Polisi nggak bisa tangkap kita kalau nggak ada bukti" jawab Alya.


"Iya juga sih. Sambalnya dan tempatnya udah Ida cuci Non, tapi apa iya ada racunya. Bagaimana bisa" ucap Ida.


"Faisal masih sangat muda dan labil aku mengerti itu.  Kita hadapi dengan tenang.  Yang penting,  Mang Adi sehat dan sembuh. Ya? Karena sambalnya sudah habis nggak bisa dijadikan patokan" jawab Alya menenangkan.


"Iya Non.  Kok Non bisa sih setenang ini dan nggak marah atau tersinggung?" 


"Buat apa marah Ida.  Aku malah penasaran. Benarkah Mang Adi keracunan karena sambalku?" jawab Alya. 


"Kalau polisi datang beneran gimana?" 


"Ya kita hadapi. Ada suamiku juga yang pasti bantu. Di dapur juga sama Papah ada cctv nya kaan?  Tenang"


"Ya Non" jawab Ida. 


Tidak lama mereka sampai ke rumah. Bu Siti dan yang lain menyambut mereka bertiga dengan banyak pertanyaan. Tapi Mia tidak kelihatan. Ida yang menjawabnya.


Sementara Alya berfikir, dia tidak tinggal diam. Alya ingin memeriksa rekaman cctv sebelum dipanggil polisi. Tapi cctvnya ada di ruang kerja Tuan Aryo dan itu dikunci. 


"Kalau benar,  sambelku beracun, apa benar kata Papah dan Mas Ardi di rumah ini ada yang jahat? Apa itu berarti dia mengincarku? Dan Mang Adi yang kena? Jadi surat misterius itu dari orang rumah? Masa sih? Siapa dia" gumam Alya sadar.


Alya bangun dari duduknya dan mencari sesuatu di tempat sampah. 

__ADS_1


"Ini kan bungkus obat penggugur kandungan, astaghfirulloh"


__ADS_2