Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
80. Sky View


__ADS_3

****


Apartemen Aerim


"Lama banget gantinya sayang" ucap Ardi sudah tidak sabar menunggu istrinya untuk makan malam. Tapi yang ditunggu tidak ada suara. Akhirnya Ardi masuk ke ruang ganti istrinya.


Mata Ardi terbelalak melihat istri bawelnya masih belum memakai baju, malah duduk di lantai memeluk lututnya dan seisi lemari dikeluarkan berantakan. Bahkan kini Alya sudah tidak malu lagi suaminya melihat penampilanya tanpa pakaian.


"Astaghfirulloh, sayang kamu kenapa? Ngapain duduk di lantai begitu?" tanya Ardi kaget padahal Ardi sudah memakai kemeja dan celana rapih, wangi dan ganteng. Istrinya malah duduk menelungkupkan wajah.


Lian hanya manyun menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya, sebenarnya Alya sudah memakai make up hanya tinggal ganti baju. Ardipun mendekat ke Alya dan merangkul bahu istrinya yang masih terbuka.


"Kamu sengaja godain mas? Yang tadi masih kurang heh? Mau lagi? Mas siap kapanpun sayang, tapi kita makan dulu. Oke?" goda Ardi lembut ke istrinya yang tampak ngambek.


"Apa sih! Kurang, kurang? Kurang apaan! Kurang ajar iya! Kesel tau nggak?" jawab Lian kesal meremas salah satu baju dan membantingnya di depan suaminya.


"Apa sih Yang? Mas salah apa lagi? Marah-marah terus" tanya Ardi tidak mengerti.


"Kenapa selalu maksain kehendak sih, nyediain baju begini semua, nggak ada yang bisa dipilih. Dimana baju-bajuku? Nggak usah pakai baju aja sekalian kalau sediainya baju begini semua!" omel Alya melempar beberapa dress baru ke suaminya.


Ardi langsung menangkap baju-baju itu. Baju pilihan Risa memang gaun-gaun pesta. Beberapa gaun pendek di atas lutut dengan dada terbuka. Ada gaun panjang tapi ada belahan pahanya, ada juga gaun panjang tapi dengan punggung dada terbuka.


Sebenarnya pilihan Risa tidak salah, bahkan itu semua gaun merek dengan bandrol harga tinggi. Dan itu semua gaun resmi untuk perempuan kalangan atas saat menghadiri makan malam, pesta atau acara resmi lainya.


Sayangnya Risa tidak tahu kalau istri Tuan Mudanya perempuan berjilbab, yang kemana-kemana memakai gamis dan jilbab yang menutup dada dan perut. Seberapapun mahalnya gaun itu, dan seberapapun bagusnya gaun itu, menurut Alya itu pakaian kurang bahan dan belum jadi.


"Oh ini?" tanya Ardi dengan wajah tanpa dosa. Lalu memunguti pakaian istrinya dan menatanya kembali ke lemari dengan sabar.


"Sana makan sendiri ajalah. Nggak mau aku keluar-keluar pakai baju begini. Bete!" omel Alya lagi ke suaminya.


"Maafin mas kalau nggak sesuai selera kamu, tapi ini gaun bagus loh, limited edition juga, mas pengen istri mas terlihat cantik"


"Jadi maksud mas, mas mau aku keluar pakai baju-baju begini? Oh gitu, emang ya mas tuh gila aneh. Kenapa nggak sekalian mas suruh aku jalan-jalan di panggung nggak usah pakai apa-apa. Diliatin orang-orang . Biar aja mas yang masuk neraka jadi suami dzolim!"


"Ck" Ardi berdecak dan tersenyum, sambil mengusap- usap rambut istrinya.


"Nggak usah pegang- pegang!" ucap Alya menepis tangan suaminya.


"Nggak mungkin lah sayang mas biarin istri mas dilihat orang lain, kita dinnernya privat. Mas udah booking lantai ini buat kita. Cuma kita berdua!" tutur Ardi menjelaskan.


Alya menelan salivanya, tidak menyangka terhadap apa yang dikatakan suaminya. Alya juga tidak bisa menebak apa yang diinginkan suaminya.


"Maafin mas, mas cuma nyuruh sekertaris mas buat siapin ini. Besok kita belanja pakaian sesuai seleramu, sekarang pakai dulu yang ada"


Alya diam mendengarka suaminya.


"Percaya sama Mas, nggak orang selain kita. Mas udah laper, nanti keburu mas berubah pikiran buat makan kamu, ayok buruan" tutur Ardi dewasa merayu istrinya.


Alya mengangkat mukanya menatap suaminya mencari kebenaran apa yang diungkapkan. Antara siap ikut atau memilih tidur saja. Tidak ada raut kebohongan di wajah Ardi. Alya pun memilih mengikuti suaminya karena dia juga lapar.


"Lian bingung mau pilih yang mana?" tutur Alya memberi kode ingin dipilihkan gaun sama suaminya.


Ardi pun mengangguk, dengan sabar dan memilihkan gaun untuk istrinya. Ardi memilih gaun berwarna merah menyala berenda setinggi lutut dengan bahu terbuka. Ardi juga membantu Alya memakaian pakaian dan menutup resleting belakang.


"Bener nggak ada orang?" tanya Alya lirih karena malu.


"Bener sayang" jawab Ardi membantu merapihkan rambut Alya. Rambut panjang Alya diikat rapih ke belakang menambah kesan elegan dan membiarkan leher dan bahunya terlihat menawan.

__ADS_1


"Aku dandannya jelek yah?" tanya Alya merasa minder karen jarang memakai lipstik


"Cantik kok" jawab Ardi tersenyum melihat istrinya tampak malu-malu.


"Cium dulu dong" ucap Ardi meraih dagu Alya dan mendaratkan bibirnya di bibir merah istrinya.


"Jadi istri yang patuh ya" bisik Ardi setelah melepaskan bibirnya.


Alya hanya diam mengangguk merasakan debaran yang tidak bisa diartikan. Kini Alya tidak pernah menolak lagi apapun yang Ardi kehendaki dari dirinya.


Sikap dan perlakuan Ardi tidak pernah Alya bayangkan sebelumnya. Membuat Alya selalu meleleh dan kehilangan akal.


Ardi memberikan tanganya kode Alya disuruh menggandeng. Malam ini Alya benar-benar menjadi istri penurut dan patuh.


Ardi pun keluar dari apartemen masuk ke lift menuju ke rooftop. Benar saja Ardi sudah memesan meja dinner romantis dengan tema sky view. Kebetulan malam itu bintang-bintang bersinar cerah, menambah kesan romantis. Alya juga bisa menikmati pemandangan kota dengan gedung-gedung tinggi dan lampu-lampunyang indah.


Alya benar-benar tidak menyangka laki-laki yang menikahinya dengan cara bar-bar, memberikan kejutan seindah ini. Sebagai perempuan normal Alya terharu dan bahagia atas sikap suaminya. Ardi pun memundurkan kursi mempersilahkan istrinya duduk.


"Suka?" tanya Ardi ke istrinya setelah sama-sama duduk. Alya mengangguk malu, karena menyadari dirinya sudah bersuudzon dengan suaminya.


Setelah Ardi memberikan kode dua pelayan wanita menyiapkan makanan untuk tamu VIP nya itu.


"Mas apa ini tidak berlebihan?" tanya Alya merasa canggung.


"Berlebihan gimana sayang?"


"Kita kan cuma mau makan, harus pakai baju begini, mendekor tempat ini, terus buat orang-orang nggak dateng ke sini? Pasti ini mahal" jawab Alya jujur.


"Hemmm, sudah kubilang, kamu tidak usah memikirkan apapun kecuali bagaimana caranya buat mas bahagia. Satu lagi jadilah istri yang patuh!"


"Ish, ya nggak boleh sekaku itu juga kali mas, masa aku hanya disuruh patuh-patuh doang tanpa tahu apapun tentang suami Lian sendiri"


"Oh?" jawab Alya datar.


"Kamu bahagia mendengarnya?"


"Nggak! Aku malah takut ngebayanginya, gimana mas mengurus dan memikirkanya?" tanya Alya polos. Ardi hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Sudah makan saja makananya" tutur Ardi mempersilahkan istrinya menyantap makanan di depanya.


"Makananya cuma ini?" tanya Alya melihat menu makan malamnya sudah tersaji per porsi sedikit-sedikit.


"Hem...." Ardi kaget mendengar pertanyaan istrinya. Ardi sudah memesankan Vitello tonnato, gnoochi, bavarese al cioccolato, risotto dan minuman yang budgetnya fantastis. Tapi istrinya masih tanya hanya ini.


"Mau dipesankan lagi?"


"Bukan gitu mas, nggak ada nasinya, menunya seiprit-iprit banget, mana kenyang, ini makanan apalagi mas?" tanya Alya heran tidak pernah makan makanan italia.


"Ck, nggak usah protes. Jadi istri mas harus bisain makan begini, udah makan aja. Kalau ini semua udah habis belum keyang mas pesankan nasi"


Alya belum tau menu kesukaan suaminya meski terlihat sedikit jika dimakan mengenyangkan. Dan belum tau juga harga makanan yang menurutnya seiprit adalah jutaan rupiah.


"Ish...." Alya mendesis. Lalu mengikuti suaminya menyantap hidangan di depanya. Tidak seperti Ardi yang makan dengan perlahan. Alya makan dengan lahap dan cepat habis.


"Udah?" tanya Ardi heran, Ardi makan daging saja baru selesai, Alya sudah menghabiskan semua menu. Alya melahap dengan cepat karena menurutnya rasanya aneh.


"Alhamdulillah kenyang" jawab Alya menghabiskan makanan.

__ADS_1


"Mau lagi?"


"Nggak, nggak enak. Bikin enek" jawab Alya jujur.


"Hemmm" Ardi hanya diam merasa gagal memberikan yang terbaik buat istrinya.


"Mas makananya lama banget, buruan kenapa? Alya kedinginan di sini" tutur Alya melihat sekeliling.


"Nggak pengen menikmati suasananya, bagus banget lho bintangnya"


"Bagus banget emang tapi dingin mas" keluh Alya karena memang bajunya terbuka.


"Ya ya" jawab Ardi menyelesaiakan makanya. Tiba-tiba tiba ponsel Ardi berdering.


Ardi segera mengangkat panggilan video dari orang tuanya yang sedang di luar negeri.


"Halo Mah" sapa Ardi menatap layar ponsel. Alya ikut menyimak suara panggilan di ponsel suaminya.


"Kamu dimana sayang? Kok gelap?" tanya Mama Rita. Lalu Ardi mengarahkan kameranya ke belakang agar terlihat dirinya dan istrinya dan lebih terang.


"Ardi, ingat kamu sudah punya istri. Jangan keterlaluan kamu ya! Kamu dinner sama siapa? Heh?" tanya Mama Rita marah tidak mengenali menantu kesayanganya karena berbeda penampilan.


Ardi dan Alya tertawa mendengarnya. "Iya Mah, Ardi tau, coba deh perhatiin siapa yang lagi dinner sama Ardi?" ucap Ardi memfokuskan kamera ke Alya.


"Malem Mah, apa kabar? Mamah sehat?" tanya Alya ramah melambaikan tangan.


"Alya? Ya ampun mamah pangling, kamu cantik banget sayang"


"Makasih Mah, mamah sehat? Papa sehat?" tanya Alya ramah.


"Sehat sayang, Mamah kangen sama kalian. Kalian sehat-sehat ya" tutur Mama Rita bahagia.


"Sehat banget Mah" imbuh Ardi.


"Semoga Mamah pulang ada kabar bagus ya dari Alya? Biar ada penghuni baru di rumah"


"Siap Mah" jawab Ardi semangat sementra Alya manyun karena malu.


"Mama Papa kapan pulang?" tanya Alya.


"Kalau kerjaan Papa udah selesai, bisa 1 bulanan lagi" jawab Bu Rita.


"Udah ya Mah, katanya pengin ada cucu, Alya kedinginan di sini" ucap Ardi mengakhiri telepon.


"Emang kamu ya, anak nakal, Mamah belum selesai kangenya juga" jawab Mama Rita masih ingin mengobrol.


"Dah Mah, Met malem" Ardi mematikan sambungan telpon selulernya.


"Mas nggak sopan ih" tegur Alya ke suaminya.


"Katanya kamu kedinginan, mas udah kenyang, balik Yuk!" ajak Ardi mengulurkan tangan menggandheng istrinya meninggalkan rooptof. Alya meraih tangan Ardi dan mengikutinya.


"Mas mau lagi, abis ini lagi ya" bisik Ardi ke Alya saat di lift.


"Mau apa?" tanya Alya geram.


"Mau itu?" jawab Ardi memberikan kode. Alya hanya bisa menelan salivanya tidak bisa menolak.

__ADS_1


"Belum sholat isya" jawab Alya mengalihkan.


"Sholat dulu lah" jawab Ardi membuka pintu apartemen. Lalu menggendong istrinya tiba-tiba karena jalan Alya terlalu pelan.


__ADS_2