
"Lapor polisi Non?" tanya Pak Yon bingung.
"Ya Pak" jawab Alya dan Ardi berbarengan dengan semangat.
Alya yang sembunyi dibalik pintu heran mendengar laki-laki yang dia kira jahat itu ikut semangat menjawab. Alya diam. Pak Yon mengusap tengkuknya bingung.
"Kenapa diam Pak Yon? Telpon polisi! Saya akan pastikan perempuan itu mendekam di penjara!" ucap Ardi geram.
Mendengar perkataan Ardi, Alya terperanjak kaget ikut geram.
"Apa maksudmu memenjarakanku? Kamu yang seharusnya di penjara!" jawab Alya menantang, tidak peduli dia menampakan auratnya di depan laki-laki bukan mahramnya.
"Ya! Lihat kepalaku, bahkan aku terluka dan aku akan melakukan visum, ini namanya tindakan kekerasan, penganiayaan" jawab Ardi mantap.
"Hah! Visum? Hei penjahat gila!" Alya menatap tajam ke Ardi. "Kamu yang salah karena masuk ke kamar orang tanpa permisi" tuduh Alya.
"Kamar orang? Apa katamu?" tanya Ardi tidak terima.
Mendengar perdebatan kedua orang berbeda kelamin itu, pak Yon bingung lalu mencoba menengahi.
"Den Ardi, Non Lian!" seru Pak Yon membuat Alya dan Ardi terdiam.
Ya, setau Pak Yon nama Alya adalah Lian. Waktu Alya memperkenalkan diri, Alya Berlian Sari, pak Yon mendengar kata akhiranya saja, karena waktu itu pak Yon sedang mendengarkan lagu. Waktu Pak Yon menanyakan ulang untuk memanggil Alya Lian, Alya juga mengiyakan. Jadi Pak Yon mengenal Alya dengan nama Lian.
"Hah. Jadi dia Ardi, anak tante Rita, matilah aku!" gumam Alya langsung memucat mendengar Pak Yon memanggil nama Ardi.
"Apa kalian tidak saling mengenal?" tanya Pak Yon.
Ardi diam, Alya pun diam.
"Non Lian, Den Ardi ini anak bu Rita. Den Ardi, saya kira Den Ardi saudara Non Lian jadi kemarin dan tadi saya tidak memberi tahu Den Ardi, kalau apartemen Den Ardi ditinggali Non Lian" Pak Yon menjelaskan.
Ardi dan Alya tetap diam. Jantung Alya memompa dengan sangat kuat, dilihatnya pelipis Ardi benar-benar terluka. Ada rasa bersalah, takut dan malu di hati Alya.
Sementara Ardi menggenggam tanganya geram. Niat menghindari Mamahnya, tapi dia justru menemui hal yang lebih parah dari sekedar dikenalkan dengan calon istri.
Pak Yon melihat Lian dan Ardi.
"Jadi Den Ardi dan Non Lian beneran tidak kenal?" tanya Pak Yon.
"Tinggalkan kami berdua pak" jawab Ardi datar mengambil keputusan.
"Hah? Apa maksudnya? Pak Yon jangan pergi!" ucap Alya tidak ingin ditinggalkan berdua dengan Ardi.
"Pak Yon!" Panggil Ardi dengan mode ke garanganya. Mengisyaratkan Pak Yon untuk pergi.
Pak Yon yang mengenal bagaimana dan siapa Ardi paham maksud panggilan Ardi.
"Baik Den, saya pergi" jawab Pak Yon.
"Pak ! Jangan" sahut Alya
__ADS_1
"Maaf Non" jawab Pak Yon meninggalkan Alya Berlian.
"Aku ikut Pak Yon" jawab Alya membuntuti Pak Yon.
"Pak Yon! "panggil Ardi lebih keras.
"Maaf non Lian, saya tidak siap menerima resiko, Den Ardi sedang marah. Non Lian selesaikan masalah non Lian sendiri"
"Tapi Pak" Alya memohon.
"Oh iya, Non Lian terlihat sangat cantik tidak memakai jilbab" ucap Pak Yon lirih lalu pergi.
Mendengar ucapan Pak Yon wajah Alya langsung merah padam, kurang ajar sekali Pak Yon. Langkah Alya terhenti di depan pintu apartemen. Niat mengikuti Pak Yon langsung Alya buang jauh-jauh. Meski Pak Yon sudah tua, laki-laki tetap laki-laki, pikiranya gesrek semua.
"Astaghfirulloh, kenapa denganku. Dimana jilbabku? dimana ikat rambutku? Bagaimana ini?" Gumam Alya mematung di depan pintu melihat Pak Yon pergi membawa tongkat satpamnya.
"Hhhh bagaimana ini? Apa aku pergi saja? Aku mau pergi kemana? Aku bahkan tidak berani menatapnya, dia benar-benar seperti vampir, persis seperti yang Mba Mia dan Mba Ida katakan"
"Eh salah, salah, bukan vampir tapi serigala"
Alya menggigit bibir dan tanganya meremas ujung piyamanya. Alya bingung setelah tau laki-laki yang dia pukul adalah anak Mama Rita.
Lalu Alya memilih duduk di sofa ruang tamu. Alya menyadari dirinya tidak menutup aurat dengan benar. Alya juga menyadari kalau dirinya dan Ardi sama-sama orang dewasa. Mereka berlainan jenis kelamin bukan mahrom. Alya juga menyadarinya dirinya sudah melakukan kesalahan.
"Hei crazy girl" panggil Ardi dari kamar.
"Duhh.. kenapa lagi dia?" gerutu Alya mendengar suara Ardi.
"Hei Lian!" panggil Ardi menyebut nama belakang Alya.
"Sini kamu!" perintah Ardi semakin membentak.
"Saya hitung mundur, sampai angka satu kamu tidak kesini saya akan laporkan kamu ke polisi, tiga du.. "
"Iya... " jawab Alya kesal lalu setengah berlari ke kamar. "Kenapa?" tanya Alya menahan risih karena berhadapan dengan lawab jenis tanpa memakai jilbab.
"Tanggung jawab!" bentak Ardi.
"Maksud mu?"
"Kamu tidak lihat? Nih, nih, nih!" bentak Ardi menunjukan pelipisnya yang lecet, kedua tanganya yang lebam dan belakang bahu yang nyeri.
Alya menelan ludah. Alya menunduk mendengar perkataan Ardi, Alya tidak berani menatapnya. Dia tidak memperhatikan Ardi, tapi mata Alya berkeliling mencari gantungan baju di tembok barangkali ada celana, kardigan atau jilbab yang bisa dia ambil. Dan ternyata nihil, sore tadi Alya baru membereskan pakaian kotornya, semua dia cuci dan belum dijemur.
"Kamu tidak memperhatikanku!" bentak Ardi.
"Iya ya, maaf!" jawab Alya kesal dibentak-bentak terus.
"Kenapa diam?"
"Terus aku harus bertanggung jawab bagaimana?" tanya Alya
__ADS_1
"Obatilah!"
"Ya sebentar!" Lalu Alya ke ruang tengah mengambil obat di kotak P3K. Setelah mendapatkanya Alya menyerahkan obat itu ke Ardi.
"Nih obatnya" jawab Alya menyerahkan obat.
"Apa-apaan. Kamu tidak lihat saya berdarah, bahkan untuk berdiri saja susah, bersihkan!" perintah Ardi manja.
"Manja sekali, bahkan hanya luka kecil juga" gerutu Alya dengan bibir manyunya. Membuat Alya sangat imut.
Tanpa sepengetahuan Alya sedari tadi Ardi yang menahan marah menjadi luluh melihat wajah dan bibir imut Alya. Ardi terkesima dan terpana melihat Alya. Rambut Alya tergerai dengan indah, bibirnya yang mungil, wajahnya sangat manis menampilkan kecantikan alami.
"Apa katamu?" tanya Ardi menahan gengsi. "Manja? kamu bahkan tidak sadar sudah memukulku dengan brutal, seperti preman" ejek Ardi menatap lekat wajah Alya yang menunduk.
"Apa kamu bilang? Preman? Enak aja!"
"Terus ini apa?" jawab Ardi memperlihatkan pelipisnya yang berdarah.
"Iya ya aku bersihkan!" akhirnya Alya menyerah untuk berdebat, Alya bangkit hendak mencuci tangan.
"Mau kemana kamu?" tanya Ardi melihat Alya berbalik badan melangkah ke luar.
"Saya mau cuci tangan, katanya mau dibersihkan. Tadi kan tanganku memegang sapu, kamu mau lukamu infeksi?" jawab Alya panjang.
Ardi tertegun mendengar perkataan Alya. Bahkan Alya detail sekali, hanya membersihkan luka lecet harus cuci tangan.
Setelah cuci tangan Alya duduk di atas kasur di samping Ardi, Alya duduk menyamping menghadap ke Ardi, bahkan wajah mereka sangat dekat. Membuat jantung Ardi berdetak kencang.
Alya memulai membersihkan luka Ardi. Alya membasahi kassa steril dengan cairan pembersih. Lalu dengan lembut membersihkan darah di bawah pelipis Ardi yang mulai mengering. Melanjutkan memberikan betadin, setelah itu menutupnya dengan kassa dan hypavik.
Alya mengumpulkan rambut panjangnya yang tergerai bebas ke arah samping, meletakanya menjuntai menutupi dada sampai perutnya sebelah kanan.
Sementara Ardi berada di sebelah kiri Alya. Ardi semakin jelas melihat keanggunan Alya. Bahkan leher jenjang dan mulus milih Alya nampak jelas di mata Ardi. Saat berhadapan dengan Alya, Ardi tidak berhenti menatap lekat wajah Alya. Kemarahan dan kesakitanya seperti menyingkir dan sedikit teralihkan. Kini dada Ardi dipenuhi dengan debaran hangat yang tidak bisa diartikan.
"Sudah selesai" jawab Alya menjauhkan tubuhnya dan memberesi kotak P3K nya. Alya berdiri berniat mengembalilannya ke ruang tengah.
"Tunggu!" panggil Ardi. Alya pun kembali duduk.
"Sejak kapan kamu tinggal di sini?" tanya Ardi melunak.
"Belum ada satu bulan" jawab Alya singkat.
"Siapa yang mengijinkan kamu tinggal di sini?" Ardi kembali ketus memberikan pertanyaan retoris. Karena tanpa bertanya Ardi tau pasti ini ulah mamahnya.
"Mama Rita" jawab Alya lembut.
"Apa kamu bilang? Ma_ma?" tanya Ardi mengeja panggilan Mama.
Alya mengangguk, "Iya"
"Menggelikan sekali! Memang siapa kamu, berani memanggil ibuku dengan sebutan Mama. Hanya aku yang boleh memanggilnya mamah" jawab Ardi posesif.
__ADS_1
"Ishhhh ck" Alya mendesis dan berdecak melihat Ardi posesif. Bahkan Bu Rita sendiri yang menyuruhnya memanggil Mama Rita.
"Baiklah aku tidak akan memanggil dengan sebutan mama lagi, aku di sini karena Tante Rita" jawab Alya ketus membereskan alat P3K