
Melewati kemacetan dan cahaya matahari yang menyengat, Ardi yang mengendarai mobilnya sendiri tanpa sopir menjemput istrinya.
Dalam perjalanan Ardi mampir ke toko buah sesuai permintaan istrinya. Selama hamil Alya memang inginya selalu makan buah, dan setiap hari selalu berganti.
“Sayang mau buah apa?” tanya Ardi lembut.
“Lian pengen matoa sama kiwi, Mas”
“Matoa?” tanya Ardi tidak tahu buah apa itu.
“Itu, yang bulat- bulat ijo itu lho, yang kaya kelengkeng. Itu enak tau Mas, beli yah! Yuk buruan yuk! Lian pengen cepet sampai rumah dan rebahan!” rengek Alya manja ke suaminya dan menunjuk rangkaian buah yang menggantung di toko buah pinggir jalan.
“Hmmm ya!” jawab Ardi segera turun.
Dan seperti biasanya jika istrinya yang minta akan Ardi belikan, dan tidak hanya dibelikan, tapi diborong, semua yang disediakan di depan Ardi beli semuanya, sampai- sampai di rumah Tuan Aryo seperti toko buah dadakan, karena tiap hari Alya meminta buah yang berbeda.
Alya hanya makan sesuai porsinya selebihnya ditaruh di belakang, tentu saja yang bahagia ART di rumah besar itu. Untung yang dipajang di depan hari ini tidak begitu banyak jadi Alya tidak pusing, hanya sekitar 5 bungkus dan perbungkusnya sekilo.
Alya sendiri tidak mau mengomentari suaminya, segimana dikomentari percuma, Ardi tetap ingin memaksimalkan bentuk kasih sayang dan cintanya ke Alya. Ardi memang tidak kreatif bukti cintanya sebatas itu.
Ardi dan Alya tiba di rumah, mereka berdua saling tatap melihat adegan yang ada di depan mereka. Tapi tetap bahagia.
“Kok Lian jadi malu sendiri ya Mas?” ucap Lian cekikikan di dalam mobil belum mau turun.
“Malu gimana?”
“Apa dulu kita kaya ibu sama Om Nando? Perasaan kita nggak pernah ngobrol seasik itu deh dulu?” ucap Alya melihat ibu dan pacarnya itu tampak asik mengobrol.
“Hmmm... kamu mah sukanya uring- uringan, galak lagi. Contoh tuh ibu, lembut penyayang”
“Hmm. Tapi sekarang nggak kan? Lian udah nggak cerewet dan galak lagi,”
"Masih kok,"
"Iyakah?"
"Dikiit"
"Iih," jawab Alya manyun dan menoel lengan suaminya.
“Awas aja kalau sekarang masih rewel, mas karantina nanti!”
“Hoh? Karantina?”
__ADS_1
“Iya. Mas hukum kamu nggak boleh keluar kamar sebulan!”
“Ish...”
“Nggak, Sayang. Kamu istri paling baik sedunia, satu- satunya yang mas punya. Nggak akan mas hukum. Cup,” ucap Ardi lalu menarik kepala Alya dan menciumnya keningnya, kemudian mengelus dan mencium perutnya.
“Udah yuk, Mas mau sapa papa mertua!” ajak Ardi turun setelah menyapa baby dalam perut istrinya.
Ardi membuka mobilnya turun, membukakan pintu Alya kemudian memanggil pelayan membawa masuk 10 kg buah, 5 kg matoa 5 kg kiwi. Ardi juga meminta karyawan menyajikan ke calon papa mertua dan ibu mertuanya.
“Sore Om, Bu!” sapa Alya dan Ardi ke Bu Mirna dan Dokter Nando yang sedang mengobrol di gazebo depan halaman rumah Ardi.
Bu Mirna memilih tempat terbuka saat menemui Dokter Nando, dia tidak ingin ada fitnah kalau berdua di dalam.
“Baru pulang?” tanya Dokter Nando.
“Iya, udah lama Om?” tanya Ardi.
“Lumayan,” jawab Dokter Nando membetulkan duduknya.
Dokter Nando tampak canggung terhadap Alya dan Ardi, tapi jelas terpancar di wajah Dokter Nando adanya aura kebahagiaan. Di atas meja terdapat satu bucket bunga tulip putih, dan satu pot anggrek phalaenopisi berwarna pink dengan corak di tengahnya, tidak besar dan tidak kecil, dengan media tanam dan pot kaca yang sangat cantik.
Ardi dan Alya saling berdehem, mereka selalu kalah romantis dibanding pasangan yang lain. Bahkan dokter Nando dan Bu Mirna yang sudah berkepala lima sangat sweet, tapi Ardi belum pernah memberikan hal- hal semacam itu.
“Oh, udah makan Om?” tanya Ardi lagi.
“Makan lagi yuk Om, istriku katanya lapar lagi, maklum lagi hamil, biar tambah enak, makan bareng yuk!” ajak Ardi.
Setelah berbosa- basi Dokter Nando menyanggupi makan sore bersama. Bu Rita dan Tuan Aryo yang sebenarnya ada di rumah tapi mau memberi ruang untuk Dokter Nando dan Bu Mirna, kini ikut bergabung.
Di meja makan itu, Ardi yang sudah setuju dengan jawaban istikhoroh Bu Mirna memulai pembicaraan acara nikahan Dokter Nando dan Bu Mirna.
Di meja makan itu disepakati, Dokter Nando ingin menikahi Bu Mirna di salah satu masjid bersejarah di luar negeri, Masjid Suleymani, tepatnya di Istanbul Turki.
Ardi langsung mengangguk setuju. Karena Ardi, Gerry dan Mira baru pagi tadi membahas rencana honeymoonth mereka ke Cappadocia, tempat indah yang ada di negara yang sama dengan tujuan Dokter Nando.
Mereka ingin jalan- jalan ke negara di sekitar situ, dan tempat- tempat indah yang lain, dan terakhir ke Mekkah untuk umrah bersama. Merka juga ingin ke Uzbekistan.
Setelah selesai makan karena Dokter Nando sudah cukup lama berkunjung, Dokter Nando pamit pulang. Sesampainya di rumah Dokter Nando langsung membahas rencana pernikahanya. Gery dan Mira sangat bahagia, dan mendukung rencana papahnya.
Hari berikutnya kedua keluarga itu bertemu. Mereka kemudian membicarakan secara resmi kesepakatan pernikahan mereka.
Menyusul jejak anaknya, Dokter Nando menikah secara agama dulu sebagai ganti tunangan, tapi Bu Mirna masih tetap tinggal di rumah Tuan Aryo. Hal itu berdasar keputusan dan ijin Dokter Nando sendiri.
__ADS_1
Bu Mirna dan Dokter Nando hanya merasa tidak nyaman jika orang setua mereka berstatus pacaran pergi kondangan bersama.
Dalam satu bulan itu, Ardi, Alya dan yang lain menyiapkan segala keperluan berlibur ke Turki. Dalam satu bulan itu juga mereka dipadatkan dengan acara kondangan.
Minggu pertama mereka kondangan ke nikahanya Farid dan Anya. Minggu ke dua ke nikahan Dika dan Dinda, minggu keempat ke nikahan Yogi dan Intan. Mereka semua kini sudah bersatu dalam pernikahan dan menjadi pasangan yang serasi.
Alya dan Ardi saling menggenggam tangan di perjalanan pulang memeriksakan diri dan kehamilanya menjelang perjalananya ke luar negeri. Kini di hati mereka dipenuhi bunga- bunga indah.
Teman- teman mereka semua kini sudah menikah, dan lusa menggunakan pesawat Gunawijaya mereka akan menyaksikan peresmian tali cinta Dokter Nando ke Bu Mirna. Setelah ini mereka akan honeymoonth bersama, sedangkan Ardi dan Alya sekalian baby moonth karena hamil Alya sudah jalan 7 bulan.
“Nggak nyangka ya Mas, kita jadi saudaraan sama Dokter Gery,” tutur Alya sambil berjalan.
“Emang kamu nyangka bakal jadi istriku?”
“Nggak!”
“Itu namanya jalan Tuhan, Sayang. Kita hanya tinggal menjalaninya dengan baik”
“Huum”
"Dan mas sangat bahagia Tuhan kasih kamu buat Mas"
"Lian juga bahagia Alloh kasih Mas buat Lian. Mas buat hidup Lian sempurna"
“I love you, Sayang!”
“I love you More, Mas!”
****
Terima kasih sekali lagi udah baca Alya sampai ending.
Alya anak pertamaku yang sangat author sayang. Maafkan atas segala kesalahan dalam proses perjalanan Alya. Baik penulisanya, isinya karakternya dan lainya.
Atas segala hal buruk dalam nupel ini tinggalkan. Ambil hal baik JIKA ada. Yang pasti makasih udah dukung author.
Oh iya anak Alya udah launching, judulnya "Rumah Jingga" tapi genrenya sedikit berbeda. Sekarang jadi Kisah cinta anak Sultan
Mampir yaaa.
Adik Alya juga ada Si Ipang. Judulnya Sang Pangeran. Mampir juga yaa.
Terus ingat ya Kakak. Buat dukung author tetap semangat setiap baca selalu klik Like, vote dan koment.
__ADS_1
Tap love sekali aja. Kalau udah favorit jangan dibatalin ya... hehehe.
Terus tulisan itu dibaca bukan diplagiat ya Kaka. Kalau nemuin karya plagiat. Segera lapor. Brantas plagiat karena nulis itu penuh kerja keras. Makasih.