
Seperti permintaan istrinya, Ardi tidak lama-lama berada di tempat yang ramai dan berbau alkohol itu. Ardi mengambil selembar cek dari sakunya kemudian diberikan ke lelaki bernama Jack di depanya itu.
"Terima kasih atas bantuanya Pak" ucap Ardi sopan.
"Sama-sama Pak" jawab Jack mengambil cek itu.
Alya memperhatikan adegan di depanya itu sedikit heran.
Kapan Ardi menyiapkanya? Dari pagi kan mereka menghabiskan waktu bermesraan di kolam. Ko tiba-tiba ada cek di saku Ardi? Entah berapa nominal yang Ardi tuliskan.
"Ya udah Rik, Jack. Istriku tidak nyaman di sini. Gue cabut ya" ucap Ardi berpamitan.
"Thanks Bro, secepatnya gue kabari lo lagi" jawab Riko memastikan, anak buah Riko dan polisi yang akan memata-matai Lila dan menggerebeknya.
"Oke. Gue percaya, gue tunggu kabar baiknya" jawab Ardi mengangguk.
"Sehat-sehat buat kalian Tuan Ardi dan Nyonya Berlian?" sapa Riko ramah mengajak Alya ikut berbicara.
Alya hanya ikut tersenyum dan mengangguk gerogi.
"Tuh Yang, dia doain kita. Makasih gitu lho!" jawab Ardi menyenggol Alya.
Alya membalas Ardi dengan mencubitnya dan ingin segera keluar dari tempat itu.
"Terima kasih" jawab Alya sopan.
"Lian mual Mas" bisik Alya tidak tahan bau rokok dari Jack dan Riko.
"Iya udah ayok" jawab Ardi lembut ke Alya, kemudian mereka berdua bangun dan berpamitan.
"Duluan ya" sapa Ardi meninggalkan Riko dan Jack. Jack dan Riko mengangguk dan mempersilahkan Alya dan Ardi pergi.
Beberapa pengunjung menatap Alya heran. Bisa-bisanya perempuan berjilbab masuk ke tempat ilegal itu. Dan untuk apa Alya dan Ardi datang ke situ.
Alya berjalan cepat dan menundukan kepalanya. Suara musiknya membuat Alya pusing. Asap rokok yang mengepul di segala penjuru membuatnya mual. Darimana Ardi tau tempat-tempat seperti itu. Ah pergaulan laki-laki lebih tepatnya orang kaya tidak bisa ditebak.
"Hoeek" Alya tidak tahan menahan mualnya kemudian muntah di tempat sampah dekat parkiran.
"Kamu benaran mual sayang?" tanya Ardi khawatir meraih pundak Alya.
Alya yang masih ingin mengeluarkan isi perutnya menepis tangan suaminya dan menyuruhnya menjauh. Kemudian Alya mengeluarkan isi perutnya.
"Kamu muntah?" tanya Ardi lagi.
"Iiiih, udah tahu Lian muntah. Masih juga tanya" ucap Alya kesal.
"Ya udah sini-sini mas pijit. Sakit lehernya?"
"Nggak usah. Mas tahu kan? Lian nggak tahan bau rokok"
"Iya maaf, mau ke kamar mandi? Atau periksa? Beli obat atau gimana?"
"Nggak usah. Ini udah lega kok udah keluar, beliin air mineral aja!"
"Ya, tunggu di sini ya?"
"Nggak mau. Lian nggak mau ditinggal"
"Lha terus gimana? Katanya mau air mineral?"
"Udah, pulang aja" ajak Lian lemas.
"Beneran mau pulang?" tanya Ardi menggaruk lehernya.
Ardi merasa bersalah membuat istrinya sakit. Ternyata mengajak istri yang sedang hamil muda tak seindah yang dia rencanakan
"Emang mau kemana lagi?" tanya Alya menatap suaminya.
"Katanya pengen kepantai?" jawab Ardi ragu.
Ardi rencananya seharian ini mau menyenangkan istrinya. Tapi malah istrinya sakit.
Mendengar kata pantai Alya diam. Itu kan keinginanya, tumben-tumben Ardi punya waktu buat mereka main. Masa harus batal hanya karena mual.
"Hehe Lian sehat kok. Nggak jadi pulang. Ayok ke pantai!" jawab Lian tersenyum memaksa sehat dan meraih tangan suaminya.
"Tapi mampir makan dulu yah. Ketemu Gery"
"Dokter Gery?"
"Huum, dari kemarin dia nelpon mas ngajak ketemu. Nggak tau mau bahas apa, gimana? Mau?"
"Baiklah" jawab Alya menurut.
Mereka berduapun masuk ke mobil dimana Arlan sudah menunggu.
Sepanjang jalan karena mual, Alya memeluk suaminya erat. Alya yang menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya dengan nyaman. Ardi pun membiarkan istrinya bermanja-manja.
Rasanya hidup Ardi menjadi sempurna. Meski tidak pernah menyangka, benih dan rajutan cinta mereka berkembang kuat dalam waktu yang singkat. Bertambah rekat di setiap detiknya.
Kalau saja menikah dan jatuh cinta seindah ini. Ardi ingin mengulang waktunya beberapa tahun lalu dan langsung bertemu Alya tanpa melewati Intan dulu. Tapi ya sudahlah, buat apa mengandai-andai yang penting sekarang harinya bahagia. Dan ke depanya hanya perlu menjaga agar tetap sama.
"Udah sembuh pusingnya? Apa pusing sekali?" tanya Ardi mengeratkan pelukan Alya dengan membelai pundak istinya.
"Emem, begini sangat nyaman" jawab Alya memejamkanya matanya.
__ADS_1
Untung saja Tuan Aryo dan Bu Rita sudah memodifikasi mobilnya agar bisa ditempati dengan nyaman untuk istirahat. Ardi dan keluarganya kelak hanya tinggal menikmati.
Seperti kebiasaanya Alya tertidur di mobil.
Ternyata mobil Gery dan Ardi sampai dalam waktu bersamaan di tempat mereka janjian makan siang. Gery keluar dari mobilnya duluan. Melihat mobil Ardi Gery mendekat.
"Siang Tuan" sapa Arlan membuka kaca pintu mobil.
"Siang, pas banget Pak barengan gini?" jawab Gery melirik ke penumpang Arlan.
"Oh sama Alya toh?" gumam Gery melihat Ardi dan Alya tampak mesra duduk di belakang.
"Iya gue ajak dia?" jawab Ardi masih membiarkan Alya tertidur.
"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Gue masuk duluan yak!" jawab Gery tersenyum lalu berjalan masuk.
"Oke" jawab Ardi mengangguk dan bingung.
"Apa maksudnya Gery bilang, syukurlah kalau baik-baik saja. Kita kan memang selalu baik-baik saja?" gumam Ardi lalu membangunkan istrinya.
"Sayang udah sampai" bisik Ardi membangunkan Alya.
Alya membuka matanya bangun dan mmbetulkan jilbabnya.
"Lian kucel ya Mas? Mata Lian keliatan muka bantal yah" tanya Lian merasa jelek karena ketiduran. Lalu membuka bedak dan bercermin.
"Ck. Mau ketemu Gery aja segitunya. Nggak hargai mas banget sih? Udah nggak usah dandan!" ucap Ardi kesal melihat Alya dandan.
"Lhoh kok bawa-bawa Dokter Gery? Apa hubunganya?"
"Ngapain kamu dandan cantik-cantik buat ketemu dia. Nggak usah ditebelin bedak sama lipstiknya, udah gitu aja"
"Mas, Lian nggak dandan buat dia, Lian juga nggak dandan. Cuma benerin jilbab aja, takut nanti diliatin orang banyak, berantakan. Emang mas nggak malu?"
"Nggak! Udah gitu aja!"
"Aneh banget sih? Sukanya berlebihan deh"
"Mau makan atau tunggu di sini aja?"
"Mas nyuruh Lian tunggu di mobil? Mas makan sendiri? Oke nggak apa-apa Lian di sini aja!"
"Ya abis kamu kecentilan sama Gery"
"Astaghfirulloh Mas. Lian kecentilan gimana sih. Ketemu aja belum"
"Lha itu mau ketemu dia dandan - dandan segala"
"Hemm ya udahlah sana masuk kalau masih curigaan begitu. Lian di sini aja, biar Lian selingkuh sama Pak Arlan aja. Iya nggak Pak?" jawab Alya kesal.
"Ya jangan. Udah ayo turun. Nggak usah pakai bedak nggak usah pakai lipstik. Nggak usah liat-liatan sama Gery! Diam duduk di samping Mas"
"Yaaa. Ya ampun! Ih lebay banget sih. Dokter Gery bisa muntah tau kalau liat mas begini" jawab Alya ngomel lalu ikut turun dari mobil.
Lian pun berjalan sambil melihat sekeliling. Fokus mata Alya berhenti pada papan nama kafe tersebut, "D'Stiv Bar and Steak".
"Oh ini? Tempat yang dibicarain sama Mba Intan?" gumam Alya dalam hati.
"Kenapa Yang?" tanya Ardi menggandeng Alya agar jalanya fokus.
"Hemm. Nggak!" jawab Alya manyun membalas rasa cemburu ke Ardi.
"Kenapa manyun?" bisik Ardi sambil jalan.
"Nanti kalau senyum dibilang tebar pesona" jawab Lian kesal.
"Ya nggak gitu juga. Kamu liatin apa sih?"
"Kenapa mas milih makan di sini? Belum move on dari Mba Intan?"
"Ck. Kan kemarin kamu yang tanya, makanya mas pilih ke sini ajak kamu!"
"Hemm"
"Tuh Gery nunggu di sana" ucap Ardi menunjuk Gery dan mengakhiri perdebatan.
Mereka berduapun menghampiri Gery.
"Sory nunggu lama" ucap Ardi setelah mereka duduk.
"Nggak apa-apa gue udah tenang liat kalian berdua baik-baik aja" jawab Gery tersenyum tulus.
Mendengar perkataan Gery Alya da Ardi saling pandang.
"Emang ada apa?" gumam Alya.
"Lo khawatirin kita? Lo nggak lagi doain gue sama istri gue kenapa-kenapa kan?" tanya Ardi salah sangka.
"Ck. Nggaklah"
"Terus apa maksud lo?" tanya Ardi lagi.
Gery yang khawatir dengan Alya karena cerita Mira jadi garuk-garuk kepala. Gimana jelasinya ke Ardi.
"Pesan makan dulu deh. Biar nggak kelamaan nunggunya" jawab Gery mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Oke"
Mereka bertiga kemudian memesan makanan dan minuman. Lalu kembali ngobrol.
"Lo mau ngomong apa sih dari kemarin telpon gue?" tanya Ardi lagi penasaran.
"Gue khawatir ke kalian"
"Lo khawatirin kita? Ngapain? Lo bukan lagi kangen sama istri gue kan?" tanya Ardi lagi dengan kasar dan tidak ditutup-tutupi rasa kesal dan cemburunya.
"Apaan sih Mas?" sahut Alya merasa suaminya mulai aneh.
"Ya nggaklah, emang gue tau lo ajak Alya. Gue kan ngajak ketemunya lo bukan Alya" jawab Gery.
"Ya terus ngapain lo dari tadi bilang nggak jelas khawatirin kita? Harusnya gue yang khawatir sama lo"
"Emang gue kenapa?" tanya Gery balik.
"Tuh" jawab Ardi menoleh ke Alya yang duduk manis mendengarkan suaminya.
"Aku?" jawab Alya bingung.
"Alya juga khawatirin lo, katanya lo patah hati, si Mira mau nikah? Bener?" ucap Ardi ke Gery membalas bertanya.
Ditanya tentang Mira Gery mengelus tengkuknya lagi merasa malu dan payah.
"Iya, gue ikhlas kok. Emang nasib gue disuruh jadi jomblo tua" jawab Gery pasrah.
"Ishhh" Ardi dan Alya sama-sama mendesis menatap Gery, bisa-bisanya pasrah begitu.
"Aih cemen banget sih lo? Lo bilang gini bukan karena lo masih naksir istri gue kan?" tanya Ardi lagi terus terang membuat Alya malu lagi dan mencubit Ardi, tapi Ardi cuek.
"Ya nggaklah. Gue kesini juga pengen kalian bahagia. Gue mau ingetin kalian. Kemarin Mira cerita ke gue. Intan nemuin Mira dan ngomong macem-macem. Gue nggak pengen kalian berantem karena itu" jawab Gery terus terang niatnya bertemu.
"Oooh, yaya gue tau sekarang. Jadi kamu ngambek sama Mas karena Intan Yang?" tanya Ardi spontan melirik ke Alya.
Merasa ketahuan karena menyembunyikan pertemuanya dengan Intan, Alya manyun.
"Mira bilang Intan nemuin lo Al? Bener?" tanya Gery menimpali.
"Intan nemuin kamu Yang?" sambung Ardi ikut kaget.
Alya kemudian mengangguk ragu. Takut dimarahi Ardi dan tidak diijinkan keluar lagi.
"Kenapa nggak bilang sih Yang? Masa harus Gery yang ngasih tau? Emang ngapain dia nemuin kamu?"
"Jadi lo nggak cerita ke Ardi Al?" imbuh Gery menanyai Alya.
"Nggak" jawab Alya menggelengkan kepala.
Kali ini Alya merasa seperti anak kecil yang lagi disidang dua kakak galak dan posesifnya. Ngapain juga Gery peduli tentang hidup Alya dan Ardi.
"Mira kemakan omongan Intan Ar, dia bilang anak Intan anak lo. Dan berniat ngasih tau Alya. Gue khawatir lo sama Alya berantem makanya gue mau peringatin lo" sambung Gery lagi menjawab pertanyaan Ardi.
Mendengar penuturan Gery, Ardi dan Alya menjadi terharu.
"Sweet banget sih Dokter Gery segitu perhatianya sama aku dan Mas Ardi" batin Alya terbengong, mau diucapkan tapi pasti nanti Ardi cemburu.
Sementara Ardi langsung menepuk lengan Gery.
"Thanks Bro, lo emang saudara gue. Makasih lo udah perhatian. Lo tenang aja. Kalau itu masalahnya udah gue siapin kok beserta bukti-buktinya. Justru harusnya gue yang khawatir sama lo sekarang"
"Iya Dokter Gery. Makasih udah khawatir sama kira. Alya percaya suami Alya kok" sambung Alya.
"Tuh denger kan lo. Istri gue percaya sama gue" ucap Ardi percaya diri.
"Meskipun nangis-nangis nggak jelas dulu" sambung Ardi lirih menyindir Alya, sekarang ketahuan kalau ternyata Alya kena omongan Intan.
"Iiih nggak usah cerita-cerita" jawab Alya manyun dan malu ke Gery. Sementara Ardi cuma nyengir.
"Syukurlah, gue lega dengernya, Mira salah paham banget ke Lo Ar" jawab Gery lagi.
"Nggak masalah sih. Sekarang justru gue yang khawatir sama lo. Emang gimana lo sama Mira? Lo beneran nyerah? Lo nggak pengen nyegah dia nikah?"
"Itu pilihan dia, gue nggak bisa nyegah dia buat bahagia"
"Wuiih kok lo jadi melo gini sih? Emang lo yakin Mira bahagia dengan perjodohanya?"
"Iya Dok? Menurut Alya Dokter Mira nggak bahagia dengan perjodohan ini. Dia pernah curhat ke Alya, Dokter Mira tuh masih cinta Dok sama Dokter Gery" sambung Alya ikut nimbrung.
"Benarkah? Tapi sepertinya nggak"
"Emang lo udah pernah tanya? Lo cinta kan sama dia? Kalau cinta jangan nyerah! Jangan bilang lo cintanya sama istri gue"
"Haishhh" kali ini gantian Alya dan Gery yang kompak mendesis menanggapi perkataan Ardi.
"Ya. Gue cinta sama Mira, gue sadar perasaan gue setelah dia berhenti perhatian ke gue. Tapi gue udah telat" jawab Gery terus terang tidak mau dituduh Ardi terus dikira masih punya perasaan ke Alya.
Mendengar pengakuan Gery Alya dan Ardi menghela nafasnya bersamaan dan berdecak.
"Kalau lo cinta, ya lo usaha, minimal bilang sebelum terlambat. Buktikan kalau lo cinta" ucap Ardi menasehati.
"Ngomong-ngomong Dokter Gery tau belum sih siapa calon Dokter Mira?" tanya Alya lagi ikut antusias.
"Nah iya bener. Buat menang, lo juga harus tau rival lo dengan baik Ger, selidiki siapa calon Mira!"
__ADS_1